BATAM, 2019....
Aku, Leon, dan juga Rangga masih stay di rumah sakit sampai sekarang ini. Masih di posisi yang sama seperti saat aku dan Leon bertengkar, pada saat itu hati kami berdua sama-sama digoyangkan dan dibisikkan untuk mundur dan menyerah dengan perasaan yang ada di antara kami berdua.
Aku dan Rangga duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Leon, dengan tatapan mataku yang tampak khawatir. Aku membolak-balikkan cincin yang ada di jari manisku dan bergumam sendiri, tanpa mengajak bicara Rangga yang ada di sampingku.
Ploook!plook! Rangga menepuk tangan dua kali dengan keras.
"Ti, mengapa kamu melamun lagi sih? Masih mikirin soal Leon?" tanya Rangga dengan wajah gelisah.
Aku langsung tersadar dari lamunannya, tetapi wajahku tetap tidak bisa senyum, "Ah, iya. Gak kok, aku cuman lagi pikirin hal lain aja," balasku dengan lembut.
"Kamu gak usah bohong deh, Ti. Aku udah bisa lihat dari wajah kamu, kamu gak usah nyembunyiin apapun!"
Aku berusaha tersenyum kecil untuk menyakinkan Rangga, "Rang, kamu gak usah khawatir gitu dong! Aku kan baik-baik aja, ini aku cuman lagi mikirin Leon aja kok."
"Terserah kamu deh, Ti."
"Rang ...."
Pembicaraanku dan Rangga terhenti karena Leon tiba-tiba duduk di samping kiriku sambil mengeluh, "Ti, aku gak bisa stay di Batam." Wajah Leon tetap pucat.
Aku langsung menggenggam erat tangannya, "Leon, iya aku tahu kok. Aku lagi mikirin itu tadi, tetapi Rangga kira aku mikir macam-macam."
Rangga langsung minder karena aku langsung mengatakan dengan jujur, "Ah, Ti. Kok kamu jadi bilang gitu sih? Kan aku cuman khawatir aja, kalau kamu banyak melamun."
Tiba-tiba suasana yang tadinya ribut berubah menjadi hening seketika, entah karena hal apa yang baru saja terjadi. Leon menyandarkan kepalanya di atas bahuku, aku pun menggenggam erat tangan dinginnya.
Sedangkan Rangga tetap duduk diam di samping kananku sambil menatap ke lampu yang ada di atasnya.
Leon kembali duduk seperti biasa, tatapan matanya sangat serius, "Ti, aku serius! Aku harus ninggalin Batam, aku harus ninggalin keluargaku, dan aku juga harus ninggalin kamu sendirian," ucap Leon dengan cepat.
Aku bingung apa yang harus di jawab kepada Leon supaya aku tidak terlihat seperti sedang berusaha menyimpan perasaan sakit di dalam hati, "Leon, aku udah tahu kamu pasti bakal pergi ninggalin aku untuk berobat ke negara lain. Aku juga tahu kok kita bakal gak saling bertemu dan susah buat kontakan, tetapi aku tetap yakin kalau kita pasti bisa melewati ini semua sampai kapanpun itu," Aku berusaha meyakinkan hati dan juga Leon supaya tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti.
"Bener sih apa yang kamu bilang, Ti. tetapi, waktu kalian pasti selalu berbenturan satu sama lain. Saat kamu sekolah, Leon pasti masih harus istirahat, begitu juga sebaliknya," Rangga menyela pembicaraan ku dan juga Leon.
"Iya, tetapi ini demi kesembuhan Leon juga," balasku dengan wajah serius pada Rangga.
Perdebatan pun di mulai lagi di antara kami bertiga, Leon mulai gelisah dengan dirinya yang harus meninggalkanku dengan waktu yang belum diketahui entah sampai kapan, dan juga Rangga yang tak setuju dengan pemikiranku yang menganggap semua ini dengan tenang-tenang saja.
"Aku ikhlas kok kamu ke sana, Leon. Karena di sana kamu kan harus berjuang melawan sakit kamu," ucapku sambil tersenyum lebar.
Leon membalas senyumannya, "Iya, Ti. tetapi aku masih khawatir, kita mungkin sama sekali tak bisa berkomunikasi," jawab Leon sambil membelai rambutku lembut.
"Aku percaya kok."
