Ephemeral

By xygurl_

4.8K 365 65

Ephemeral (adjective), artinya berlangsung untuk waktu yang sangat singkat. Sialan. Mala merutuki hatinya ya... More

p r o l o g
• 01
• 02
• 03
• 04
• 05
• 06
• 07
• 08
• 09
• 10
• 12
• 13
• 14
• 15
• 16
• 17
• 18
• 19
• 20
• 21
• 22
• 23
• 24
• 25
• 26
• 27
• 28
• 29
• 30
• 31
• 32
• 33
• 34
• 35
• 36
• 37
• 38
• 39
• 40
• 41
• 42
• 43
• 44
• 45
• 46
• 47
• 48
• 49
e p i l o g

• 11

83 10 1
By xygurl_

selamat membaca -!!

•••

Hari yang ditunggu pun tiba, pertandingan futsal antar sekolah se kota Bogor yang akan diadakan selama seminggu ke depan. Hari pertama pertandingan, SMA ATMAJAYA 1 akan melawan SMK ANDALUS.

Kedua suporter dari masing-masing sekolah sudah memenuhi area gor, tetapi area gor di dominasi oleh siswa SMA ATMAJAYA 1. Siswa dengan dress code atasan hitam itu terlihat lebih banyak.

Mala, Aldan, Jovan berada di barisan paling depan di kursi penonton berkat Ezra yang menjadi koordinator suporter.

Zea, Arumi, dan Cia tidak ikut menonton pertandingan karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, mereka akan menonton pertandingan selanjutkan. Jadi, tadi Mala berangkat bersama Aldan.

Dua balon tepuk bertuliskan SMA ATMAJAYA 1 sudah ada di kedua tangan Mala dan lainnya, bersiap untuk mendukung para peserta.

"GO SMAJA GO!!!!"

Teriakan yang dimulai dari Ezra mulai diikuti oleh suara suporter dan di iringi oleh tepukan dari balon.

Suara di dalam gor menjadi ricuh karena SMK ANDALUS membalas yel - yel dari SMA ATMAJAYA 1. Adu yel - yel pun tidak bisa terhindari, karena kalah jumlah suporter kini gor di penuhi oleh yel - yel dari SMA ATMAJAYA 1.

"Gila, balik dari sini suara gue pasti serak," ucap Mala. Gadis itu beristirahat sejenak, duduk di kursi kemudian meneguk air mineral hingga sisa dikit.

Pertandingan belum dimulai, tetapi rasanya Mala sudah lelah berteriak.

"Baik teman- teman semua. Jam sudah menunjukkan pukul 14:00 WIB, maka pertandingan akan segera dimulai. Mari kita sambut para peserta lomba futsal sekota Bogor. SMA ATMAJAYA 1 melawan SMK ANDALUS."

"WOHOOOOO!!!!"

"SEMANGATTTT!!!"

"KANTONGIN JUARA SATUUU SMAJAAAA!!!!!"

"AYOOOO SMAJAAA PASTI BISAAA!!"

"JANGAN SAMPAI KALAHHH!!"

"KALIAN PASTI BISAAA!!"

Teriakan - teriakan dari suporter SMA ATMAJAYA 1, mencoba menyemangati anggota futsal yang kini sudah berbaris untuk berfoto bersama.

Bian menoleh ke arah suporter, mencoba mencari seseorang yang akhir- akhir memenuhi isi kepalanya.

Melihat ke arah kiri dan mendapati seorang gadis yang mencolok diantara 3 lelaki disamping nya, Aldan, Jovan dan Ezra.

Bian menatap Mala dari kejauhan yang sedang berteriak menyemangati kemudian tersenyum sebelum akhirnya peluit tanda pertandingan dimulai pun terdengar nyaring.

Pertandingan dimulai, sebetulnya SMK ANDALUS adalah lawan yang cukup sulit dikalahkan, namun karena siswa andalan dari SMK ANDALUS absen dalam pertandingan kali ini karena cedera membuat pertahanan dari SMK ANDALUS gampang di tembus.

Babak pertama di menangkan oleh SMA ATMAJAYA 1 karena gol yang cetak oleh Bian dan Nolan.

"Gampang banget kalo gaada Alex," ucap Nolan. Alex adalah andalan SMK ANDALUS, bisa dibilang ia adalah kunci kemenangan SMK ANDALUS.

"Tapi mayan juga lah permainan mereka walau gaada Alex, buktinya kita cuman bisa ngejebolin 2 kali," sahut Bian. Lelaki itu mengusap keringat yang sedari tadi turun dari dahinya. "Bawa tisu atau handuk ga lo?"

Nolan menggelengkan kepalanya. "Coba lo minta sama pelatih."

Bian bangkit kemudian berjalan menuju Pak Indra -- guru olahraga sekaligus pelatih tim futsal SMA ATMAJAYA 1.

"Pak, ada handuk?" tanya Bian.

Pak Indra mengangguk. "Clarissa, tolong bawa satu handuk buat Bian."

Bian menoleh ke arah Clarissa yang sedang berjalan ke arahnya dengan membawa satu handuk kecil. "Kok lo bisa ada disini?"

Clarissa menyerahkan handuk tersebut kepada Bian."Bisa lah, gue sepupu Pak Indra. Dan kebetulan dia kekurangan orang buat bantu-bantu di belakang, jadi dia minta tolong ke gue."

"Oh iya. Yaudah makasih ya."

Bian kembali berjalan ke arah Nolan yang sedari memperhatikan. "Kok Clarissa ada disini?" tanya Nolan.

"Dia disuruh Pak Indra buat bantu-bantu," jawab Bian.

"Kok gue ngerasa ada yang aneh ya sama sikap dia?"

"Aneh gimana? Biasa aja tuh," sahut Bian.

Nolan memicingkan matanya. "Kayaknya dia suka sama lo."

Bian menoyor kepala Nolan cukup kencang. "Bisa ga sih jangan sembarangan ambil kesimpulan? Heran banget gue."

"Eh tapi bener loh. Kemaren juga pas class meeting kata lo, dia mau ngasih minuman kan? Tapi ke gue ga ngasih tuh, cuman ke lo doang," sahut Nolan.

"Ah itu mah pemikiran lo doang kali."

"Pertandingan babak kedua akan segera dimulai."

Bian bangkit. "Udah ayo! Jangan ghibah mulu lo!"

Pertandingan babak kedua dimulai, kali ini terlihat lebih sengit karena SMK ANDALUS beberapa kali melakukan pelanggaran, terutama kepada Bian, Nolan, dan Azriel yang menjadi kunci utama pemain SMA ATMAJAYA 1.

"HUUUUUUU MINIMAL KALO GABISA MAIN, JANGAN BIKIN PELANGGARAN TERUS DONG!!"

Teriakan yang berasal dari belakang lapangan itu mampu membuat emosi dari pemain SMK ANDALUS semakin memuncak. Merasa diremehkan oleh teriakan yang dilontarkan oleh suporter tersebut.

Karena kesal tidak bisa merebut bola dari kaki Bian, salah satu pemain SMK ANDALUS langsung merebut bola di kaki Bian secara kasar dengan cara menginjak ujung kaki Bian.

Perlakuan tersebut mampu membuat Bian meringis kesakitan dan kehilangan bola di kakinya.

Azriel menghampiri Bian yang sedang memegang ujung kakinya yang terasa perih. "An, lo gapapa?"

"Gila tuh orang. Ga di injek biasa ini, dia neken jempol gue," jawab Bian.

"Lo mau keluar?" tawar Azriel.

Bian menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban. "Gausah, El. Bentar lagi juga udahan."

Azriel mengangguk kemudian keduanya melanjutkan permainan walau Bian sesekali berhenti berlari dan meringis kala merasakan sakit di ujung kakinya.

Mala yang menyaksikan itu dari jauh, langsung menatap tajam pelaku yang membuat Bian kesakitan.

"Najis kalo gabisa main, mending gausah ikut tanding," ucap Mala.

Aldan menoleh. "Udah biasa kali kayak gini di pertandingan futsal mah."

"Ya tetep aja jangan sampe bikin orang celaka dong!" sungut Mala.

"Loh kok marahnya ke gue?" tanya Aldan.

"Lo sih ngebela tuh orang! Gue jadi ikut kesel ke lo," sahut Mala.

"Dih."

"GOLLLL!!! PERTANDINGAN KALI INI DI MENANGKAN OLEH SMA ATMAJAYA 1!!!"

Suara dari komentator membuat Aldan dan Mala yang sedang berdebat menoleh secara bersamaan ke arah lapangan. Gol terakhir di cetak oleh Azriel setelah mendapat umpan bola dari Bian.

"YEAYYYY!!! GOALLLLLLLLL!!!!!!" teriak Mala. Gadis melompat - lompat di atas tribun dengan tangan yang serentak memukul balon.

"Mal, please kalo mau teriak aba-aba dulu biar gue bisa ngejauh," ucap Aldan.

"Ah bodo amat. Gue lagi seneng."

"SMAJAAAAA HEBATTTT !!!"

"YANG MAINNYA CURANG MAH UDAH PASTI GABAKAL MENANG SIHHH!!"

"MAKANYA JANGAN CURANG DECK!"

Bian langsung mendudukkan tubuhnya di pinggiran lapangan, membuka sepatu futsal dan kaos kaki kemudian mendapati bercak darah di ujung kaos kakinya. Meringis pelan kala jempol kakinya mengeluarkan darah yang cukup banyak.

"Aduh, An. Darah lo lumayan banyak ini. Ada yang bawa kotak p3k ga?!" tanya Nolan.

"Ada."

Clarissa berjalan ke arah Bian sambil membawa kotak p3k, memegang pelan luka yang ada di jempol Bian hingga membuat sang empu kembali meringis.

"Shh."

"Maaf ya ini bakal sedikit perih, gue mau bersihin luka lo pake alcohol , soalnya gue lupa bawa betadine."

Tim futsal SMA ATMAJAYA 1 membentuk lingkaran untuk melihat Bian yang sedang di obati oleh Clarissa.

Bian terus - terusan meringis karena lukanya terasa sangat perih saat dibersihkan, lelaki itu sesekali mencengkram kuat lengan Nolan yang berada persis di sebelahnya.

"Aw! Anjrit, An. Jangan kenceng-kenceng dong nyubit nya," sahut Nolan.

"Perih banget gila! Aduh! Lo gabisa lebih pelan-pelan?" tanya Bian.

Clarissa terkekeh pelan. Kemudian membalut luka Bian dengan kain kasa. "Nah udah selesai. Kayaknya lo gabisa main futsal buat beberapa hari ke depan. Luka lo masih basah."

"Gue bakal tetep main," ucap Bian.

Pak Indra menepuk bahu Bian. "Itu lukanya cukup parah loh, An. Kalo dipaksain takut lukanya ga kering-kering terus nanti infeksi. Buat dua hari ke depan, jangan dulu main. Hari ketiga, kalau lukanya udah sembuh baru boleh main lagi."

Baru saja hendak membuka suara, tapi Nolan menyelanya.

"Udah sih, An. Dengerin apa kata pelatih, lagian masih banyak pemain lain. Kita gabakal kalah, tenang aja," ucap Nolan yang diberi anggukan oleh tim nya.

"AN!"

Bian menoleh dan mendapati Aldan serta Mala yang berlari kecil ke arahnya. "Lo gapapa?"

"Noh, kaki gue sampe di perban," jawab Bian sambil menunjuk ke arah ujung kakinya.

Aldan meringis ikut merasakan ngilu saat kain kasa yang melilit kaki Bian ada bercak darah. "Nanti lo pulang bareng gue aja, motor lo biar Nolan yang bawa," ucap Aldan.

"Ga perlu segitunya kali, gue masih bisa bawa motor," sahut Bian.

"Gausah. Lo barengan sama Aldan aja," ucap Nolan, turut khawatir dengan kondisi Bian.

"Gue ngantuk, kayaknya mau naik bus aja. Lo juga naik bus kan, Mal?" tanya Bian yang membuat lamunan Mala buyar.

"Eh?"

"Lo pulang naik bus?" tanya Bian.

"Lo mau pulang bareng?" Mala bertanya balik dan dijawab anggukan oleh Bian.

"Boleh," jawab Mala. "Mau pulang sekarang?"

"Iya. Sebentar gue siap-siap dulu."

Bian bangkit dan dibantu oleh Nolan untuk berjalan keruang ganti.

"Gue ga pincang kali, gausah di tuntun juga," sahut Bian kemudian berjalan mendahului Nolan dan yang lainnya.

10 menit kemudian, Bian keluar dari ruang ganti dengan kaos polos berwarna abu dan celana bahan berwarna hitam. Penampilan simple yang membuat nya semakin tampan.

"Yuk," ajak Bian.

"Lo bisa jalan sendiri?" tanya Mala.

"Gabisa deh kayaknya," jawab Bian.

Mala mengangguk kemudian merangkul lengan Bian agar tubuhnya tidak ambruk. Berjalan beriringan menuju halte depan gor.

"Tai banget. Tadi gue bantuin buat jalan malah nolak, giliran sama tuh adek kelas minta di tuntun," ucap Nolan.

•••

terimakasih sudah membaca
༼ つ ◕‿◕ ༽つ

jangan lupa vote dan komen ya 🤍

see u next chapter-!

Continue Reading

You'll Also Like

I KNOW YOU By Byblee

Teen Fiction

349 47 13
"Sebuah keserakahan memang selalu berakhir menyedihkan" Dibalik pamor terselubung Leska yang semua penghuninya di cap penggila kepopuleran, rupanya b...
1K 35 21
Memang cinta dimasa SMA itu sangat menyenangkan, tapi bagaimana dengan anak laki-laki yang tak pernah menemukan cinta dan lelah dengan cinta yang tak...
676 40 30
Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui me...
Diana By tyracanss

Teen Fiction

30K 2.1K 33
Cerita Cinta Sederhana Ketika ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu. Membuatmu merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang baru, yang ketika den...
Wattpad App - Unlock exclusive features