Jangan lupa vote dan comment <3
Terimakasih sudah mampir ^-^
‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣‣
Samira merasakan detak jantungnya yang semakin tak karuan ketika ia berada berdua bersama Jonathan di dalam kamarnya. Jonathan menatap mata Samira dengan tatapan yang begitu dalam, Jona menarik nafas panjang.
"Samira, bisakah kau bekerja di tempat lain?" tanya Jonathan dengan nada yang cemas.
Samira paham betul dengan apa yang yang dibicarakan oleh Jonathan. Namun, Wanita itu merasa begitu gelisah jika ia harus keluar dari rumah ini. Pasti akan sangat sulit untuk mencari pekerjaan di luar sana.
"Samira."
"Maaf, meneer. Jika aku meninggalkan rumah ini, akan sangat sulit bagiku untuk mencari pekerjaan lainnya di luar sana," jawab Samira sembari menundukkan kepalanya.
Samira merasakan tangan menyentuh pipinya yang terkena goresan kaca, ia berjingkat merasakan perih ketika tangan itu mengoleskan sebuah salep pada lukanya. Samira menengadahkan wajahnya, ia beradu tatap dengan mata marine blue yang begitu menenangkan.
"Aku akan mencarikanmu tempat tinggal. Semua keperluanmu akan aku urus dengan baik," titah Jonathan seolah tak menerima penolakan apapun.
"Meneer, bagaimana dengan Mbok Lastri? Apa yang harus ku katakan padanya nanti?"
Jonathan tak berniat menjawab pertanyaan Samira, pria itu sibuk mengoleskan salep. Setelah dirasa selesai, Jona menutup salep itu lalu memberikannya kepada Samira.
"Aku akan bernegosiasi dengan Marteen untukmu." Jonathan membuka pintu kamar Samira, pria itu meninggalkan Samira yang masih membeku di tempatnya.
Hari menjelang sore, keluarga Jaan Klaas dan Baardwijk dihebohkan dengan Jonathan yang meminta kepada Marteen untuk membawa Samira bersamanya. Tentu hal itu membuat Nyonya dan Tuan Baardwijk sangat terkejut dengan keputusan mendadak putranya itu. Jonathan berkata, bahwa dia beralasan membutuhkan baboe untuk mengurus Dedrick ketika di Soerabaja.
Jonathan bernegosiasi dengan tegas, ia terlihat begitu mengintimidasi keluarga Jaan Klaas tak terkecuali Nyai Sadimah. Nyonya Baardwijk mencoba untuk menghentikan Jonathan dengan berkata bahwa sudah terlalu banyak baboe dan djongos di rumahnya, namun semua itu tak bisa menghentikan keinginan Jonathan untuk membawa Samira keluar dari kediaman Jan Klaas.
"Bagaimana jika kita bertanya kepada Samira, apakah dia ingin ikut anda atau tidak?" celetuk Nyai Sadimah.
Jonathan menyetujuinya, Samira segera dipanggil untuk menghadap Nyai Sadimah. Samira merasakan atmosfer yang begitu panas, ia melirik sekilas ke arah Jonathan yang tengah memasang tampang begitu dingin. Samira juga melihat Tuan dan Nyonya Baardwijk yang kini tengah menatapnya dengan tatapan intimidasi.
Tanpa memerlukan basa-basi, Nyai Sadimah langsung menjelaskan seluruh keinginan Jonathan. Setelah mendengar itu, jujur Samira begitu terkejut karena Jonathan terlihat bersih kukuh untuk membawanya pergi. Samira merasa tak enak kepada Nyai Sadimah ataupun Atmojo. Namun, ia juga merasa bahagia.
Samira tak ingin menjadi wanita yang munafik, ia begitu ingin pergi bersama Jonathan. Ia tak peduli jika harus bekerja menjadi baboe asalkan ia tak berpisah dari Jonathan. Samira menyetujui permintaan Jonathan, meskipun ia menjawabnya dengan sedikit terbata karena bimbang. Samira melihat raut wajah kecewa terlukis pada Nyai Sadimah, namun wanita itu terlihat menyetujui keputusan Samira dengan besar hati.
Jonathan meminta untuk hari ini juga Samira pergi bersamanya, ia beralasan bahwa tugasnya sebagai Kolonel tak bisa terlalu lama ditinggalkan. Keluarga Baardwijk sendiri tak dapat menahan keputusan Jonathan, mereka hanya bisa pasrah dengan sikap keras putranya itu.
