JIZRAEL!

Por Marrr_linnnn

4.5K 191 255

Cinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan... M谩s

01.Perkenalan Tokoh
02.Awal Mula
03.Dia Berbeda
04.Perang Dingin
05.Bullying Lagi
07. One Day With You
08.Berdamai
09.Ternyata Dia
10.Kesal
11.DIA?
12.Musuh
13.Bertengkar
14.Masa Lalu
15.Tentang Randa
16.Hari sahabat
17.Berulah lagi
18.Sifat Irel
19.Curiga
20.Dekat tapi jauh
21.Dekat
22.Dari Sini
23.Baper
24.Berkelahi
25.perhatian
26.Berubah
27.Melengkapi
28. Jadian
29.Kembali
30. Cemburu
31.Egois
32.Asing
33.Pacar
34.Dilema
35.Masa lalu atau Masa depan
36.Buciners
37.Konflik
38.Berdebat
39. Culun vs Queen Bullyng
40. Bertepuk sebelah tangan
41. Hilang
42.Bersatu
43. Puncak
44. Birthday
45. Hari Kebenaran
46. Tragedi Di Atap
47. Sekolah Dalam Kekacauan
48. Rahasia Yang Tersembunyi
49. Kesepakatan Malam Itu
50. Operasi Tim Malam Pertama
51. Bayangan Pengkhiantan
52. Rahasia Terbesar
53. Teror Pagi
54. Diantara Hening Dan Ketakutan
55. Ketika Teror Mengetuk Pintu
56. Malam ketika Nyawa Di Pertaruhkan
57. Retakan Dari Dalam
58. Pergi Dan Tak Kembali
59. Sekolah dalam Bayangan
60. Rahasia yang Tersingkap
61. Pertarungan Terakhir

06.Cemara vs Broken Home

154 7 0
Por Marrr_linnnn

May every new chapter be better than your last

Di sinilah Bela sekarang berada—di rumahnya yang penuh kedamaian. Ayah dan ibunya sedang menghabiskan waktu bersama, saling bercerita dan bercanda. Sementara itu, Bela hanya menonton dari jauh dan tersenyum sesekali.

Bela memang berasal dari keluarga cemara. Namun sifat dingin, cuek, dan malas tahunya berasal dari masa lalu yang kelam.

Tak ada yang tahu bahwa Bela memiliki trauma terhadap api. Saat kecil, ia pernah diculik dan ditahan di dalam gudang yang terbakar. Sejak kejadian itu, sikap cueknya menjadi tameng untuk menutupi rasa takut dan trauma. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.

Namun sejak pertemuannya dengan Irel, hatinya dipenuhi amarah. Setelah menyatakan “perang” dengannya, Bela merasa tak pernah tenang setiap kali melihat sosok Irel.

Berbeda dengan Irel. Ia tampak bosan. Sedari tadi hanya menonton drama memuakkan antara ayah dan ibu tirinya—dua orang yang baginya, tidak berguna.

Dulu, ia hanyalah anak laki-laki biasa. Tapi semuanya berubah saat rumah tangga orang tuanya hancur. Ayahnya menikah lagi, dan sejak saat itu, Irel sangat membenci ibu tirinya. Baginya, kasih sayang seorang ibu tiri hanyalah kepalsuan.

Ia masih mengingat jelas pertengkaran orang tuanya dulu. Itulah awal mula ia menjadi seseorang yang cuek, dingin, dan kejam.

Perceraian orang tuanya telah mengubah hidupnya. Cinta dan kasih sayang, menurutnya, hanyalah omong kosong. Cinta itu tidak nyata.

"Irel, sini gabung sama Mama dan Papa," ajak ibunya.


Irel hanya menatap sekilas, dingin. Ia lalu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa.

"Anak kurang ajar," gumam papanya kesal.

"Gak apa-apa, Mas. Mungkin dia belum bisa menerima aku," ujar ibunya dengan sabar.

"Tapi gak seharusnya dia bersikap begitu ke kamu," balas papanya.

"Suatu saat dia akan berubah, Mas," kata ibunya, mencoba meredakan amarah suaminya.


Kini, Irel sudah berada di tengah-tengah teman-temannya. Baginya, rumah yang paling nyaman dan tempat bersandar terbaik adalah sahabat-sahabatnya. Hanya mereka yang benar-benar mengerti dirinya.

"Guys, omongan kalian waktu itu masih berlaku gak?" tanya Revan tiba-tiba.


Semua langsung menoleh ke arah Revan.

"Yang mana?" tanya Mr. Ly.


"Itu lho, yang katanya kalian penasaran banget sama si Bela," kata Revan.


"Kan dia manusia juga," sarkas Kris.


"Ya elah, iya manusia. Tapi waktu itu kalian bilang penasaran sama dia," balas Revan.


"Terus, maksud lo apa?" tanya Malvin.


"Gimana kalau kita taruhan?" usul Revan sambil tersenyum jahil.


Mereka semua melongo. Gak nyangka Revan bisa punya ide kayak gitu.

"Taruhan apaan?" tanya Mr. Ly penasaran.


"Kita taruhan siapa yang bisa bikin dia baper. Siapa pun yang berhasil, berarti dia udah berhasil ‘menembus’ Bela dan tahu siapa dia sebenarnya."


"Kalau gituan, gue out. Kalian tahu sendiri cewek gue siapa," ucap Mr. Ly menyerah.


"Gue ikut. Lagian, siapa sih yang bisa nolak seorang Kris?" jawab Kris percaya diri.


"Gue juga ikut," putus Malvin.


Semua lalu menatap Irel. Tatapan mereka menunggu jawaban.

"Yaudah, gue juga. Kayaknya seru," ucap Irel santai.


"Terus, hadiahnya apa dong?" tanya Revan semangat.


"Kalau kalian menang, gue kasih semua mantan gue deh," ucap Kris sok.


"Siapa juga yang mau bekas lo," sindir Revan.


"Gak usah ada hadiah. Kalau kita berhasil, rasa penasaran kita ke Bela juga ilang, kan?" ujar Malvin.


Mereka semua mengangguk, menyetujui.

Sementara itu, Bela berada di kamarnya bernuansa biru—warna kesukaannya. Ia berbaring, sesekali membuka ponsel, lalu merasa bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke minimarket membeli camilan karena stoknya habis.

Setelah selesai belanja, ia hendak pulang. Tapi ia merasa seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Nalurinya mengatakan sesuatu tidak beres. Ia mempercepat langkahnya, tapi orang di atas motor itu berhasil memotong jalannya.

Pengendara motor itu menggunakan Ninja hitam dan helm fullface. Namun sosoknya terlihat tidak asing bagi Bela. Ia mengamati dengan seksama.

Saat helm itu dilepas...

"Awww!! Gue kangen banget sama lo!" Bela langsung berlari dan memeluknya.


"Masih aja cengeng," sahut orang itu.


"Yah, gak lah. Gue udah berubah. Gue bukan Bela yang dulu lagi," jawab Bela malas.


(Tapi lo tetap Bela yang gue sayang...) gumam orang itu dalam hati.


"Yaudah, gue anterin lo pulang, ya?"


"Tunggu, tunggu! Gimana ceritanya lo bisa ada di sini?" tanya Bela heran.


"Panjang ceritanya. Nanti gue jelasin. Yuk, pulang."


Mereka pun meninggalkan tempat itu bersama.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka dari kejauhan. Orang itu tersenyum licik, lalu mengeluarkan ponsel dan bersiap melapor.

Keesokan harinya di sekolah.

Bela ingin berbicara dengan Olivia dan meminta maaf. Tapi Olivia terus menghindar. Ia tidak mau diajak bicara.

"Olivia! Ayolah, jangan kayak gini!" teriak Bela.


