King's Obsession (Complete)

By marianimarzz

7.1K 362 16

(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi... More

Prolog
1. Elwin
2. Freya
3. Tanpa Jawaban
4. Perubahan
5. Rival dan Pertanyaan
6. Ciuman Kedua
7. Lenyap
8. Pengganti
9. Malam Pertama
10. Foto dan Pengakuan
11. Menghilang
12. Langkah Baru
13. Undangan
14. Bertemu Kembali
15. Ciuman Perpisahan
16. Malam Pelampiasan
17. Hubungan Antar Perusahaan
18. Makan Bersama
19. Sandiwara
20. Lydia
21. Rencana yang Berhasil
22. Melamar
23. Menikah
25. Kecelakaan
26. Pengkhianatan
27. Ditinggal
28. Loira
29. Rindu yang Terlupakan
30. Berita
Epilog

24. Hamil

22 0 0
By marianimarzz

Bosan.

Ibarat seperti sebuah mainan. Melihat seseorang memainkan mainan tersebut, aku yang hanya bisa melihat, merasa tertarik ingin memilikinya. Tanpa berpikir panjang, aku segera merebutnya, menjadikan mainan itu milikku, milikku seutuh-utuhnya dan tidak boleh dimainkan oleh orang lain selain aku. Namun itu hanya sesaat. Rasa ketertarikan yang kumiliki pada mainan itu sudah menghilang dengan cepatnya sekarang.

Sama halnya seperti Freya.

Baru beberapa bulan aku hidup bersamanya sebagai sepasang suami istri, aku mulai merasa bosan padanya. Dulu aku merasa dia berbeda dengan wanita lainnya. Kukira dia adalah wanita satu-satunya untukku. Kukira dia adalah wanita yang akan kucintai melebihi langit, melebihi angkasa. Sehingga membuatku berusaha untuk merebutnya, menjadikannya milikku dengan cara apapun. Namun ternyata tidak. Dia sama seperti wanita lain, wanita yang kuanggap sebagai teman satu kasur.

Perasaanku padanya sudah menghilang. Perasaanku yang begitu tergila-gila padanya dulu serasa seperti angin lewat. Aku tidak lagi mencintainya, dan aku merasa diriku aneh. Aku selalu menebak-nebak kenapa aku mendadak menjadi tidak nyaman di dekatnya, kenapa aku selalu berusaha menjauh darinya, sedangkan dulu waktu SMA aku tidak berpikiran begitu. Dan sekarang aku sudah tahu alasannya.

Aku adalah pria penggila wanita. Aku hanya menikmati tubuh mereka. Dan bagiku, mereka tidak layak untuk kucintai selain untuk memenuhi hasratku. Aku tidak puas dengan satu tubuh yang sama saja dalam jangka waktu yang lama. Aku tidak ingin terikat. Aku ingin bebas. Sejak kapan aku mulai menjadi seperti ini? Sejak kuliah?Tidak, sejak SMA. Sejak Freya meninggalkanku, sejak diriku yang polos dikhianati dengan sangat. Aku sudah menjadi pria rendahan seperti ini dan aku tidak menyesalinya. Aku tidak salah. Aku hanya berubah, keadaan yang membuatku berubah, Freya yang membuatku berubah.

Jadi demi untuk menghindarinya, aku selalu beralasan lembur kerja. Untuk sesaat, aku memang benar-benar lembur. Namun lama-kelamaan itu menjadi sebuah kebohongan untukku pergi bermain dengan wanita malam di klub langgananku. Hanya demi aku bisa bertahan hidup hanya dengan seorang wanita.

Dan hari ini, seperti biasanya aku ingin beralasan lembur lagi, tidak bohong. Tapi Freya berkata ada sesuatu hal penting yang ingin ia bicarakan padaku. Jadi mau tidak mau, aku harus pulang menemuinya. Kurasa bukan masalah besar, karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya di kasur. Aku lupa sentuhan tubuhnya, dan mungkin aku akan memintanya malam ini.

