KAPAL ARDIN (END)

Par nisa3lestari

198K 9.7K 642

Karya ini murni hasil pemikiran dan kegabutan saya sendiri. No copas/plagiat❌❗ 🔥THIS STORY IS NOT ABOUT MARR... Plus

Prolog✨ : Broken Home VS Cemara
01✨ : Pertemuan Pertama
02✨ : New Support Sistem's Dinda
03✨ : Arkan Pulang
04✨ : Shopping!!!
06✨: Awal dari Semuanya
07✨ : Gara-Gara Brownies
08✨ : Gundah Gulana
09✨: Perpisahan?
10✨ : Selamat Jalan
11✨ : Rindu dan Orang Baru?
12✨ : Bertemu Kembali?
13✨: Menantu Idaman Mama
14✨: Khitbah?
15✨: Dijemput?
16✨: Salah Paham
17✨: Berlebihan?
18✨: Masa Lampau
19✨: Abang Baru
20✨: Alin dan Buntutnya
21✨ : Masih di Rumah Sakit
22✨ : Gambaran Keluarga Cemara
23✨: Gambaran Keluarga Cemara (2)
24✨ : Rencana Berujung Bencana
25✨ : Rencana Berujung Bencana (2)
26✨ : Ditemukan?
27✨ : Selamat!
28✨ : After Bencana
29✨ : Kebenaran
30✨ : Dinda Tantrum
31✨ : Dinda Tanrum (2)
32✨ : Keputusan dan Sah
33✨ : Alasan
34✨ : Ternyata?
35✨ : Hidup Baru
36✨ : Happy End
INFO
TANYA DULU😌

05✨ : Mau Cinta Lo Aja

5.6K 309 10
Par nisa3lestari

Haiiii... Assalamualaikum semuanya... Yok langsung dibaca, jangan lupa pencet bintangnya dluuuu...

***

Usai acara wisuda minggu lalu, Arkan tak lagi bertemu dengan Dinda. Gadis cantik itu tengah sibuk mengurus beberapa tes masuk universitas. Universitas yang dipilih oleh Dinda terbilang cukup populer. Tak ayal cukup sulit untuk menjadi seorang mahasiswa disana. Dinda harus bekerja keras untuk itu.

Jika Dinda disibukkan dengan berbagai urusan kampus, lain halnya dengan Arkan. Ia juga tak kalah sibuk. Laki-laki 18 tahun itu sedang mempersiapkan home schoolingnya hari ini. Pak Daniel, guru di salah satu SMA ternama ditunjuk untuk menjadi guru private bagi Arkan.

Arkan menatap buku serta beberapa peralatan tulis yang tertata rapi di meja ruang tengah. Ia ingat waktu dimana ia membeli semua peralatan tulis itu bersama Dinda. Entah dorongan darimana, hati Arkan merasa rindu dengan kehadiran Dinda. Sudah lama sekali ia tak mengobrol santai dengan Dinda. Biasanya ia akan mendengarkan berbagai cerita konyol yang diutarakan oleh gadis cantik itu.

Arkan ingin sekali menghubungi Dinda. Namun, ia urungkan karena tahu jika Dinda sedang sibuk sekarang. Berulang kali Arkan menghela napasnya. Ia rindu tapi ia tak mau mengganggu Dinda. Lebih tepatnya gengsi.

Berulang kali Arkan melirik handphonenya yang ia letakkan tak jauh darinya. Headset bluetooth pun telah tersambung dari handphonenya. Beberapa lagu romance pun telah terputar berulang kali dari playlist lagu Arkan. Laki-laki? Pecinta lagu romance? Yups, Arkan memang lebih menyukai lagu romance yang terkesan kalem dibanding lagu rock yang terkesan brutal. Sesuai dengan kepribadiannya yang cenderung menyukai kesunyian.

"Chat ga ya? Ga chat rindu, mau chat takut ganggu," gumam Arkan. Ia frustasi sendiri dengan pemikirannya. Maklum gengsinya memang setinggi langit.

