Reuni sebenarnya menyenangkan tapi bisa berubah menyebalkan, apalagi jika kau memiliki teman yang tukang pamer. "Aku sudah diterima di perusahaan multinasional dengan gaji menggiurkan." Ucap Jimin berapi-api, menyukai perhatian yang diberikan atas kalimatnya.
"Kau tak ingin bergabung dengan mereka?" Jin menyandarkan punggungnya pada dinding kelas, tepat disamping Taehyung.
"Tidak, apa yang perlu dibicarakan tentang hidupku, tak ada yang menarik." Jawab Taehyung sambil memperhatikan isi kelas yang sama sekali tak berubah meski dia telah lulus hampir delapan tahun yang lalu, dari SMP ini.
"Kau tak suka perhatian?"
"Bukan—aku hanya pecundang dibanding mereka semua."
"Kau bukan pecundang Taehyung, jangan merendahkan dirimu. Ayolah dimana mimpi besar dan semangatmu itu." Taehyung menoleh, menatap teman sekaligus kakaknya itu dengan senyum kecut. "Sudah hilang karena kenyataan."
"Ayolah, semua orang pernah kehilangan arah tapi saranku cepat bangkit dan temukan jalanmu." Jin tersenyum bijaksana.
"Akan aku pikirkan sambil membantumu di toko." Taehyung tertawa pelan usia menyelesaikan kalimatnya.
"Taehyung, ditolak masuk perusahaan idaman bukan akhir hidupmu. Bagaimana jika kau mencoba perusahaan dengan level yang lebih tinggi? Park corporation."
"Oh tidak, jangan perusahaan itu. Aku saja enggan mengantar bunga kesana tempo hari. Apa Hyung tidak mendengar cerita bos besar di sana, sangat kejam? Dia bahkan memecat karyawan setianya demi pembaharuan kinerja."
"Mungkin—itu penting demi kelangsungan perusahaan." Jin yang selalu berpikir positif tentu saja mengucapkan sesuatu yang positif pula.
"Tapi mengusir kakek tua yang tersesat dari lobi gedung dengan tak hormat itu—menjijikkan."
"Baiklah, baiklah, kau tak perlu masuk kesana jika benci. Cari saja perusahaan lain di bawahnya."
"Aku setuju ide itu."
"Kita harus pulang, untuk memastikan semua kiriman bunga sempurna, kau tahu apa yang terjadi jika ada yang salah kan? Ini perusahaan Park."
"Hmm. Hyung jangan menerima pesanan dari Park lagi, maksudku—mereka tak menoleransi kesalahan sekecil apapun, aku hanya cemas."
"Jika kita berpikir positif hasilnya pasti positif."
"Ya, semoga hal itu benar." Bisik Taehyung meski kecemasannya sama sekali tak terkikis.
"Taehyung, kenapa berdiri di sana?!" pekik Jimin sambil melambaikan tangan kanannya, mengisyaratkan Taehyung untuk mendekat.
"Pergilah Taehyung." Taehyung menampakkan wajah enggannya. "Setidaknya jangan menunjukkan bahwa kau kalah telak, ayolah, atasi si Jimin itu."
"Baiklah...," gerutu Taehyung malas.
"Aku pergi ke toko sekarang ya."
"Hyung meninggalkan aku sendiri di sini? Oh tidak Hyung jangan melakukan ini padaku. Seokjin hyung." Seokjin atau yang biasa dipanggil Jin itu hanya tersenyum lebar kemudian berlalu.
"Taehyung!" panggil Jimin sekali lagi dengan suara ceria yang terdengar busuk bagi Taehyung.
"Drama King," ucap Taehyung di dalam hati. "Oh, halo Hyung apa kabar?"
"Baik, kenapa kau berdiri di sana dengan Seokjin, ada yang salah?"
"Tidak ada, aku hanya lelah."
"Jadi kau bekerja dimana sekarang? Berapa gajimu? Kau memiliki kekasih? Aku yakin kekasihmu pasti tampan kan?"
"Kenapa Hyung peduli sekali padaku, bukankah Hyung berada dua tingkat di atasku jadi kita tak saling kenal."