Samira segera diminta untuk mengemasi barangnya, ia segera berjalan pergi menuju kamarnya. Ketika Samira tengah sibuk mengemasi barangnya, ia melihat Sri dan Mbok Jum masuk ke kamar. Mereka berdua menatap Samira dengan begitu sedih.
"Rumah ini akan sepi jika kamu pergi, Mir," celetuk Sri
"Maafkan aku, ya?" ujar Samira sembari menggenggam tangan Sri.
"Ada apa diantara kamu dengan putra Baardwijk itu, nduk?" pertanyaan spontan Mbok Juma membuat Samira terdiam, ia kembali fokus mengemasi barang-barangnya.
"Aku tak sengaja melihat meneer itu masuk ke kamar ini." Pernyataan Mbok Jum membuat Sri terkejut, ia melihat ke arah Samira yang tengah selesai mengemasi barangnya.
"Mbok, saya mencintainya," jawab Samira singkat namun berhasil membuat kedua orang di depannya melongo karena terkejut.
"Konyol memang, tapi inilah yang saya rasakan," imbuh Samira sembari menyunggingkan senyum tipis. Mbok Jum dan Sri tak berkomentar apapun, ia hanya mengingatkan kepada Samira agar tak melupakan mereka. Samira segera keluar dari kamarnya, ia pergi menuju depan kediaman Jan Klaas dimana Jonathan telah menunggu dirinya.
Samira berpamitan kepada seluruh keluarga Jan Klaas. Mereka nampak begitu berat melepas kepergian Samira, terutama Nyai Sadimah. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Samira baru menyadari bahwa dia tak melihat Richard.
"Ayo masuk." Ucapan Jonathan berhasil menyadarkan Samira dari lamunanya, ia segera masuk ke dalam mobil. Di sebelah kursi kemudi, ia melihat Dedrick, putra semata wayang Jonathan dan Beatrice. Samira mencoba untuk menyapa Dedrick dengan senyum seramah mungkin, namun bocah itu malah melengos begitu saja.
Jonathan segera menyalakan mesin mobilnya, mobil itu perlahan meninggalkan halama rumah keluarga Jan Klaas. Samira melirik sekilas ke arah Jonathan yang tengah fokus mengemudi, ia juga melirik ke arah Dedrick yang menunjukkan tatapan wajah tidak suka terhadap kehadirannya di situ.
Perjalanan mereka diselimuti oleh keheningan, tak ada diantara mereka berdua yang berniat untuk membuka pembicaraan apapun. Samira memandang kagum keresidenan Soerabaja yang memiliki tatanan kota yang begitu indah bak di Eropa. Netranya menangkap aktivitas pribumi ataupun orang Eropa yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Hingga hampir dua jam perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah yang ada di pesisir pantai. Samira terperangah melihat keindahan pesisir pantai Soerabaja yang begitu menenangkan.
"Kita sudah tiba," celetuk Jonathan sembari melirik ke arah Samira.
Samira hanya membalas celetukan Jonathan dengan anggukan singkat. Samira melirik ke arah Dedrick yang masih terlelap dalam tidurnya, ia berinisiatif untuk menggendong Dedrick ke dalam rumah. Namun, ketika Samira hendak membuka pintu mobil, Jonathan telah membukanya terlebih dahulu. Pria itu juga mengulurkan tangannya membantu Samira untuk keluar, Samira meraih tangan Jonathan lalu ia segera keluar dari mobil.
Tak lama datang seorang wanita yang terlihat sebaya dengan Samira. Wanita itu menatap Samira dengan tatapan yang sedikit aneh sembari mengernyitkan kedua dahinya heran. Namun, Jonathan meminta wanita itu untuk menggendong Dedrick ke dalam kamarnya.
"Biar saya saja, meneer," sahut Samira.
"Nee, ada yang harus ku sampaikan padamu." Jonathan berjalan memasuki kediaman yang terlihat begitu megah. Samira melihat ada dua tukang kebun yang tengah sibuk menyiram tanaman dan ada juga yang memotong rumput.
"Ini rumah siapa, meneer?"
"Rumah dinasku di Soerabaja."
Jonathan berjalan diikuti oleh wanita yang tengah menggendong Dedrick. Jonathan juga meminta dua tukang kebun serta dua baboe lainnya yang berusia di atas Samira berkumpul di ruang tengah. Mereka menatap Samira dengan penuh rasa penasaran, Samira yang ditatap seperti itu merasa sedikit tak nyaman. Ia menyembunyikan diri di balik tubuh jakung Jonathan.
"Akan aku perkenalkan, dia adalah Samira. Dia akan menjadi Nyonya di rumah ini, perlakukan dia sebaik mungkin."
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Gimana chapter kali ini??