"Chat? Ga? Chat? Ga? Chat? Ga? Chat—"

"Chat siapa?" tanya Pak Daniel tiba-tiba. Ia menaikkan satu alisnya. Arkan terkejut mendapati Pak Daniel berdiri di pintu pembatas ruang tamu dan ruang tengah. Sejak kapan pria tiga puluh tahun itu berdiri disana? Apa pria itu mendengar perkataanya barusan?

Arkan menetralkan ekspresi terkejutnya. Ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya. "Ekhem... Bukan siapa-siapa,"

"Yakin bukan siapa-siapa? Tapi kelihatannya kamu gelisah. Ah.. saya tahu, pasti dia orang yang spesial," goda Pak Daniel. Arkan mendengus kesal.

"Nggak,"

'Nggak salah maksudnya,' lanjut Arkan dalam hati.

"Hahaha anak muda, jangan terlalu memikirkan cinta. Kalau pada akhirnya cinta itu menjadi obsesi belaka. Cintai dia secukupnya saja. Jika takdirmu bukan dia maka cinta itu tak akan membuat dirimu sengsara nantinya," nasehat Pak Daniel. Arkan menghela napas panjang, benar juga apa yang dikatakan guru privatnya itu.

Arkan terdiam, seharusnya ia tak sefrustasi ini ketika tak mendapatkan kabar apapun dari Dinda. Harusnya ia fokus pada sekolah dan masa depannya saja. Perihal cinta dari Dinda ia bisa memikirkannya nanti.

"Hm, makasih pak,"

"Ga perlu berterima kasih, saya juga pernah ada diposisi kamu. Jatuh cinta saat usia saya setara dengan usia kamu sekarang, itu hal yang wajar. Namun, perlu kamu ketahui batas-batasnya. Kamu pasti paham batas-batasan itu, Arkan," ujar pak Daniel. Arkan tersenyum tipis lantas mengangguk.

"Sip, kalau gitu kita lanjutkan materi yang kemarin saja ya? Bab selanjutnya kita bahas besok," ujar Pak Daniel. Arkan mengangguk lagi. Kita ia harus lebih fokus pada pembelajarannya. Urusan Dinda, mungkin ia akan serahkan pada Allah saja. Semoga Dinda baik-baik saja diluar sana.

***

Terik matahari di siang ini membuat seorang gadis yang duduk di halte depan kampusnya merasa kepanasan. Tangannya tak kenal lelah mengibaskan beberapa lembar kertas untuk menggerakkan angin di sekitar wajahnya.

Dialah Dinda, gadis itu tengah menunggu jemputan. Jalanan begitu ramai, ia berpikir jika jemputannya akan sedikit terlambat karena macetnya jalanan. Dinda merogoh tasnya dan menemukan sebuah benda pipih nan canggih.

Dinda tampak melihat berbagai notifikasi dari media sosialnya. Tapi tatapannya terpaku pada sebuah notifikasi aplikasi chatting. Salah satu nama yang menjadi pusat perhatian Dinda adalah Arkan.

Dengan segera Dinda mengeklik notifikasi tersebut. Lalu muncullah room chat antara ia dan Arkan.

ARKAMPRET 🔥
Last seen today at 11.29 a.m.

Assalamualaikum Din
Lo sibuk ga?
Bunda nyariin lo
Katanya disuruh ke rumah, bunda lagi bikin brownis buat calon mantunya.

Wa'alaikumussalam
Tadinya sibuk
Sekarang udah kelar semua kok
Gue lagi nunggu jemputan nih
Nanti malam gue ke rumah deh
Btw calon mamtunya Tante Hafsah siapa tuh?

Setelah menjawab beberapa chat Arkan, Dinda memutuskan untuk menutup room chatnya dengan Arkan. Ia kembali melirik jalanan yang masih saja ramai. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan halte. Dinda melirik ke kanan dan ke kiri, namun penunggu di halte itu hanya ia seorang.

Dinda menggaruk pelipisnya. Positif thinking mungkin pemilik mobil mewah itu hanya sekedar berhenti sebentar.

