Ada Apa Dengan Mantan (On Goi...

By Sourgrl

501K 16.2K 352

"Kamu penuhi kebutuhan saya di ranjang, saya penuhi kebutuhan foya-foya kamu." "Dasar cowok sintingggg!" •••... More

opening
MTM 1
MTM 2
MTM 3
MTM 5
MTM 6
MTM 7
MTM 8
MTM 9
MTM 10
MTM 11
MTM 12
MTM 13
MTM 14
MTM 15
MTM 16
MTM 17
MTM 18
MTM 19
MTM 20
MTM 21
MTM 22
MTM 23
MTM 24

MTM 4

23.9K 871 7
By Sourgrl

Wajib vote sebelum membaca!!

Jangan lupa comment tanggapan kamu tentang part ini!
Jangan lupa Follow buat dapet notifikasi updatetan selanjutnya.

Oh iya yang begadang nanti bakalan di temani oleh Sean dan Steffie karena aku mau update 2/3 part lagi hari eneh😉

Happy reading😘

Kamis pagi biasanya Steffie lebih lesu dari pada hari-hari yang lain. Semua itu bukan tanpa alasan, karena di hari Kamis dia harus mengawali dengan mata pelajaran olahraga yang paling dia benci.

Gadis itu tak suka berkeringat dan bau matahari, sehingga dia harus repot repot membawa peralatan mandi kesekolah untuk membersihkan diri selama jam istirahat pertama. Baginya berkeringat di pagi hari akan membuat dia jadi lebih cepat layu dan mengantuk, itulah mengapa Steffie mau repot-repot mandi di sekolah.

Tapi setidaknya sudah dua minggu ini Kamis paginya tak seburuk bisanya. Bagaimana tidak, sekarang setiap pagi dia akan bertemu kekasih tampannya, yang akan menurunkan dia didepan sekolah dan itu membuat iri banyak temannya.

Ayolah, pacarnya sangat tampan, tinggi menjulang dan lembut padanya meski wajahnya sedatar tembok.

"Nanti kamu pulang jam berapa stef?"

"Oh iya lupa bilang. aku pulang jam 2 siang kak, pertemuan PMR di geser hari ini. Kalau kakak gak bisa jemput gak masalah."

"Nanti pulang aku jemput, nanti sebelum pulang nonton dulu mau?"

"Mau mau mau!!"

Sean melipat bibirnya kedalam. Tingkah antusias gadis di depannya sangat menggemaskan. Tahan, dia tak mungkin mencium gadisnya sekarang.

Semua ada waktunya, terkadang dia harus bersabar untuk dapat apa yang dia mau bukan?

Di acaknya poni pacar kecilnya, "yaudah masuk gih, gue langsung ke kampus."

"Hati-hati sayang."

Bukan, bukan karena pangilan sayang Sean jadi membeku dengan kedutan di sudut bibir menahan senyum. Tapi karena Steffie berucap sambil memberika wink padanya.

Gadisnya memang punya pesona sendiri. Dia pikir hubungannya dan steffie tak sampai satu minggu, tapi ini sudah dua minggu dan dia cukup menikmati menjalin hubungan dengan bocah itu.

"Kayaknya keputusan gue gak terlalu keliru." Ucapnya lirih sebelum menjalankan motornya menjauh dari sekolah kekasihnya.

••••

"Wih wih wih sekarang jadi morning person terus ya lo." Ucap kevin saat melihat Sean memasuki perpustakaan fakultas ekonomi dan bisnis.

"Ya gimana pacar gue gak pernah masuk siang." Balas pemuda jakung itu sembari mendaratkan bokongnya ke kursi depan Kevin

"Wesss jadi ojek lo sekarang?"

"Brengsek lo hahaha."

Mereka berdua sesaat mulai fokus mengerjakan skripsi masing masing sebelum akhirnya seseorang datang mengalihkan atensi mereka

"Dosen gue ngeselin banget" ucap orang yang baru datang dengan wajah lesunya.

Orang itu duduk di sisi kanan Sean sambil menyandarkan bahu dan kepalanya kepada Sean.

"Woy, dateng-dateng main senderan kepacar orang aja lun." Ucap Kevin meledek. Sebenarnya pemuda itu tau tentang perasaan Luna pada Sean. Tapi dia memilih bungkam karena merasa Luna tak ingin Sean mengetahui perasaannya.

"Walau dia pacar orang tapi dia tetep temen gue kan."

"Emang prof Budi kenapa lu?" Ucap Sean sambil melanjutkan kembali mengetik di laptopnya.

"Masa kemarin gue udah revisi sesuai apa yang dia mau di depan dia pula, tapi hari ini gue tetep gak dapet tanda tangannya karena katanya salah. Mana revisinya dia itu apa yang udah gue kerjain kemarin, sia-sia dong gue revisi kalau udah bener."

Luna bercerita dengan wajah frustasi membuat kedua temannya terkekeh menertawakan kesialannya.

"Sial banget sih lo dapet dosen kayak prof Budi, masih mending dosennya Sean kayaknya."

"Makanya, gue kesel banget. Habis ini gue mau print lagi. Nanti anterin gue ya Sean."

Yang di ajak biacara hanya mengangguk sambil mengeluarkan jempolnya.

"Oh iya Se, gimana pacar lo yang nyusahin itu? Gak ada cerita hari ini?"

Sambung Luna yang membuat gerakan Sean di atas keyboard terhenti. Nyusahin? Bagaimana bisa Luna berfikir kekasihnya demikian, apa yang membuat temannya itu berfikir kekasihnya menyusahkan?

