Pagi telah datang kini Alva tengah menatap dirinya di depan cermin dengan raut wajah menahan berak
"Anjing! Kenapa gue satu sekolah Ama Alvi babi!"teriak Alva sambil mengusap rambutnya kasar
Pagi pagi tadi Alva mendapatkan sebuah bingkisan dari pelayan nya yang katanya adalah seragam sekolah
Awalnya Alva hanya mengangguk dan memakai seragam itu namun beberapa menit kemudian dia menyadari bahwa seragam yang dia pakai sangat mirip dengan seragam yang alvi pakai saat mereka bertemu
Alva menghela nafas kasar meratapi nasibnya yang sepertinya tidak bisa di ubah
"Heee anjing emang ni dunia"gimana Alva kemudian mengambil Tasnya dan pergi ke ruang makan
Saat sampai di sana Alva hanya melihat aela dan Nadia
"Ayah sama kakek dimana?"tanya Alva
Nadia yang mendengar pertanyaan Alva pun menjawab
"Mereka ada pertemuan penting jadi berangkat pagi pagi sekali"ucap Nadia
Sedangkan Alva mengangguk lalu duduk di sebelah aela
"Bang entar nebeng yah"ucap aela
Sedangkan Alva hanya mengangguk dia akan kesekolah sendiri karna dia sudah tau di mana letak sekolah nya melalui google maps begitu pun dengan sekolah aela
Mereka bertiga pun mulai memakan makanan yang ada di meja dengan tenang
__________
"Makasih ya bang"ucap aela sambil melepas helm yang ada di kepalanya
Alva mengangguk
"Entar di jemput apa enggak?"tanya Alva
Nampak aela berfikir lalu menggeleng
"GK usah bang entar Ela Ama temen temen Ela ada kerja kelompok jadinya pulangnya kita naik taksi"ucap aela
Alva mengangguk
"Belajar yang rajin jangan pacaran Mulu masih kecil belajar yang bener baru pacaran"ucap Alva
Sedangkan aela yang mendengar itu hanya terkekeh
"Iya Abang ku yang ganteng"ucap aela
Kemudian Alva pun mengangguk dan pergi
'bruuuuum'
'bruuuuum'
"Abang pergi"ucap Alva
Kemudian pergi dengan aela yang melambaikan tangannya
"Laaa ayo masuk buru bel bunyi!"teriak seseorang yang memanggil aela
Aela pun segera menyusul seorang anak perempuan berpenampilan tomboy yang sedang berkacak pinggang
"Sorry"ucap aela
Sedangkan perempuan itu hanya diam
"Abang Lo tu"ucap perempuan itu
Aela mengangguk
"Boleh GK kenalin pengen gue embat"ucap perempuan itu mendapatkan sorotan tajam dari aela
"Sekali Lo nyentuh Abang gue, ilang tu jari Lo Desi"ucap aela dengan dingin dan datar
Sedangkan perempuan itu yang bernama Desi hanya terkekeh
"GK, cuma becanda gue jadi penasaran Abang Lo tau GK ya kalo Lo itu sebenarnya bermuka dua"ucap Desi dengan licik
Sedangkan aela hanya membalas itu dengan seringaian
"Yah entahlah"ucapnya
Lalu mereka pun pergi ke dalam kelas mereka dengan sorot mata dingin yang bisa menembus jiwa raga
________
Saat ini Alva telah berada di ruangan kepsek setelah bertanya kepada salah satu siswa
"Baiklah Alva Zainal Mahendra kamu berada di kelas MIPA1 "ucap pak kepsek
Sedangkan Alva yang mendengar itu mengumpat di batinnya
"Anjirlah selain satu sekolah Ama Alvi kenapa juga harus satu kelas Ama dia"batinnya
Sambil berjalan mengekori guru yang adalah wali kelasnya yang bernama pk agus
Setelah berada di depan kelas, Alva serta PK Agus berhenti
"Kamu tunggu disini dulu yah entar bapak panggil masuk"ucap PK Agus
Dan alva pun mengangguk PK Agus pun membuka pintu kelas