"Taehyung kau bicara apa?! Dulu kau sangat terkenal dancing." Seringai Jimin menggoda Taehyung.
"Cukup Hyung, tak perlu melakukan hal kekanakan seperti ini. Semoga bahagia dengan kekasihmu." Taehyung berniat untuk pergi namun Jimin melancarkan serangan terakhirnya.
"Siapa kekasihku Taehyung, ayolah semua orang sudah tahu."
"Si pengusaha kaya nan tampan Oh Sehun." Jimin tampak tak terlalu puas. Taehyung tak peduli yang penting dia bisa segera angkat kaki dari reuni memuakkan ini. "Oh Sehun mantan kekasihku."
"Terima kasih Kim Taehyung." Ucap Jimin penuh kemenangan, Taehyung memutar kedua bola matanya jengah, ia beranjak pergi. Namun, ia sedikit puas melihat wajah semua orang yang tadi terlihat mengagumi Jimin mulai muak setelah melihat sikap sok seorang Park Jimin.
.
.
.
"Tuan, maafkan saya. Saya akan memperbaiki kinerja saya Tuan, tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki."
"Tidak, kesalahan sekecil apapun tak bisa dimaafkan."
"Hanya satu jenis makanan yang salah."
"Tidak, aku tidak akan memesan catering darimu lagi, menyingkirlah."
Sang pengusaha catering itu hanya bisa berjalan lunglai meninggalkan ruangan si bos kejam. Tak melayani perusahaan Park dengan sempurna, dia bisa melihat akhir dari usaha kecil yang dibangunnya. Chanyeol menghembuskan napas kasar, ia bersandar pada kursinya. Banyak sekali orang-orang di luar sana yang selalu dan selalu membuatnya merasa tak puas. Kenapa mereka tak memiliki tekad kerja yang keras? Kenapa mereka tak memandang kesempurnaan kerja sebagai harga mati? Dan sebagai gantinya dirinya yang dijuluki kejam. Atau apalah sebutan lainnya.
Chanyeol melonggarkan dasinya. Bos berdarah dingin, julukan menjijikkan itu tak tahu kenapa bisa tersemat pada dirinya. Padahal dia hanya melakukan semua ini demi kepintangan perusahaannya, yang bukan sekedar usaha rumahan.
Suara ketukan lembut terdengar. "Masuk!" pekik Chanyeol kesal. Waktu istirahatnya yang hanya beberapa menit itu tiba-tiba diganggu dengan cara tidak elit. Pintu terbuka, Chanyeol hampir berteriak jika itu bukan Lay, sekretaris setianya.
"Lay hyung, sebutkan namamu jika ingin masuk. Jangan sampai aku meneriakimu."
Lay hanya tersenyum menampakkan lesung pipitnya. "Jangan bersikap baik padaku Chanyeol, marahi aku seperti yang lain."
"Aku tidak mungkin melakukannya."
"Aku hanya ingin mengatakan jika kiriman bunga untuk pesta ulang tahun perusahaan sudah tiba."
"Akan aku periksa nanti."
Lay berjalan mendekati Chanyeol kemudian menyodorkan sebuah kotak beludru berwaran biru tua. "Pesananmu."
"Terima kasih Hyung." Chanyeol membuka kotak beludrunya, melihat sebuah cincin polos, cincin pernikahannya yang tempo hari patah. Ia langsung memakainya bersama cincin lain yang telah tersemat di jari manisnya.
"Periksa bunganya setelah putramu tiba, aku tak ingin suasana hatimu buruk jika kau menemukan sedikit kesalahan."
"Kapan dia tiba?"
"Aku rasa sebentar lagi. Mungkin, lima menit lagi semoga jalanan lancar. Aku pergi dulu Chanyeol, selamat siang."
"Selamat siang Hyung."
Chanyeol memandangi frame-frame foto yang berada di atas meja kerjanya. Foto dirinya dengan keluarga kecilnya, Beomgyu dan V. Empat tahun yang lalu saat semuanya masih berjalan dengan baik, sangat-sangat baik. Bukan seperti sekarang.
