By Her Highness' Will

By HolyShinningPhoenix

1.4K 80 66

By Her Highness’ Will -A chi bene crede, Dio provvede- Genre: Slice of Life, Fantasy “Jadilah pengikutku, da... More

Act 1- 0 [Monolocale]
Act 1-1 [Plaza]
Act 1-2 [Palazzo]
Act 1-3 [Sala da Pranzo]
Act 2-1 [Campus]
Act 2-2 [La Sua Casa]
Act 2-3 [Chiosco]
Act 2-4 [Panificio]
Act 3-1[Mercato~Vino]
Act 3-2 [Mercato~Salsiccia]
Act 3-3 [Scena~Parte Prima]
Act 3-4 [Scena~Parte Seconda]
Act 4-1 [Città di Notte]
Act 4-2 [Vicolo]
Act 4-3 [Sgabuzzino]
Act 4-4[Camera da Letto]
Postfazione / Afterword

Act 5-0 [Cuore]

49 3 0
By HolyShinningPhoenix

"Maaf... Boleh aku tanya tempat apa ini, Vino?"

"Dasar, kelihatan kan? Lihat papan petunjuknya. Tempat ini toko mainan."

Sal memijat hidungnya, "Bukan... Maaf, biar kurubah pertanyaanku. Maksudku, apa yang sedang kita lakukan di tempat ini?"

"Menemui seseorang. Sudah, diam saja dan ikuti aku."

Mendengar perintah Vino, Sal meringis, "Y-yes, ma'am..."

Seperti yang terlihat dari perbincangan mereka, Vino dan Sal sekarang berada di depan sebuah toko mainan. Tepatnya toko mainan yang menjadi langganan Corne. Bukan toko yang mewah maupun besar, namun pajangan etalase yang berupa mainan dari action figure superhero hingga Lego pastinya akan menarik perhatian anak kecil manapun. Didukung lokasi yang strategis—dekat sebuah restoran cepat saji yang populer di kalangan anak-anak—toko ini bertahan melewati tahun demi tahun dan masih dapat meraih keuntungan.

"Kita masuk," Ujar Vino sambil mengibaskan rambutnya perlahan dengan gaya yang anggun namun terkesan sedikit kasar. Ketika Vino membuka pintu dorong toko itu, Sal mengikuti di belakangnya seperti anak bebek mengikuti induknya menyebrang jalan.

Bunyi bel perlahan terdengar ketika Vino menapakkan kedua kakinya di dalam toko itu. Seketika itu juga, mata semua pengunjung mengarah ke dirinya. Tidak aneh, mengingat penampilan Vino yang cukup nyentrik dan kenyataan bahwa ia mulai mendapat popularitas di lingkungan sekitar sebagai 'Gadis Gothic-Lolita aneh yang juga seorang pemain teater' menambah tingkat statusnya sebagai selebriti local. Keberadaan lelaki berwajah tampan dengan rambut pirang yang lebat di belakangnya semakin melekatkan mata orang-orang ke arah Vino.

Sementara, tidak peduli dengan segala perhatian itu, Vino celingukan kesana-kemari. Kemudian ia melangkah semakin dalam memasuki toko itu, hingga ia sampai ke tempat terdalam, berhadapan dengan penjaga toko. Penjaga itu menyadari keberadaan Vino, dan memasang senyum sejuta dolar.

"Selamat datang, Nona. Bisa saya bantu?"

"Heh, kau mengerjakan tugasmu dengan baik."

"...Bagaimana lagi, ini adalah kesempatan yang kau berikan secara cuma-cuma, Tuan Putri," Tanggap lelaki berambut tipis itu dengan tawa pelan.

"Hmmmh! Aku tahu, seragam itu memang sangat cocok untukmu, Pomodoro!" Puji Vino sambil melihat sosok di depannya. Pomodoro yang mengenakan kemeja bergaris vertikal kecuali di dada sebelah kirinya, yang bergaris horizontal dengan nama toko tertulis di sana, tersipu malu.

"Aku masih tidak percaya, Tuan Putri... Toko ini memang terlihat kecil, namun sebenarnya adalah salah satu toko mainan paling populer di kota! Nona Corne... Bagaimana ia bisa mendapatkan koneksi seperti ini?"

Vino meringis mendengar pertanyaan itu, karena ia tahu keakraban Corne dengan pemilik toko ini adalah karena ia sering kemari hanya untuk window shopping, "A-ahahaha... Orang borjuis memang beda. Daripada itu, Pomodoro. Apa kau sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanmu?"

"Ya, sangat. Senior dan pemilik sangat baik dan mengajariku banyak hal. Memang saya jelas masih hijau, tapi, saya yakin bisa menjadi lebih baik dalam waktu singkat."

"Ho hoo... Percaya diri sekali... Aku suka itu. Lalu, bagaimana dengan kos? Menurut Corne, seharusnya tempat pilihannya akan nyaman untuk digunakan..." Vino menyentuhkan telunjuk kanannya ke bibir bawahnya.

