Fool Cupid

Por DeaPuspita611

4.4K 57 7

Tentang Carl, si cupid ceroboh yang salah menargetkan panah cintanya. "LHO?! KOK KENA DIA, COK?!" WARNING : ... Más

1. Tugas

1K 57 7
Por DeaPuspita611

Hallo aku balik bawa cerita baru nih masih anget juga

Vote dan comment ya

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

Namanya Carl, cupid manis dengan proporsi tubuh kecil, tidak lupa dengan sayap kecil di balik punggungnya dengan sebuah tas berisi panah cinta. Hari ini, adalah hari percobaannya yang ke sekian kali. Karena percobaan sebelumnya yang terus gagal.

Wajah kecil Carl sudah kuyu, bahkan sebelum ia memulai pekerjaannya. Saat menghadap atasannya pun Carl hanya menunduk. Merasa malas saat harus menerima segala ocehan tentang kegagalannya kemarin.

Iya, dia gagal! Terus kenapa?! Dia juga gak mau tuh gagal, anggap dia lagi apes aja kenapa sih? Ribet banget segala ngomel panjang lebar.

Ingin dia mengatakan hal seperti itu tapi ia urung, daripada harus menerima hukuman digantung terbalik oleh sang bos. Hih, dia kapok karena melawan saat itu, sampai ia harus digantung terbalik selama seharian.

"Bos~ bilang langsung aja tugasku hari ini, pengen balik tidur, nih."

Atasan Carl hanya bisa menghela napas melihat salah satu anggota cupid yang paling spesial itu. Jujur saja, ia lelah memiliki anak buah kurang ajar seperti Carl ini. Tapi, Carl adalah anak kesayangan para cupid yang lain.

Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, bisa didemo dia kalo nge-kick nih bocah.

"Ini targetmu hari ini, saya tidak ingin ada kesalahan apapun lagi yang disebabkan olehmu, Carl. Cukup waktu lalu kamu membuat keributan."

Tangan kecil Carl mengambil sebuah buku kecil yang diberikan atasannya tadi. Setidaknya dia harus melihat nama targetnya.

"Ini tugasmu yang ke sepuluh, aku tidak mau ada kegagalan. Mengingat tugasmu sebelumnya hanya satu yang berhasil, dan yang lain meleset."

"Iya, iya ... ish, bawel banget, sih!"

Carl berbalik dengan menghentakkan kakinya, atasannya yang melihat bahkan tidak bisa bereaksi apa-apa karena terlanjur terbiasa dengan sifat kekanakan Carl.

"Semoga saja anak itu tidak menciptakan kerusuhan lagi."

***

Carl terbang meninggalkan kantor atasan untuk segera melaksanakan tugasnya. Alat panahnya ia sampirkan di lengan, kedua tangan kecilnya memegang buku target dengan fokus yang terus membaca deretan biodata milik target.

"Jevan Kalingga, waduh ... anak tajir. Sayang banget keturunan keluarga tajir gini harus jadi pasangan buat cewek kayak begini. Jevan, Jevan, sayang banget lo harus bucin mampus sama cewek ginian."

Beralih ke biodata pasangan target, "Karen Achilla, lumayan tajir sih, sayang pick me. Dih, si Bos dapet cewek ginian dari mana, sih? Kok ada aja bentukan kek gini?"

Carl menutup bukunya dengan keras, lalu memasukkannya ke dalam tas salempang yang ia bawa. Dia juga harusnya tidak usah peduli bagaimana atasannya menentukan pasangan target. Tugasnya hanya memanah panah cinta pada mereka.

Carl kemudian terbang mencari keberadaan Jevan saat ini, menurut deskripsi cinta Jevan, ia harusnya bertemu Karen saat menolong perempuan itu dari pembullyan lebih tepatnya pura-pura dibully. Di sana, Karen terlebih dahulu jatuh cinta pada Jevan.

Tapi Carl malas sekali untuk memanah Karen terlebih dulu, jadi dia memutuskan untuk memanah Jevan dulu.

Berubah dikit gak ngaruh.

Carl pun terbang menuju sebuah universitas di mana Jevan dan Karen berada. Bahkan, sesekali Carl bersenandung ria saat tugasnya jadi lebih ringan karena ia tidak harus jauh-jauh mencari targetnya.

Sayap kecilnya lelah tahu.

Tidak lama, Carl sampai di universitasnya bertepatan dengan kedatangan Jevan yang menaiki kuda besinya.

"Wah ... cool beut, ya? Kapan gue bisa naik kek begitu? Kan nanti jadi keren brum ... brum ..."

Tidakkah cupid kecil ini sadar bagaimana proporsi tubuhnya?

Dia terbang lebih dekat ke arah Jevan untuk memastikan jika ia datang ke orang yang tepat.

"Cok?! Kok serem?! Wah, penipuan target ini mah!"

Bahkan, Carl harus bolak-balik melihat buku untuk memastikan foto Jevan yang ada di buku benar dengan orang yang ia tatap sekarang.

Bagimana tidak, foto Jevan yang di buku terlihat alim dan sopan, sangat jauh berbeda dengan penampilan Jevan sekarang yang terkesan urakan.

"Ya tapi masih sama-sama ganteng, sih." Carl mengangguk pelan, "Saatnya mengerjakan tugas!"

Carl menyimpan kembali bukunya lalu mengambil anak panah dengan ujung yang berbentuk setengah hati. Untuk memanahkannya pada Jevan.

"Akurasi 99,9% tepat! Saatnya tembak!"

Anak panah itu melesat tepat mengenai dada Jevan, membuat Carl berteriak ria karena pekerjaannya 50% berjalan mulus. Ah, ternyata tidak sesulit itu, tapi kenapa tugas sebelumnya bisa gagal?

"Saatnya cari si pick me."

***

"Lepas! Mau bawa aku ke mana, Wina?"

Seorang perempuan bersama gerombolannya itu pergi menyeret seorang pemuda manis ke arah taman belakang. Di mana sudah ditunggu seorang perempuan yang terlihat polos sedang duduk di salah satu bangku taman, tapi jangan salah. Dia nenek lampir yang sesungguhnya.

"Lo harus tanggung jawab karena udah nyakitin Karen." Tubuh kecil itu dihempaskan ke lantai oleh Wina. Tepat di depan Karen yang tengah duduk.

"Karen, jadi orang jangan baik-baik, balas aja apa yang dia lakuin ke lo tadi. Gak usah takut, gue di sini."

"Wina ..."

"Gak papa," Wina mengangguk pelan seakan menjelaskan Karen bisa melakukan hal jahat pada pemuda ini. "Gak ada yang bakal berani hukum lo kalo gue di sini."

"Hilmi, aku gak tahu salah aku apa ke kamu. Tapi kamu sama temen kamu udah kelewatan gangguin aku." Wajah polos itu berlinang air mata, bahkan Hilmi dapat melihat beberapa lebam di wajahnya. Tapi, Hilmi bahkan tidak tahu bagaimana wajah itu bisa lebam.

"Karen, aku bahkan gak lakuin apapun ke kamu. Berhenti nyebarin fitnah, semua yang kamu bilang bahkan gak ada yang bener."

"Aku gak fitnah, jelas kamu sama temen kamu pukul aku. Kamu tarik aku ke gudang belakang terus pukulin aku."

"Denger?! Lo pukul dia, dan lo masih ngebantah?! Cowo bukan lo?!" Wina dengan tega menendang tubuh Hilmi. "Minta maaf sampe lo harus sujud di depan Karen."

"Tapi, Wina ..."

Wina mengangkat tangannya meminta Karen diam, beralih menatap kedua temannya. "Pegangi Hilmi, biar Karen bisa lakuin apapun. sama Hilmi."

Carl melihat semuanya dari atas, dia menggeleng melihat pemandangan itu. Kasihan sekali pemuda itu harus jadi korban fitnah si nenek lampir. Lagi pula, orang awam pun tahu lebam di wajah Karen itu cuma make up. Wina buta kali, ya?

"Bukan urusan gue juga, sih. Tugas gue cuma manah mereka biar jatuh cinta. Tapi ya ... sayang banget anjir si Jevan punya pacar kek gini?!"

Carl meraih anak panah dengan ujung setengah hati gabungan dari milik Jevan yang sudah ia luncurkan tadi.

"Akurasi 99,9% tepat. Saatnya tembak!"

Panah itu meluncur cepat menuju Karen. Akhirnya, Carl bisa menyelesaikan hal ini dan segera pulang untuk tidur dengan nyaman di kasur awannya.
























"LHO?! KOK KENA DIA, COK?!"

ㅡ To Be Continue ㅡ

Seguir leyendo

También te gustarán

207K 6.5K 31
"Aku mencintai mu tetapi aku hanya bisa mengabdikan mu dalam karya seni ku." Zeiden yang ingin mencari pasangan hidupnya bertemu dengan arsa yang te...
165K 7.5K 14
Bagaimana jika seorang pria berumur 26 tahun menjadi pengasuh anak laki laki berusia 18 tahun yang sikapnya dingin sulit ditebak, cucu dari seorang m...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas