OUR HOME [TAMAT]

Por AndyniRyuu2

242K 6.8K 599

Rayan tidak menyangka jika pada akhirnya ia akan bertemu lagi dengan sahabatnya sewaktu di panti dalam suasan... Más

Prolog
1. Permintaan
2. Bertemu
3. Keluarga Aryan
4. Bagian Keluarga
6. Masalah
7. Tak Peduli
8. Musuh dan Teman
9. Berita
10. Amarah
11. Aksi Marah!
12. Minta Maaf
13. Mulai Dekat
14. Takut
15. Sakit yang Berbeda
16. Bersama
17. Syarat
18. Orang Baru
Cerita baruu

5. Tak Diterima

6.7K 370 41
Por AndyniRyuu2

Our Home

Happy Reading For All😁😁

Tak Diterima

"Ken, bukankah keterlaluan jika kamu menganggap anak itu hanya sebagai alat janjimu saja?"

Ken mengerutkan alisnya, "Maksud ucapanmu?"

Radit menghela napasnya seraya memijit pelan pangkal hidung yang terasa sangat sakit usai begadang semalaman.

"Kau pikir aku tak tau jika kau hanya mengadopsi Rayan demi janjimu pada Kirani? Kau sama sekali tak berniat menyayanginya seperti Aryan kan?" Ken yang terdiam membuat Radit berdecak.

"Aku tau jika kau masih trauma atas pengkhianatan ibu tirimu. Tapi tak semua orang asing itu sama! Bahkan, aku lihat anak itu adalah anak baik-baik. Dia sama sekali tak berniat jahat, aku tau bagaimana dia dari cara anak itu bersikap."

"Dan lagi, anak itu sudah banyak menderita dengan ibunya. Apa kau benar tak ingin berbagi kasih sayangmu padanya?"

Ken diam lagi. Pria itu memikirkan kata-kata yang barusan disampaikan sahabatnya.

Jujur saja sahabatnya itu sangat benar. Harusnya, dengan masa lalu Rayan yang seperti itu dirinya bisa dengan baik membagi kasih sayang. Tapi, trauma masa lalu atas orang asing yang merusak keluarganya benar-benar membuat Ken tidak bisa menetralkan hatinya.

Ia tak bisa mengikuti isi hatinya. Ken terlalu egois untuk itu.

"Dit, berbagi kasih sayang itu sulit. Sampai saat ini aku saja masih ingat kejadian bagaimana orang yang aku sangat sayangi berubah menjadi monster. Aku sulit untuk menerima orang baru, aku tak bisa.."

Radit memandang Ken sendu. Mungkin tempat dan situasi Ken memang sangat tak menguntungkan baginya. Namun Radit juga tak bisa membenarkan tindakan sahabatnya. Baginya, luka tak harus dibalas luka.

"Aku tahu mungkin memang sulit bagimu. Tapi, harusnya kau mencoba itu Ken.."

"Jangan sampai suatu saat ini kau menorehkan luka yang sama untuk Rayan. Karena, kalaupun ingin balas dendam dia bukanlah orang yang tepat. Ingat, dia tidak bersalah dalam hal apapun di kehidupan lampaumu."

Ken tak menanggapi apapun perihal ucapan sahabatnya. Namun, Radit yakin jika saat ini Ken tengah berpikir. Ia tahu bagaimana Ken. Se-kasar dan se-dingin apapun dirinya, Ken adalah orang yang baik dan juga penyayang. Dan untuk kasus ini Radit berharap yang terbaik untuk semuanya, entah itu Ken atau Rayan yang saat ini tengah dijadikan alat sebuah janji semata.



Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih 15 menit. Ken baru sampai di rumahnya di jam seperti itu, dan ia yakin sekali jika putra-putranya sudah tertidur di kamar masing-masing.

Ken berjalan menuju ke kamar bungsunya saat ini. Pria itu sudah terbiasa untuk mengecek putra bungsunya setiap hari. Dirinya memang sudah sesayang itu pada Aryan.

