"Istirahatlah jika kamu lelah, tidak semuanya harus selesai sekarang."
-Antarez Putra Kasela-
********
Manik mata Antariksa menatap lekat ke arah sebotol minuman keras itu, harum anggur merah tersebut seakan-akan menggoda indra penciumannya untuk segera meneguk, membasahi tenggorokannya yang sudah kering.
"Untuk kali ini aja, gue mau tenang," batin Antariksa dan perlahan mencoba meminumnya, namun hanya sampai ujung tenggorokannya saja mulut Antariksa langsung memuntahkan keluar semua isi cairan tersebut.
"Hah hah, pa-panas," rintih Antariksa memegang lehernya yang terasa panas, tubuhnya seperti terbakar. "Minuman macam apa ini."
"Hahaha, bagaimana rasanya nak? Nikmat bukan?" tawa pria tersebut menyaksikan kondisi Antariksa kesakitan. "Minum berkali-kali, maka kau akan tahu dimana letak kenikmatannya, haha dasar orang kaya," sambungnya lalu berbalik badan, dan berjalan pergi sambil terus diiringi tawa.
"Gawat, kepala gue mulai pusing," sepertinya efek dari minuman keras tersebut sudah mulai bereaksi pada tubuh anak itu, Antariksa mabuk. Kelopak matanya terasa sangat berat hanya untuk berjaga sebentar saja. "Gue gak boleh pingsan di sini, gue harus pulang."
Kedua tangan Antariksa mencoba mengangkat tubuhnya tapi gagal, sekarang kondisinya sangat lemas. Pikiran Antariksa mulai melayang-layang, sampai... semuanya berubah menjadi gelap gulita.
Dari arah kejauhan, terdengar suara sepeda motor mendekat dan berhenti di dekat tubuh Antariksa berada. Sang empu turun dari atas kendaraan tersebut, bibirnya tersenyum miring memandang remaja yang sudah tidur tengkurap di atas tanah.
"Hm, anak ingusan coba mabuk," remehnya menemukan sebotol minuman keras di samping tubuh pemuda itu.
********
Dalam sebuah ruangan, dengan cahaya remang-remang yang berasal dari sinar rembulan menembus jendela kamar. Nampak, seorang anak laki-laki masih tertidur pulas di atas ranjang, dengan ditemani seseorang yang tengah berdiri di samping jendela, pandangannya terus tertuju kepada pemuda tersebut.
"Pa-panas, auch tenggorokan gue panas," rintihnya mulai membuka mata, lagi-lagi ia mengeluh soal kondisi tubuhnya yang seperti terbakar. Kepalanya pusing, padahal ia hanya meminumnya sedikit tapi kenapa efeknya bisa separah ini.
"Sadar juga lo, sudah berani mabuk lo sekarang?" ujar Antarez bersedekap dada, sekarang ia mengenakan kaos putih lengan pendek dengan bawahan celana hitam panjang.
Antariksa mengedipkan matanya beberapa kali, ia mencoba mengamati siapa sosok yang tengah berada di hadapannya saat ini. Apalagi pikirannya yang masih terkena efek minuman keras, membuat pandangannya sedikit buram.
"Kamu... kamu siapa Om?" tanya Antariksa sembari menunjuk kepada Antarez.
"Bangsat, lo berani panggil gue Om! Muka gue ganteng begini lo panggil Om!" sebal Antarez tersulut emosi, menempatkan tubuhnya berdiri di hadapan Antariksa, agar anak itu bisa mencermati baik-baik wajahnya.
"Ba-Bang Antarez?! Kok bisa ada di sini!" kaget Antariksa menyaksikan pemuda bertubuh kekar dengan wajah sama persis seperti dirinya itu, berdiri di hadapannya sekarang.
"Lah ini emang rumah gue, gue yang bawa lo ke sini. Siapa suruh malem-malem tidur di tengah jalan pake gaya-gayaan minum minuman keras, kalau seandainya bukan gue yang nemuin lo tadi bisa-bisa lo dibawa sama orang jahat," ceramah Antarez panjang kali lebar, menceritakan semua kejadian sedetail mungkin kepada Antariksa.
"Sekarang harusnya lo bersyukur."
"Apa susu? Owh, Bang Antarez mau buatin gue susu coklat, kuy sekarang aja mumpung gue haus!" balas Antariksa melenceng jauh dengan topik yang Antarez bicarakan. Sontak, tamparan maut seketika mendarat mulus ke pipi kiri anak itu.
PAK!
"Goblok! Bersyukur bego, siapa yang lagi ngomongin susu! Lo habis minum berapa botol sih Sa bisa semabuk ini?" sebal Antarez.
"Ish sakit Bang, udah tahu tangannya cicak ada enam," ucap Antariksa mengelus-elus pipinya yang panas, mengecap kelima jari Antarez.
PAK!
Lagi-lagi, tamparan maut kembali laki-laki itu berikan. Dia tidak sanggup menghadapi sikap Antariksa jika sedang mabuk.
"Tolol lo kebangetan Sa! Sejak kapan cicak punya tangan, kaki dia cuman empat!" geram Antarez tidak kuat, ia langsung menarik lengan saudara kembarnya tersebut menuju ke dalam kamar mandi.
Antarez menyuruh Antariksa agar berdiri tepat di bawah shower kamar mandi, guyuran air dingin keluar dan membasahi sekujur tubuhnya.
"Gue gak akan biarin lo keluar dari dalam kamar mandi sebelum lo sadar sepenuhnya," ujar Antarez lalu menutup pintu, membiarkan Antariksa seorang diri di dalam sana.
"Tunggu dulu, apa yang gue lakukan di sini?" batin Antariksa menatap kosong ke arah shower kamar mandi yang masih menyala, kepalanya mendongak menatap ke arah benda tersebut. Air dingin yang ia keluarkan semakin membungkus tenang tubuh Antariksa.
"Benar, gue ada di sini karena Bunda," bibirnya yang biru tersenyum smirk, tatapan mata Antariksa berbeda dari sebelumnya. Seperti menunjukkan sisi lain dari dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan.
Serpihan-serpihan memori kembali berkumpul menjadi satu, menyatu membentuk sebuah peristiwa yang terputar dalam otak Antariksa. "Ini semua karena piagam itu, haha ini semua karena piagam itu!" Antariksa mencengkram rambutnya kuat-kuat, dia terlihat seperti orang ketakutan.
"Seandainya gue berhasil juara satu, pasti Bunda akan bangga, seandainya gue berhasil juara satu pasti gue gak akan pernah mau minum benda haram dari pria brengsek itu!"
"Dan seandainya saja..... AAAAAAHHH!!!"
"ANTARIKSA!" teriak Antarez terkejut, selepas mendengar suara teriakan dari anak itu, Antariksa benar-benar berantakan sekarang ia melempar semua benda yang ada di sekitarnya.
Apa yang sudah terjadi kepada anak itu? Apa dia sudah gila hanya karena tidak berhasil mendapat juara pertama? Apa... apa kalian berpikir kalau Antariksa terlalu melebih-lebihkan masalahnya?
Setiap anak selalu dituntut agar bisa menjadi sesuatu apa yang orang tua mereka inginkan. Beberapa dari mereka mau menerimanya, tapi tak sedikit juga yang malah merasa tertekan, sebab harapan orang tuanya yang terlalu tinggi.
Bukan tidak mampu, tapi dia hanya tidak memiliki semangat yang cukup untuk menggapai hal tersebut. Apa kalian pernah merasa dipaksa untuk menggapai suatu hal, dan meninggalkan sesuatu yang begitu kalian sukai?
Sama seperti Antariksa, setiap harinya dia selalu diminta untuk belajar, belajar dan belajar. Antariksa harus mendapat hasil yang terbaik di setiap kesempatan, Nyonya Mawar mau di setiap ajang perlombaan yang anak itu ikuti harus mendapatkan juara.
Sedari kecil Nyonya Mawar seperti menanamkan kalau 'juara satu adalah yang terbaik' pada diri Antariksa. Jadi tak heran, kalau ia selalu merasa sangat bersalah dan kecewa kepada dirinya sendiri, kalau tak berhasil mendapatkan gelar tersebut.
Ia menyukai seni, bahkan banyak sekali coretan indah yang berada di buku Antariksa pada bagian belakang. Namun sayangnya, Bunda tidak mendukung hal itu. Setiap kali ia mendapati Antariksa menggambar sesuatu, wanita itu tak segan-segan untuk merobeknya bahkan sampai membakar.
Sebab bagi Nyonya Mawar, itu hanyalah bakat yang sia-sia dan sama sekali tidak membawa untung bagi Antariksa di zaman sekarang.
"Sa! Lo kenapa?!" Antarez berusaha untuk menenangkan Antariksa, ia masih belum bisa berhenti dari tangisnya.
"Gue bodoh Bang, gue emang bodoh!" ujar Antariksa memukul kepalanya sendiri. "Gue bodoh, hiks."
"Cukup Sa cukup!" bentak Antarez naik pitam. "Ya! Lo emang bodoh, puas!"
"Apa yang sudah terjadi sama lo, apa ini semua karena piagam juara tiga yang gue temukan di sampah? Iya! Jawab gue Sa!" belungsang Antarez memegang pundak Antariksa, rahang wajahnya mengeras. Ia merasa kesal kepada Antariksa.
"Haaah," Antarez mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Mencoba untuk mengatur emosinya.
"Dengarkan gue baik-baik Sa, juara berapapun itu baik. Tidak ada yang bisa menyalahkan mau lo juara pertama atau terakhir, ini semua soal takdir. Dan juara berapapun itu anugrah, tidak semuanya harus soal juara pertama," ucap Antarez dengan nada lembut.
"Walaupun lo meraih juara tiga, hal itu sama sekali gak akan merubah jati diri lo. Kita ini manusia Sa, tidak semua hal harus bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita mau."
"Mungkin aja, sekarang Allah sedang memberikan gelar juara itu kepada orang lain, karena Allah percaya lo pasti akan mendapatkannya kembali di kesempatan selanjutnya," pungkas Antarez mengacak-acak rambut Antariksa.
"Tapi.... Bunda?" balas Antariksa.
"Kenapa? Lo takut buat jujur sama dia? Katakan aja yang sebenarnya, sesekali gagal itu gak masalah Sa. Lagipula lo ini manusia bukan robot," tutur Antarez menunjuk dada sang Adik.
"Walaupun gue cuman sama dia waktu kita masih kecil, tapi gue paham bagaimana sifat Bunda. Lo bisa bujuk dia Sa, lo anak kesayangannya kan? Dia juga seorang Ibu, masih ada kasih sayang di dalam hatinya."
"Jangan samakan lo sama gue Sa, kalau gue mustahil untuk bisa menggapai sesuatu yang gue suka. Papa pasti bakal bunuh gue sekarang juga, kalau sampai tahu gue gak mau menuruti apa yang dia minta."
"Jangan sampai lo menjadi robot yang rusak sama seperti gue, lo masih ada kesempatan untuk bahagia Sa," senyum Antarez sekali lagi menepuk kepala Antariksa.
"Cukup gue aja yang rusak, lo jangan."
╚═════KING══════╝