Namun Olivia tetap pergi, meninggalkan Bela sendirian. Mungkin dirinya masih marah karena Bela tidak mau mendengarkan nasihatnya agar menjauhi Death Boys.

Melihat itu, Claudia dan gengnya langsung menghampiri Bela.

"Gitu amat, persahabatannya," ejek Claudia.


Bela yang sudah muak hanya mendesah kesal.

"Fake friends. Itu sebutan buat orang kayak dia," sindir Nevy.


"Mending lo gabung aja sama tim kita. Daripada ngejar-ngejar manusia freak kayak anak itu," sambung Luvena.


Bela mengangkat dagu, menatap mereka tajam.

"Gue gak ada niat masuk circle kalian," ucapnya lalu pergi.


"Wah, perdana kita rekrut anggota baru, tapi cewek songong itu perlu dikasih pelajaran!" geram Rachel.


"Gak boleh. Dia itu seperti permata dalam rencana kita. Harus dijaga. Nanti kalau waktunya udah pas, baru kita buang," kata Claudia dingin.


Saat Claudia dan gengnya sedang ngobrol, tiba-tiba selembar kertas nyasar ke wajah Nevy.

"Anj*ng! Ulah siapa nih?! Wajah gue yang imut bisa kumel kena kuman dari kertas bekas!" marah Nevy.


"Lo sini!" seru Rachel ke arah siswi yang tak sengaja melempar kertas.


Siswi itu ketakutan, wajahnya pucat.

"Ma-maaf, Kak... aku gak sengaja..." ucapnya terbata-bata.


"Bacot lo! Udah jelek, kumel, masih bisa cari masalah," ejek Luvena.


Siswi itu tertunduk lesu. Mimpi apa dia hari ini berhadapan sama Queen Bullying sekolah?

"Ayutari Indara," Rachel membaca name tag siswi itu. Ia menatapnya tajam.


"Kelas berapa lo?" tanya Luvena.


"Kelas X MIPA 4, Kak..." jawab Ayu gugup.


"Lo tahu siapa kita?"


"Iya, Kak... aku minta maaf..."


"Kita bakal maafin lo. Tapi ada syaratnya..."


"Eh eh, ngapain dimaafin? Mending dijadiin mainan baru kita," potong Luvena.


"Syarat apa, Kak?" tanya Ayu takut.


"Sini..." Claudia membisikkan sesuatu ke telinga Ayu.


"Gimana? Bisa gak?" tanya Claudia.


"Ta-tapi, Kak..." Ayu bingung.


"Oh, jadi lo gak mau, ya?!"


"Iya, Kak! Aku mau! Aku mau!"


"Yaudah, sana pergi," ucap Claudia santai.


Nevy, Luvena, dan Rachel kaget Claudia membiarkan “mainan” barunya begitu saja.

"Jelasin!" desak mereka bertiga.


"Jadi gini, guys... ________________________
Otak gue cermat, kan?"


Mendengar penjelasan Claudia, ketiganya saling tatap dan tersenyum jahat.


Seguir leyendo

Tambi茅n te gustar谩n

127K 9.4K 34
"Jean, Nara pinjam uang boleh? Uang jajan Nara dipotong ayah karena nilai ulangan fisika Nara turun jadi 85." "Jean, Nara boleh nebeng pulang di moto...
453 30 50
ini adalah kisah tentang seorang gadis yang terpaksa harus mengikuti kemauan ayah'nya, cita citanya harus terpaksa ia kubur dalam dalam demi kemauan...
359K 6.7K 23
Ana hanyalah gadis lemah yang penuh rasa tertekan akibat keluarganya sendiri. Hidupnya terbelenggu penderitaan yang berasal dari kesalahan yang tak p...
4.5K 2.2K 20
Ini bukan kisah cinta biasa. Bukan kisah yang hanya menyayat hati dan melibatkan rasa. Ini adalah kisah cinta yang indah- namun perlahan, terkikis ol...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas