Master ft Jay Park of Enhypen...

By raeinxx

61.2K 4.1K 412

(END) Anna, seorang gadis muda yang hidup dalam keterbatasan di kota, menjalani hari-harinya dengan penuh per... More

00
01
02
03
04
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

05

1.8K 145 4
By raeinxx

"Bibi?" Anna menghampiri bibi yg sedang menyiram bunga di halaman belakang.

"Ya?" balasnya, Anna memainkan jarinya gugup sembari berpikir.

Bibi menoleh saat Anna tidak merespon, beliau mematikan selang lalu kembali bersuara.

"Ada apa? kau ingin mengatakan sesuatu?"

"Apa boleh aku izin? Besok peringatan kematian kedua orangtuaku, aku akan pergi ke desa untuk melakukan upacara"

Bibi terdiam sebentar kemudian setelahnya dia mengangguk.

"Pergilah, aku tidak mungkin melarangmu"

Anna tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih kepada Bibi.

***

"Niki" panggil Anna kearah lapangan sambil mengayunkan tangannya, Niki yg merasa terpanggil membalas lambaian tangan Anna lalu segera menghampirinya.

"Kak? Tumben kau kesini, ada apa?" Tanya Niki.

"Kau lupa? Besok 'kan peringatan hari kematian Ayah dan Ibu. Ayo pulang dan beberes, malam ini kita harus segera ke desa" ajak Anna, Niki langsung menganggukan kepalanya kemudian berjalan untuk mengambil tas sekolah dan seragamnya yg tertinggal di lapangan basket.

Niki menggandeng lengan Anna, dia mengernyitkan bingung menatap sang Kakak yg hanya diam saja selama perjalanan pulang, tidak seperti biasa batinnya.

"Apa terjadi sesuatu di tempat kerja?" Tanya Niki.

Anna mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Niki.

"Maksudmu?"

"Kakak terlihat seperti banyak pikiran, apa semuanya baik-baik saja?"

Anna terdiam lalu membuang muka untuk menghindari tatapan Niki, dia hanya mengangguk.

"Aku baik-baik saja, aku diam karena merasa berat menopangmu Niki. Badanmu besar sekali, menyingkirlah" ucap Anna sambil menepis pelan lengan Niki.

Niki langsung mengejar sang Kakak yg berjalan meninggalkannya, dia menarik bahu Anna untuk mendekat kepadanya. Dengan tidak tahu diri, dia memeluk Anna dan menidurkan kepalanya di pundak sang Kakak. Anna tertawa melihat tingkah adik kecilnya kemudian mengacak-acak rambut Niki.

"Aku menyayangimu, jika ada sesuatu yg mengganggu ceritalah kepadaku" perkataan Niki membuat Anna diam, Niki tahu betul pasti ada yg sedang mengganggu pikiran Anna hanya saja dia tidak ingin memaksa Kakaknya untuk bercerita, jika sudah saatnya pasti Anna akan jujur dengan sendirinya pikir Niki.


Malamnya, Jay yg baru pulang dari kantor merebahkan tubuhnya di ranjang. Gurat lelah sangat terlihat di wajah tampan nya untuk beberapa saat Jay memejamkan matanya mengistirahatkan matanya yg sudah seharian menatap layar laptop.

Sepuluh menit sudah Jay tertidur, matanya kembali terbuka saat mendengar ponselnya yg berbunyi. Dia meraih ponselnya yg berada di saku, membuka nya dan melihat sebuah pesan dari Alayna.

Wanita itu mengirimkan beberapa foto dia bersama teman-temannya yg sedang menikmati perjalanan di Italia, Jay hanya membalas dengan simbol hati lalu kembali mematikan ponselnya.

Jay bangkit dan terduduk di ujung kasur, tenggorokkan nya terasa kering lalu dia bergegas pergi ke dapur untuk melepaskan dahaga nya. Sampai di dapur, dia melihat suasana yg sangat hening.

Jay membuka kulkas mengambil air dingin, tidak lama bibi masuk.

"Tuan sudah pulang? ingin di hidangkan apa untuk makan malam?" tanya Bibi.

"Tidak usah, aku tidak lapar" balas Jay, kemudian matanya menatap ke sekeliling seperti mencari sesuatu.

"Dimana pelayan yg satu lagi?" Bibi mengernyit mendengar pertanyaan Jay.

"Pelayan yg mana Tuan?"

Jay mengusap tengkuknya, "Anna" ucap Jay.

Bibi dengan cepat menatap Jay, wanita paruh baya itu mengerjapkan matanya lalu kembali menunduk.

"Anna sudah pulang Tuan" Jay hanya mengangguk dan lanjut berjalan ke kamarnya meninggalkan bibi yg menatap kepergiannya dengan kening yg masih berkerut.

Jay kembali ke kamarnya dengan lemas, padahal niatnya malam ini dia ingin menyuruh gadis itu untuk ke kamar dan memeluknya dengan erat sembari menemani dirinya tertidur. Namun apa daya, malam ini dia malah tidur sendiri.

***

Jay sudah duduk tenang di meja makan sembari menikmati kopi dan roti yg sudah disiapkan oleh Bibi, matanya fokus melihat koran untuk membaca berita terbaru.

"Tuan, Nyonya Alayna menitip pesan kepadaku agar pagi ini Tuan Jay tidak lupa untuk menghadiri rapat bersama Tuan besar" ingat Bibi.

"Ya, aku tau" jawab Jay sekenanya.

Jay melipat koran lalu menyeruput kopinya, dia kembali menatap ke sekitar dapur.

"Cari apa Tuan?" tanya Bibi yg sadar akan pergerakannya.

"Dimana Anna? mengapa aku tidak melihat nya pagi ini"

"Anna berada di desa untuk melakukan upacara peringatan kematian kedua orangtua nya Tuan, maka dari itu hari ini dia tidak datang" Jay menaikkan satu alisnya sambil mengangguk.

Setelah Jay pergi, bibi langsung membereskan meja makan sesekali berpikir tumben sekali Tuan nya itu hafal dengan pelayan yg ada dirumah ini. Sudah belasan tahun bibi mengabdi dirumah ini, seingatnya Jay tidak pernah tau nama satu pelayan pun yg pernah bekerja disini, kecuali dirinya.

Ada yg aneh dengan Tuan nya, batin bibi.


Anna dan Niki sudah berada di sebuah pemakaman tempat dimana kedua orangtua nya beristirahat dengan damai, Anna membersihkan papan nama yg bertuliskan nama mereka sedangkan Niki mencabuti rumput-rumput liar yg sudah mulai panjang.

Setelah bersih, mereka berdua berdiri untuk memberikan penghormatan.

"Ayah, Ibu, kami datang" ucap Anna sambil mengusap papan nama mereka.

"Aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi setiap berkunjung kesini, maka dari itu kalian juga harus berjanji untuk selalu mengawasi kami dari surga"

"Aku akan menjaga Kakak, jadi Ayah dan Ibu tidak usah khawatir" Anna tersenyum mendengar ucapan Niki.

Setelah hampir satu jam Anna dan Niki berkeluh kesah di kedua makam orangtuanya, mereka berdua memutuskan untuk pulang saat langit sudah mulai gelap.

Anna menyandarkan kepalanya ke bahu Niki selama perjalanan pulang, kepala nya terasa berat karena kurang tidur.

"Kita pulang besok saja ya Kak, kau terlihat tidak sehat" Anna hanya mengangguk mengiyakan.

Saat perjalanan pulang, Niki berinisiatif untuk mampir ke toko kelontong membeli makanan dan juga obat untuk Anna. Niki masuk ke dalam sedangkan Anna hanya menunggu diluar, duduk dikursi yg sudah di sediakan.

Matanya menatap ke sekitar desa yg mulai sepi, rasanya berbeda sekali dengan suasana kota yg masih ramai di jam segini.

Tidak lama Niki datang sambil membawa makanan dan obat.

"Makanlah, kalau sudah mendingan kita lanjut jalan" ucap Niki, adiknya itu membuka makanan dan juga obat untuk kakaknya.

"Niki..." Niki menatap Anna yg menunduk tidak melanjutkan kalimatnya.

