[Update]
"Hmmph...Piko, boleh aku tanya sesuatu? Tapi jangan tersinggung ya.." tanya Rin setelah beberapa saat meregangkan tangannya akibat konser semalam.
"Bagaimana aku bisa tersinggung, kalau kau belum menyebutkan pertanyaanya?" balas Piko santai.
"Begini, bagaimana rasanya saat melihatku dan yang lainnya mendapat 'peningkatan'?" lanjut Rin.
"Biasa saja, memangnya kenapa?" meskipun nada bicaranya masih santai, Rin bisa mendengar kalau sorot matanya melemah.
"Oh, kalau begitu, aku minta maaf."
Kalau boleh jujur, sebenarnya perasaan Piko saat ini diantara senang dan sedih.
Generasi 4 sudah datang.
Piko senang dengan hal itu karena Rin-nya mendapat 'peningkatan', serta mendapat teman baru seperti Fukase dan Moke.
Tapi, dia sedih karena menyadari kalau dia (mungkin) tidak akan pernah mendapat "peningkatan" tersebut.
1 vote = 1 update buat Piko :(
[]
[Tantangan]
"Oke, lo milih apa, Ko? Jujur atau tantangan?" tanya Fukase sembari memainkan topinya.
"Gue...pilih tantangan aja." jawab Piko gugup.
"Yaah, padahal aku berharap Piko-nee memilih jujur." gerutu Oliver.
"Cepat Fukase, apa tantangannya?" tanya Len bersemangat.
"Tantangannya ad-"
"Coba sebutin ciri-ciri pacar lu saat ini!" potong Yuu.
.......
"Yuu, lu serius?" tanya Piko.
Krik krik krik krik.
*Insert gagak noise :v*
"Hhh...ya udahlah, gue spill aja. Cewek, rambutnya kuning, mata gak inget, pokoknya kebiruan, pake pita warna pu...tih." Piko menggantungkan kalimatnya saat Len sudah mengeluarkan death glare padanya.
"Lu bilang apa tadi? Pake pita putih?" tanya Len tajam.
Kelanjutannya? Tanyakan pada seorang Kagamine Len.
[]
[Audisi]
"Oke, Tonio. Kamu boleh kembali ke penginapan sementara." ucap Lola.
"Selanjutnya, Utatane Piko." panggil Miku.
"Akhirnya giliranku tiba." itulah hal yang dikatakan Piko saat namanya dipanggil.
(Btw, disini mereka dipanggil pakai abjad huruf depan nama lengkapnya ya-!)
Lantas, Piko pun melangkah menuju ruang audisi dengan wajah berseri-seri.
Kalau dia boleh jujur, sebenarnya dia mengikuti audisi itu karena diajak oleh Kagamine bersaudara. Awalnya, Piko tidak tertarik.
Tapi, seminggu setelahnya, Piko melihat poster penerimaan Vocaloid baru, gambar keduanya pun terpampang di dalam poster itu.
Oleh karena itu, Piko memutuskan untuk ikut serta mendaftar sebagai anggota Vocaloid.
Karena...dia menyimpan rasa terhadap Rin.
[]
[The B#tchy Idol]
"Hah?! The B#tchy Idol?!?"
"Ya." setelah melontarkan kata tersebut, Moke meletakkan topi putihnya kasar di meja, kemudian menenggelamkan wajahnya.
"Memangnya lagu itu tentang apa?" tanya Oliver polos.
"Mending lu ga usah tau, Liv." sanggah Yuu.
"Pada kenapa?" celetuk Piko.
"Hhh...biasalah Ko, soal lagu laknatnya Tianyi Jiejie." sebagai seorang keyboardist dalam bandnya, Moke hanya menghela nafas, mengisyaratkan nada pasrah.
"Ya biarin aja lah, Ke. Kan bukan elu yang disuruh nyanyiin tuh lagu." sahut Fukase yang datang bersama Piko.
TAK!!
Satu sentilan mendarat didahi Fukase.
"Asal ngomong aja lu. Tianyi Jiejie baru 16 tahun."
"Terus?"
"ITU LAGU ISINYA 18+ CUUKK!!! SAMA AJA KAYAK GIGANTIC O.T.N. YANG DINYANYIIN LEN!!" seru Moke frustasi.
"Oh ya, barusan juga gua dapat informasi, kalo rupanya Longya Gege, Kaito-nee, sama Yuuma-nee udah pernah nge-cover tuh lagu." sambungnya.
"Biarin aja lah, kan selama elu belum disuruh."
Tunggu sebentar, Piko menyadari sesuatu.
"Eh, Rin udah pernah disuruh atau belum?" tanya Piko khawatir.
Moke hanya mengisyaratkan tanda tidak tahu.
[]
[A, You're Adorable]
"Selamat pagi, Piko!" sapa Rin ceria seperti biasanya.
"Yeah, selamat pagi." balas Piko.
"Lagu apa yang sedang kau dengarkan?" tanya Rin setelah meletakkan tasnya.
"A, You're Adorable, versi covernya Oliver dan Yuki." jawab Piko.
"Ooh gitu."
"Tapi sayang sekali, Rin-chan."
"Apanya yang sayang?"
"Harusnya kita juga disuruh nyanyi ginian."
Rin mendadak tidak bisa menebak, apakah ini gombal atau tidak.
[]
[Nobar]
Perbandingan Piko ketika nonton horor :
Bareng Rin
VS
Bareng "Meme Squad"
Bareng Rin :
- Kalem dari awal sampai akhir film.
- Gentle pake banget.
- Gak bisa tenang gara² dipelototin sama Len.
Bareng "Meme Squad" :
- Keep calm T_T
- Pasang headphone selama film, buat jaga² kalo Fukase jadi cerek dadakan :v
- Endingnya parno :v
[]
[Entah]
"Euhm, Rin-chan." panggil Akane setengah berbisik saat jam istirahat.
"Ada apa?" balas Rin.
"Menurutmu, Piko-kun...itu ganteng atau tidak?" tanya Akane sedikit menggoda.
Semburat merah perlahan muncul di pipi Rin. "Hmm...entahlah."
Disaat yang sama, kedua gadis itu melihat sosok sang pemuda tengah berjalan bersama geng-nya, sepertinya mereka baru saja keluar dari kantin.
"Sepertinya alih-alih ganteng, dia lebih ke arah...manis." gumam Rin.
[]
[Pomp and Circumstance]
"Sumpah, kita beneran disuruh nyanyiin ini?" Dengus Gakupo sambil melihat naskah lirik.
Piko pun tidak bisa melakukan apapun selain merebahkan tubuhnya dilantai.
Tebak, apa yang lebih parah dari itu? Ternyata, Piko mendapat bagian IA, dimana dia yang harus mengeluarkan helaan nafas yang begitu meresahkan.
Karena itu pula, seluruh personil Vocaloid dari generasi 1-3 melarang para personil dari generasi 4-6 untuk mencari tahu lagu itu. (Larangan ini hanya berlaku untuk personil yang berusia 16 tahun ke bawah)
"Gumi, apa benar-benar tidak ada orang lain selain kami?" Tanya Yuuma.
"Uh, aku tidak tahu juga." Jawab Gumi sedikit cemas.
Gumi pun menyerahkan beberapa lembar kertas pada Yuuma.
"Yuu? Fukase? Iroha? Gumi-senpai, aku serius. Kenapa harus mereka?" Tanya Piko.
"Memangnya siapa penyanyi aslinya?" Tambah Kaito.
Gumi menghela nafas sejenak.
"Penyanyi aslinya Miku, Luka, aku, Rin, dan IA. Kalau soal kenapa harus 3 orang itu, sepertinya karena permintaan para fans yang semakin menggila." Lanjutnya.
Piko terperanjat. Pantas saja selama ini Rin juga melarangnya untuk mencari lagu tersebut.
[]
[Instan]
"Tidak ada yang instan di dunia ini, bahkan yang namanya mi instan pun masih pake proses." baca Iroha pada salah satu quotes yang dia dapat dari Twista.
"Kau serius?" Tanya Rin dengan nada pasrah.
Bagaimana tidak? Tiga hari belakangan ini, Rin selalu disuguhi pemandangan romantis dari teman-temannya, maupun dari kakak-kakak kelasnya.
Awalnya, Rin cuek saja. Namun, semenjak melihat teman-teman sekelas dan saudaranya ikut-ikutan, Rin pun mulai merasa cemburu.
"Bisa tolong carikan seseorang untuk kupacari?"
"Banyak yang bisa kau dekati disini, Rin-chan. Ada Mikuo, Kaito, Gumiya, Oliver, Rook, Matsu-"
"Yasudah, aku tidak jadi bertanya padamu." Rin melenggang pergi, karena dia percaya quotes yang dibaca Iroha tadi.
[]
[Kabur]
"Gumi, lo kenapa? Kok pulang-pulang ngos-ngosan? Perasaan gue cuma nyuruh lo beliin daun bawang, garam, bumbu marinasi, sama maizena dah." Tanya Xin Hua saat melihat Gumi pulang dalam keadaan nafas tersengal-sengal, sepertinya baru saja dikejar.
"Tadi, gue dapat momen langka, Hua." Jawab Gumi.
"Momen apaan tuh?" Xin Hua pun mulai penasaran.
"Tadi, gue nampak Piko, ngelakuin kabedon sama...Rin."
"Loh eh? Terus?!"
"Gue...foto. Hehe." Cengir Gumi.
Xin Hua facepalm.
"Yeu, pantesan. Semalem gue fotoin Fukase di-kabedon Flower sampai blushing parah dianya, endingnya gue dikejar-kejar Flower gara-gara bikin Fukase pingsan."
[]
[Overprotektif]
"Mau kemana?"
"Hhh...sudah kuduga." Rin menghela nafas saat mendengar pertanyaan "tegas" dari adik kembarnya, Len.
Entah kenapa, setelah dia berpacaran dengan Piko, dia merasa kalau Len mulai 'mengekang'nya.
Padahal, Rin tahu kalau Piko itu cowok baik. Sangat baik malah.
Tapi, Len malah mengatakan hal yamg sebaliknya padanya.
Misalnya, menyebut Piko seorang berandalan, playboy, dan sebutan buruk lainnya.
"Mau ke kafé." Bohong Rin.
"Jangan bilang mau ketemu si 'Pekok' itu lagi."
Tidak mau berlama-lama, Rin memutuskan untuk berlalu sambil membanting pintu.
Di taman...
"Aku minta maaf atas perilaku kembaranmu tadi."
Kalau boleh jujur, sebenarnya Piko sudah dibuat jengkel oleh perilaku Len.
Meskipun penampilannya sendiri seperti perempuan, Rin juga percaya kalau Piko benar-benar seorang laki-laki.
Tapi, Piko juga kasihan pada gadisnya, dia bisa melihat wajah, pergelangan tangan, bahkan kakinya dipenuhi plester, perban, bekas luka, jangan lupakan memar juga turut menghiasi tubuhnya.
Kenyataannya, Len juga merupakan sosok playboy di sekolahnya.
Tak hanya itu, Piko juga sudah pernah merekam aksi tidak senonoh Len di sekolah secara diam-diam.
Sepertinya, ini saat yang tepat, pikirnya.
Piko bangkit dari kursi taman.
"Kau mau kemana?" Tanya Rin canggung.
"Membebaskanmu dari kembaranmu"
Akan kutunjukkan padanya, siapa berandalan yang sebenarnya. -Piko.
[]