"Beneran? I love you the Tiara, but I can not get you dead, I just got up, dan I got up for your passion."
"Yeah, I know Leon. I also love you too, I'm really in doubt, but I have to stay in trust," balasku sambil tersenyum kecil.
"Emang kapan kamu berangkat?" tanya Rangga.
Leon menghitung tanggal dengan kelima jarinya, "Sekarang tanggal ....21, kan?" Leon langsung terdiam dengan raut wajah terkejut, dia seperti tak percaya akan sesuatu.
Aku menegurnya, "Leon, mengapa?"
Leon menundukkan kepalanya, "Maaf, Ti. Aku lupa kasih tahu kamu, kalau aku akan pergi tanggal 22, dan itu adalah ...... besok."
Rangga tampak terkejut, sedangkan aku hanya diam sambil menatap serius pada sang kekasih yang sedang panik di depan sekarang ini. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini, tetapi aku sama sekali tidak panik saat Leon baru menyadari kalau esok hari adalah hari di mana dia akan berangkat ke negeri seberang untuk menjalani pengobatan. Tidak ada yang bisa aku lakukan, semuanya sudah jelas, bahwa Leon memang harus menjalani pengobatan di Singapura. Walau aku menangis memintanya untuk tidak pergi, Leon pasti akan pergi, aku tidak bisa egois dengan kesehatan Leon.
"Jadi, kau benar-benar akan pergi besok?" tanya Rangga dengan wajah serius.
Leon mengangguk tanpa ragu, "Ya, aku akan berangkat besok siang ke bandara, penerbangannya jam 2, " jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan Mutiara?"
Aku menatap Leon, dia juga melakukan hal yang sama, "Saat aku pergi, kau yang jaga dia! Aku sudah menyelamatkan nyawamu, setidaknya kau harus membantuku."
Rangga mengangguk pelan, "Ya, baiklah. Kau tidak menyuruhku pun aku sudah melakukannya."
Aku menunduk, "Leon, aku gak tahu hari-hariku tanpamu."
Leon menggenggam tanganku sambil menatapku dengan penuh ketulusan, "Ti, aku yakin kamu pasti bisa. Aku janji gak akan lama di sana, kamu hanya perlu fokus kuliah, itu udah buat aku tenang."
Rangga berdiri dari kursi sambil menghela nafasnya, "huuuh, sebaiknya aku segera beres-beres juga kan?"
Leon mengangguk, "Kau sudah bisa pulang nanti malam, jadi bereskan semuanya!" jawabnya dengan wajah dingin.
Rangga pun segera masuk ke ruang inapnya dan bergegas membereskan semua barang-barang yang harus dibawanya kembali pulang ke rumah. Sementara itu, aku dan Leon masih duduk di kursi, tidak tahu membicarakan hal apa. Sesekali aku melirik wajahnya yang masih terlihat pucat dan lelah, tetapi aku tidak bisa mengatakan apapun padanya.
Leon, aku mohon jangan pergi! Aku ingin kamu selalu ada di dekat aku, aku ingin setiap hari bisa liat wajahmu. My amazing boyfriend, aku selalu ingin mengucapkan itu padamu, tetapi mulutku terlalu kaku.
Tidak berselang beberapa lama, kak Daffa datang menghampiri kami sambil membawa sebuah surah. dia memberinya pada Leon, "Nih, surat rujuk dari pak direktur. Dia sangat khawatir padamu, makanya saat kau di sana akan tetap terawasi," jelasnya.
Leon membuka surat itu dan membaca isinya, ternyata direktur rs memberinya semua fasilitas saat dia di Singapura demi pengobatannya, "Hei, apa-apaan ini? Mengapa direktur memberiku semua ini? Aku hanya meminta rujuk, bukan meminta fasilitas juga." tanya Leon dengan wajah sinis.
Kak Daffa tersenyum kecil, "Aku juga gak tahu tuh. Pak direktur memintaku untuk memberi surat itu padamu, jadi aku tak tahu apa isi suratnya."
Leon terlihat sedikit kesal, "Astaga, kak Daffa!"
Aku dan kak Daffa tertawa terbahak-bahak karena reaksi Leon yang sangat tidak menyukai pemberian dari direktur rs untuk membantu biaya pengobatannya. "Aku bisa membayar sendiri dengan uangku, mengapa ..."
"Leon, sudah terima saja! Itu ucapan terima kasihnya karena kinerjamu bagus, kamu gak pernah cuti, dan kamu menjadi teman yang baik bagi pasien. Itu belum seberapa dengan apa yang kamu lakukan untuk rumah sakit ini, " Kak Daffa mencoba meyakinkan Leon supaya menerima pemberian dari direktur mereka.
"Ah, tidak tahu lah," Leon langsung masuk ke dalam ruang inapnya dengan wajah kesal.
Aku pun ikut berdiri dari kursi, "Kak Daffa, akan tetap di rs ini kan?" tanyaku dengan wajah penasaran.
"Ya, tentu saja. Aku menandatangani kontrak dengan rs ini selama 5 tahun, sekarang baru berjalan 3 tahun," jawabnya. "Waktu kita bertemu tiga tahun yang lalu, saat kamu masih SMA, nenek kamu saya yang tangani," lanjutnya dengan mengingat kejadian di masa lalu itu.
Aku mengangguk, "Iya, kak. Berarti kakak kenal Leon sejak kapan? Jika kalian sudah saling mengenal waktu itu?"
Kak Daffa berpikir, "Emm, kapan ya? Aku lupa, Ti."
Aku sangat penasaran dengan kak Daffa yang sepertinya sudah mengenal Leon sejak lama. Tak lama kemudian dia menepuk tangannya, "Nah, ingat. Kira-kira 6 tahun yang lalu. Waktu saya masih di Jakarta, Leon waktu itu masih sekolah di sana," jelasnya.
"Owhh, udah lama juga. Pantesan Leon menganggap kakak sebagai kakaknya sendiri, mungkin karena Leon juga tidak punya saudara lain."
Dia mengangguk, "Ya, mungkin saja," Kak Daffa melihat jam tangannya, "Emm, Ti. Sepertinya saya harus pergi."
"Oh, jam cek pasien ya?" tanyaku.
"Iya, kalau gitu .... Saya tinggal, sampai nanti." Kak Daffa berpamitan dengan sopan padaku.
Setelah kak Daffa pergi, aku masuk ke dalam ruang inap Leon untuk melihat apa yang sedang dia lakukan. Walau sesekali aku akan ingat dengan kenyataan bahwa Leon akan pergi sementara dari kehidupanku, aku berusaha melupakannya. Aku tak ingin tahu tentang sakitnya, tetapi aku harus tahu karena aku adalah kekasihnya.
Malaikat penyembuhku, aku sangat bersyukur karena kamu sudah hadir di hari-hariku lagi. Kamu yang membuatku kembali tersenyum, kamu yang mengajariku berbagai perasaan berwarna di hati yang kecil ini. Semoga kamu bisa mencapai impianmu, aku akan selalu memikirkan keadaanmu, Leon.
Leon duduk di sofa sambil menyumbat lubang hidungnya dengan tisu, "Hah, lagi-lagi diganggu oleh darah menyebalkan ini," gumamnya. Setelah itu, dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan sisa darah yang mengenai tangannya.
Beberapa menit kemudian, aku mencari Leon di kasurnya, tetapi dia tidak ada, "Leon?" Aku memanggilnya tetapi tidak ada yang mendengar.
Aku mendengar suara keran air yang hidup di dalam kamar mandi, jadi aku pun mendekat ke pintu kamar mandi untuk memastikan, "Leon? Kamu di dalam ya?" tanyaku sambil mengetuk pintu.
Dia mematikan keran air, "Iya, mengapa?" ia balik bertanya, tetapi tidak membuka pintu kamar mandinya.
"Tidak ada sih, aku cuma nyariin aja. Kirain kemana tadi." jawabku.
Leon membuka pintu kamar mandinya, lalu berdiri tepat di depanku. "Kamu gak usah khawatir, aku baik-baik saja."
dia mencoba meyakinkanku kalau keadaannya baik-baik saja. Memang seharusnya aku tidak perlu terlalu merasa khawatir padanya, karena dia masih baik-baik saja. Aku melirik ke dalam kamar mandi, di dekat keran air itu ada sebuah tisu yang sudah berdarah. Aku ingin bertanya apa hal itu mengganggunya, tetapi aku tidak ingin membahas tentang itu, sama saja membuat hatiku terluka lebih dalam.
