Salah satu bentuk apresiasi pembaca kepada penulisnya. Penulis akan senang dan bersemangat karena secara langsung kalian mendukung dan menghargai karya nya.
Salam Nur
•••
"Anez."
"Nez."
Langkah Anez terhenti ketika ada dua orang yang memanggil berbarengan, mata Anez menelusuri siapa yang memanggil.
Di barat ada Ethan dan di Utara ada Brayn, keduanya melangkah menghampiriy Anez.
"Kenapa?" Tanya Anez heran, keduanya sama-sama masih menggendong tasnya.
"Bareng sama aku ke kelas," ucap Brayn.
"Harusnya gue yang bareng," sela Ethan tidak mau kalah.
"Hah." Anez ngeblank, tidak mengerti apa yang terjadi hari ini.
"Iya kita bareng." Sambung Brayn tanpa menggubris Ethan yang disampingnya.
"Tapi kan jalur kelas kita beda, kenapa kamu gak langsung ke kelas setelah dari parkiran samping?" Tanyanya heran. Biasanya Brayn tidak pernah memarkirkan motornya diparkiran depan karena jika parkir disana kalo mau ke kelas IPS harus jalan jauh, untungnya disamping sekolah dekat kebun ada parkiran yang mana tidak jauh dengan gedung jurusan IPS.
"Nah makanya nez, jauh-jauh jalan sini mending bareng gue yang emang sejalur." Kompor Ethan sembari tersenyum miring kepada Brayn.
Brayn menatap tajam kearah Ethan dan ekspresinya berubah saat melihat kearah Anez, dirinya malah terkekeh sambil garuk-garuk tengkungnya. "Itu aku mau ke perpus cari buku panduan. Tahu kan pelajaran sosiologi yang belajar tentang orang-orang masalalu, temasuk manusia yang berasal dari MONYET nah itu ada di pelajaran IPA juga tentang organ dalam hewan," kelit Brayn yang tidak sepenuhnya salah, namun pas kata 'monyet' dia sengaja menekankan katanya dan melirik kearah Ethan.
"Garuk-garuk tengkuk atau kepala, banyak menjelaskan biasanya itu bohong ga sih." Sindir Ethan santai, orang yang disindir menatap tajam kearah Ethan seperti ingin membunuh.
"Lo kenapa dah Yen, kaya yang kesindir gitu kan emang bener kan nez yang gue ucapkan," kekeh Ethan dan beralih mengajak mengobrol Anez meminta pembelaan.
Anez yang sedari tadi bengong merasa heran dengan kedua orang didepannya yang semua murid tau galak dan tegas membuat mereka segan pada Brayn dan Ethan. Tapi yang Anez lihat sekarang seperti anak kecil yang rebutan roti.
"Yaudah kalo mau ke perpus." Sela Anez menengahi.
Anez, Brayn dan Ethan berjalan menyusuri koridor sekolah yang sedikit demi sedikit mulai rame.
Brayn dan Ethan yang dibelakang Anez malah saling sikut, Ethan dengan tampang licik tapi elegan dan Brayn dengan tatapan tajam tapi cool.
"Eh Brayn kamu mau kemana, kan perpus belok kanan bukan lurus." Sela Anez ketika Brayn malah mengikuti Anez hingga mau menaiki tangga.
"Aku cuma mau temenin kamu nez, supaya gak diganggu anak setan." Delik Brayn pada Ethan yang malah terkekeh.
"Wus, ko kamu ngomongnya jelek." Tegur Anez pada Bryan yang malah menampilkan dua jarinya tanda damai sambil menyengir memperlihatkan giginya.
"kamu pergi aja nanti keburu masuk kelas."
"Yaudah aku duluan ya, Anez kamu harus hati-hati orang jahat tampang baik itu emang ada."
"Apaan sih, udah sana." Kesal Anez, setelahnya Bryan berbelok kearah kanan. Padahal dia tidak akan ke perpustakaan itu hanya alasannya saja supaya masuk akal.
"Kamu gak duluan aja," ucap Anez ketika melihat Ethan malah berjalan bersisian dengannya.
"bareng aja, sejalur ini."
Setelah sampai di depan kelas Anez, Anez yang akan memasuki kelasnya malah terhenti ketika Ethan memanggilnya.
"Ini buat Lo." Ethan menyodorkan sesuatu pada Anez.
"Buat aku, kenapa?"
"Katanya coklat itu jadi cemilan kesukaan cewek, dimana coklat bisa merubah mood rusak jadi baik kembali."
"Benar tapi salah," ucap Anez membuat Ethan mengernyitkan dahinya.
"Yang benar semua perempuan belum tentu suka coklat ada yang suka keju atau bahkan tidak sama sekali suka. Tapi kebanyakan perempuan suka yang manis-manis atau pedas."
"Pintar." Senyum Ethan pada Anez dan entah kenapa senyum Ethan padanya membuat Anez gugup dan berdetak tidak karuan. "Jadi ini buat Lo untuk merubah mood Lo." Kekehnya saat melihat Anez malah melamun.
"Mood maksudnya?"
"Udah ambil aja." Paksa Ethan dan akhirnya Anez mengambil coklat itu.
"Jangan sedih lagi ya harus tetap tersenyum."
"WOY!"
Ethan dan Anez kaget, tiba-tiba ada yang datang dan berteriak pada mereka.
"Wih beduaan yang ketiganya setan." Delik Naomi pada Ethan.
"Iya Lo setan nya." Datar Ethan malas.
"Anj-" umpat Naomi membuat Anez menatap tajam padanya.
"Habisnya nez dia bilangin gue setan apa-apaan sih Lo, ngapain kesini hah!" Ungkap Naomi yang lama kelamaan jadi ngegas dan ditujukan untuk Ethan.
"Gue ke kelas dulu daripada tiba-tiba gempa," ucap Ethan santai sembari memasukan kedua tangannya pada sakunya dan berlalu pergi kearah kelasnya.
Naomi kesal bahkan dia menghentak-hentakkan kakinya seperti sedang menginjak hama.
"Ayo." Ajak Anez ditakutkan Naomi sampai saat ini masih menginjak-injak hama.
~•~
"Ojajing ojajing Jing Jing Jing." Senandung Naomi dengan nada seperti lagu 'chota bim chota Bim Bim Bim Bim' dari serial kartun Khrisna, sambil menulis tugas dibuku catatannya.
"Astagfirullah Barbie," tegur Caramel lebay.
"Kenapa Barbie?" Tanya Naomi tidak kalah lebay.
"Nez marahin dia, Naomi ngomongnya ngasar." Adunya.
"Ngasar apa yang ada ngasur." Naomi membuka cemilannya dengan santainya dia memakannya didalam perpustakaan.
"Nao lo jangan makan di perpus mau dimarahin sama penjaga perpus apa." tandas Caramel.
"Emang kenapa kalo makan, yang ada kalo lagi puasa itu yang ga boleh makan."
Caramel memutar matanya malas, langsung fokusnya kembali ke buku khusus untuk melukis dan menggambar.
"Kamu gak ngerjain tugas Ra?" Tanya Anez yang heran melihat Caramel sesantai itu dan yang dia prioritaskan hanya untuk lukisannya.
"Udah gue, tuh." Tunjuk Caramel dengan dagunya mengarah pada buku yang dijadikan bahan contekan Naomi.
"Jadi Minggu depan kamu beneran masukin lukisan kamu ke pameran?"
Caramel mengangguk antusias. "Iya nez, doain ya, terus jangan lupa kalian juga harus datang ke pameran gue yang pertama kali."
"Insyaallah."
"Kagak males."
"Dih siapa juga yang ngudang Lo nao nao anak yupi."
"Heh sukinem gue denger ya, Lo tadi ngomong 'kalian' ya berarti kita berdua." Tandas Naomi percaya diri.
"Suttt, nao bisa ga sih ngomongnya pelan-pelan napa. Jadi kan yang lain liat kesini, kita ngedadak viral." Bisik Caramel saat seketika pengunjung perpustakaan mengarahkan matanya pada bangkunya dengan dua temannya.
"Lo udah viral semenjak pacaran sama Ezra kali."
"Iya ya my bee."
"Aku mau cari buku dulu ya."
Anez menelusuri sudut demi sudut perpustakaan, Anez berhenti di rak buku yang bertuliskan biologi.
Anez mengambil salah satu buku dengan penulis .....
Clak
Suara notif handphone yang bernada suara air itu menandakan ada pesan masuk. Anez mengambil handphonenya dan membaca pesan itu.
+62000....
Rupanya kamu tidak lebih peduli jika semua hancur tiba-tiba
"Nomor tidak dikenal," gumam Anez.
"Maksudnya apa ya?."
Akhir-akhir ini suka ada pesan-pesan yang tidak jelas, entah saat di rumah dirinya dapat mawar yang sama sekali dia tidak memesannya. Di dalam kotak paket itu bertuliskan 'seindah-indah mawar dia akan melukaimu'.
Anez pikir ini paketnya bi Ara untuk anaknya mungkin, tapi kata bi Ara dia bahkan tidak memesan mawar itu. Akhirnya Anez menyimpan kotak paket itu di gudang, mungkin saja memang salah kirim.
"Nez lagi ngapain." Tanya Naomi yang tiba-tiba datang menghampiri Anez yang sedang berdiri di rak buku.
"Eh nao, aku lagi cari buku biologi referensi dari ..... Tapi gak ada, mungkin aku harus ke gramed deh cari buku itu"
"Mau ngapain, lagian kan Lo punya buku paket banyak tuh di rumah emang bedanya sama buku biologi lain apa."
"Ya aku cuman menyamakan saja," kekeh Anez merasa malu. "Lagian nanti ujian akhir bakalan lebih susah deh soalnya"
"Eh nez, gue kasih tau ya. Lo udah pinter dari lahir, lagian ujian masih tinggal beberapa bulan lagi masih lama mending kita main-main gitu masih muda ini"
"Tapi makasih Lo ya udah dipuji aku pinter"
"Dih, dipuji langsung nyengir Lo" garang Naomi dan diakhiri tawa Anez dan Naomi.
"Oiya, gue mau ke kantin caramel juga udah duluan bareng ayang mbe nya mumpung istirahat masih 10 menit lagi, mau gak?"
"Yaudah aku ikut aja."
~•~
Di kantin semua orang masih asik makan dan ngemil bareng teman-teman nya, bahkan ada yang sedang ngobrol santai hingga bergosip, ada pula yang sambil canda tawa dan main Ludo ketika gempuran perut yang terus berkicau menggebu-gebu.
"Mba ini berapa?" Tanya Anez pada penjual menunjukan cemilan kue yang akan dibelinya.
"Itu 7000 kak"
"Yaudah aku beli dua sama Ichi than rasa Thai tea satu"
"Baik semuanya jadi 22000 ya kak"
Anez menyodorkan uang hijau dan ungu "kembaliannya buat mbak nya"
"Terimakasih kak."
"Anez!" teriak seseorang membuat seketika kantin yang tadinya riuh menjadi senyap tidak ada suara, Anez yang dipanggil merasa malu.
"Mega kebiasaan."
"Hehe maaf maaf," kekehnya lalu mengikuti Anez menempati tempat duduknya bersama teman-teman Anez.
"Kamu gak beli apa-apa ga?" Tanya Anez setelah duduk dibangku dengan nyaman.
"Udah tadi bareng temen-temen, kebetulan aja liat Lo disini."
"Sokab," celetuk Naomi pelan tapi masih terdengar oleh Mega, namun dia santai saja tidak memperdulikan itu.
"Naomi." Tegur Anez seraya berbisik.
Naomi memasukkan mie ayam kedalam mulutnya Tampa menggubris hal lain lagi. Prioritas Naomi adalah makan makan makan tidur, jadi tahta tertinggi adalah makan didalam hidupnya.
"Nez nez" seru Mega tiba-tiba seraya memegang tangan Anez.
"Ada apa?"
"Liat." Tunjuk Mega kearah empat laki-laki yang sepertinya sedang membeli sesuatu.
Anez melihat kearah tunjukan arah yang Mega lihat, "emangnya kenapa?"
"Ada yang gue suka diantara mereka, yang gue pernah cerita itu loh"
Entah kenapa yang dilihat disekumpulan siswa di warung itu yang terlihat hanya Ethan Dimata Anez, "Ethan" batin Anez sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu loh dia Ethan kan namanya." Sambil setengah berbisik namun matanya tetap melihat kearah depan.
"Jadi benar ya." Batinnya lagi.
"Nez nez mereka kesini kayanya arggh gue gak kuat." Heboh Mega sendiri.
"Apaan sih centil amat." Delik Naomi tidak suka.
Ethan dan teman-temannya duduk dimeja Anez, untung saja masih muat untuk empat orang.
Mega memangku dagunya dengan tangannya, matanya bahkan tidak berkedip hanya melihat Ethan dengan tatapan memuja.
"Sungguh titisan dewa." lirih Mega.
"kenapa?" Tanya Ethan yang tidak sengaja terdengar lirihan Mega walaupun tidak jelas.
"Oh enggak, makasih ya kemarin udah nemuin kalung gue kalo ga nyokap gue marah." Terang Mega dengan pipi bersemu merah.
"Lain kali hati-hati."
Entah kenapa Anez kurang suka dengan pandangan itu, Ethan sepertinya memang terlihat dekat dengan Mega. Mega pun sama mereka bahkan terjalin obrolan, ya mungkin jika bersama Anez yang sering mengajak mengobrol Ethan. Kalo ini mereka sama-sama nyambung dalam obrolan emang serasi pikir Anez.
"Ant aduh kenapa ini makan pedes-pedes gini, jangan kebiasaan." Tegur Ezra pada Caramel yang kebiasaan menambahkan bubuk cabe kedalam makannya. Sebenarnya jika bagi yang suka pedas ini tidak pedas berbeda dengan Caramel satu biji cabe rawit saja dia bisa mules bulak-balik.
"Bee please satu ini aja" rengek Caramel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalo kata aku enggak ya enggak ya, mau asam lambung kamu naik lagi marah Ezra, walaupun sebenarnya dia tahan untuk tidak mencubit pipi Caramel karena gemas dengan wajah merajuknya.
•••
SEE YOU
Follow :
Instagram : noor_ileana
Tiktok : noorileana21