"Ah, mengenai kos, memang sedikit mahal. Tapi seperti kata Nona Corne, tempat itu memang bagus dan nyaman. Induk semangnya displin, tapi baik. Jadi, bisa dibilang tidak ada masalah."

Mengangguk-angguk, Vino kelihatan puas, "Bagus. Ingat, Pomodoro. Jika kau ada kesulitan, aku ingin kau segera lapor ke aku maupun Corne. Kami akan membantumu dengan segenap kekuatan kami."

"Baik, terima kasih, Tuan Putri. Tapi..." Pomodoro sedikit menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang ia pasang.

"Tapi?"

"Saya.. Sebenarnya masih bisa menjadi tangan kanan Tuan Putri lho?" Ujarnya dengan nada rendah, mirip seperti anak kecil yang mengatakan hadiah mahal ketika ditanya apa yang ia inginkan jika ia naik kelas.

Senyum di wajah Vino menghilang. Wajahnya terlihat sedikit berwarna melankolis. Ia kemudian menghembuskan nafas pelan. Lalu ia mengucapkan, "Sudah kubilang, hiduplah dengan normal. Sekali lagi kukatakan, dan akan terus kukatakan kalau kau menyinggung subjek ini, yaitu bahwa kata-kata tadi itu bukan permintaan. Itu adalah perintah. Kau tidak punya pilihan selain mematuhinya," Meski terdengar serius, namun suara Vino terdengar begitu lembut.

Kali ini ganti Pomodoro yang menghela nafas, namun ia tersenyum simpul, "...Baik, Tuan Putri."

"Lho, Vino?"

Suara seorang perempuan terdengar dari belakang Vino. Ketika ia membalikkan tubuhnya, terlihat sosok gadis mengenakan rompi hitam dengan tudung yang tidak dipasang, berambut pirang sedikit muda dengan wajah yang terkesan tomboy. Ia bersama dengan seorang lelaki tinggi, berambut pendek sedikit jabrik, dengan senyum yang memperkuat kesan babyface-nya. Lelaki itu melambai ke arah Vino pelan.

"Corne... Gio... Kalian ingin menemui Pomodoro juga?"

"Ahahaha, tidak, tidak. Corne bilang ia ingin melihat barang jenis baru yang baru saja masuk—ugh!"

Sikut Corne meluncur ke arah perut Gio, menghentikan kata-katanya. Sementara itu, wajah Corne penuh senyum yang terlihat dibuat-buat, "Ahahaha, apa sih yang orang ini bicarakan... Tentu saja aku kemari untuk menemui Pomodoro. Benar kan, Gio? Ahahahaha!"

"Ahahaha... Sakit, Corne..." Gio merintih, meski tidak ada yang bisa mendengarnya.

"Ah, Nona Cornetto!" Sal yang sejak tadi rupanya berjalan mengelilingi toko, meluncur begitu saja ke depan Corne dengan gerakan berputar seanggun ballerina amatir, "Anda masih tetap cantik seperti biasanya, seperti Venus yang tidak melupakan make-up hariannya. Lelaki ini hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihnya yang melebihi tingginya menara Babel, karena selalu mengizinkan Signorina Vino untuk selalu datang ke latihan," Tanpa isyarat, Sal meraih tangan Corne dan menciumnya, membuat Gio terkejut bukan main.

"Ah, kau dan rayuan gombalmu..." Corne tersenyum, meski kelihatannya merasa sedikit malu, ia tidak sepenuhnya membenci apa yang dilakukan Sal.

"T-t-t-t-t-tunggu dulu! S-s-siapa kau, berani-beraninya menyentuh Corne sembarangan!" Gio melompat ke titik tepat di tengah-tengah mereka, dan mengomel. Sementara itu, Sal memiringkan kepalanya.

"Maaf, tapi bagiku yang sebenarnya adalah malaikat yang turun dari langit, Takdir mengizinkanku untuk memperlakukan nona-nona cantik seperti seharusnya."

Mendengar jawaban Sal, Gio terlihat jijik, "B-bodoh! Ada orang bodoh di sini!"

"Vino, siapa lelaki dengan tubuh Herkules ini?" Sal menoleh ke arah Vino yang sejak tadi tersenyum-senyum melihat adegan ala sinetron di depannya ini.

"Aah, dia 'mainannya' Corne."

"Vinoooo! Sudah kubialng bukan begitu, kan? Sudah kubilang, Corne itu..."

"Hm? Aku kenapa?"

"T-tidak! Tidak apa!"

Tiba-tiba toko itu jadi ribut bukan main. Empat orang yang berdiri di depan meja kasir itu menjadi pusat perhatian sepenuhnya. Mereka berdebat, menyangkal, tertawa, dan jengkel. Pemandangan yang kelihatan normal di manapun dan kapanpun. Sesuatu yang begitu simpel dan normal, namun begitu berharga. Pemandangan yang entah kenapa di mata Vino, terlihat begitu agung dan bercahaya.

"Senyum itu."

"Eh?"

Pomodoro tertawa kecil, "Hidup bersama Tuan Putri bertahun-tahun, aku belum pernah melihat Tuan Putri tersenyum seperti itu."

"Ah..." Vino yang malu menundukkan kepalanya, menyembunyikan bibirnya yang memang tersenyum lebar.

"Kurasa, kalau bersama mereka, Tuan Putri tidak akan kenapa-kenapa. Aku bisa tenang."

"Pomodoro...."

"Aku bahagia untuk Tuan Putri, namun maaf, ini adalah kepentingan toko," Pomodoro keluar dari meja kasir dan mendekati gerombolan yang masih ribut bukan main,"Maaf, tapi kalau kalian hanya akan membuat keributan dan tidak ingin memebeli apapun, tolong keluar dari sini," Katanya dengan nada yang begitu ramah, namun entah kenapa memaksa Corne dan kawan-kawan untuk patuh.

"Yes sir..."

Setelah itu, mereka berempat keluar dari toko. Corne sempat marah-marah pada Sal dan Gio karena ia sebenarnya ingin melihat-lihat, menunjukkan udang di balik batu yang ia bawa. Sal dan Gio hanya menunduk sambil minta maaf berulang-ulang dengan suara pelan. Vino memandang mereka dari kejauhan, entah kenapa dengan ekspresi kosong, seperti memandang sesuatu yang jauh.

"Huuh... Kalian ini. Hm, tapi, aku akan memaafkan kalau kalian mentraktirku, atau semacamnya..." Corne tersenyum licik, namun senyum itu tidak dilihat oleh Gio dan Sal.

"A-aku akan traktir! Ya, tidak masalah! Aku punya uang!" Gio memberikan janji yang samar, namun ia mengatakannya dengan penuh keyakinan.

"Hah, orang barbar sepertimu memang tidak bisa mengerti bagaimana menangani seorang Signorina... Nona Corne! Kau akan kuajak ke toko Pizza yang waktu itu! Bagaimana?" Sementara itu, Sal tidak ingin kalah dan mengeluarkan janji yang lebih konkret.

"Akhirnya sama saja kan, kau akan mentraktirnya makan... Eh? A-apa maksudmu dengan 'pizza yang waktu itu'?! Apa yang telah kau lakukan bersama Corne?!"

"Ah, iya, iya! Aku suka pizza yang waktu itu. Kita kesana! Tenang saja, Gio. Rasanya terjamin. Aku dan Vino sudah mencicipinya," Corne mengangkat jempolnya, memberi garansi rasa.

"Eh?! Bersama Vino juga?! Kau ini buaya darat, ya?!" Tensi Gio masih tinggi, dan terus meninggi.

"Sudah kubilang, aku ini malaikat yang turun dari langit... Atau bisa dibilang, reinkarnasi dari malaikat yang turun dari langit."

"Putuskan yang mana dong! Salah satu saja dong!"

Sementara mereka berdebat, kedua lelaki itu tanpa sadar mulai melangkahkan kakinya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara, Corne akan menyusul mereka kalau saja ia tidak menyadari Vino masih berdiri diam di depan pintu toko itu.

"Vino, ada apa?"

Vino menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lebar. Senyum yang menggambarkan segala yang berada di dalam tubuh dan jiwanya saat itu.

"Tidak apa, hanya sedikit merasa senang."

Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya, menyusul orang-orang di depannya. Langkah kecil yang Vino lakukan itu, pada akhirnya tak lebih dari langkah kecil yang memulai jalan menuju sebuah langkah besar, yang begitu besar hingga merubah segalanya yang ia ketahui dan ia percayai di dunia ini. Namun, ia hanya belum menyadarinya. Hanya tinggal waktu yang menentukan kapan saat itu terjadi.

***

Continue Reading

You'll Also Like

77.1K 5.8K 13
Di sini, semua kekuatan astral berkumpul. Bergabung dengan dunia manusia untuk memperluaskan penemuan baru itu tanpa menunggu begitu lama. Hingga seb...
84 9 9
" Dalam hidup penuh dengan berbagai cerita, kisah kehidupan yang akan selalu menemani kita dari generasi ke generasi, kisah yang menjadikan kehidupan...
1.7M 106K 42
Lady Viviana Castelmuro adalah putri tunggal dari Baron Bill dan Baroness Isabella yang sangat dihormati. Ia terlahir manja dan tak mengenal tanggung...
869K 65.9K 65
Tentang sebuah kisah yang melibatkan banyak hati dan perasaan, tentang lingkaran takdir yang selalu membelenggu manusia. Tentang permainan takdir yan...
Wattpad App - Unlock exclusive features