HAPPY READING
Jangan lupa vote and komen ya!
Kini mereka sudah berada di dalam kelas pelajaran selanjutnya akan segera dimulai, Vei yang tengah mengambil buku didalam tas namanya dipanggil oleh Pak Ganjar guru fisika.
"Vei, tolong ambilkan buku besar bapak dikantor"
"Baik pak"
Langkah demi langkah tak terasa Vei sudah berada di depan kantor segera saja ia masuk, satu persatu buku ia periksa untuk mengambil buku besar milik Pak Ganjar.
"Nah ini dia,.. aduhh" ucap Vei menabrak pohon seseorang.
"Sorry sorry, gue gak liat ada orang didepan gue" Vei berjongkok untuk mengambil buku besar tadi.
"Vei? Ngapain lo disini" ucap pemuda tersebut.
"Rey? Oh ini, gue disuruh ambil buku sama pak Ganjar"
Ternyata pemuda yang tadi ia tabrak adalah Rey mantan Zeva. Beberapa saat sebelum Vei masuk ke kantor, Rey sudah terlebih dahulu didalam.
"Oh gitu, gue juga disuruh Bu Tia ambil absensi kelas"
"Yaudah kalau gitu gue duluan ya" ucap Vei meninggalkan Rey.
Rey yang melihat kepergian Vei hanya tersenyum dan bergegas untuk pergi ke kelasnya juga.
Saat ini kelas IPA tengah mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Ganjar. Setiap orang mengerjakan tugas yang ada didalam LKS.
"Zev tadi gue ketemu sama Rey" ucap Vei berbisik.
"Dimana?" tanya Zeva penasaran.
"Di kantor, pas gue lagi ambil buku terus ada dia juga. Katanya sih dia juga disuruh ambil absensi sama Bu Tia"
"Tumben banget dia yang disuruh"
"Heran gue juga"
Rey yang dijuluki tukang tidur oleh teman teman kelasnya, sangat jarang guru untuk menyuruhnya bahkan bisa dibilang tidak pernah. Lantas kenapa tadi dia berada didalam kantor.
Sementara itu di kelas yang ditempati Rey sangat ramai karena jamkos, Rey sendiri tengah asik menonton film di handphonenya.
"Tadi lu kemana Rey?" tanya salah satu temannya.
"Ke toilet" balas Rey berbohong.
Sebenarnya Rey tidak ada niatan untuk pergi ke kantor, lagi pula pelajaran Bu Tia jamkos itu artinya Rey berbohong kepada Vei.
Karena kelasnya jamkos otomatis mereka tidak diperbolehkan untuk keluar kelas, jika ada yang keluar namanya akan ditulis oleh ketua kelas. Dengan alasan pergi ke toilet baru Rey bisa keluar.
Niatnya ia hanya ingin keliling mencari angin saja, kebetulan melihat Vei pergi ke kantor jadi ia memutuskan untuk mengikutinya. Rey juga berbohong sampai kantor lebih dulu padahal kenyataannya tidak.
"Gue baru inget, kalau Vei sahabatnya Zeva mantan gue haha dunia emang sempit" Rey membatin sambil terkekeh geli sendiri.
Bel istirahat berbunyi waktunya para murid pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar.
Vei bersama para sahabatnya tengah asik menyantap makanan mereka dan sesekali mengobrol.
"Tadi gue pusing banget pas pelajaran MTK gak paham anjir" ucap Selena.
"MTK tuh emang pusing, sekalinya ngerti rumus eh besoknya lupa lagi" balas Jihan.
"Kadang juga giliran udah paham eh lanjut ke bab selanjutnya" keluh Dinda.
"Fak kata gue teh" ujar Zeva.
"Selagi gak ada PR mah aman sih" ucap Vei.
"Bener banget" balas Olivia.
"Paling males kalau PR MTK tuh" Luna kesal.
Perkataan Luna pun disetujui oleh para sahabatnya, MTK memang pelajaran yang sulit untuk dimengerti.
Hening beberapa saat hingga kedatangan Bagas ke meja mereka, ia membawa sebuah mangkuk berisi bakso lalu duduk berhadapan dengan Vei.
"Gue izin duduk bareng kalian ya" ucap Bagas.
"Sebelum lo bilang juga udah keburu duduk" balas Vei.
"Tau nih, lagian ngapain lo kesini?" tanya Olivia.
"Gapapa sih, pengen ikutan aja" balas Bagas.
"Ini tuh pembahasan para wanita, lo tuh gak diajak!" ucap Luna mengusir.
"Galak amat" Bagas meringis dibuatnya.
"Udah biarin aja, anggap dia gak ada" ucap Vei.
"Gak ada akhlak lo pada" Bagas mendramatisir.
***
Sepulang sekolah Galen mengajak Vei untuk bertemu di taman malam hari. Kini Vei tengah rebahan di kamarnya.
"Tumben Galen ngajak ketemuan ditaman" pikir Vei.
"Sekarang baru jam empat karena dia ngajak jam tujuh otomatis masih ada dua jam buat gue siap siap"
Vei sibuk mencari baju yang akan ia kenakan untuk pergi dengan Galen. Walaupun bukan pertama kalinya tapi tetap saja ia gugup, apalagi dari ekspresi wajah Galen terlihat serius.
"Bingung banget gue, ah udahlah ntar aja. Sekarang gue scroll tiktok dulu" ucap Vei membuka aplikasi tiktok.
Ting!
Tengah asik menscroll tiktok tiba tiba muncul notifikasi di handphonenya.
"Siapa sih ganggu banget,... Hah Bagas?!" Saking terkejutnya Vei langsung mengubah posisi yang tadinya rebahan menjadi duduk.
Bagas:
Vei, lo sibuk gak ntar malam?
You:
Kenapa emang gas?
Bagas:
Gue mau ngajak lo jalan
You:
Jam berapa?
Bagas:
Jam 8, ada waktu gak?
You:
Boleh deh
Bagas:
Oke, ntar gue kabarin kalau udah sampe rumah Lo
Read
"Untung beda jam sama Galen, gue sebenarnya pengen nolak tapi gak enak. Yaudah deh gapapa"
"Paling juga Galen sebentar doang, lagian kenapa barengan gini sih" protes Vei kesal.
***
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Vei sengaja pergi lebih awal untuk menutupi rasa gugupnya. Melihat sekeliling taman ternyata ramai orang orang.
"Gue duduk disini deh" ucap Vei duduk dibangku taman.
Sudah satu jam lebih Vei menunggu, dichat maupun ditelpon tidak diangkat. Rasa kesal Vei semakin memuncak ketika melihat jam tangan menunjukkan delapan malam.
"Galen kemana sih? Niat gak sih dia ketemu gue" kesel Vei melihat room chatnya dengan Galen centang satu.
Baru saja Vei ingin melangkahkan kakinya dari taman, terdengar suara yang memanggil namanya.
"Vei... sorry gue telat, lo dari tadi disini?" tanya Bagas.
"Hah?! Oh enggak, gue baru sampe kok" jawab Vei.
"Gue sampe lupa kalau janjian sama Bagas juga, bodo amatlah sama Galen. Dia sendiri yang ingkar"
"Lo mikirin apa?" tanya Bagas melambaikan tangannya didepan wajah Vei.
"Tadinya gue nunggu Galen, gue juga janjian sama dia sebelum sama lo Gas. Tapi udah sejam lebih gue nunggu dia gak datang juga, dihubungi susah" balas Vei.
"Pantesan, gue tadi liat Galen sebelum samperin lo" ucap Bagas membuat Vei terkejut.
"Lo liat dia dimana?" tanya Vei.
"Di depan sana, tapi sama cewek dan gue gak kenal itu siapa" jawab Bagas.
"Cewek?" Vei diam.
"Nah itu dia" tunjuk Bagas dari jauh melihat Galen bersama cewek lain.
"Jadi maksud Galen minta ketemuan itu mau ngenalin gue sama ceweknya gitu?" tanya Vei membatin.
"Lo ada urusan sama dia? Kalau gitu samperin aja, gue tunggu disini" ucap Bagas.
"Gak perlu, udah gak usah bahas dia. Jadi lo mau ajak jalan gue kemana?" tanya Vei.
"Sebelum itu ada hal yang mau gue omongin sama lo" ujar Bagas.
"Apa itu?" tanya Vei.
"Gue sebenarnya suka sama lo, mau gak jadi pacar gue?"
___
Waduh ada yang nyatain perasaannya nih, kira kira diterima gak ya?