Tiba-tiba seorang pria dengan setelan jas hitam turun dari mobil mewah itu. Dinda kenal betul siapa pria itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Mengingat kejahatan pria itu saja membuatnya naik darah.

"Assalamualaikum anak papa—"

"Wa'alaikumussalam, maaf salah orang!"

Dinda buru-buru pergi dari sana. Namun, tangannya dicekal oleh pria tadi. Dinda memberontak, pria tadi melepas cekalan pada tangan mungil Dinda. "Dinda Calista Dirgantara, kamu ga ingat papa?" tanya pria tadi.

Sudah jelas siapa pria itu, dialah Satya Dirgantara. Dinda yang sedari tadi tak ingin menatap wajah papanya pun tak menjawab apa-apa. Raut wajah cerianya telah berubah menjadi kecut.

"Saya tidak ingat siapa anda. Tapi melihat wajah anda, saya ingat betapa kejamnya anda kepada saya dan mama saya malam itu," ketus Dinda. Lirikan matanya bahkan terkesan tajam.

"Nak, maafin papa. Papa ngaku salah, malam itu papa terpedaya oleh bujuk rayu Shinta dan putrinya Shella. Maafin papa nak," alibi Satya. Ia berharap putrinya percaya dengan perkataannya.

Namun, hal yang berbanding terbalik dengan ekspetasinya yang terjadi. Dinda menatapnya dengan tatapan marah. Bahkan wajahnya terlihat merah padam.

"Semudah itu anda meminta maaf? Bahkan setelah bertahun-tahun lenyap dari kehidupan saya dan mama saya? Bertahun-tahun saya dan mama menderita. Lalu anda seenak jidat meminta maaf seperti ini? Hebat sekali anda,"

"Nak, dengerin papa. Papa pengen kamu ikut papa ke rumah. Tinggallah sama papa dan mama baru kamu yaitu Shinta. Shinta udah berubah kok. Kamu ga usah khawatir—"

"Ga usah khawatir? Justru saya harus lebih khawatir karena harus tinggal bersama wanita ga tau diri beserta anaknya itu—" potong Dinda. Ia tak suka mendengar nama ibu dan anak yang menjadi penyebab keluarganya terpecah belah.

"Dinda! Jaga ucapan kamu. Mereka itu sama seperti keluargamu. Kamu ga seharusnya berkata demikian!" tegur Satya dengan menunjuk jarinya ke wajah Dinda. Dinda hanta bisa terkekeh miris. Papanya tak pernah berubah, masih sama kasarnya seperti dulu.

"Lucu banget Pak, mohon maaf tapi saya ga sudi tinggal bersama anda dan istri anda itu!"

"Tapi—"

'Tin tin'

Sebuah mobil pajero hitam berhenti tepat di depan mobil mewah tadi. Dinda tahu siapa yang ada di dalam mobil itu. "Saya permisi, assalamualaikum!"

Dengan langkah seribu, Dinda menghampiri mobil pajero itu. Dinda pun masuk ke dalam mobil itu. Pak Zulkifli datang tepat pada waktunya. Di luar, tampak Satya mengetuk-ngetuk pintu mobil Pajero Dinda.

"Jalan aja, pak!" titah Dinda.

"Tapi non, pak Satya ada di luar,"

Dinda menghela napas berat. "Jalan aja, saya udah bicara sama beliau kok," titah Dinda. Akhirnya Pak Zulkifli mengangguk. Ia segera menancap gas pergi dari halte itu.

Dinda duduk diam di jok belakang. Sesekali matanya melirik beberapa pedagang kaki lima yang berjualan di pinggiran jalan. Netranya tak sengaja melihat seorang anak yang sedang digendong oleh ayahnya. Bahagianya anak itu ketika bercengkrama dengan sang ayah. Dinda sangat ingin merasakan hal itu. Namun, takdir berkata lain.

Tanpa disuruh, mata indah Dinda menitikkan air matanya. Jika disuruh memilih, Dinda tak ingin kehidupannya sehancur ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak mungkin menyalahkan takdir. Ia ingat satu quote dari Alin yang mampu membuatnya sadar akan kegundahannya.

