Breath 'L'

By Rubyfaj

289K 28.7K 1.8K

Aku hidup untuk mempertahankan satu kebahagiaan. Tuhan memberi ku kesempatan untuk membalas kebaikan kalian... More

00.
01. Breath : Flashback
02. Breath: Empty
03. Breath : Miracle
04. Breath : I'm unweak
05. Breath : Full of pain
06. Breath : Warm Hug
07. Breath : Leave it alone
08. Breath : Feel exhausted
09. Breath : Uncomfortable
10. Breath : Good Sign
11. Breath : She know
12. Breath : Terrified
13. Breath : Uncovered
14. Breath : Crazy over you
15. Breath : I feel blue
16. Breath : Goodbye love
17. Breath : Flower crown.
18. Breath : Dinner Kim's
19. Breath : Nightfall
20. Breath : Balcony
21. Breath : Cotton candy
22. Breath : Sleeping cutie
23. Breath : Disappointed
24. Breath : Drowned in a pond
25. Breath : Innocent
26. Breath : Bastard
27. Breath : They believe.
28. Breath : In Hongdae.
29. Breath : Allergy
30. Breath : Trust me
31. Breath : Poor L
32. Breath : Crying wolf
33. Breath : Caught red handed
34. Breath : Drive me crazy
35. Breath : Rooftop
36. Breath : Friendly
37. Breath : Laugh
38. Breath : Drug
39. Breath : Distress
40. Breath : Tears fall again
41. Breath : Model and Piano
42. Breath : Accident
43. Breath : Good people
45. Breath : Shocked
46. Breath : Honesty
47. Breath : God hear to you
48. Breath : Who is villain?
49. Breath : A little more
50. Breath : Zombie's
51. Breath : Doubt me
52. Breath : Listen
53. Breath : High fever
54. Breath : existence
55. Breath : Bad News,Still Wait.
56. Breath : Human crazy
57. Breath : Something wrong
58. Breath : Please, don't go
59. Breath : I want to go
60. Breath : Pretend
61. Breath : I trust you
62. Breath : Revenge with blood
63. Breath : Sadistic
64. Breath : Revealed
65. Breath : Alone it's hurt
66. Breath : Difficult
67. Breath : Stop here.
68. Breath : Birthday and Wish
69. Breath : Happiness
00. After Ending
LAST PAPER PLANE

44. Breath : Pancake

2.7K 362 37
By Rubyfaj

Please vote before you enjoy this chapter 🍵
.
.

15.00 KST

Pukul tiga sore ini,Irene baru saja mengantarkan ketiga siswa itu kembali ke sekolahnya. Lisa,Seulgi dan Mingyu sangat amat berterima kasih pada Irene karena sudah mentraktir makan mereka semua.

Lisa turun dari mobil diikuti oleh kedua temannya itu. "Terimakasih Unnie untuk hari ini." Ucap Seulgi dan Mingyu yang memilih untuk masuk kedalam area sekolah meninggalkan Lisa dan Irene.

Sowon sudah terlebih dahulu pulang dan tidak ikut dalam mobil Irene. Lisa membungkuk pada Irene dan berterima kasih atas pertemuan pertamanya hari ini. Meski Lisa masih sedikit canggung namun dia harus cepat beradaptasi dengan semuanya.

"Unnie, terimakasih banyak untuk hari ini. Mohon bantuannya untukku agar bisa menjadi trainee yang baik." Irene mengangguk dan tersenyum mengusap lembut surai Lisa.

"Gwenchana,kau pasti bisa. Kyeopta."

Tiba-tiba Irene memeluk Lisa cukup lama. Entah perasaan apa yang ada dihati Irene saat melihat Lisa,dia begitu merasa nyaman dan tenang.

Ini baru pertemuan pertama mereka tapi sepertinya Irene sudah menganggap Lisa layaknya adik kandung sendiri. Irene belum melepaskan pelukannya dan masih ingin merasakan hangatnya pelukan Lisa.

Lisa sangat canggung saat ini. Entahlah, tapi perlakuan Irene padanya terlalu berlebihan untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu.

Tapi Lisa tidak menyalahkan sikap Irene karena mungkin ini adalah cara Irene agar lebih dekat dengan seseorang.

Lisa mulai tidak nyaman,namun Irene masih belum ingin melepaskan pelukannya. "Unnie,kau baik-baik saja?" Ucap Lisa yang sedikit melonggarkan pelukannya namun Irene kembali memeluknya.

Seperti Dejavu dengan satu kejadian,Lisa melirik kekanan dan kiri mencari keberadaan Seulgi atau Mingyu. Para siswa mulai keluar dari area sekolah dan menuju mobil jemputan nya.

Sedangkan disalah satu parkiran mobil,dua orang gadis yang berniat menjeput adik kesayangannya melihat satu pemandangan yang membuat hatinya panas.

Jisoo dan Jennie datang tepat waktu untuk menjeput Lisa. Namun saat mereka sampai dan ingin memarkirkan mobilnya,mereka malah melihat pemandangan yang membuat hatinya membara.

"Unnie,siapa yang berani memeluk adik kita disana." Jisoo melihat pada orang yang ditunjuk Jennie.

Matanya memanas melihat itu,dimana seorang wanita yang tengah memeluk adiknya sangat erat dan terlihat dari raut wajah Lisa jika adiknya itu tidak nyaman.

"Ini tidak bisa dibiarkan." Jennie langsung turun dari mobil,disusul oleh Jisoo. Langkahnya begitu lebar saat akan menghampiri adiknya,juga tangan yang mengepal saat dia tidak terima adik kecilnya dipeluk oleh orang asing.

"Ya! lepaskan adikku." Jennie berkata dengan lantang memaksa lepas pelukan Lisa dan wanita asing itu.

Bahkan adiknya hampir tersungkur kebelakang karena Jennie benar-benar kuat melepaskan pelukan Irene padanya.

Lisa menghembuskan nafas kasar saat melihat raut wajah Jennie yang sudah merah. Lisa paham situasi ini, kakaknya sangat tidak suka jika ada orang asing yang berani bermain fisik dengan adiknya apalagi pelukan.

"U-Unnie." Ucap Lisa terbata melihat Jennie yang seakan menantang Irene.

Irene tentu terkejut dengan tindakan Jennie yang menurutnya kasar itu. Dia bahkan sedikit terpental pada mobilnya karena Jennie mendorong tubuh Irene dengan kencang.

"Ya! kau siapa berani bersikap kasar seperti itu padaku?" Ujar Irene tak terima dengan tindakan Jennie padanya.

Suara Irene sangat tinggi menyentak Jennie, keduanya menampilkan wajah dingin dan menusuk itu.

"Ya! Aku yang seharusnya bertanya,kau siapa hingga berani memeluk adikku dan membuatnya tidak nyaman hah?!" Jennie tak kalah meninggikan suaranya yang sudah geram melihat wanita dihadapannya itu.

"U-Unnie ini salah paham,dia tidak bermaksud seperti itu. A-Aku ---"

"Diam Lisa! Aku marah karena dia sudah lancang memeluk mu dihadapan ku. Dan aku tidak menyukai itu." Jennie memberikan tatapan mengerikan untuk Lisa yang saat ini tengah gelisah melihat pertengkaran keduanya.

Jisoo hanya diam memperhatikan adiknya yang sedang berapi-api itu.

"Jadi kau kakaknya? Hah! Bagaimana bisa dia memiliki kakak seperti mu yang sangat kasar." Irene benar-benar berkata menyebalkan untuk Jennie yang memiliki kesabaran setipis tissue dibagi tujuh.

"Ya!kau benar-benar menantang ku." Jennie sudah bersiap untuk memberikan pelajaran pada Irene namun Lisa menahannya dengan memeluk kakaknya dari belakang.

"Jangan Unnie,ini area sekolah. Kita akan selesaikan dirumah. Tenang Unnie aku mohon." Jisoo pun menahan Jennie yang mulai tak terkendali. Beberapa orang bahkan menonton pertengkaran mereka membuat Jisoo sedikit malu.

Karena Irene sudah tidak nyaman dengan situasi ini maka akhirnya dia memilih untuk pergi meninggalkan area sekolah.

"Argh lepas! Ada denganmu Lisa,mengapa kau membiarkan seseorang memeluk mu?kau bahkan tahu jika Unnie tidak suka jika ada orang asing yang berani menyentuh mu selain kami bertiga."

Mata Jennie mulai berkaca-kaca. Bukan tanpa alasan Jennie melarang seseorang mendekati Lisa,dia hanya tidak ingin adiknya lebih nyaman dengan orang lain dibandingkan dengan ketiga kakaknya yang selama ini merindukan kehadirannya.

"Mianhe,jangan marah padaku Unnie. Aku minta maaf." Lisa merapatkan kedua tangannya dan meminta maaf pada Jennie setulus hati.

Tapi Jennie malah melenggang pergi meninggalkan Lisa yang mulai panik saat kakaknya benar-benar marah padanya. Jisoo hendak menenangkan Lisa, tapi adik kecilnya itu malah mengejar Jennie yang berlari kearah mobil.

"Unnie mian.." Lisa berada dibelakang Jennie dengan terus mengucapkan kata maaf telah membuat Jennie kecewa.

Lisa sadar bahwa tidak seharusnya Lisa membiarkan Irene memeluknya yang bahkan baru pertama kali bertemu dengannya. Jennie selalu berkata jika Lisa harus bisa menjaga dirinya agar tidak diperlukan seperti tadi oleh orang lain.

"Jennie Unnie maafkan aku." Jennie masuk kedalam mobil dan duduk disamping kursi kemudi. Biarkan Jisoo yang akan mengemudikan mobilnya hari ini,Jennie benar-benar mendiamkan Lisa saat adiknya itu terus berkata maaf.

Lisa tidak bisa duduk disamping Jennie dan memilih untuk duduk dikursi belakang. Tapi Lisa tidak duduk dengan benar,dia masih berusaha membujuk Jennie agar mau memaafkan nya.

Lisa memegang tangan Jennie namun kakaknya itu tidak menoleh sama sekali kearah Lisa berada. Tangan Lisa sangat dingin begitu menyentuh tangan Jennie yang hangat.

Jisoo memperhatikan mereka lalu berakhir dengan menatap Lisa. "Kita tidak akan pulang sebelum kau duduk dengan baik dan memakai seat belt nya."

Sepertinya Jisoo juga marah pada Lisa,namun dia tidak memperlihatkan secara jelas. Lisa menunduk dan melepaskan genggaman tangannya dari Jennie dan mulai memakai seat belt nya dengan baik.

Lisa berusaha untuk tidak menangis karena itu mungkin akan menambah kekesalan mereka padanya. Dia hanya memainkan kuku nya dan berharap jika Jennie akan segera memaafkan nya.

Keadaan didalam mobil sangat hening karena tidak ada yang mau membuka suaranya sedikitpun,Lisa pun mulai lelah dan ingin segera tertidur.

Dan tanpa sepengetahuan keduanya yang masih fokus dengan pikirannya masing-masing,Lisa tertidur di kursi nya dengan rasa gelisah.

Ditengah perjalanan menuju mansion itu,Lisa sudah tertidur dengan pulas. Tarikan nafas yang mulai stabil itu menandakan jika adiknya sudah bertemu dengan mimpi nya.

"Lihat adikmu,dia sampai kelelahan menunggu mu memaafkannya." Ucap Jisoo yang menatap Lisa dari kaca yang tergantung.

"Aku hanya ingin dia belajar dari kesalahannya,sekecil apapun kesalahannya itu." Jennie menatap kearah belakang dimana adiknya yang tertidur pulas disana.

"Tapi mendiamkan nya membuat dia merasa tertekan. Aku marah melihat dia bersama orang asing itu,tapi aku tidak ingin membuat hati Lisa sakit dengan mendiamkan nya." Jennie kembali memandang kearah depan kaca jendela.

"Mianhe jika aku terlalu berlebihan." Sesal Jennie atas sikapnya pada Lisa. Terkadang Jennie memang membutuhkan sosok seperti Jisoo yang bisa mengingatkan nya jika dia melakukan kesalahan yang berlebihan.
..................

Malam ini, Jennie dan Jisoo sudah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk tertidur dikamar adiknya.

Saat mereka sampai di mansion Kim keduanya sempat panik karena Lisa yang tak kunjung bangun,mereka hendak menghubungi dokter karena takut jika Lisa mengalami Narkolepsi.

Tapi ternyata tidak,Lisa masih bisa terbangun walau matanya tidak terbuka sama sekali. Lalu Jisoo meminta pada penjaga agar membawa Lisa ke kamarnya saja.

Bibi Jung baru saja selesai membersihkan tubuh Lisa yang sejak tadi enggan untuk terbangun. Maka dengan terpaksa,bibi Jung membersihkannya tubuh bungsu Kim itu dalam keadaan tertidur.

Jennie dan Jisoo datang lalu mengerutkan keningnya saat melihat telapak tangan Lisa yang diperban. "Apa yang terjadi pada tangannya?" Jennie mengambil tangan Lisa dan memperhatikan perban tersebut.

"Saya melihat luka itu dengan darah yang sudah mengering,entah terjatuh dari mana hingga nona Lisa bisa mendapatkan luka seperti itu." Ujar bibi Jung.

"Astaga, ceroboh sekali dia."

Bibi Jung pamit dari hadapan mereka dan meninggalkan susu coklat untuk Lisa. Mereka akhirnya merebahkan diri disisi kanan dan kiri adik kecilnya itu.

Jisoo mulai membuka ponselnya sedangkan Jennie memeluk Lisa dan sedikit menenggelamkan wajahnya dileher adik kecilnya. Tapi Jennie salah fokus pada luka dileher Lisa yang terlihat seperti huruf L.

Jennie menyentuhnya dengan lembut,lalu dia kembali mengingat kejadian dimana Ji-hyun Imo yang frustasi karena Lisa yang menjadi tawanan mafia bejat karena ayahnya yang berhutang kepada mereka.

Mereka menciptakan luka menyakitkan itu dileher Lisa. Entah bagaimana perasaan Lisa saat mendapatkan luka sayat menyakitkan itu. Jennie akhirnya mencium sudut bibir adiknya dan bergumam jika dirinya sangat menyayangi adiknya ini.

"Jennie-ya lihat!" Suara panik Jisoo membuat Jennie langsung menatap kearah kakaknya yang sedang memperlihatkan sosial media nya.

Dimana Rosé memposting foto dirinya bersama piala kejuaraan internasional. Yang membuat mereka terkejut adalah di slide selanjutnya Rosé memposting foto bersama Yoona dan juga Jo Jung Suk, ayah kandung mereka.

"Appa?dia hadir untuk Rosé?" Bingung Jennie yang segera menghubungi adiknya itu.

"Sudah aku bilang, Appa pasti akan berubah. Melihat usaha dia membahagiakan Rosé aku yakin adik kita sedang berbahagia karena eomma dan Appa hadir melihat penampilan nya." Ujar Jennie yang mencari nomor Rosé.

Drrt...

"Annyeong Unnie-deul." Sapa Rosé.

"Chukae..adik Unnie menang perlombaan internasional kerja bagus Chaeng." Ucap Jisoo penuh rasa bangga.

"Dimana adikku?aku merindukannya." Ucap Rosé yang mencari keberadaan Lisa.

"Dia sudah terlelap. Lihat, menggemaskan bukan?" Jisoo memainkan pipi Lisa dengan sedikit kencang membuat Lisa terusik dalam tidurnya.

Ughh..Unnie...

Lisa merengek berganti posisi memeluk Jennie dan membelakangi Jisoo,tanpa membuka matanya Lisa kembali tertidur.

"Ya,Unnie jangan diganggu. Biarkan dia istirahat." Ucap Rosé yang kasihan melihat Lisa merengek karena Jisoo mengganggu nya.

"Aku terlalu gemas." Pembelaan Jisoo.

"Rossie, bagaimana bisa Appa hadir dipertunjukkan lomba musik mu?" Tanya Jennie yang masih penasaran.

"Molla,saat aku akan pulang tiba-tiba Appa datang dan memberikan ku sebuket bunga. Awalnya aku tidak percaya jika itu Appa,kemudian aku meminta berfoto saja dengan eomma dan Appa."

Rosé bercerita dengan sedikit pelan karena takut jika ibunya mendengar ucapannya pada mereka. Rosé hanya takut jika ibunya masih sensitif dengan pembahasan ayahnya.

"Dan kau memposting foto dengan Appa,apa ga bahaya ta?" Sahut Jisoo.

"Aku sudah berkali-kali memikirkan hal itu,aku juga ingin seperti orang-orang normal pada umumnya, memiliki foto bersama ayah dan ibunya." Suara Rosé begitu lirih menceritakan alasannya.

"Baiklah, asal adik Unnie merasa bahagia lakukanlah semau mu,Unnie tidak bisa melarang mu karena kau semakin dewasa." Ucap Jennie.

"Nee Unnie."

"Istirahat lah sayang,adik Unnie pasti lelah. Jaljayo." Jennie segera menutup panggilan video itu agar Rosé bisa beristirahat.

*******

Diruangan kerja serba hitam itu,Kim Soon Jae tengah mengamati satu foto yang membuatnya begitu panas dan marah.

Dia melihat bagaimana senyuman yang Yoona dan cucu nya tampilkan disalah satu foto di sosial media. Bukan itu yang membuat dia marah tapi foto bersama Jung Suk lah yang membuatnya sangat berapi-api.

"Dia mulai berani mendekati cucu dan putriku. Apakah peringatan ku tidak dia dengar." Matanya begitu nyalang memperhatikan foto keluarga kecil itu.

"Ini tidak bisa dibiarkan." Matanya benar-benar memerah, amarah mulai membelenggu hatinya dan yang dia ingin lakukan sekarang adalah membunuh Jung Suk sialan.

Lalu seseorang yang digadang sebagai kepercayaan Kim Soon Jae datang menghampiri nya dengan membawa beberapa lembar foto. Dia menyimpan foto tersebut dihadapan Kim Soon Jae.

Dia semakin menggeram marah setelah melihat foto dimana Yoona,Jung Suk dan juga Rosé tengah melakukan makan malam private disalah satu restoran mewah di Melbourne.

Yoona dan Rosé tampak bahagia dan menikmati makan malam itu. "Argh,napen saekkiya."

Dia melempar beberapa foto itu kesembarang arah, sedangkan orang kepercayaannya hanya menatap dingin atasannya itu.

"Apa kau benar-benar akan menyingkirkan Jo Jung Suk?" Tanya pria itu yang duduk disofa besar ruangan Soon Jae.

Kim Soon Jae menyisir rambutnya dan berdecak pinggang. "Dia terlalu banyak mengetahui rahasia ku." Pria tua itu mulai duduk kembali dikursi kebesarannya.

"Dia berpotensi menjatuhkanku selagi aku berhati-hati di sekitar Yoona. Yoona memiliki banyak media dan jika sialan Jung Suk membuka rahasia ku melalui Yoona,maka bukan hanya aku yang akan mati."
___________

06.00 KST

Pagi yang cerah ini siap menyambut hari yang berbahagia bagi seorang Lisa. Pagi ini Lisa terbangun lebih dahulu dari kedua kakaknya,Lisa melirik ke kanan dan kirinya melihat dua insan yang masih tertidur lelap di hari minggu ini.

Jisoo dan Jennie tidur bersamanya namun mereka malah membelakangi Lisa. "Mereka pasti terpaksa tidur bersamaku." Ucap Lisa sendu karena kedua kakaknya itu tidak memeluknya saat tidur.

Padahal yang Lisa lihat dan yang sebenarnya terjadi sangat berbeda, semalaman Jisoo dan Jennie saling memeluk erat Lisa di kanan dan kirinya seakan tidak boleh ada yang bisa mengambil Lisa dari mereka.

Namun yang Lisa lihat malah sebaliknya. Dia pikir Jisoo dan Jennie masih marah karena kejadian kemarin dan memilih untuk tidur membelakangi Lisa.

Lisa turun dari ranjangnya sangat pelan,tidak ingin membangunkan kedua kakaknya karena jika itu terjadi mungkin mereka akan lebih kesal pada Lisa.

Gadis berponi itu bersiap membersihkan diri memasuki kamar mandi. Sedangkan Jennie menggeliat pelan tanpa terbangun dari tidurnya.

Setelah hampir 10 menit, akhirnya Lisa siap dengan pakaian santai rumahan nya. Dia melirik pada kedua kakaknya yang masih asik memeluk selimut tebalnya itu.

Lisa keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk memasuki dapur kesayangan bibi Jung. Belum ada para maid yang bekerja,dapur masih terlihat gelap karena lampu masih mati.

Lisa mencari saklar lampu dan menyalakannya. Lisa berpikir sejenak,dia berniat ingin membuat sesuatu untuk kedua kakaknya itu sebagai permintaan maaf nya karena sudah membuat mereka kecewa.

"Apa yang harus aku buat." Lisa memperhatikan semua bahan-bahan makan yang ada.

"Heol,aku buat pancake saja. Sepertinya sangat mudah dibuat." Ide cemerlang mulai berdatangan pagi hari ini membuat Lisa semangat membuat pancake buatannya sendiri.

Lisa membuka situs Naver dan melihat bahan apa saja yang harus dia siapkan. Lisa mengumpulkan semua bahan-bahan itu disatu tempat,dan setelah semuanya siap Lisa mengambil wadah untuk menuangkan tepung dan sebagainya.

Jangan kira dapur itu akan tetap cantik dipandang mata,kalian salah. Dapur mewah itu Lisa sulap seperti kapal pecah,semua bahan-bahan berceceran dimana-mana.

Tapi Lisa mengabaikan nya dan tetap happy menuangkan satu persatu adonan pancake itu pada wajan. Beberapa pancake sempat gagal karena gosong dan saat Lisa akan mengangkat pancake yang masih berada di wajan Lisa menggeram kesal.

"Argh,mengapa semuanya berubah menjadi hitam." Lisa hampir saja membuang kasar wajan panas itu,dia menyisir rambutnya kebelakang karena sangat kesal.

Lisa tidak menyerah,masih banyak adonan pancake yang belum selesai. Perlahan Lisa menuangkan dengan penuh kehati-hatian.

Sshhhh~

Lisa meringis kesakitan saat lengannya tidak sengaja menyentuh wajan panas saat dia menuang adonan pancake itu.

"Awh,sakit." Luka itu Lisa aliri dengan air yang mengalir dari wastafel.

Dia mengabaikan lukanya dan kembali pada wajan dihadapan itu. "Ya! jika kali ini kau tidak ingin menuruti ku,ku hancur kau sekarang juga." Lisa menunjuk-nunjuk pada wajan itu dengan mata tajamnya.

Dia menuangkan adonan lagi sambil berdoa agar pancake nya kali ini berhasil,Lisa terus melirik pada jam karena takut kedua kakaknya itu terbangun sebelum Lisa selesai dengan masakannya.

"Yes berhasil." Lisa sangat bangga melihat pancake itu sudah matang dan sangat cantik.

Lisa membuat beberapa pancake dan itu semua berhasil tanpa ada kesalahan sedikit pun. Setelah selesai Lisa mulai menghias pancake itu dengan sangat baik.

Lisa siap menuangkan whipped cream pada pancake kakaknya itu. Semua terasa berjalan dengan baik,Lisa sampai melompat-lompat karena usahanya ini terlihat sangat mulus.

Dan sentuhan terakhirnya,Lisa mengambil buah strawberry untuk dia potong menjadi dua bagian. Meski dengan tangan yang bergetar hebat saat dia memegang buah berwarna merah itu Lisa berusaha untuk tetap tenang dengan terus mengembuskan napasnya.

"Mengapa aku jadi lemah seperti ini hanya melihat buah strawberry ini." Lisa bingung apakah dia harus memakai strawberry itu atau tidak. Tapi tidak ada buah lain untuk menghiasi pancake itu.

"Baiklah,aku pasti bisa."

Dia mengambil pisau dan satu strawberry itu yang ukurannya cukup besar. Tangannya benar-benar bergetar hebat,karena kurang fokus akhirnya Lisa tidak sengaja melukai jarinya sendiri cukup dalam.

Slashh~

"Awhh~" Lisa menjatuhkan pisaunya dan darah mulai keluar berceceran kemana-mana.

"LISA!" Ucap kedua gadis itu yang baru saja turun dari lantai atas seketika panik mendengar ringisan adiknya didapur.

"Ya! mengapa kau bermain dengan pisau tajam itu." Panik Jennie yang mengambil kain lalu berusaha menghentikan pendarahan dijari adiknya.

Jisoo berusaha mencari perban dan alat kesehatan darurat lainnya diatas lemari. Lisa meluruhkan tubuhnya karena merasa lemas, sedangkan kain yang Jennie lilitkan pada jari Lisa mulai menembus banyak darah.

"Astaga darahnya pasti banyak. Kau harus tetap sadar oke."

"BIBI JUNG! BIBI JUNG!" Teriak Jennie menggema didapur itu. Memanggil kepala maid itu yang pasti tahu dimana kotak p3k itu disimpan.

Tak lama bibi Jung datang dengan sedikit berlari,dia langsung melihat keadaan sekitar dimana Lisa mulai terlihat linglung karena darahnya itu tidak berhenti keluar dan membuatnya pusing.

Jisoo masih asik mencari di lemari bagian atas sedangkan bibi Jung menemukan kotak kesehatan itu dibagian lemari bawah. Jisoo tersenyum kikuk saat Jennie menatapnya kesal.

Lisa mulai menangis dan sedikit memberontak saat bibi Jung membersihkan luka itu menggunakan cairan infusan dan obat merah.

"Awhh,shh..sakit~" Lisa menangis keras memeluk perut Jennie yang sedang setengah berdiri itu. Mencengkram baju piyama Jennie hingga kusut.

"Tahan tahan,kau kan anak kuat." Seperti menenangkan anak kecil Jennie terus menenangkan Lisa yang terus menarik tangannya saat bibi Jung menutup luka itu dengan perban.

"Sudah selesai." Ucap bibi Jung yang menyodorkan susu kotak untuk Lisa agar gadis itu berhenti menangis.

Mereka tertawa saat Lisa benar-benar mengehentikan tangisannya hanya dengan melihat susu kotak itu. Jennie mengusap lembut air mata yang tersisa diwajah adiknya itu.

"Sudah tenang?" Tanya Jennie yang masih mengkhawatirkan keadaan Lisa.

"M-Mianhe Unnie." Ucap Lisa dengan suara seraknya.

"Untuk apa?" Jennie sedikit terkekeh mendengar ucapan Lisa yang malah meminta maaf padanya

"M-Mianhe, karena kemarin sudah membuatmu kecewa." Lisa masih sesenggukan dan enggan menatap wajah Kakaknya.

"Lupakan saja,kami tidak marah padamu. Kami hanya ingin Lisa belajar dari kesalahan,sekecil apapun kesalahan itu." Lisa mengangguk pelan.

"Siapa yang membuat pancake ini?" Tanya Jisoo yang mencolek whipped cream diatas pancake itu.

Jennie membawa Lisa berdiri, sekalian membukakan susu kotak milik adiknya itu. "Aku yang buat sebagai permintaan maaf ku,maaf jika aku malah membuat kalian khawatir dengan luka ini."

Lisa masih menatap sendu hasil karya nya yang belum selesai dan sedikit berantakan itu.

"Aigo,manis sekali adik Unnie ini. Terimakasih karena kau sudah berusaha keras membuat semuanya, melihat pancake gosong itu membuatku mengerti kerja keras yang kau buat." Tawa Jisoo membuat Lisa tertahan malu.

"Lain kali jangan memaksakan sesuatu jika kau tidak bisa. Jika strawberry ini membuat mu celaka lebih baik kau hindari,arra." Nasihat Jennie yang mendapatkan anggukan dari Lisa.


Minggu, 23 Juli 2023
____________

Mulai sepi ya.

Continue Reading

You'll Also Like

1.3M 119K 53
Seberapapun jarak yang akan menghalangi mereka, mereka tetaplah saudara sedarah. Ikatan darah tidak dapat dihalangi oleh badai sebesar apapun. "Maafk...
3.1M 219K 51
[BEBERAPA PART DIHAPUS SECARA ACAK UNTUK KEPENTINGAN PENERBITAN] "Aku tidak peduli." - Jisoo Kwon "Kenapa kau menghancurkan keluargaku?" - Jennie Kwo...
120K 10.6K 41
[ E N D ] Life is like a straight road, going up and down, turning right then slightly left, or maybe having to stop for a while to take a break. . ...
20.6K 1.8K 41
Chaeyoung tak pernah menyangka perceraian orang tuanya akan memisahkan keluarganya sejauh ini. Bersama tiga saudaranya yang menyimpan luka masing-mas...
Wattpad App - Unlock exclusive features