BRAK! Suara pintu yang terbanting kasar, membuat Chanyeol terlonjak kaget. "Maaf," ucap paman Han dengan pelan.
"Tak apa Paman." Balas Chanyeol dengan senyum tulus.
"Ayah!" pekik Beomgyu, kemudian berlari menghampiri ayahnya yang masih duduk di atas kursi kulit mahalnya.
"Apa?" tanya Chanyeol lembut, Beomgyu merangkak naik ke pangkuan Chanyeol kemudian duduk, menyamankan diri.
"Kapan Ibu pulang? Beomgyu kangen, Ayah."
"Sebentar lagi Ibumu pasti kembali."
"Kapan?"
"Jika Beomgyu tidak nakal, rajin belajar, dan jadi anak baik."
"Tapi Beomgyu mendapatkan nilai seratus di semua mata pelajaran." Chanyeol menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan V. Ia peluk Beomgyu sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya, tak mungkin memberitahukan pada Beomgyu jika V sudah pergi untuk selamanya.
"Ayah." Panggil Beomgyu merasa tak puas dengan jawaban yang Chanyeol berikan.
"Sayang, pergilah dengan paman Han ke kantin, Ayah ada pekerjaan."
"Baik!" jawab Beomgyu dengan nada tinggi, sebal ayahnya tak pernah menemaninya dalam waktu yang lama.
Chanyeol melangkahkan kedua kakinya dengan enggan meninggalkan ruangan setelah Paman Han berhasil membujuk Beomgyu untuk pergi makan siang. Semua orang yang berpapasan dengan Chanyeol langsung membungkukkan badan mereka, tak ingin mendapat masalah karena kesalahan kecil dan berakhir dengan pemecatan tak hormat.
Chanyeol melangkah memasuki lift, hari ini suasana hatinya sangat tak baik. Bertepatan dengan ulang tahun pernikahannya yang ke sembilan tahun, empat tahun sudah dia melalui ulang tahun pernikahan tanpa kehadiran V. Namun, rasa sakit itu masih sama seperti kemarin, begitu nyata dan segar.
Pintu lift terbuka, Chanyeol melangkah panjang-panjang dengan tubuh tegapnya menuju aula untuk dimana pesta digelar. Sesampainya di depan pintu aula, para penjaga keamanan yang bertugas langsung membungkukkan badan mereka memberi hormat. Kemudian membukakkan pintu untuk Chanyeol. Semua perhatian langsung tertuju pada Chanyeol, saat dia masuk, namun Chanyeol langsung mengisyaratkan kepada semua orang untuk kembali bekerja.
"Aku ingin bicara dengan yang bertanggung jawab di sini."
Seorang wanita berjas rapi langsung berlari menghampiri Chanyeol. Dia tampak cantik dan elegan. "Selamat siang Tuan." Ucapnya lembut kemudian membungkukkan badan.
"Selamat siang. Bagaimana semuanya? Laporkan semuanya tanpa terkecuali."
"Baik Tuan, semuanya sempurna kecuali ada satu buket bunga yang terselip Krisan putih. Hanya satu batang saja Tuan."
"Kau tahu kan kesalahan sekecil apapun tak diterima di sini, hubungi toko bunga yang mengirim buket itu, batalkan pesanan yang lain dan cari toko bunga yang lebih profesional." Ucap Chanyeol tak bisa dibantah.
"Baik Tuan, akan saya laksanakan."
Chanyeol memutar tubuhnya memperhatikan keadaan sekeliling, semuanya terlihat sempurna. sesungguhnya dia tak ingin bersikap seperti ini, dulu saat V masih ada dia pasti akan memarahi sikap arogannya ini, V bahkan tak segan mendampratnya di depan seluruh karyawan. Chanyeol tanpa sadar tersenyum memikirkan tentang V kembali, sayang semua itu sudah hilang dan takkan pernah kembali.
.
.
.