Cklek

Ken membuka pelan pintu kamar Aryan, dirinya sebetulnya lupa jika saat ini dikamar putranya ada individu lain selain Aryan. Mata pria paruh baya itu terpaku melihat seorang anak yang tertidur dengan bersandar di headboard.  Tidurnya nampak tak nyaman, namun yang Ken pedulikan jelas bukan anak itu. Pria itu hanya melihat kearah putra bungsunya yang tidur dengan berbantalkan paha Rayan.

"Ck, tidurmu akan membuat tubuhmu sakit ketika bangun son.." Ken bergumam sembari membenarkan posisi tidur Aryan.

Rayan yang belum lama tertidur sedikit terkejut dengan kehadiran pria yang katanya mengadopsinya itu. Dalam diam, Rayan memperhatikan apa yang pria itu lakukan pada sahabat kecilnya yang tengah tertidur.

Manis, itulah hal yang bisa Rayan simpulkan dari semua yang dilakukan Ken.

"Lain kali ketika sudah mengantuk tidur dengan benar, jangan tidur dengan posisi seperti itu, anakku akan sakit karenanya." ujar Ken dengan pelan, ia takut membangunkan kesayangannya jika menegur Rayan dengan suara keras.

Rayan yang ditegur hanya bisa mengangguk kecil. Meski hanya sedikit, Rayan merasa iri dengan perlakuan manis Ken pada Aryan. Dirinya saja dulu tak pernah diperlakukan seperti itu walau sudah mendapatkan orang tua adopsi. Baginya, Aryan sangatlah beruntung berada di keluarga ini.

Ken menatap Rayan yang saat itu hanya diam. Dirinya melihat dulu jam tangan dan langsung berjalan menuju tempat Rayan yang duduk di sisi lain ranjang ini.

"Aku ingin bicara, bisa ikut sebentar?" tanya Ken ketus.

Karena memang Rayan sudah terlanjur terbangun anak itupun hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

Setelah mendapatkan persetujuan Rayan, Ken pun langsung menuju ke ruang kerjanya dengan menggandeng tangan kecil Rayan. Sesampainya disana, pria itu menyuruh Rayan untuk duduk di sofa dan memberikan susu kotak milik Aryan yang sengaja tersedia di ruang kerjanya.

"Ini,"

"Terima kasih Papa.."

Ken sedikit tersentak ketika mendengar panggilan "Papa" yang dilontarkan Rayan barusan. Entahlah, tapi rasanya seperti dulu saat Aryan pertama memanggilnya "Papa". Hanya saja, saat itu Ken menunjukkan rasa bahagianya sedangkan sekarang Ken hanya diam saja.

Ken sedikit bergidik saat merasa pikirannya terus berpikir yang aneh-aneh. Pria itu pun langsung meminum segelas Bir untuk membantu menetralkan emosinya.

"Oke, saya tidak akan berlama-lama untuk berbicara denganmu.." Ken meletakkan gelas Bir nya di meja dengan sedikit kasar.

"Mungkin dengan keputusan adopsi itu kamu sempat menganggap jika kamu benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi, saya ingin tegaskan padamu jika apapun yang kamu dapatkan saat ini tidak semata-mata karena kami ingin memberikannya! Itu semua kami lakukan karena Aryan dan mendiang istri saya yang memintanya.."

Rayan menyimak apa yang diucapkan Ken padanya. Ini tampak persis seperti yang disampaikan Levi tempo hari, hanya saja bedanya Levi tak memberikan alasan kenapa Rayan bisa diadopsi padahal dirinya tak diinginkan.

Dengan hati yang sedikit nyeri, Rayan menusuk susu kotak yang tadi di berikan Ken padanya. Anak itu meminum susu kotaknya dengan perasaan yang carut marut.

Anak itu menunduk sejenak dan meremat ujung pakaian yang saat ini ia kenakan.

"Jujur Ayan sakit denger ini dari Om. Tapi nggak apa-apa kok, Ayan ngerti. Setiap orang nggak akan mudah nerima orang baru di hidupnya. Dan Ayan akan nurutin semua maunya kalian tanpa kalian harus khawatir aku bilang ke Aryan." ujar Rayan dengan wajah sendunya.

Ken menatap anak yang terlihat sekali berusaha untuk tegar dimatanya. Namun Ken adalah Ken, ia tak akan mudah luluh ataupun peduli pada seseorang.

"Kalau kamu sudah mengerti semuanya maka bagus. Saya tidak pernah melanggar janji ataupun mengubah apapun yang sudah saya lakukan, jadi kamu akan tetap jadi bagian keluarga Wirawarna. Kamu akan mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan, tapi ketika Aryan tidak bersamamu hubungan kita tak lebih dari sekedar orang asing. Ingat untuk tidak memanggil saya Papa ketika kita hanya berdua, saya hanya bisa di panggil Papa oleh orang yang benar-benar anak saya, bukan yang hanya diatas kertas saja." jelas Ken tanpa memikirkan bagaimana perasaan Rayan saat itu.

Rayan saat itu merasa sedikit sakit hati, meski belum benar-benar menjalin hubungan keluarga, namun kenyataan jika dirinya tidak benar-benar diterima sungguh membuat Rayan sakit.

"Jika itu maunya Om saya bisa turuti. Dan Mas Levi juga sudah memberitahu saya batasan saya. Saya disini hanya untuk Aryan karena memang saya juga menyayangi dia, dan semua akan terus begitu. Om tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kita bukan keluarga, dan saya akan terus ingat itu." Rayan mengulas senyum setelah mengucapkan kata-kata itu. Dirinya juga langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Ken tanpa ingin lagi mendengar apapun. Ia tak peduli kalaupun nanti pria itu akan marah padanya, ia hanya tak ingin mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan lagi.

Tidak. Ia sudah cukup mendengar banyak selama dua hari disini.



Setelah keluar dari ruang kerja Ken, Rayan tak langsung kembali ke kamar Aryan. Anak itu sempat diajak oleh Aryan ke balkon tempat Aryan sering bermain gitar katanya, dan Rayan ingin kesana terlebih dahulu untuk menetralkan hatinya yang saat ini sedang lumayan kesakitan.

Rayan duduk dilantai balkon dan menatap bulan yang saat ini tengah bersinar dengan terangnya. Di bagian lain langit ada ribuan bahkan jutaan bintang yang berkelap-kelip. Rayan menatap miris pemandangan itu.

"Langit aja nggak pelit buat ngasih tempat ke bintang yang banyak kayak gitu, tapi kenapa keluarganya Aryan pelit banget ya?"

"Padahal Ayan nggak minta jadi anak kesayangan, tapi belum apa-apa juga mereka udah nolak kehadiran Ayan.."

Rayan menghembuskan napasnya, "Huft, gini banget jadi anak pungut.." gumamnya sedih.

Tanpa Rayan sadari, sedari tadi Lucas memperhatikan gerak-gerik anak itu. Dari mulai masuk ke ruang kerja tuannya hingga saat ini melamun sendirian di balkon, Lucas sudah memperhatikannya dari jauh.

Karena memang saat ini Lucas hanya bertugas mengontrol para pengawal rumah, Lucas pun memutuskan untuk menghampiri Rayan yang duduk sendirian. Pria itu mengambil sebungkus biskuit rasa coklat kemasan kecil di kantongnya.

"Hampir tengah malam dan kamu masih bangun, tidak takut hantu?" tanya Lucas seraya duduk di sebelah Rayan.

Rayan yang tadi melamun tentu saja tak menyadari kehadiran Lucas, bahkan wajah Rayan saat ini ketara sekali terkejut.

Lucas yang melihat wajah terkejut Rayan terkekeh pelan, "Kamu lucu, pantas tuan muda kecil ingin kamu jadi saudaranya.." ujar Lucas sembari mengusap belakang kepala Rayan.

Rayan yang diperlakukan demikian langsung menatap Lucas dengan mata bulatnya. Entah mengapa hanya dengan usapan Lucas saja Rayan merasa sangat nyaman. Seperti dengan keluarga sendiri rasanya.

"Om baik. Selain Aryan, cuma Om yang ngasih perhatian kayak gini sama Ayan.." ucapnya sembari tersenyum.

Lucas terkekeh pelan, diberikannya sebungkus biskuit rasa coklat yang memang sudah biasa ada di saku jasnya.

"Wah, biskuit coklat!!"

"Om juga suka sama biskuit coklat?"

"Iya. Om bahkan suka bikin bubur dari biskuit ini. Rasanya enak!"

Mata Rayan berbinar mendengar ucapan Lucas barusan, "Kita sama lagi Om! Waktu di panti aku juga suka kayak gitu. Cuma udah lama nggak bikin karena suka dimarahin sama Ibu kalo bikin kayak gitu.." ujarnya sembari menunduk.

Lucas mengelus pelan punggu Rayan yang saat itu tengah menunduk. Dirinya jujur menyukai perangai Rayan bahkan ketika pertama bertemu. Rayan yang pekerja keras dan baik mengingatkannya akan ibundanya yang telah lama berpulang. Menurutnya Rayan itu special, dan ia sangat menyukai Rayan.

"Rayan, karena sekarang kamu sudah disini baiknya kamu lupakan semua kenangan buruk yang ibu kamu berikan. Om tahu, mungkin selain tuan muda kecil tak ada yang benar-benar menyukaimu. Tapi, semua itu tak menjadikan kamu buruk. Perlahan-lahan cobalah untuk mendekat pada mereka, Om yakin lama kelamaan pasti tuan dan tuan muda bisa menganggapmu sebagai keluarga persis seperti mereka menganggap Aryan keluarga." ujar Lucas dengan suara lembut.

Rayan mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Lucas, dan Lucas pun tersenyum tipis kearah Rayan.

"Makasi udah nasihatin Ayan ya Om. Ayan lebih baik setelah denger ucapan Om.."

Lucas mengangguk kecil, "Syukurlah kalau begitu.."

Mungkin benar apa yang barusan dikatakan Lucas padanya. Daripada terus sedih dan putus asa, ada baiknya Rayan mencoba sedikit-sedikit mendekat pada mereka. Rayan mungkin tak tahu persisnya kapan, tapi mungkin suatu saat dirinya akan benar-benar dianggap keluarga.

Ya. Lagipula, tak ada yang tak mungkin bukan?

𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧-𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐲𝐚..

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐕𝐨𝐭𝐞 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐊𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤!

Maap buat typo yang bertebaran, kalo ada salah kata tolong koreksinya ya!

Makasi yang udah baca, dan komen yang banyak buat lanjutin cerita ini..

See yaaaa🐾🐾🐾🐾

Seguir leyendo

También te gustarán

9.3K 539 7
🚫BACA DARI AWAL LAGI. SAVIAN SANDHYĀ REGANANTA. Vian ia yang menyukai senja, ia yang begitu suka melukis, ia yang selalu ceria dalam hal apapun, ia...
68.8K 2.8K 40
Bagaimana bisa berharap pada suatu hal yang tidak bisa kita ketahui tentang kebenarannya. Merasa asing di antara persamaan yang ada. ''Yang hilang ak...
108K 8.5K 34
Tian, seorang pemuda baik hati menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk mencari sosok Bian, adik kandungnya yang telah hilang 18 tahun lamanya. Ber...
1.9M 125K 47
Pemuda ceria dengan tingkah laku yang bisa membuat siapa saja tertawa. Sosok pemuda yang mampu menyembunyikan kerapuhannya dibalik sebuah senyuman in...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas