SHENA

By NuraIleana

2.2K 449 268

Kehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentan... More

OPEN THE BOOK
PROLOG
BAB 1 : Siapa Ethan?
BAB 2 ; SWEAT SHENA
Bab 3 : Di Bonceng
Bab 4 : Perhatian
Bab 5 ; Luka Baru
Bab 6 ; Kenapa?
Bab 7 ; Stalking
Bab 8 : Chatingan
Bab 9 : Kebun GaMer
BAB 10 ; Karyawan Baru
BAB 11 ; Perform Terakhir
BAB 12 ; Cemburu
BAB 13 ; Harinya Anez
BAB 14 ; Ethan dan Cintanya
BAB 15 ; Penasaran
BAB 16 ; Kenapa Lagi?
BAB 17 ; Semuanya Berubah
BAB 19 ; Mulai Dekat?
BAB 20 ; Minta Izin
BAB 21 ; Belajar Dadakan
BAB 22 ; Mencari Seseorang
BAB 23 ; Tidak Pernah Benar
BAB 24 ; Sulit Dimengerti
Bab 25 ; Pameran
BAB 26 ; Penguntit
BAB 27 ; Perihal Perasaan
BAB 28 : Berita Lama
BAB 29 : Ajakan Ethan
BAB 30 ; Sisi Lain Ethan
BAB 31 ; Siapa Pengirimnya?
BAB 32 ; Obat-obatan Terlarang
BAB 33 ; Berita Terbaru
BAB 34 : Membuatnya Tersenyum
BAB 35 ; Anak Jalanan
BAB 36 ; Jajanan Kaki Lima
BAB 37 ; Mengungkapkan Perasaan
BAB 38 ; Jatuh Cinta
BAB 39 : Rehabilitasi
BAB 40 ; Merayakan Kesedihan
BAB 41 ; Pesimis
BAB 42 ; Musuh Dalam Selimut
BAB 43 ; Obrolan Seru di Bandung
BAB 44 ; Kota Kenangan
BAB 45 ; Gugur Bunga
BAB 46 ; Tumbang
BAB 47 ; Seorang Pengecut
BAB 48 ; Keputusan Hakim
BAB 49 ; Syukuran
BAB 50 ; Feedback
BAB 51 ; Calon Masa Depan
BAB 52 ; Ikhlas Mencintai
BAB 53 ; Mulai Dekat
BAB 54 ; Main di Panti Asuhan
BAB 55 ; Pembunuh
BAB 56 ; Seorang Penjahat
BAB 57 ; Berpisah
BAB 58 ; Berjalan dengan Semestinya
BAB 59 ; Sama-sama Hancur
BAB 60 ; Khawatir
BAB 61 ; Kesalahan Masa Lalu
BAB 62 ; Rahasia Sebenarnya
BAB 63 ; Terpaksa
BAB 64 ; Bukan Jodoh
BAB 65 ; Rencana Seseorang
BAB 66 ; Pencuri Sebenarnya
BAB 67 ; Pergi
BAB 68 ; Surat Perpisahan
BAB 69 ; Berita Menggemparkan
BAB 70 ; Hari Kelulusan
BAB 71 ; Rindu Tak Sampai
BAB 72 ; Hidup Terus Berputar
BAB 73 ; Tidak Percaya Diri
BAB 74 ; Titik Terang
BAB 75 : Melamarmu
BAB 76 ; SAH
EPILOG
Extra Part 1
Extra Part 2
CLOSE THE BOOK

BAB 18 ; Mulai Ada Perasaan

16 6 1
By NuraIleana

Salah satu bentuk apresiasi pembaca kepada penulisnya. Penulis akan senang dan bersemangat karena secara langsung kalian mendukung dan menghargai karya nya.

Salam Nur

•••

"Anez."

"Nez."

Langkah Anez terhenti ketika ada dua orang yang memanggil berbarengan, mata Anez menelusuri siapa yang memanggil.

Di barat ada Ethan dan di Utara ada Brayn, keduanya melangkah menghampiriy Anez.

"Kenapa?" Tanya Anez heran, keduanya sama-sama masih menggendong tasnya.

"Bareng sama aku ke kelas," ucap Brayn.

"Harusnya gue yang bareng," sela Ethan tidak mau kalah.

"Hah." Anez ngeblank, tidak mengerti apa yang terjadi hari ini.

"Iya kita bareng." Sambung Brayn tanpa menggubris Ethan yang disampingnya.

"Tapi kan jalur kelas kita beda, kenapa kamu gak langsung ke kelas setelah dari parkiran samping?" Tanyanya heran. Biasanya Brayn tidak pernah memarkirkan motornya diparkiran depan karena jika parkir disana kalo mau ke kelas IPS harus jalan jauh, untungnya disamping sekolah dekat kebun ada parkiran yang mana tidak jauh dengan gedung jurusan IPS.

"Nah makanya nez, jauh-jauh jalan sini mending bareng gue yang emang sejalur." Kompor Ethan sembari tersenyum miring kepada Brayn.

Brayn menatap tajam kearah Ethan dan ekspresinya berubah saat melihat kearah Anez, dirinya malah terkekeh sambil garuk-garuk tengkungnya. "Itu aku mau ke perpus cari buku panduan. Tahu kan pelajaran sosiologi yang belajar tentang orang-orang masalalu, temasuk manusia yang berasal dari MONYET nah itu ada di pelajaran IPA juga tentang organ dalam hewan," kelit Brayn yang tidak sepenuhnya salah, namun pas kata 'monyet' dia sengaja menekankan katanya dan melirik kearah Ethan.

"Garuk-garuk tengkuk atau kepala, banyak menjelaskan biasanya itu bohong ga sih." Sindir Ethan santai, orang yang disindir menatap tajam kearah Ethan seperti ingin membunuh.

"Lo kenapa dah Yen, kaya yang kesindir gitu kan emang bener kan nez yang gue ucapkan," kekeh Ethan dan beralih mengajak mengobrol Anez meminta pembelaan.

Anez yang sedari tadi bengong merasa heran dengan kedua orang didepannya yang semua murid tau galak dan tegas membuat mereka segan pada Brayn dan Ethan. Tapi yang Anez lihat sekarang seperti anak kecil yang rebutan roti.

"Yaudah kalo mau ke perpus." Sela Anez menengahi.

Anez, Brayn dan Ethan berjalan menyusuri koridor sekolah yang sedikit demi sedikit mulai rame.

Brayn dan Ethan yang dibelakang Anez malah saling sikut, Ethan dengan tampang licik tapi elegan dan Brayn dengan tatapan tajam tapi cool.

"Eh Brayn kamu mau kemana, kan perpus belok kanan bukan lurus." Sela Anez ketika Brayn malah mengikuti Anez hingga mau menaiki tangga.

"Aku cuma mau temenin kamu nez, supaya gak diganggu anak setan." Delik Brayn pada Ethan yang malah terkekeh.

"Wus, ko kamu ngomongnya jelek." Tegur Anez pada Bryan yang malah menampilkan dua jarinya tanda damai sambil menyengir memperlihatkan giginya.

"kamu pergi aja nanti keburu masuk kelas."

"Yaudah aku duluan ya, Anez kamu harus hati-hati orang jahat tampang baik itu emang ada."

"Apaan sih, udah sana." Kesal Anez, setelahnya Bryan berbelok kearah kanan. Padahal dia tidak akan ke perpustakaan itu hanya alasannya saja supaya masuk akal.

"Kamu gak duluan aja," ucap Anez ketika melihat Ethan malah berjalan bersisian dengannya.

"bareng aja, sejalur ini."

Setelah sampai di depan kelas Anez, Anez yang akan memasuki kelasnya malah terhenti ketika Ethan memanggilnya.

"Ini buat Lo." Ethan menyodorkan sesuatu pada Anez.

"Buat aku, kenapa?"

"Katanya coklat itu jadi cemilan kesukaan cewek, dimana coklat bisa merubah mood rusak jadi baik kembali."

"Benar tapi salah," ucap Anez membuat Ethan mengernyitkan dahinya.

"Yang benar semua perempuan belum tentu suka coklat ada yang suka keju atau bahkan tidak sama sekali suka. Tapi kebanyakan perempuan suka yang manis-manis atau pedas."

"Pintar." Senyum Ethan pada Anez dan entah kenapa senyum Ethan padanya membuat Anez gugup dan berdetak tidak karuan. "Jadi ini buat Lo untuk merubah mood Lo." Kekehnya saat melihat Anez malah melamun.

"Mood maksudnya?"

"Udah ambil aja." Paksa Ethan dan akhirnya Anez mengambil coklat itu.

"Jangan sedih lagi ya harus tetap tersenyum."

"WOY!"

Ethan dan Anez kaget, tiba-tiba ada yang datang dan berteriak pada mereka.

"Wih beduaan yang ketiganya setan." Delik Naomi pada Ethan.

"Iya Lo setan nya." Datar Ethan malas.

"Anj-" umpat Naomi membuat Anez menatap tajam padanya.

"Habisnya nez dia bilangin gue setan apa-apaan sih Lo, ngapain kesini hah!" Ungkap Naomi yang lama kelamaan jadi ngegas dan ditujukan untuk Ethan.

"Gue ke kelas dulu daripada tiba-tiba gempa," ucap Ethan santai sembari memasukan kedua tangannya pada sakunya dan berlalu pergi kearah kelasnya.

Naomi kesal bahkan dia menghentak-hentakkan kakinya seperti sedang menginjak hama.

"Ayo." Ajak Anez ditakutkan Naomi sampai saat ini masih menginjak-injak hama.

~•~

"Ojajing ojajing Jing Jing Jing." Senandung Naomi dengan nada seperti lagu 'chota bim chota Bim Bim Bim Bim' dari serial kartun Khrisna, sambil menulis tugas dibuku catatannya.

"Astagfirullah Barbie," tegur Caramel lebay.

"Kenapa Barbie?" Tanya Naomi tidak kalah lebay.

"Nez marahin dia, Naomi ngomongnya ngasar." Adunya.

"Ngasar apa yang ada ngasur." Naomi membuka cemilannya dengan santainya dia memakannya didalam perpustakaan.

"Nao lo jangan makan di perpus mau dimarahin sama penjaga perpus apa." tandas Caramel.

"Emang kenapa kalo makan, yang ada kalo lagi puasa itu yang ga boleh makan."

Caramel memutar matanya malas, langsung fokusnya kembali ke buku khusus untuk melukis dan menggambar.

"Kamu gak ngerjain tugas Ra?" Tanya Anez yang heran melihat Caramel sesantai itu dan yang dia prioritaskan hanya untuk lukisannya.

"Udah gue, tuh." Tunjuk Caramel dengan dagunya mengarah pada buku yang dijadikan bahan contekan Naomi.

"Jadi Minggu depan kamu beneran masukin lukisan kamu ke pameran?"

Caramel mengangguk antusias. "Iya nez, doain ya, terus jangan lupa kalian juga harus datang ke pameran gue yang pertama kali."

"Insyaallah."

"Kagak males."

"Dih siapa juga yang ngudang Lo nao nao anak yupi."

"Heh sukinem gue denger ya, Lo tadi ngomong 'kalian' ya berarti kita berdua." Tandas Naomi percaya diri.

"Suttt, nao bisa ga sih ngomongnya pelan-pelan napa. Jadi kan yang lain liat kesini, kita ngedadak viral." Bisik Caramel saat seketika pengunjung perpustakaan mengarahkan matanya pada bangkunya dengan dua temannya.

"Lo udah viral semenjak pacaran sama Ezra kali."

"Iya ya my bee."

"Aku mau cari buku dulu ya."

Anez menelusuri sudut demi sudut perpustakaan, Anez berhenti di rak buku yang bertuliskan biologi.

Anez mengambil salah satu buku dengan penulis .....

Clak

Suara notif handphone yang bernada suara air itu menandakan ada pesan masuk. Anez mengambil handphonenya dan membaca pesan itu.

+62000....

Rupanya kamu tidak lebih peduli jika semua hancur tiba-tiba

"Nomor tidak dikenal," gumam Anez.

"Maksudnya apa ya?."

Akhir-akhir ini suka ada pesan-pesan yang tidak jelas, entah saat di rumah dirinya dapat mawar yang sama sekali dia tidak memesannya. Di dalam kotak paket itu bertuliskan 'seindah-indah mawar dia akan melukaimu'.

Anez pikir ini paketnya bi Ara untuk anaknya mungkin, tapi kata bi Ara dia bahkan tidak memesan mawar itu. Akhirnya Anez menyimpan kotak paket itu di gudang, mungkin saja memang salah kirim.

"Nez lagi ngapain." Tanya Naomi yang tiba-tiba datang menghampiri Anez yang sedang berdiri di rak buku.

"Eh nao, aku lagi cari buku biologi referensi dari ..... Tapi gak ada, mungkin aku harus ke gramed deh cari buku itu"

"Mau ngapain, lagian kan Lo punya buku paket banyak tuh di rumah emang bedanya sama buku biologi lain apa."

"Ya aku cuman menyamakan saja," kekeh Anez merasa malu. "Lagian nanti ujian akhir bakalan lebih susah deh soalnya"

"Eh nez, gue kasih tau ya. Lo udah pinter dari lahir, lagian ujian masih tinggal beberapa bulan lagi masih lama mending kita main-main gitu masih muda ini"

"Tapi makasih Lo ya udah dipuji aku pinter"

"Dih, dipuji langsung nyengir Lo" garang Naomi dan diakhiri tawa Anez dan Naomi.

"Oiya, gue mau ke kantin caramel juga udah duluan bareng ayang mbe nya mumpung istirahat masih 10 menit lagi, mau gak?"

"Yaudah aku ikut aja."

~•~

Di kantin semua orang masih asik makan dan ngemil bareng teman-teman nya, bahkan ada yang sedang ngobrol santai hingga bergosip, ada pula yang sambil canda tawa dan main Ludo ketika gempuran perut yang terus berkicau menggebu-gebu.

"Mba ini berapa?" Tanya Anez pada penjual menunjukan cemilan kue yang akan dibelinya.

"Itu 7000 kak"

"Yaudah aku beli dua sama Ichi than rasa Thai tea satu"

"Baik semuanya jadi 22000 ya kak"

Anez menyodorkan uang hijau dan ungu "kembaliannya buat mbak nya"

"Terimakasih kak."

"Anez!" teriak seseorang membuat seketika kantin yang tadinya riuh menjadi senyap tidak ada suara, Anez yang dipanggil merasa malu.

"Mega kebiasaan."

"Hehe maaf maaf," kekehnya lalu mengikuti Anez menempati tempat duduknya bersama teman-teman Anez.

"Kamu gak beli apa-apa ga?" Tanya Anez setelah duduk dibangku dengan nyaman.

"Udah tadi bareng temen-temen, kebetulan aja liat Lo disini."

"Sokab," celetuk Naomi pelan tapi masih terdengar oleh Mega, namun dia santai saja tidak memperdulikan itu.

"Naomi." Tegur Anez seraya berbisik.

Naomi memasukkan mie ayam kedalam mulutnya Tampa menggubris hal lain lagi. Prioritas Naomi adalah makan makan makan tidur, jadi tahta tertinggi adalah makan didalam hidupnya.

"Nez nez" seru Mega tiba-tiba seraya memegang tangan Anez.

"Ada apa?"

"Liat." Tunjuk Mega kearah empat laki-laki yang sepertinya sedang membeli sesuatu.

Anez melihat kearah tunjukan arah yang Mega lihat, "emangnya kenapa?"

"Ada yang gue suka diantara mereka, yang gue pernah cerita itu loh"

Entah kenapa yang dilihat disekumpulan siswa di warung itu yang terlihat hanya Ethan Dimata Anez, "Ethan" batin Anez sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Itu loh dia Ethan kan namanya." Sambil setengah berbisik namun matanya tetap melihat kearah depan.

"Jadi benar ya." Batinnya lagi.

"Nez nez mereka kesini kayanya arggh gue gak kuat." Heboh Mega sendiri.

"Apaan sih centil amat." Delik Naomi tidak suka.

Ethan dan teman-temannya duduk dimeja Anez, untung saja masih muat untuk empat orang.

Mega memangku dagunya dengan tangannya, matanya bahkan tidak berkedip hanya melihat Ethan dengan tatapan memuja.

"Sungguh titisan dewa." lirih Mega.

"kenapa?" Tanya Ethan yang tidak sengaja terdengar lirihan Mega walaupun tidak jelas.

"Oh enggak, makasih ya kemarin udah nemuin kalung gue kalo ga nyokap gue marah." Terang Mega dengan pipi bersemu merah.

"Lain kali hati-hati."

Entah kenapa Anez kurang suka dengan pandangan itu, Ethan sepertinya memang terlihat dekat dengan Mega. Mega pun sama mereka bahkan terjalin obrolan, ya mungkin jika bersama Anez yang sering mengajak mengobrol Ethan. Kalo ini mereka sama-sama nyambung dalam obrolan emang serasi pikir Anez.

"Ant aduh kenapa ini makan pedes-pedes gini, jangan kebiasaan." Tegur Ezra pada Caramel yang kebiasaan menambahkan bubuk cabe kedalam makannya. Sebenarnya jika bagi yang suka pedas ini tidak pedas berbeda dengan Caramel satu biji cabe rawit saja dia bisa mules bulak-balik.

"Bee please satu ini aja" rengek Caramel dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kalo kata aku enggak ya enggak ya, mau asam lambung kamu naik lagi marah Ezra, walaupun sebenarnya dia tahan untuk tidak mencubit pipi Caramel karena gemas dengan wajah merajuknya.

•••

SEE YOU

Follow :
Instagram : noor_ileana
Tiktok : noorileana21

Continue Reading

You'll Also Like

200K 18.7K 60
Yang sudah baca cerita ini, tolong jangan spoiler alur cerita dan Endingnya! Anastasya Aurelian Bramasta alias Aca, selalu dihantui perasaan bersalah...
61.2K 5.5K 60
"Jangan membenci takdir karena kita hanya manusia yang tidak tau apa-apa tentang apa yang akan terjadi selanjutnya" -Revanza Ini cerita tentang Revan...
3.7K 263 59
(Completed) Apa jadinya kalau cintamu bertepuk sebelah tangan? Mempertahankan cinta atau merelakannya? Dapatkah Langit mempertahankan cinta Senja di...
94.8K 5.3K 88
[HAPPY END] [Follow Author] [17+ mohon maaf jika ada kata-kata kasar] Shena Adira. Gadis cantik berumur 17 tahun yang terkenal dengan pribadi yang pe...
Wattpad App - Unlock exclusive features