Dan kelas yang awalnya ramai dengan anak toa pun menjadi hening kayak kuburan
"Baiklah anak anak sekarang kita kedatangan murid baru Alva masuklah"ucap apk Agus
Dan alva pun segera masuk
'Buset cupu tapi aura badboy njir'
'dia punya aura GK boleh ada yang mengganggunya '
'kyaa kayak Nagato tapi versi pake kacamata njir'
'pasti ketampanan yang tersembunyi nih'
'namanya mirip Alvi benjir '
'weis gue tandai Lo jadi rival gue'
'ada lowongan pacar gk'
'wiih rambutnya tu lucu banget sih'
Begitulah bisik bisik anak kelas
Sedangkan Alva hanya tersenyum lebar sambil menutup matanya
"Baiklah Alva perkenalkan dirimu"ucap PK Agus
Alva pun menoleh dan mengangguk lalu melihat ke arah kelas
"Yo kenalin nama gue Alva Zainal Mahendra bisa panggilan Vi ,Alvi atau juga sayang GK papa"ucap Alva sambil mengendikkan mata kanannya
Sedangkan sekelas yang mendengar itu membatin
'tambahan playboy nih'batin mereka serempak kecuali satu orang
Yang sedari tadi melihat Alva dengan raut terkejut
Mendengar perkenalan Alva PK Agus hanya bisa menggelengkan kepalanya
"Va kamu bisa duduk di samping Alvi, Alvi angkat tangan mu"ucap PK Agus
Sedangkan Alva yang mendengar itu senyumnya pun berubah menjadi senyuman kecut
"Satu sekolah Ama Alvi, sekelas Ama Alvi, sekarang sebangku Ama Alvi Napa GK sekalian SE darah Ama Alvi coba, eh gue kan emang sedarah Ama Alvi ya, bahkan Sampek semuka Ama Alvi fix definisi hukum kembaran dunia ini apa apa harus SE SE Mulu "batin Alva cengo
Sedangkan Alvi yang namanya di panggil pun mengangkat tangannya dengan gugup
Dan itu dapat di lihat oleh Alva dan melihat itu Alva tersenyum kecil sangat kecil
Lalu Alva pun berjalan dengan santai ke arah Alvi duduk meninggalkan PK Agus yang hanya menghela nafas
"Yo lama GK ketemu, masih idup ternyata Lo, kirain dah mati karna GK ada kabar beberapa hari ini"ucap Alva yang sudah duduk di samping Alvi dengan nada ramah dan senyum yang sangat sangat ramah ingat sangat ramah ya
Sedangkan Alvi yang mendengar ucapan Alva hanya bisa menelan Saliva nya dengan kasar
"Sorry gue sibuk jadinya yah gitu deh"ucap Alvi gugup
Sedangkan Alva hanya diam,hening pun melanda di meja mereka bahkan guru yang sedang mengajarkan perbedaan air laut dengan air sungai pun hanya terdengar samar samar layaknya sudah beda dunia
"Gue marah sama Lo"ucap Alva
Sedangkan Alvi tubuhnya menegang saat mendengar ucapan Alva
Entah mengapa dadanya merasa sesak dan tidak terima saat Alva bilang dia membencinya
Alva melirik Alvi yang terdiam lalu matanya fokus ke arah papan tulis
"Karna GK pernah bilang kalo punya masalah tapi malah di Pendem sendiri"lanjut Alva
Mendengar itu sontak tubuh Alvi menegang lalu refleks menoleh ke arah alva
"L-lo-"belum Alvi berbicara Alva menyela
"Mata Lo udah jelasin semuanya"ucap Alva lalu menoleh dan menatap mata Alvi
Sedangkan Alvi yang di tatap tajam menelan Saliva nya
"Lo punya masalah yang membingungkan antara harus memilih dulu atau sekarang"ucap alva
Mendengar itu Alvi menunduk entah mengapa dia merasa bahwa Alva selalu tau apa yang dia alami layaknya dirinya yang terbelah menjadi dua
Alva yang melihat itu tersenyum lalu matanya lurus menatap kedepan dengan pandangan dingin
"Gue harus nyelametin Alvi dan nea dari jalang itu"batin alva