Taehyung melangkah santai menyusuri trotoar setelah turun dari bus. Menghirup udara segar setelah dadanya dipenuhi oleh udara pengap ternyata menyenangkan. Senyumnya mengembang saat dia memandangi toko bunga keluarganya yang terlihat indah dan damai. Taehyung mempercepat kedua langkah kakinya menuju toko.
Firasat Taehyung tak enak, saat semua pekerja terlihat lesu dan keluarganya berkumpul di toko hal yang selama ini sangat jarang terjadi. Mereka duduk melingkar. Dan hal lain adalah tokonya sedang tutup. Cepat-cepat Taehyung mendorong pintu masuk.
"Taehyung...," suara Jin terdengar bergetar.
"Hyung." Dengan cemas Taehyung menghampiri kakaknya yang terlihat lemah duduk di dekat rak bunga Anyelir, diapit oleh ayah dan ibu mereka. "Apa yang terjadi?"
"Ada satu buket yang salah dikirim ke Park corporation. Bunga yang sangat Chanyeol benci."
"Bagaimana bisa salah?!" pekik Taehyung tertahan, kecemasannya terbukti, seharusnya sejak dulu toko bunga keluarganya berhenti mengirim bunga ke Park corporation.
"Karena karyawan baru tidak mengenali Mawar putih dan Krisan putih, Chanyeol sangat membenci Krisan putih. Taehyung semuanya berakhir."
Taehyung menggenggam telapak tangan Jin lembut. "Kita berharap yang terbaik Hyung, seandainya hal buruk terjadi aku yakin kita pasti bisa melalui semuanya, jangan cemas, kita akan bersama-sama melewati setiap masa sulit." Taehyung tersenyum lembut berusaha menenangkan kakak laki-lakinya itu.
"Ya, semoga semuanya baik-baik saja Taehyung."
Semuanya terdiam tak mengerti dengan apa yang harus dilakukan, sebelum Park memberikan keputusan yang bisa dilakukan hanya diam, menunggu, dan berharap yang terbaik.
Ponsel bergetar, Tuan Kim langsung membaca pesan dengan tangan bergetar. Tuan Kim mendesah pelan. "Mereka membatalkan semua pesanan untuk satu tahun kedepan." Tuan Kim tersenyum lesu.
"Pesanan sebesar itu dibatalkan Ayah, kita sudah memesan bunga dan tak akan bisa dibatalkan. Pembayarannya bagaimana lalu pengurangan karyawan Ayah...," Jin tak melanjutkan kalimatnya. Ia menoleh memandangi delapan karyawan yang menunggu nasib mereka diputuskan.
"Apa kesalahannya sangat fatal?" bisik Taehyung tak ingin mengatakannya terlalu keras dan melukai perasaan entah siapapun itu.
"Hanya satu batang bunga Krisan putih yang terselip."
"Berapa banyak buket yang dikirim?"
"Delapan puluh."
Taehyung menggeram pelan, satu batang Krisan, hanya satu bantang Krisan terselip di antara tujuh puluh sembilan buket bunga yang sempurna. Chanyeol selalu berlebihan. "Aku akan pergi ke Park corporation dan—entahlah, semoga mereka memaafkan kita Hyung, apapun akan aku lakukan ini usaha kita, kita merintisnya bersama, dan Park sial itu tak bisa menghancurkan usaha kita."
"Taehyung, kau tak bisa melawan Park corporation, kita pasti akan kalah aku tak ingin kau dituntut."
"Tak ada salahnya dicoba Hyung." Taehyung berdiri dari duduknya memandangi semua orang yang kini menampakkan wajah sedih. "Tolong jangan menyalahkan diri sendiri atau orang lain, yang paling penting adalah memikirkan jalan keluar dari situasi ini."
"Hati-hati Taehyung."
"Hmm." Taehyung menelan ludahnya kasar, takut, tentu saja ia sangat takut sekarang ini tak ubahnya mengumpankan dirinya ke sarang Singa.
.
.
.
Lima menit kemudian dengan menggunakan mobil Jin, Taehyung sampai di gedung megah Park corporation, ia melangkah keluar meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini adalah tindakan yang paling tepat. Ada karyawan yang bergantung dengan toko keluarganya, jika mengingat hal itu dada Taehyung benar-benar terbakar amarah.
Taehyung melangkah panjang-panjang menuju meja resepsionis. Ada wanita cantik di belakang konter tersenyum ramah menyambut kedatangannya. "Selamat Siang Tuan."
"Selamat Siang, saya dari toko bunga Hana. Saya ingin bertemu dengan Park Chanyeol."
Wanita muda itu terlihat bersimpati kemudian mengganggukkan kepala, hal ini pasti sudah bisa terjadi dan mungkin saja si wanita muda juga merasa tertekan bekerja di perusahaan neraka seperti ini. "Silakan mengikuti Nona Crystal, Tuan." Si wanita muda di belakang konter mengarahkan Taehyung pada sosok wanita muda lainnya. Taehyung membungkukkan badan kemudian berjalan mendekat.
"Mari Tuan saya antar ke ruangan Tuan Chanyeol, tapi saya tak bisa membantu lebih banyak lagi."
"Tak apa saya akan berusaha semampu saya."
"Semoga keberuntungan ada di pihak Anda, Tuan."
"Terima kasih banyak." Taehyung sedikit menundukkan kepala mengiringi ucapan terima kasihnya, dugaannya benar, seluruh karyawan di sini mungkin saja tertekan bekerja di tempat ini. "Umm maaf, kenapa Anda bertahan di bawah tekanan Chanyeol?"
"Itu—tentu saja karena standar gaji yang ditetapkan di tempat ini lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain, kebutuhan semakin mencekik hari demi hari Tuan, tak ada pilihan lain." Crystal mengakhiri jawabannya dengan sebuah senyuman ramah. Taehyung mengangguk mengerti, tentu saja semuanya karena kebutuhan ekonomi. Dirinya sendiri juga tak ada bedanya berada di tempat ini.
"Di sini Tuan." Taehyung mengerutkan kening, biasanya bos akan memiliki ruangan di puncak gedung, tapi Chanyeol memilih kantor di lantai dasar.
"Kantornya di lantai dasar?"
"Begitulah Tuan. Saya akan mengetuk pintu untuk Anda."
"Terima kasih banyak Nona Crys—Crystal?" Taehyung sedikit ragu tak ingin melakukan kesalahan dalam pemanggilan nama.
"Crystal, itu nama saya." Crystal tersenyum membenarkan penyebutan nama Taehyung, Taehyung tersenyum simpul. Berikutnya Crystal mulai mengetuk pintu kayu kembar berukuran besar di hadapan mereka.
"Aku tak ingin bertemu dengan siapapun sekarang!" pekik Chanyeol pada siapapun di luar pintu yang tengah mengetuk dan membuatnya jengkel.
"Tuan, seseorang dari toko bunga Hana ingin berbicara dengan Anda."
"Aku tidak menerima kesalahan." Balas Chanyeol tak berperasaan.
"Chanyeol maaf, berikan mereka kesempatan untuk memberi penjelasan." Lay mencoba memberi pengertian selembut mungkin agar Chanyeol tak semakin emosi.
"Tidak." Balas Chanyeol tegas.
"Kenapa Ayah jahat sekali? Saat di sekolah Beomgyu diajarkan untuk mendengarkan orang lain yang sedang berbicara."
Chanyeol memijit pelan batang hidungnya, ia lupa ada Beomgyu di sini dan ia juga lupa untuk memberikan contoh yang baik bagi putranya. "Baiklah, tiga menit tak lebih."
Tiga menit, jantung Taehyung berdetak semakin cepat dan keras. Tiga menit untuk mengubah pemikiran Chanyeol demi kelangsungan toko bunga milik keluarganya serta kelangsungan hidup para karyawan yang bekerja di sana. "Silakan masuk Tuan. Semoga semuanya berjalan dengan baik." Crystal tersenyum tulus kemudian dia mendorong pintu kembar di hadapan mereka, mempersilakan Taehyung untuk masuk.