Leon menggenggam tanganku, "Ti, aku tahu kamu bingung harus bagaimana, tetapi aku baik-baik saja itu yang penting kan?"
Aku mengangguk ragu, "Iya, Leon. Aku tidak akan memikirkan itu lagi," jawabku pelan.
Dia memelukku dengan tubuh dinginnya, aku pun memeluk erat tubuhnya, karena aku akan kehilangan pelukan ini untuk sementara. Aku tidak akan merasakan kehadirannya, aku tidak akan bisa melihat senyum di wajah dinginnya, aku tidak bisa berjalan-jalan dengannya, dan aku juga tidak akan bisa memeluk tubuhnya seperti sekarang mulai lusa.
Leon, aku harus memanfaatkan waktu yang seperti ini kan saat denganmu? Aku tidak akan bisa melakukan hal ini saat kamu di Singapura, aku tidak bisa melihatmu secara langsung lagi. Aku ingin bisa melihatmu terus, tetapi aku harus kuliah, mengejar cita-citaku untuk menuliskan kembali kisah kita. Walau harus mengorbankan sedikit perasaanku padamu, aku harus tetap kuat.
Malam harinya .....
Tepat pukul 20:45 Rangga dan Leon sudah boleh kembali ke rumah. Saat ini kami sedang menunggu ayahku dan bunda untuk menjemput kami, semua sudah membawa barangnya masing-masing. Karena aku masih khawatir tentang dinginnya malam, aku menyuruh Leon untuk memakai jaket yang tebal supaya dia tidak kedinginan.
"Ti, aku sudah kepanasan, mengapa kamu malah menyuruhku memakai jaket ini?" tanya Leon dengan wajah yang sudah mulai basah karena keringat, padahal hari sangat dingin.
Aku kesal, "Leon, tentu itu bagus kan? Kamu sakit gak boleh kena angin malam kayak gini."
Rangga tertawa, "Ti, kan Leon sakitnya emang walau di tempat dingin dia emang bakal keringetan," sambungnya, "Kalau kamu menyuruhnya memakai jaket ini, sama saja dia akan semakin gerah karena panas."
Aku menatap mereka kebingungan, "Begitu ya?" Mereka berdua mengangguk serentak.
Saat kami berdebat, sebuah mobil datang dan tampak tidak asing bagiku. Aku perhatikan nomor plat nya, sudah tidak diragukan lagi, itu adalah mobil ayah dan bundaku.
"Leon, Rangga! Mereka sudah sampai." ucapku dengan wajah senang.
Bunda dan ayah keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiriku, "Tiara, Leon, Rangga! Udah lama nunggu ya? Maaf, tadi macet banget di jalan," jelas bunda.
"Iya, gak apa-apa, bun. Lagian keselamatan yang paling penting, toh kami gak ngapain-ngapain juga," balas Rangga dengan sangat santai.
Sementara aku, bunda, dan Rangga berbincang, Leon dan ayah mengangkat semua barang kedalam bagasi mobil. "Sudah semua kan? Gak ada yang ketinggalan lagi?" tanya ayah.
Aku, Leon, dan Rangga menjawab serentak, "Tidak ada lagi, ayah."
Bunda dan ayah tertawa karena melihat kekompakan kami bertiga yang seperti anak kecil. "Ya sudah, ayo naik semuanya ke mobil! Keburu malem entar gak bisa istirahat," ajak bunda sambil membukakan pintu belakang kiri mobil.
Ayah duduk di kursi setir, bunda duduk di samping ayah. Sedangkan aku, Leon, dan Rangga duduk di belakang. Leon duduk disebelah kananku dan Rangga duduk di sebelah kiriku, yang artinya aku duduk di antara mereka berdua.
Aku memperhatikan Leon tampak risih karena menggunakan jaket itu, jadi aku menyuruhnya untuk melepas jaketnya itu, "Leon, buka jaketnya!"
Leon bingung, "Loh, tadi kamu bilang ...."
"Kan tadi, bukan sekarang. Ayo, buka jaketnya! Kamu kepanasan makanya aku suruh kamu buka jaket."