"Aku pulang," ucapku pelan setelah menutup pintu.

"Selamat datang, Sayang!" seru Freya dengan riang seraya mengecup bibirku lalu mengambil tas tanganku. "Sudah makan malam?"

"Belum," jawabku apa adanya.

"Oh ya? Tunggu sebentar, aku panaskan dulu," ujarnya cepat dan langsung berlalu
pergi ke dapur.

Aku menghela napas sambil melonggarkan dasiku, lalu duduk di meja makan setelah siap cuci tangan, menunggu makanan.

Berselang beberapa menit kemudian, Freya muncul kembali beserta dengan nasi dan lauk yang sudah dipanaskan. "Silakan dimakan!" katanya setelah menata makanannya di depanku. Tanpa menunggu aku langsung melahapnya dengan cepat, saking laparnya.

Dalam 5 menit, dengan cepatnya aku sudah menyelesaikan makan malamku. Dan langsung saja, aku masuk ke dalam topik. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku?"

Setelah pertanyaanku, senyuman di wajahnya langsung melebar. "Aku punya berita sangat bagus untukmu, Sayang."

"Apa?"

"Aku hamil! Ini lihat!" Freya mengeluarkan lima buah test pack dan memberikannya kepadaku. Semuanya dua garis.

DEG.

Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Apa yang dia katakan tadi? Apa yang ada di hadapanku ini? Apa aku tidak salah dengar? Apa aku tidak salah lihat? Aku melototinya dan kumpulan test pack silih berganti. "Ka, kamu hamil?" tanyaku masih tidak ingin percaya.

"Iya, benar aku hamil, El, aku hamil!" serunya tambah bahagia.

Tanpa sadar aku mengangkat sebelah alisku dan bertanya, "Itu... benar anakku?"

Ops. Aku salah kata. Baru saja aku selesai bertanya, Freya yang tadinya senang minta ampun langsung cemberutan, antara nangis bercampur marah. "Apa maksud ucapanmu, El? Apa kau kira aku selingkuh? Apa kau kira aku akan bermain di belakangmu karena kamu sering lembur? Aku bukan wanita murahan. Aku hanya pernah bersetubuh denganmu, jadi tidak mungkin itu anak orang lain!!"

Gawat. Sebelum ia marah besar, aku segera bangkit dari kursiku dan memeluknya erat. "Cup, cup. Maaf, ya. So, soalnya setiap kita tidur aku selalu pakai kondom, jadi kukira... tidak, tidak. Kamu tidak bersalah, kondom yang salah. Mungkin rusak, mungkin expired. Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencurigaimu."

Ia yang tadinya menahan nangis langsung terisak di dalam dekapanku. "Aku tahu mungkin ini adalah kecelakaan yang tak terduga. Kita juga pernah bahas kalau kamu belum ingin punya anak terlalu cepat. Tapi, tapi tetap saja, walaupun ini di luar dugaan, kenapa kamu bisa begitu tega menuduhku? Ini beneran anakmu, El...."

Tangisan Freya semakin menjadi. Sejak kapan dia jadi cengeng begini? Padahal aku hanya mengucapkan satu kalimat yang bisa saja kututup dengan 'Aku hanya bercanda kok,' bukan masalah yang besar. Apa karena sekarang dia telah berbadan dua sehingga emosinya tidak lagi stabil?

"Kenapa diam saja, Sayang? Jawab aku!" teriaknya mendadak, membuatku cukup terkejut.

Aku kembali mempererat pelukanku. "Iya, iya, ini anakku, ini anak kita. Besok kita pergi cek ke dokter sama-sama, ya. Aku sudah tidak sabaran. Jadi sekarang berhenti menangis, ya? Maafkan aku."

Sungguh melelahkan.

***

Setelah kejadian waktu itu, aku selalu berhati-hati dalam berkata ketika berhadapan dengan Freya. Sangat berbahaya kalau ibu yang sedang mengandung banyak mengubah emosi. Bisa-bisa anakku jadi gila.

Sejak saat itu, aku diwajibkan memberi perhatian ekstra kepada Freya. Ayah melarangku lembur lagi setelah mengatahui Freya menghamili anakku. Ia bahkan menyuruhku untuk berhenti bekerja sampai Freya melahirkan. Aku tentu menolaknya, karena bisa saja aku gila duluan sebelum anakku gila.

Aku sedih akan nasibku. Padahal selama ini aku selalu menyiapkan pengaman ke mana pun aku pergi. Apa benar ini gara-gara kondom yang rusak? Atau aku pernah lupa memakainya? Meskipun begitu, apa hanya dalam sekali itu aku tidak pakai, aku kena jackpot? Kukira semuanya akan baik-baik saja, karena waktu malam pertamaku, Julina tidak mengalami hal seperti ini. Namun sialnya lagi, mau-mau saja kebetulan sedemikian persen ini terjadi dan Freya jadi mengandungi anakku.

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan sekarang. Nekad, mungkin itu satu-satunya kata yang cocok dengan semua ini. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berpikiran seperti itu. Aku seperti tidak menyukai anakku sendiri, aku seperti tidak lagi memiliki perasaan. Entahlah, aku tidak tahu lagi.

***

Malam ini Lydia mengajakku ke pub dengan alasan dia ingin curhat, mungkin karena Steven lagi, atau hanya alasan untuk bertemu denganku, aku dengan senang hati menerima ajakannya. Mungkin aku memang sedang membutuhkan seseorang yang bisa memenuhi hasratku sekarang, dan Lydia, dia yang sendiri datang padaku, jadi tidak ada salahnya, bukan, jika nanti aku menidurinya?

Lydia melambaikan tangannya ke arahku begitu melihat keberadaanku, aku tersenyum manis kepadanya seraya menghampirinya. Aku langsung menarik sebuah kursi dan duduk di sampingnya.

"Vodka," ujarku pada seorang bartender yang kebetulan berada di hadapanku. "Ada apa, Ly?" tanyaku begitu bartender itu menaruh segelas vodka di meja.

Lydia menatapku dengan cemberutan seolah sedang merajuk atau apalah, pikiran wanita memang susah ditebak. "Aku sedang bertengkar dengan Steven," sahutnya kemudian.

Bertengkar dengan Steven? Bukan urusanku. Aku menghela napas sebelum kemudian mengembuskannya perlahan. Lagi. "Kok bisa?" tanyaku sedatar mungkin.

Lydia tersenyum kecut. "Seperti biasa, dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada aku, padahal seharusnya dia lebih mementingkanku, jika bukan aku, dia mana bisa menempati posisi itu?" dengusnya.

Ah, apakah seluruh wanita di dunia ini sama sepertinya? Selalu saja mencari masalah dengan suami jika suami mereka lebih mementingkan pekerjaan ketimbang mereka, atau karena hal-hal sepele, mereka mencari gara-gara. Nyatanya, jika bukan kami -kaum laki-laki yang bekerja di luar, mana bisa mereka menikmati hidupnya senyaman ini? Mereka hanya bisa menghabiskan uang kami. Sebisa mungkin aku mengatur emosiku agar tidak membentaknya. Diam-diam aku menarik napas panjang. Tapi,... tunggu... apa yang dikatakannya tadi?

Jika bukan aku, dia mana bisa menempati posisi itu?

Apa maksud dari kalimat itu? "Posisi? Maksudmu?"

Lydia berdecak. "Posisi yang ditempatinya sekarang adalah pemberianku, Win. Aku yang memberikan kuasa itu padanya, perusahaan itu milikku."

Aku membulatkan kedua mataku, tidak percaya dengan apa yang kudengar tadi. Apa ada yang salah dengan telingaku, atau memang itu kenyataan yang kudengar?

"Perusahaan itu milikmu?" tanyaku seolah ingin lebih memastikan apa yang dikatakannya. Dapat kulihat anggukkan kepalanya yang tegas sebelum tangannya meraih gelas minumannya dan meneguknya dengan perlahan. Sepertinya aku harus mengubah rencanaku.

"Bukannya perusahaan itu milik Steven, ya? Dari yang kudengar, Steven itu pewaris tunggal perusahaan itu."

"Aku yang menyebarkan informasi seperti itu, karena aku tidak mau dia dianggap sebagai orang yang bekerja padaku. Dia suamiku, aku tidak ingin dia kehilangan harga diri karena bekerja di bawah perintahku," ujarnya pelan.

Aku hanya mengangguk-angguk. Ternyata ini yang menjadi alasan kenapa Steven tidak terlalu suka orang-orang memanggilnya sebagai 'Direktur Muda', karena posisi itu bukan miliknya sepenuhnya, posisi itu hanya dipinjam. Aku menyeringai begitu menyadari rencanaku akan segera berhasil.

"Kamu kenapa, Win?" Setelah berdiam diri cukup lama, Lydia kembali bersuara membuatku tersadar dari lamunanku.

Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak ada," sahutku lemah. Seolah menyadari ketidakberesan dalam kalimatku, Lydia kembali bertanya padaku. Aku tersenyum lemah sebelum menjawab pertanyaannya. "Ada sedikit masalah dengan rumah tanggaku, Ly."

"Kamu bisa menceritakannya padaku jika itu bisa sedikit menghiburmu."

Aku bercerita padanya, semuanya, memang sedikit berbeda dengan versi 'asli'nya, tapi aku tidak peduli, yang penting cerita itu bisa membuatnya lebih mendekatkan diri padaku, aku harus membuatnya percaya bahwa aku sudah tidak mencintai Freya dan sudah berniat menceraikannya jika saja Freya sedang tidak mengandung anakku.

Dia mendengar dengan seksama. Sekali-kali dia juga mengangguk-angguk atau menimpali sesuatu yang menurutnya tidak benar. Setelah selesai bercerita, dapat kulihat sudut bibirnya tertarik ke atas membuat sebuah senyuman yang sangat lebar seolah ingin memperlihatkan bahwa dia senang karena memenangkan sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkannya.

Aku memasang tampang polos, aku ingin dia lebih menggodaku. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, kini aku duduk lebih dekat dengannya, kedua mataku menatap dirinya dengan nanar, seolah menginginkan sesuatu. Aku menggenggam kedua tangannya dengan erat, di saat dia hendak membuka mulutnya, jari telunjukku menempel di bibirnya, menyuruhnya diam.

"Biarkan seperti ini sebentar saja, Ly, temanin aku sebentar saja, kumohon," lirihku. Aku yakin dengan seperti ini bisa sedikit meluluhkan hatinya, dan itu yang terjadi sekarang, aku yang tadinya hanya menggenggam kedua tangannya kini sudah beralih memeluk tubuhnya dengan erat atas inisiatif dirinya, kedua tangannya menepuk-nepuk punggungku dengan pelan seolah ingin menghiburku. Aku menyeringai dalam pelukan itu.

Aku kemudian melepaskan pelukannya perlahan, sementara kedua tanganku sudah memegang pundaknya dengan erat seolah tidak ingin dia pergi jauh dariku. Aku mulai mendekatkan wajahku ke arahnya, dan akhirnya bibirku suskses menempel di bibirnya. Awalnya dia sempat terkejut karena tindakanku yang tiba-tiba itu, tapi lama kelamaan dia seolah mulai menikmati bibirku. Aku mulai memberanikan diri untuk melumat bibirnya yang ternyata dibalasnya, hal itu seolah memberiku akses untuk melanjutkannya dengan lebih intim, segera lidahku menerobos ke dalam mulutnya, mengabsen deretan giginya yang tersusun rapi itu. Dengan lihai, lidahnya mengajak lidahku berperang hingga dia mendesah, aku melepaskan ciuman itu perlahan, menatapnya dengan sendu.

"Kita salah, kita tidak boleh melakukannya," gumamku pelan seakan ini hanyalah ketidaksengajaan.

Lydia menggelengkan kepalanya sebelum kemudian menatapku dengan tatapan yang seolah menunjukkan dia menginginkanku. Dia menarik lenganku, "Aku menginginkanmu, Win, hanya kali ini, kumohon," mohonnya sebelum dia kembali menciumku dengan ganas, kedua lengannya melingkar di leherku. Dia sepertinya benar-benar menginginkanku. Aku yang awalnya hanya diam saja, kini mulai membalas setiap ciumannya, dia benar-benar adalah seorang pencium yang hebat.

***

Aku menatap lekat ke arah wanita yang tidur di sampingku -Lydia, rambut pendeknya yang hanya seleher, kedua matanya yang bulat dan besar tapi dalam keadaan tertutup, pipinya yang sedikit gembung, bibirnya yang berwarna merah pucat, dia sangat cantik. Jemariku terangkat untuk menelusuri lekuk wajahnya yang begitu sempurna. Dia menggeliat sebelum akhirnya kedua matanya terbuka lebar. Dia tersenyum begitu melihatku. "Good morning," sapanya. Aku membalas sapaannya dengan manis.

"Terima kasih,... untuk semalam," ujarnya malu-malu yang membuatku terkekeh. "Aku... aku... hmm, bagaimana kalau kita sarapan dulu, Win?" Dia menatapku dengan tatapan memohon, membuatku tidak tega menolaknya, jadi, aku hanya mengiyakan ajakannya.

"Apa kamu tidak takut jika kamu pulang nanti akan dimarahi Freya?"

Aku tersenyum begitu mendengar pertanyaannya yang polos, "Aku bisa mencari alasan, tapi, bagaimana denganmu?"

"Steven? Dia tidak akan peduli denganku, dia memang tidak mencintaiku," lirihnya.

"Tidak mencintaimu? Jadi kenapa kalian menikah?"

Lydia menghela napas. "Ya, seperti yang kamu ketahui, pernikahan kami dilaksanakan karena perjodohan itu."

"Jadi kenapa kamu memberikan perusahaanmu kepadanya?"

"Mengikuti kata-kata Almarhum Ayahku. Ayah ingin perusahaannya kelak ditangani Steven, jadi aku hanya melakukannya seperti apa yang dikatakannya."

"Maaf," sepertinya aku terlalu banyak bertanya. Tapi aku tidak peduli, toh, aku hanya ingin mencari tahu kenapa dia memberikan kuasa perusahaannya kepada Steven padahal mereka tidak saling mencintai.

"Tidak apa-apa," ujarnya kemudian sebelum menarik selimut seraya membungkus tubuhnya dan menuju kamar mandi yang berada di kamar ini.

Aku menyeringai begitu Lydia menghilang di balik pintu.

Terima kasih sudah dengan mudahnya jatuh hati padaku, Wanita bodoh.

***

Continue Reading

You'll Also Like

3.3M 191K 54
#3 in TEEN FICTION (07-07-2017) Judul awal : Marrying Hot Teacher BUKU KETIGA [Ga perlu baca dua buku sebelumnya juga bisa ngikutin ceritan...
79.5K 5.7K 23
Baca elit tapi vote/komen sulit. Semua rasa sakit dan kesepian akhirnya lenyap bersamanya dalam kematian. Namun, tak disangka, dirinya justru diberi...
14.5K 1.1K 66
Warning ❗Plis, no copy paste/plagiat cerita orang❗sebelum membaca Vote dan follow. ⚠️ Sebagian part di hapus untuk kepentingan penerbitan. Jika ingin...
533 2 14
ini kisah dewasa mohon bijak ya yang dibawah umur. "mengapa kau!. aku mau kekasihku yang menjadi istriku bukan kau." " tapi dia sudah meninggal...
Wattpad App - Unlock exclusive features