Taehyung mengambil napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri. "Maaf Tuan Chanyeol, tapi itu hanya kesalahan kecil hanya satu buket bunga yang terselip Krisan putih, bisakah Anda memberi maaf? Setidaknya jangan menurunkan reputasi kami, Anda tak perlu memesan bunga dari toko kami lagi Tuan tapi tolong untuk pemesanan satu tahun ke depan jangan dibatalkan kami bisa rugi besar dan bangkrut...," Taehyung menghentikan racauannya, menyadari suasana aneh yang kini terjadi. "Tuan saya mohon." Taehyung membungkuk dalam-dalam memohon belas kasihan.
Seorang anak kecil berlari kencang dan memeluk kaki jenjangnya. "Ibu! Ibu kembali, Beomgyu rindu Ibu."
"Ibu?!" pekik Taehyung bingung, tubuhnya sudah tegak dia ingin meminta penjelasan, tapi seseorang yang hampir menghancurkan usaha keluarganya kini berdiri di hadapannya, menangis, Chanyeol meneteskan air mata.
"V aku tahu kau akan kembali, aku tahu kau masih hidup, V." Taehyung hanya mengerjap bingung, dipeluk dua orang yang memanggilnya—memanggil namanya dengan V?
Akhirnya Taehyung bereaksi, dengan pelan ia mendorong tubuh Chanyeol menjauh. "Maaf Tuan, tidak mengurangi rasa hormat saya, Anda salah orang, saya bukan V. Sungguh, sejak lahir nama saya Taehyung. Kim Taehyung. Kenapa anak ini memanggil saya Ibu?"
"Karena kau orang yang melahirkan Beomgyu."
"Apa?!" pekik Taehyung melupakan siapa Chanyeol. "Oh tidak, tidak!" Taehyung melangkah mundur membuat pelukan Beomgyu pada kakinya terlepas. "Sungguh Anda salah orang Tuan, saya belum pernah menikah dan belum memiliki anak."
"V aku Chanyeol suamimu."
"Sungguh saya belum pernah menikah!" Panik, Taehyung berlari meninggalkan ruangan Chanyeol tanpa berpikir panjang.
Chanyeol berdiri terpaku tak percaya dengan siapa orang yang baru saja muncul di hadapannya. "Ayah!" raungan tangis Beomgyu menyadarkan Chanyeol. Chanyeol langsung berlari keluar dengan tergesa.
Seluruh pekerja terkejut dengan tindakan Chanyeol. Bos mereka tak pernah menunjukkan emosi kecuali tatapan dingin membunuhnya. "Hentikan dia!" Chanyeol berteriak sekuat tenaga tak ingin kehilangan V untuk yang kedua kalinya.
Para penjaga yang mendengar teriakkan Chanyeol dan melihat siapa orang yang dimaksud bos mereka, bergegas menghadang Taehyung. Taehyung berlari sekuat tenaga, namun tentu saja seorang diri ia tak berdaya menghadapi kepungan puluhan penjaga keamanan perusahaan berbadan gempal.
"Ah!" pekik Taehyung kesakitan saat salah satu penjaga berhasil membuatnya terjatuh.
"Singkirkan tangan kalian! Jangan melukainya atau kalian akan menyesal!" teriakkan Chanyeol membuat semua penjaga membebaskan Taehyung. Meski mereka sebenarnya merasa bingung dengan perintah Chanyeol, menyuruh menghentikan tapi tak boleh melukai, berbeda dengan Chanyeol yang biasanya.
Chanyeol langsung menarik lengan kanan Taehyung. Taehyung hendak memprotes namun Chanyeol langsung menarik lengannya dengan kasar. "Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan Chanyeol! Kau benar-benar bos gila seperti yang dikatakan semua orang di luar sana!" Taehyung berteriak sekeras mungkin, berharap ada seorang pahlawan di perusahaan ini yang sudah muak dengan tingkah Chanyeol. Sayang, hal itu tak terjadi di dunia nyata. Chanyeol menyeret Taehyung memasuki ruangan khusus tempatnya beristirahat.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Taehyung, panik melihat kamar tidur yang sangat besar dan mewah di hadapannya. "Apa yang kau lakukan?!" Taehyung berlari menuju pintu namun Chanyeol menghadangnya.