Leon menuruti apa yang aku katakan padanya, tetapi tampak di wajahnya sangat heran dengan perintahku itu. Setelah dia membuka jaket, aku mengatur AC mobil hanya ke arah Leon saja. Dia semakin heran, tetapi aku menghiraukannya saja, seolah-olah tidak ada siapapun di sampingku. Setelah itu, aku bersandar di kursi dan memejamkan mataku karena kelelahan.
Bukan hanya aku, tetapi Rangga sejak awal di mobil sudah tertidur sangat pulas sekali. Di antara kami bertiga, hanya Leon yang tidak juga beristirahat walau sebentar saja di mobil, sambil menunggu perjalanan ke rumahnya. Dia menatap wajahku dengan penuh harapan, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia memendamnya saja dalam hati.
Bunda melirik ke belakang untuk melihat kami, dia kaget karena hanya Leon yang tidak tidur, "Loh, Leon? Kamu tidak istirahat? Kan kamu sakit, istirahat sebentar aja," usul bunda dengan wajah khawatir.
Leon menggelengkan kepalanya, "Gak apa-apa kok, bun. Biar Tiara sama Rangga aja yang istirahat, mereka sudah hampir seharian jagain Leon terus, kelihatan kalau mereka lebih lelah."
"Oke, terserah kamu aja. Kalau ngantuk istirahat aja, kita masih lama nyampenya karena macet," Bunda kembali menghadap ke depan.
Leon diam sejenak, lalu dia ingat pada papa dan mamanya yang masih di Jakarta. dia tak mengabari lagi kepada kedua orang tuanya itu tentang kondisinya sekarang, "Oh, iya, bun."
Bunda kembali memperhatikan Leon, "Iya, Leon?"
Leon ragu-ragu, dia ingin bertanya tentang papa dan mamanya, "Papa dan mama .... Apa mereka akan ke Batam untuk mengantar Leon besok?" tanya Leon dengan nada pelan.
"Emm, bunda gak tahu pasti. karena papa kamu bilang keadaan kantor di Jakarta sangat darurat, jadi mungkin hanya mama kamu saja yang akan datang ke Batam," jawab bunda.
"Begitu ya, bun."
"Leon, selama kamu dirawat di rs mama dan papamu tidak berkunjung?" tanya ayah secara tiba-tiba.
Leon menggelengkan kepalanya, "Tidak, ayah. Mereka hanya menyuruh Leon untuk bersiap-siap ke Singapura besok, mungkin karena itu mereka mengira Leon baik-baik saja," Tampak di wajahnya kekecewaan yang sangat dalam yang tidak pernah dia tunjukkan padaku.
"Oh, begitu? Ya sudah, kamu tidak perlu khawatir, sekarang kan sudah ada Tiara yang selalu nemenin Leon, mungkin papa dan mamamu memang sedang punya urusan yang mendadak, jadi harus meninggalkan Leon," jelas ayah panjang lebar sambil fokus menyetir mobilnya.
Setelah hampir 1 jam di dalam mobil, akhirnya kami sampai di rumah Rangga, untuk mengantarnya lebih dulu. Leon membangunkan aku dan Rangga karena tujuan pertama kami sudah sampai. Bunda dan ayah juga sudah tampak berbincang dengan ibunya Rangga, memberitahukan kalau Rangga sudah pulang dengan kami. Ibunya tampak sangat senang, mungkin karena Rangga juga anak satu-satunya, dan tidak ada yang menemani ibunya selain Rangga, karena ayahnya sudah meninggal sejak dia masih SD.
Rangga keluar dari mobil dan dia langsung memeluk ibunya dengan sangat erat, terlihat rasa kerinduan yang sangat dalam di antara mereka berdua. Sedangkan aku dan Leon tetap di mobil, Leon membuka jendela yang ada di sampingnya supaya kami bisa melihat keluar.
"Rangga, ibu kangen banget sama kamu. Jangan bawa motor ngebut-ngebut lagi atuh, bahaya! Untung ada dokter Leon lewat mau nolongin," ucap ibunya Rangga dengan wajah gembira sekaligus khawatir.
Rangga tersenyum, "Iya, buk. Rangga janji gak akan nakal lagi."
Melihat mereka senang membuat hatiku terasa hangat, tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu pada anak-anaknya. Walau Rangga sudah sedikit nakal karena bergabung dengan anak geng motor, tetapi ibunya tak lelah menasehatinya untuk tetap pada jalan yang benar.
Setelah mengantar Rangga, kami pun langsung menuju ke rumah Leon. Tak berselang lama, kami sampai. Saat bunda dan ayah baru saja akan turun dari mobil, dia langsung cepat mengatakan kalau bunda dan ayah tidak usah turun dari mobil," Bunda, ayah, gak usah turun! Gak apa-apa kok. Biar cepet nyampe rumah, Tiara juga udah ngantuk banget nih."
"Oh, iya. Gak apa-apa nih?" tanya bunda.
Leon mengangguk, tadinya aku tidur di bahunya, tetapi sekarang karena dia akan turun dari mobil, Leon memindahkan kepalaku bersandar ke kursi supaya dia bisa segera turun dari mobil.
"Leon, kalau ada apa-apa telpon aja ke bunda, ayah, atau ke Tiara!"
"Iya, bun. Terima kasih, udah antar Leon sampai rumah! Bilang ke Tiara juga makasih, udah temenin Leon dua hari di rs," ucapnya lalu keluar dari mobil," Dia mengambil barangnya yang ada di bagasi dan menutup kembali bagasi. "Leon masuk dulu ya, ayah, bunda!"
"Iya, Leon," jawab serentak ayah dan bunda.
Ayah pun mengunci semua jendela mobil dan kami melanjutkan perjalanan ke rumah. Sungguh disayangkan karena aku tidak bisa melihat wajahnya, karena aku sudah tertidur. Setelah mobil ayah tak terlihat oleh matanya, Leon pun segera masuk kedalam rumahnya.
Tringg .... Tringg .... Tringg
Suara alarm yang ada di ponselku membuatku harus bangun di pagi yang cerah ini. Mataku belum sepenuhnya terbuka, jiwaku juga masih melayang di atas, aku belum sepenuhnya sadar. Dengan begitu, aku melihat jam yang ada di layar ponselku yang sudah menunjukkan jam 8 pagi. Sontak aku langsung berdiri dengan mata yang sudah segar sambil mencoba membuka chat di WA, siapa tahu ada chat dari Leon.
My boyfriend♥️
Ti, aku tunggu dirumah ya. Kita berangkat jam 11 ke bandara, karna jam terbangnya di majukan.
07.15
Aku langsung ternganga karena Leon mengatakan kalau jam terbangnya dimajukan dan ia sudah mengirimiku pesan sejak pagi. "Astaga, Tiara! Kamu bodoh banget sih, cewek tapi bangunnya kesiangan mulu!" gumamku sambil mengetuk keningku sendiri.
Anda
Iya, Leon. Aku bentar lagi ke sana, jangan kemana-mana ya! Tunggu aja di rumah, nonton tv, makan dulu, minum obat, lakukan hal apapun!
08.05
✔️
Setelah mengirim chat pada Leon, aku langsung bergegas mandi dan segera mengenakan pakaian yang sesimpel-simpelnya karena Leon sudah menunggu sejak tadi pagi. Aku mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna cokelat, yang dipadukan dengan baju kodok berwarna biru berbahan jeans. Serta tidak lupa pula tas sandang yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi untuk menyimpan barang-barangku saat bepergian keluar. Aku hampir lupa dengan tatanan rambutku, karena rambutku pendek, jadi tidak bisa diikat semuanya. Aku mengikat bagian kanan dan kiri rambutku ke belakang, poni depan aku rapikan, dan bagian rambut lainnya aku biarkan terurai.
Aku berdiri di depan cermin, "Yeeahh, sudah siap!" ucapku dengan hati senang.
Saat aku baru saja akan keluar kamar, aku tak sengaja menggantungkan sweater merah yang juga punya kenangan tersendiri bersama Leon. Aku tak berani mendekat, aku hanya diam sambil memperhatikan sweater itu dengan perasaan sedih, "Aih, kenapa sweater itu ada di luar sih? Nanti saja lah aku bereskan, aku sudah buru-buru sekali!" Aku langsung bergegas turun ke ruang tamu.
Bunda, ayah, dan juga Dhika sudah duduk di meja makan, mereka juga tampak sedang berbincang. Aku menyapa mereka sambil berlari, "Pagi ayah, bunda, Dhika! Tiara pergi dulu ya, udah telat."
"Loh, Ti. Gak sarapan dulu? Gimana tuh?" tanya bunda.