Ayah, Mas, Dan Chilo

By myandu_li

3.4K 234 21

Ini cerita keluarganya Ayah Melva bareng Mas Noah dan Adek Chilo More

Ayah, Mas, Adek
A.M.C.-1
A.M.C -2
A.M.C -3
A.M.C -4
cast tambahan

A.M.C -5

502 36 8
By myandu_li

Happy reading
*

*

*

*

*

*

*
Hari sudah kembali senin. Pertanda semua harus kembali menjalani rutinitas seperti biasa setelah bersantai selama dua hari. Termasuk  ketiga Adiwirya. Melva yang mulai sibuk di kantor penerbitannya, serta si kecil dan Noah yang mulai kembali bersekolah.

Seperti biasa, Chilo berangkat bareng Noah. Di depan gerbang SD, mereka bertemu dengan Jemmy dan juga Jean. J bersaudara itu juga baru berangkat. Terlihat Jemmy yang sedang berjongkok mencoba melepaskan helm Jean.

"Tumben berangkat bareng. Ba Ling kemana?" Tanya Noah setelah menurunkan Chilo dari motornya.

"Di rumah, lagi nonton jodha akbar sama mama," jawab Jemmy malas. Dia sedikit menggerutu pasalnya helm adiknya ini susah sekali dibuka.

"Ih, Gege kepala Jean sakit ini," keluh Jean karena Jemmy menarik bahkan memutar-mutar helm di kepalanya dengan sedikit kasar.

"Lagian kamu sih. Sok-sokan pake helm yang ini. Udah nggak muat ini, palamu kegedean," Jemmy menarik helm berbentuk alien hijau itu dengan cukup kuat. Diiringi pekikan Jean, akhirnya helm itu pun berhasil terlepas.

"Akhirnya lepas juga," ucap Jemmy lega. Ingin rasanya ia membuang helm yang sudah buluk ini. Tapi pasti nanti dicariin sama si Jean. Jean cemberut sambil mengelus telinganya yang sakit.

"Huhuhu, Gege Mymy jahat. Telinga Jean sakit tau," gerutu Jean.

"Hah...Jean, kuping kamu ilang tuh," ucap Chilo dramatis sambil menutup mulutnya dengan tangan. Jean dengan polosnya percaya begitu saja ucapan sohibnya. Padahal tadi ia memegang sendiri telinganya. Noah menggeleng melihat tingkah usil adiknya.

"Ha? Yang bener?! Huee gege...Jean nggak bisa denger lagi dong...huweee ini gara-gara gege," tuduh Jean sambil menangis pada Jemmy. Jemmy memutar bola matanya malas. Adiknya ini gampang banget di begoin.

"Jean," panggil Jemmy malas.

"Apa?" Tanya Jean sewot.

"Nah tu denger kan? Coba deh kamu pegang tuh telinga masih ada apa enggak," kata Jemmy malas. Jean buru-buru memegang telinga yang ia kira hilang. Setelah merasa mendapati telinganya, Jean pun hanya cengengesan menampilkan gusinya.

"Hehe ternyata masih ada nggak jadi ilang," ucap Jean malu.

"Hihi tirnyiti misih idi nggik jidi iling, makanya jangan gampang di bohongin sama Chilo," nyinyir Jemmy pada adiknya. Sedari tadi, Noah dan Chilo hanya menonton perdebatan unfaedah dari J bersaudara itu, padahal Chilo yang menjadi penyebabnya.

"Nih uang dedek. Jangan lupa sisain buat masukin pingping ya," pesan Noah sambil memberikan selembar uang 10 ribu yang diterima oleh Chilo dengan baik. Jean mengamati uang kertas ditangan Chilo lalu melirik uang ditangannya.

"Gege, Jean juga mau yang ungu kaya Ilo," pinta Jean.

"He? Kan sama itu," Jemmy mengernyitkan dahinya heran.

"Ih nggak sama. Punya Ilo warnanya bagus. Punya Jean buluk," Jean memperlihatkan uang 10 ribu model lama dengan wajah pahlawan yang sudah digambari, plus ada bonus nomer HP.

"Sama aja dek. Yang penting masih bisa di pake," kata Jemmy.

"Nggak mau. Maunya yang kaya Ilo," rengek Jean. Jemmy menghembuskan nafas lelah. Ia mengeluarkan 10 ribu lagi dari kantung celananya. Ia harus segera masuk dan tidak mau sampai terlambat cuma gara-gara uang 10 ribu.

"Nih, udah sana masuk. Upacara lho hari ini. Sana," setelah menukar uangnya dengan yang baru, Jemmy mendorong sedikit punggung Jean agar segera masuk ke gerbang. Jean menatap uang ditangannya dengan raut berbinar. Ia segera menarik Chilo masuk ke dalam gerbang. Jemmy hanya mendengus melihat adiknya itu sedangkan Noah terkekeh pelan melihat ekspresi sebal Jemmy.

"Udah, masuk yuk. Kita juga upacara," ajak Noah. Jemmy mengangguk, mereka segera menaiki motor mereka kembali untuk dibawa masuk ke sekolah.

🐯🐶🐬

Sementara itu, di kantor, Melva menghela nafas melihat kedua temannya yang sudah merusuh di ruangannya. Ia yang niatnya mau nyari ide buat novel baru jadi gagal karena kedatangan duo makhluk jadi-jadian yang sayangnya adalah sahabatnya.

"Lo berdua kalo cuma mau ngrusuh mending pulang deh," usir Melva yang sudah tak tahan dengan Juna dan Dandi yang sedari tadi adu bacot.

"Ye...tega amat lo ngusir kita. Baru juga nyampe," ucap Dandi melas.

"Kalo lo berdua dateng bawa aura positif mah oke. Sayangnya aura lo berdua gelap," celetuk Melva.

"Gini-gini gue yang suka nemenin lo ke toilet dulu ya, Mel," ucap Juna.

"Nggak tau," sewot Melva.

"Udah deh lo berdua mau apa? Gue mau kerja ini?" Tanya Melva frustasi.

"Gabut doang sih. Gue lagi nggak ada jadwal syuting nih," jawab Juna yang dengan santai mendudukkan diri di sofa ruangan Melva. Melva hanya mendengus. Tatapannya melirik Dandi yang malah asik mengamati potret keluarga kecilnya yang ia pajang disamping komputernya.

"Terus lo mau ngapain, Di? Gue gampar lo bilang gabut juga. Perusahaan noh urusin," geram Melva.

"Lo nggak ada niatan nikah lagi Mel?" Bukannya menjawab, Dandi malah melempar pertanyaan lain.

"Hah, lo mau gue diamuk Noah? Gue nglirik cewek aja serasa mau nyolok tu anak," jawab Melva pusing juga dengan tingkah Noah yang melarang keras Melva untuk menikah lagi. Tapi ia juga nggak ada niatan nikah lagi sih. Baginya hatinya hanya untuk satu orang yaitu istri tercintanya. Suami idaman:)

"Noah nggak mau punya mama lagi?" Tanya Juna heran.

"Nggak mau. Udah sering sih gue bawa cewek pulang, eh langsung diusir, disiram pake air pel," jawab Melva sambil memijit pelipisnya mengingat semua perlakuan Noah dan Chilo pada setiap wanita yang ia perkenalkan sebagai ibu baru mereka. Karena terus mendapat penolakan, akhirnya Melva memutuskan untuk tak lagi mencari sosok ibu bagi kedua anaknya. Ia paham anaknya apalagi Chilo masih membutuhkan sosok ibu, tapi nyatanya kedua anaknya pun enggan. Kalo ditanya jawabnya pasti 'nggak ada yang mirip bunda'. Dan Melva membiarkan saja. Selagi anak-anaknya bahagia meski tanpa sosok ibu, ia rela menduda demi anak-anak.

"Lo nggak masalah menduda terus gitu?" Tanya Dandi.

"Yang penting anak-anak happy aja udah cukup buat gue," jawab Melva sambil memandangi foto kedua putranya yang tengah tersenyum dengan senyum khas andalan mereka.

"Kasihan adek lo dong, main solo terus," celetuk Juna yang langsung mendapat lemparan kamus tebal pada wajahnya. Juna mengusap wajahnya sambil meringis. Sedangkan sang tersangka melanjutkan pekerjaannya seolah tak terjadi apa pun. Dandi ikut meringis melihat betapa tebalnya kamus yang Melva gunakan untuk menimpuk wajah si model itu.

"Percaya aja deh sama mantan duda," sindir Dandi.

"Diem lo badrul!" sewot Juna.

"Kenyataannya lo mantan duda pea', nggak mau ngaku lo? Gue replayin tuh beritanya kalo mau," goda Dandi.

"Betumbuk yo kita!" Tantang Juna sambil berdiri.

"Ayo siapa takut!" Balas Dandi sambil melepas jasnya dan melemparnya dengan asal hingga mengenai wajah Melva. Melva sudah menahan diri sejak tadi untuk tidak menendang kedua teman setannya ini.

Brakkkk!!

"YOOO BROOO!! AING COMING!!"

Melva beneran mau menendang teman-temannya sekarang. Lihatlah, si jelmaan kingkong wakanda ikutan muncul dengan tak santainya.

"KELUAR AH LO PADA!"

🐯🐶🐬

"Ilo ayo jajan," ajak Jean sambil mendekati meja Chilo. Keduanya memang berbeda tempat duduk. Sistem rolling tempat duduk membuat sepasang sahabat lengket itu terpisah.

"Bental, Ilo ambil uangnya dulu," Chilo membuka kotak pensilnya. Ia mengernyit karena tak mendapati uangnya. Harusnya masih ada lima ribu kembalian saat menabung tadi. Ia ingat memasukkannya ke kotak pensil. Tapi bahkan sampai ia menumpahkan semua isi kotak pensilnya, uangnya tak dapat ia temukan. Chilo mencoba merogoh saku baju dan celana seragamnya, tapi hasilnya tetap nihil.

"Kenapa Ilo?" Tanya Jean melihat Chilo yang seperti kebingungan itu. Bahkan bibirnya sudah melengkung ke bawah.

"Jean...uang Ilo ndak ada," jawab Chilo dengan suara bergetar.

"Ha? Kok bisa? Belum di kasih kembalian kali sama bu guru," kata Jean ikut kaget.

"Udah. Tadi udah Ilo masukin ke kotak, tapi ndak ada hiks...gimana Jean?" Chilo menangis sambil menutup matanya dengan kedua tangan. Jean menepuk punggung Chilo agar Chilo tenang.

"Cup cup, ndak usah nangis. Ilo minta sama Mas Nono lagi aja," usul Jean.

"Hiks...nanti Mas Nono malah sama Ilo hiks..." isak Chilo sambil menangis.

"Ndak kok. Mas Nono ndak bakal marah. Yuk Jean temenin," Jean menggandeng tangan sahabatnya untuk keluar. Tak lupa mereka meminta izin ke guru jaga untuk ke SMA dengan alasan mengambil uang saku. Bu guru pun membukakan gerbang tak lupa berpesan agar mereka segera kembali.

Jean dan Chilo berjalan bergandengan memasuki gerbang SMA. Mereka bertemu dengan pak satpam yang menjaga SMA. Pak Satpam pun berjongkok di depan kedua murid SD itu.

"Adek-adek mau kemana?" Tanya pak satpam heran.

"Kita mau nyari Mas Nono pak. Mau ambil uang," jawab Jean karena Chilo masih menangis.

"Adek ini adeknya Mas Jemmy sama Mas Noah kan?" Tanya pak satpam memastikan. Jean mengangguk semangat.

"Mau ke kelas masnya kan? Yuk Pak Andi anter," ajak Pak Andi ramah. Jean mengangguk tak lupa mengucap terima kasih. Pak Andi pun menggiring kedua bocah SD itu menuju ke gedung sekolah. Mereka menaiki sebuah tangga karena ternyata kelas Jemmy dan Noah ada di lantai dua. Di sebuah pintu bertuliskan kelas 'XI IPS 3' mereka berhenti. Pak Andi mengetuk pintu membuat atensi para siswa teralihkan.

"Pak Andi? Ada apa pak?" Tanya salah satu siswi yang duduk di dekat pintu.

"Mas Noah sama Mas Jemmy ini adeknya nyariin," jawab Pak Andi. Semua siswa didalam kelas menoleh ke arah pintu dimana ada pak satpam dan dua bocil SD. Chilo mengangkat wajahnya untuk mencari Noah. Tangis yang semula sudah berhenti kini terdengar lagi setelah melihat wajah Noah yang berjalan ke arahnya. Pak Andi pun pamit karena Jemmy dan Noah sudah mendekat.

"Huweee Mas Nono..." tangis Chilo dengan tangan yang terangkat ke atas meminta gendong. Noah mengernyit melihat adiknya tiba-tiba menangis. Ia pun langsung mengangkat sang adik ke gendongannya. Jarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi gembul Chilo.

"Kenapa dedek? Kok nangis?" Tanya Noah sedikit cemas.

"Ilonya diapain Jean? Kamu nakalin ya?" Tuduh Jemmy pada adiknya. Tangannya dengan ringannya menoyor kepala Jean.

"Ndak ya. Kalo Jean nakalin kan ndak Jean ajak kesini," bantah Jean tak terima. Pipinya menggembung membuat beberapa siswi terpekik gemas.

"Mas Nono...hiks...maaf..." cicit Chilo.

"Kenapa minta maaf?" Tanya Noah makin bingung.

"Hiks...hiks...uangnya ilang lima libu. Padahal tadi udah Ilo simpen di kotak tapi...tapi hiks...ilang huweee," Chilo semakin erat memeluk leher Noah membuat Noah sedikit tercekik.

"Owalah, udah nggak papa, nggak usah nangis. Mas kasih lagi. Mungkin belum rezekinya dedek. Udah-udah jangan nangis. Nanti dadanya sakit lho," menjauhkan wajah Chilo dari lehernya kemudian mengurut lembut dada Chilo. Chilo perlahan menghentikan tangisnya meski masih terisak. Wajah Chilo sehabis menangis dengan mata merah, hidung yang ikut merah, dan pipi gembul yang basah semakin membuat para siswi terpekik gemas.

Noah menurunkan Chilo yang sudah mulai tenang. Ia merogoh sakunya mengeluarkan uang lima ribu untuk Chilo.

"Ini uangnya. Udah nggak usah nangis lagi. Sana jajan, tapi ingat jangan jajan yang pedes-pedes oke," pesan Noah sambil memasukkan uang ke saku baju Chilo, Chilo mengangguk sambil sesekali menyedot ingusnya masuk. Interaksi Noah dan Chilo mengundang ketakjuban diantara para siswa. Noah yang terkenal cuek bisa begitu hangat didepan adiknya. Noah menciumi wajah adiknya dengan gemas. Ini kalo di foto, dikirim ke ayah pasti langsung salto-salto, pikir Noah.

"Sana balik," Jemmy mendorong tubuh adiknya agar keluar. Jemmy ini memang berbanding terbalik dengan Noah. Jika Noah sangat lembut pada Chilo, maka Jemmy adalah sebaliknya. Ia sayang pada Jean, tapi sering menistakan Jean. Katanya itu wujud sayangnya pada Jean.

"Jean ndak ditambahin uang ge?" Tanya Jean dengan polosnya sambil menengadahkan tangannya ke arah Jemmy. Tak lupa kepalanya yang harus ekstra mendongak karena tingginya hanya sebatas pinggang sang gege.

"Boleh. Asal jatahmu yang besok gege ganti jadi warna oren. Mau?" Kata Jemmy sambil melipat tangannya.

"Ih, itu mah cukupnya buat nabung doang. Gege pelit ih," dumel Jean.

"Pilih nggak atau besok uangmu jadi abu-abu sekalian?" Ancam Jemmy.

"Gege Mymy ndak asik. Ayo Ilo kita balik," Jean menarik tangan Chilo. Tak lupa ia menyempatkan diri untuk menendang tulang kering Jemmy. Jemmy sedikit meringis mendapat tendangan adiknya yang lumayan.

"Wah tendangan Jean lumayan juga. Jangan-jangan gedenya bakal jadi pemain sepak bola," ucap Noah melihat Jemmy yang meringis kesakitan.

"Kagak bakal mau dia. Maunya jadi astronot," ucap Jemmy.

"Adek lo terlalu terobsesi sama alien," ucap Noah. Mereka berdua kembali ke tempat duduknya.

"Ho'o. Sampe bingung gue. Semalem aja ribut tu bocah katanya mau nyari anak bulan kaya upin ipin. Herman gue, Jean plek baba banget," Jemmy menggeleng mengingat tingkah adiknya yang random itu. Noah hanya terkekeh kecil. Suasana hatinya yang buruk tadi sekarang cukup membaik setelah melihat wajah menggemaskan adiknya. Memang Chilo itu mood makernya Ayah Melva dan Mas Noah banget.

🐯🐶🐬

Yuhuuu
Dedek Ilo balik kakak
Gimana?
Suka?
Lanjut?

Lanjut oke!
Karena mbul ini nggak pinter bikin adegan gemesh, jadi maklumin aja ya
Namanya juga ketikan gabut ya kan?
Bye bye

See u next part💛


Continue Reading

You'll Also Like

379K 12.7K 63
Sebuah perjodohan antara pria yang hidup di langit dan wanita yang menantang hidup di ruang operasi. Delvin Valora Demetrya-pilot dengan hati sedingi...
178K 22.1K 55
Pengantin itu seharusnya bukan Leah. Ia hanya pengganti. Pilihan darurat yang disetujui terlalu cepat. Adrian setuju menikah karena negara membutuhka...
546K 870 14
"hii i'm via" "via gw marvel" "cantik cantik gila" semenjak gw pindah ke sekolah ini entah kenapa hidup gw berwarna tapi anehnya gw gak suka. *** ber...
Wattpad App - Unlock exclusive features