"Nyusahin? Kapan Steffie nyusahin gue?" Ucap Sean setelah beberapa detik terdiam

"Dia manja banget ke lo kan? Udah malem ngode minta MCD, mana setiap hari lo harus anter jemput lagi."

Sejenak pemuda yang sedari tadi di tempeli Luna menghela napas, walaupun dia menerima Steffie bukan karena rasa suka tapi sekedar rasa tertarik dan penasaran, Sean tetap tak terima kekasihnya di cap buruk orang terutama temannya sendiri.

"Dia gak minta, gue yang inisiatif, lagian gue suka sama setiap hal yang dia lakuin." Jawab santai Sean

"Tapi dia bikin lo kerepotan Se."

"Stop lun, gue gak merasa di repotin pacar gue sendiri."

Luna merasa panas, biasanya Sean selalu setuju dengan pendapatnya, lalu mengapa sekarang pemuda itu memilih berdebat dengannya demi membela gadis manja itu.

"Lo berlebihan Se, bukannya lo gak suka ya sama cewek kayak pacar lo?"

"Emang pacar gue cewek kayak apa sih lun dimata lo. Bahkan lo belum pernah ketemu langsung sama Steffie."

Sean menatap Luna yang telah duduk tegak menghadap dirinya. Selama ini dia tak pernah berdebat dengan Luna, tapi kali ini dia merasa tak bisa menghindari perdebatan yang ada.

"Terserah lo deh, kesel banget gue."

Kevin yang sedari tadi mengamati keduanya jadi meringis, apakah teman perempuannya sedang cemburu? Baru kali ini dia melihat Luna bersikap menyebalkan dengan mencampuri hubungan asmara orang lain. Padahal Sean terlihat enjoy menjalin hubungan dengan pacar bocilnya.

Hah! Katanya isi pikiran laki-laki tak bisa di tebak, tapi  kini Kevin merasa isi pikiran perempuan yang tak bisa di tebak.

••••

"Kak!"

Seorang gadis berlarian kecil saat melihat orang yang dia cari.

"Hai udah lama nunggu?" Ucapnya sambil menerima sodoran helm dari sang kekasih.

"Enggak, baru sampai kok, yuk naik."

Segera gadis yang adalah Steffie menaiki motor kekasihnya dan memeluk erat perut Sean.

Seulas senyuman tak dapat pemuda itu tahan, dia gas motornya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan sesekali Steffie menanyakan tentang kegiatan Sean selama di kampus. Gadis 17 tahun itu  sesekali juga bercerita tentang tugas yang di dapatkan tadi berserta usahanya untuk mencicil tugasnya agar bisa berkencan dengan Sean.

Entah kenapa Sean senang mendengarnya, sesekali dia elus tangan kekasihnya yang melingkar di perutnya.

'cepet gede ya stef biar gue gak merasa berdosa tiap cium bibir cerewet lo."

Sean mendengus kala tersadar dengar ucapan batinnya, hah! Ini bukan gombalan dia memang merasa hal yang berbeda ketika bersama dengan Steffie, gadis itu berbeda dengan mantan pacarnya yang rata-rata pendiam sama sepertinya.

Kini mereka telah sampai di salah satu mall besar di jakarta, dia meraih tangan mungil kekasihnya yang masih lengkap dengan seragam SMA.

"Mau beli makan dulu?" Tawar Sean

"Enggak deh, aku mau beli roti aja kak." Ucap Steffie sambil menunjuk sebuah toko roti yang menguarkan bau sedap.

"Boleh, ayo kesana."

Saat keduanya sedang asik memilih beberapa roti tanpa sadar ada sepasang mata yang mengamati keduanya dari belakang. Pria paruh baya itu tak melepaskan tatapannya dari senyum ceria Steffie maupun senyum tipis Sean yang tulus.

Saat kedua muda mudi itu beranjak kekasir, mereka di kejutkan dengan sebuah tangan berbalut pakaian kantor yang menyodorkan kartu kredit pada kasir.

"Pakai ini aja mbak." Ucap pria itu dan berhasil mengejutkan Steffie maupun Sean.

"Loh papa?"

Bagaikan pencuri yang tertangkap basah, Steffie panik. Bagaimana ini papanya memergoki dia sedang berkencan, dia kan belum boleh berpacaran.

"Kenapa pacarnya gak di kenalin ke papa mama? Besok sabtu ajak main."

Ucapan singkat sebelum akhirnya sang ayah melangkah pergi itu mampu membuat gadis mungil di hadapan Sean lemas.

'mati gue!'

Follow akun wattpad untuk tau notif dan karyaku selanjutnya.

Support aku dengan...

•tinggalkan Vote dan comment biar aku makin semangat menulis.

Thank you untuk vote dan comment kalian, see you next part my readers🖤

🤍my readers🖤

Continue Reading

You'll Also Like

364K 40.9K 35
Bagaimana rasanya menjadi orang tua dadakan ketika usiamu masih menginjak delapan belas tahun? Menyebalkan bukan? Itulah yang di rasakan Erlan selepa...
685K 4.3K 50
‼️🔞🔞❌ Cellyne Adellina, seorang gadis berusia 19 tahun, hidup dengan beban yang terlalu berat untuk usianya. Kedua orang tuanya menghilang tanpa ka...
8.6M 627K 47
[𝐅𝐎𝐋𝐋𝐎𝐖 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐀𝐂𝐀] ❗𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐌𝐄𝐍𝐄𝐑𝐈𝐌𝐀 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐁𝐄𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐀𝐏𝐀𝐏𝐔𝐍❗ "Gue mau ngomong sama...
Wattpad App - Unlock exclusive features