"Kenapa kau baru kembali sekarang V?" suara Chanyeol terdengar memelas, namun tidak dengan cengkeramannya di kedua lengan Taehyung. "Kenapa kau harus menunggu empat tahun untuk kembali, apa kau tak tahu bagaimana aku dan Beomgyu sangat menderita? V." Chanyeol memeluk Taehyung erat, menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu Taehyung.
Dengan susah payah akhirnya Taehyung berhasil melepaskan cengkeraman Chanyeol dari kedua lengannya. "Aku bukan V, ya ampun, aku benar-benar bukan V." Taehyung melangkah mundur menjauhi Chanyeol, tangan kanannya bergerak cepat mengambil dompet di saku belakang jinsnya. "Lihat, aku bukan V." Taehyung menunjukkan kartu tanda penduduknya kepada Chanyeol. "Aku Kim Taehyung, bukan V. Kita tak pernah mengenal sebelumnya, tidak secara pribadi, tapi jika kau bertanya apa aku mengenalmu? Tentu saja aku kenal, siapa penduduk Korea yang tak mengenalmu Park Chanyeol."
Chanyeol menarik tangan kanan Taehyung dan memeluknya erat. "Aku tak peduli, aku tak peduli, yang penting kau kembali."
"Chanyeol!" teriak Taehyung marah, ia dorong tubuh Chanyeol sekuat tenaga. "Aku bukan V dan jangan samakan aku dengannya! Dasar! Namaku Taehyung, ingat itu. Sial." Taehyung berbalik kasar dan berusaha membuka pintu untuk keluar. Sayang, pintu terkunci.
"Kau mencari ini?"
Taehyung berbalik menghadap Chanyeol, berusaha merebut kunci yang dengan sigap dilempar Chanyeol entah kemana. Ke sudut lain ruangan. Tak ingin terlihat panik, Taehyung diam melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi apa yang kau inginkan?"
"Apa yang kau inginkan?" Chanyeol balik bertanya, Taehyung mengerutkan dahi. "Katakan saja apa yang kau inginkan, aku bisa mengabulkan semuanya. Kau ingin toko bunga keluargamu bertambah besar, kau ingin aku menjauhi keluargamu akan aku kabulkan."
"Aku tak butuh belas kasihanmu."
"Oh benarkah, bagaimana jika aku menghancurkan keluargamu yang tak seberapa itu?" Chanyeol tak ingin mengancam V, dia sangat mencintai V, dan meski pemuda dihadapannya itu bersikeras dia bukan V, Chanyeol yakin dia adalah V persetan jika V mengubah namanya, bagi Chanyeol dia tetap V.
"Jangan menghina keluargaku."
"Kenapa? Kau tak terima? Mereka memang menyedihkan, mengirim bunga saja tak becus seharusnya kalian mengakhiri usaha menyedihkan itu."
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Chanyeol. Nyeri dan panas, namun Chanyeol tersenyum bahkan reaksi merekapun serupa. "Tutup mulutmu, kau bisa saja bergelimah harta tapi ucapanmu sama sekali tak terhormat."
"Oh benarkah?" Chanyeol menyeringai tangan kanannya bergerak cepat mengangkat dagu Taehyung, memperhatikan wajah Taehyung dengan seksama.
"Kau punya satu hari untuk memutuskan semuanya, menerimaku atau menerima kehancuran keluargamu? Tawaran yang menarik bukan, mari bermain Kim Taehyung."
Taehyung menampik tangan Chanyeol dan mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Chanyeol menyeringai, kemudian ia menelpon seseorang untuk membuka pintu dengan kunci cadangan. "Pertimbangkan baik-baik jangan sampai menyesal."
Tatapan itu tentu saja Chanyeol tahu dengan jelas, bahwa V atau Taehyung tak akan menyerah dengan mudah. Dia pasti memberi perlawanan, dan Chanyeol akan memastikan semua berjalan sesuai dengan keinginannya.
TBC
Luv ini cerita remake ya😊😊
Semoga kalian suka