"Jangan pernah menyalahkan takdir, sesungguhnya usai hujan badai akan ada setitik pelangi yang terbentuk indah. Allah telah menyiapkan skenario indah setelah ujian bagi hambanya selesai. Jadi banyak-banyak bersabar, berdoa dan beribadah,"

Mengingat quote itu, membuat mood Dinda membaik. Alin memang sahabat terbaiknya. Dikala ia kesulitan, Alin tak segan membantunya. Bahkan uluran tangan Alin tak pernah digantikan oleh nominal uang. Begitu baiknya Alin, Dinda berdoa semoga kehidupan pernikahan Alin baik-baik saja bersama Alif.

"Gue beruntung punya sahabat kaya Alin, semoga lo selalu bahagia Lin."

***

Malam yang cerah dengan bulan purnama di atas sana dihiasi dengan taburan bintang yang indah dipandang. Dinda tampil cantik dengan balutan rok plisket hitam dan Hoodie putih sebagai atasan. Tak lupa hijab dan sneakers yang senada dengan rok yang dipakainya.

Kini ia sedang berada di ruang makan bersama Mama Lisa, Bunda Hafsah dan Abidzar. Arkan masih sibuk mengerjakan tugas dari Pak Daniel di kamarnya.

"Kak Dinda, kakak mulai kuliah kapan?" tanya Abidzar.

"Beberapa hari lagi Bidzar, kenapa?"

Dinda peka jika Abidzar mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi Abidzar memulainya dengan basa-basi. "Gapapa kok kak. Kalau kak Dinda udah kuliah berarti nanti bakal jarang ke rumah dong. Kasian tahu, bunda ga ada yang nemenin bikin kue lagi," ujar Abidzar sengaja dibuat sedih.

Dinda terkekeh pelan, ia duduk berseberangan dengan Abidzar. "Ga usah khawatir, tante Hafsah ga akan sendirian kok. Kalau aku ada waktu luang pasti aku bakal kesini,"

"Beneran? Janji ya kak?"

Lagi-lagi Dinda terkekeh. Ia mengepalkan tangannya kecuali jari kelingkingnya yang tampak mengacung. "Iya janji," ujar Dinda.

Abidzar tersenyum lebar. Akhirnya ia tak perlu khawatir jika ditinggal kuliah oleh Dinda, apalagi jika ia tak bisa memakan kue buatan Dinda lagi. Ia akan merindukan kue buatan calon kakak iparnya itu.

Mama Lisa melihat keakraban putrinya dan putra bungsu dari Bunda Hafsah tampak tersenyum simpul. "Kalian mau ngobrol terus atau makan sekarang?" tegur Mama Lisa.

"Nah benar tuh. Nanti aja ngobrolnya dilanjutkan habis makan. Dinda, tante minta tolong panggilin Arkan di kamarnya ya! Tante mau manggil om David di teras depan," titah bunda Hafsah. Dinda mengangguk, ia pun berdiri dari kursinya.

"Siap tante,"

Detik berikutnya Dinda sudah beranjak menuju kamar Arkan. Akhirnya sampai juga ia di depan pintu kamar Arkan. Dinda mengetuk pintunya.

"Siapa?" sahut Arkan dari dalam.

"Dinda," jawab Dinda sedikit keras.

"Masuk aja!" titah Arkan. Dinda pun meraih kenop pintu lalu masuk ke kamar Arkan. Aroma maskulin begitu tercium di kamar laki-laki itu. Nuansa dark blue dengan perpaduan putih membuatnya tampak elegan. Kamar laki-laki itu benar-benar bersih dan rapi. Berbanding terbalik dengan kamarnya yang selalu terlihat seperti kapal pecah.

Dinda terlalu larut dalam kekagumannya. Tanpa sadar, Arkan sudah berdiri di depannya menggunakan tongkat kruk.

Saat Dinda melihat ke depan, ia malah tersentak kaget karena Arkan memasang ekspresi wajah yang menyeramkan baginya. Mata yang melotot, alis tebalnya terangkat, mulut yang terbuka hingga tampak gigi gingsulnya.

"Allahuakbar!"

"Hahaha..."

"Astaghfirullah Arkan, kaget gue. Muka lo kayak setan tau ga!" ketus Dinda. Arkan malah semakin tertawa melihat kekesalan Dinda.

"Sorry-sorry gue sengaja," uhar Arkan dengan watadosnya. Sungguh halal bagi Dinda untuk membunuh laki-laki di depannya itu. Sangat mengesalkan.

"Awas ya lo! Gue aduin ke Tante Hafsah baru tau rasa!" Ancaman dari Dinda langsung ampuh membuat mulut Arkan tertutup. Jika sudah berhubungan dengan bundanya, Arkan tak akan bisa lari lagi. Pintar sekali gadis di depannya ini mencari kelemahannya.

"Iya-iya sorry, jangan bilangin ke bunda. Entar nasib hidup gue gimana kalo lo ngadu soal gue ngagetin lo," mohon Arkan. Dinda ingin sekali tertawa melihat raut masam Arkan. Sudah bisa dipastikan jika Arkan takut dengan bundanya.

"Iya deh, asal lo harus kasih gue sesuatu dulu. Baru gue ga akan bilangin soal ini ke Tante Hafsah," tawar Dinda. Lumayan 'kan bisa morotin anak orang.

"Aelah, yaudah lo minta apa?" tanya Arkan. Ia telah salah mencari lawan. Dinda bukan tandingannya.

Dinda hendak menjawab namun disela tiba-tiba oleh Arkan. "Ah gue tau lo mau apa. Lo mau boneka kan?" terka Arkan. Dinda menggelengkan kepalanya, tanda salah.

"Oh, skincare?"

Lagi-lagi Dinda menggelengkan kepalanya. "Hm, lo mau aneka barang bentuknya bintang?" tanya Arkan.

"No!" tolak Dinda. Arkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh ia kebingungan sekarang. Apa yang diinginkan gadis di depannya ini? Aneh, biasanya jika ditawari boneka, skincare, atau aneka barang yang berbentuk bintang Dinda tak akan menolak.

"Terus apa?" tanya Arkan.

"Mau cinta lo aja gimana?"

***

Hayowww, kembali lagi dengan author yang cantik, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong. Siapa lagi kalo bukan, saya😆

Gimana² puas ga sama chapter ini? Dinda agak nglunjak ya sekarang. Ditawarin boneka, gamau. Ditawarin skincare, gamau. Ditawarin aneka barang yang bentuknya bintang, gamau juga. Malah mau cintanya Arkan. Tapi ga salah juga sih. Kalo udah dapet cintanya Arkan pasti bisa dapet yang lainnya juga dong.

Ibarat gini wir, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui...🤓 Pinter juga si Dinda.

Oh ya, jangan lupa votment yaaa... Kalau kalian aktif komen, aku malah tambah lope-lope sama kalian hehe... Udah dulu see you again wassalamu'alaikum 🌷💘

Continuer la Lecture

Vous Aimerez Aussi

19.8K 1.8K 31
Dinda benci Angga, Sungguh. Cowok itu pernah mematahkan hatinya tanpa penjelasan - lalu dengan santainya kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa...
My Duchess / End Par Reinaa

Roman pour Adolescents

266K 7.7K 57
WARNING TYPO TAK BISA KU HINDARI DAN KU SINGKIRKAN DALAM KEHIDUPAN INI, TOLONG KOMEN KALO NEMU SI TYPO Jikalau ini memang takdir ku.. Kenapa begitu...
6.4M 268K 45
(FOLLOW AKUN OUTHOR SEBELUM BACA DEMI KENYAMANAN BERSAMA)👌 "Apa?! Nikah? Mama sama Papa udah gila? Ini 'kan zaman modern. Sekarang bukan lagi zaman...
2.1M 173K 49
"Apa Pa? Menikah? Papa mau ngancurin hidup Arka seberapa jauh lagi?" dan satu tamparan mendarat di pipi gue. "Jangan bodoh Arka, menikah itu hanya p...
Application Wattpad - Débloquez des fonctionnalités exclusives