Anna menggigit bibir lalu mengangkat kepalanya. "...bagaimana jika kita kembali ke desa saja?"

"Tiba-tiba?"

Anna mengangguk.

"Sepertinya akan lebih baik jika kita berada dekat dengan Ayah dan Ibu, disini juga ada rumah peninggalan mereka. Jadi kita tidak perlu membayar uang sewa, bagaimana?"

Anna menatap raut wajah Niki yg sedang menimbang ucapannya.

"Apa kakak yakin?" Niki melihat tatapan Anna yg seolah sangat yakin dengan ucapannya, karena Anna meminta hal seperti itu Niki hanya bisa menurutinya.

"Baiklah" ucap Niki.

"Tidak apa-apa 'kan jika kau pindah sekolah lagi?" tanya Anna.

"Tidak apa-apa, bukan masalah besar untukku" Anna tersenyum mendengar ucapan Niki.


Dua hari sudah Anna dan Niki berada di desa, mereka tinggal dirumah sepeninggalan Ayah dan Ibu. Selama dua hari itu pula mereka habiskan untuk membersihkan rumah yg sudah lama ditinggalkan sembari Niki yg mencari sekolah baru.

"Kak, aku pergi dulu ya!" Niki keluar dari kamar sambil membawa ransel yg dia tenteng di bahunya.

"Kau mau kemana?"

"Kakak ingat dengan Taki? Dia mengajakku berkeliling desa"

Taki? batin Anna seraya mengingat nama yg disebut oleh Niki.

"Ah Taki?" kata Anna setelah mengingat bocah kecil yg dulu sering sekali main kerumah setiap sore.

"...Pergilah, tapi ingat untuk pulang sebelum langit gelap" ucapmu.


Di tempat lain, Jay mengepalkan tangannya menahan amarah. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam menghadap depan hingga masuklah seorang laki-laki sambil membawa map coklat yg langsung dia letakkan ke meja kerja Jay.

Jay segera membuka map tersebut yg menampilkan sebuah foto, bibirnya tertarik menampilkan senyuman yg entah bagaimana malah membuat laki-laki yg sedang berdiri di depannya bergidik ngeri melihat Tuan nya itu.

"Mencoba kabur dariku rupanya" ujar Jay.

"...siapkan mobil"


Anna sedang mengeringkan rambutnya setelah seharian membereskan rumah, dia duduk di ruang tengah sembari mengistirahatkan kedua kakinya yg terasa pegal. Anna melihat jam yg sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tangannya beralih meraih ponsel yg berada tidak jauh dari nya dan segera mencari nomor Niki untuk menyuruhnya cepat pulang.

TOK! TOK!

Anna menoleh kearah pintu saat mendengar suara ketukan, apa itu Niki pikirnya. Tapi mana mungkin adiknya itu mengetuk pintu.

"Iya sebentar" ucap Anna saat kembali mendengar ketukan untuk kedua kalinya.

Anna membuka pintu, matanya melebar melihat sosok yg berada di hadapannya.

"T-Tuan Jay?" ucapnya terbata.

Jay hanya menampilkan senyumnya yg terlihat sangat mengerikan di mata Anna.

Continue Reading

You'll Also Like

170K 9.4K 11
"Gue itu terlalu imut buat jadi suami lo!"-Juan "Najis! pede banget jadi orang, belum aja gue gampar!" -Edina ⚠️PERINGATAN SEBELUM MEMBACA ⚠️ Cerita...
36.9K 2.9K 45
(END) Di antara dua pilihan ini, mana yg akan kamu pilih? 1. Kerja keras seumur hidup untuk membayar hutang, atau 2. Hidup bersama Sunghoon tanpa har...
5.6K 437 16
Hampa, kata itu menjadi hal yang ada di benaknya setiap kali ia pulang ke "rumah" miliknya. Tak ada niatan baginya, untuk sekedar membuat rumahnya le...
11.8K 939 22
Jungwon, seorang kriminal licin yang dikenal sebagai Phantom, akhirnya tertangkap oleh Lee Heeseung, seorang polisi yang seharusnya menyerahkannya ke...
Wattpad App - Unlock exclusive features