Ketika pikirannya sudah mulai tenang, atas saran Hinata, Haruto mulai menuliskan list tentang apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi tak terduga ini. Yang paling atas tentu saja menelpon atasannya di Chicago untuk menunda kepindahannya ke Los Angeles. Haruto sadar betul bahwa dia tidak akan bisa kembali ke sana sekarang. Tidak setelah dia melihat Elan dengan mata kepalanya sendiri. Sulit baginya untuk membayangkan hidup seperti dulu setelah mengetahui anaknya betul-betul lahir ke dunia ini. Dia tahu atasannya pasti akan mengamuk dengan permintaannya, tapi keputusan Haruto sudah bulat. Kalau dia sampai dipecat, dia akan menerima hal itu dengan lapang dada.
List berikutnya adalah memberitahu mami dan papi. Satu hal ini lebih membuatnya panas dingin daripada kemungkinan dipecatnya. Tidak peduli dia laki-laki yang sudah hampir berumur 30 tahun, tapi Haruto tetap takut mengakui kesalahan pada orang tuanya. Mereka mungkin senang karena akhirnya mendapat cucu dari salah satu keturunan mereka, tapi Haruto yakin bahwa papi dan maminya akan mengamuk mengetahui bahwa anak laki-lakinya berlaku tidak bertanggung jawab dan meninggalkan seseorang setelah menghamilinya.
List terakhirnya adalah untuk menghubungi Junghwan. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa bicara serius dengan Junghwan. Dia harus memastikan untuk melakukan hai ini dengan sangat hati-hati agar tidak membuat Junghwan makin defensif dan berujung tidak memperbolehkannya bertemu dengan Elan.
Sebagai langkah berjaga-jaga, Haruto menambahkan daftar tambahan untuk menghubungi pengacara Papi. Hal ini dilakukan kalau (amit-amit) Junghwan bersikeras tidak membiarkannya bertemu Elan. Saat itulah dia membutuhkan pengacara untuk memastikan perkara hak asuh Elan.
Tapi itu hanya cadangan, sekarang yang terpenting adalah untuknya supaya berusaha dulu meyakinkan Junghwan.
Haruto sediki tertegung membaca listnya. menyadari bagaimana dirinya bisa siap berjuang dan begitu menyayangi manusia yang baru saja ditemui kurang dari 10 menit. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun pada Elan, tapi dia sudah menyayangi dan mencintai anak itu dengan seluruh hatinya.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Hinata saat melihat Haruto menunduk lesu memandangi kertas berisikan list yang baru saja dia buat.
"Aku perlu kamu nemenin aku nanti waktu ngasih tau mami sama papi." Haruto semakin menunduk setelah mengatakan ini.
"It's alright, nanti aku bantu ngomong."
Tidak merasa terhibur dengan Jawaban Hinata, Haruto justru merasa makin depressed. Jesus... kenapa dia berani melakukan kesalahan sebegitu besar, ketika untuk mengakuinya saja dia minta ditemani kakaknya.
"To, i'm sorry, " ucap Hinata, lagi-lagi memecah keheningan, "tapi dari mana kamu tahu kalau anak kamu dan Junghwan nggak di gugurkan?"
"I just know..."
"Iya, tapi gimana kamu bisa seyakin itu dia anak kamu?"
"Aku ketemu dia."
"Excuse me?" tanya Hinata bingung, "kapan?"
"Tadi di parkiran kantor Junghwan."
"Bercanda kamu." Hinata kelihatan tidak percaya dengan kebetulan ini.
Haruto hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa dia sedang tidak bercanda.
"Tapi gimana... maksud aku, itu terlalu kebetulan nggak sih? Kamu yakin dia anak kamu? Atau Junghwan kasih tau kamu soal itu?" tanya Hinata sedikit terbata-bata.
"Ta, dia kelihatan persis kayak aku waktu umur segitu, cuma beda matanya aja, mata dia kayak punya Junghwan."
Hinata mengerutkan kening masih dalam usahanya memproses informasi dari adik laki-laiknya ini. "Apa kelakuannya juga kayak kamu?"
"Aku nggak sempet interaksi sama dia, tapi Elan kelihatannya posesif banget sama Junghwan. Tatapannya kayak siap berantem sama siapa aja yang berani deketin papanya."
"Namanya Elan?"
Haruto mengangguk.
"Dan dia manggil Junghwan papa?"
Haruto mengangguk lagi.
"Kalau kamu dipanggil apa kira-kira?"
Kali ini Haruto menggeleng. Pertanyaan Hinata membuatnya semakin ingin bertemu Elan secepatnya.
Hinata terdiam sesaat, seakan memikirkan sesuatu sebelum berkata lagi, "Kebayang nggak sih, ada dua kamu di dunia ini. Seakan-akan ngadepin satu kamu aja nggak bikin pusing setengah mati, Tuhan ciptain lagi satu kamu dalam versi mini."
Haruto ingin menangis lagi rasanya.
Haruto membutuhkan waktu seminggu penuh sebelum akhirnya berhasil membujuk Junghwan untuk bertemu lagi dengannya. Seminggu penuh yang sebelumnya juga dia habiskan dengan telepon nonstop ke atasannya di Chicago untuk membicarakan penundaan transfernya ke Los Angeles yang ternyata alotnya minta ampun. Mereka jelas tidak menyukai permintaannya, dan hanya bersedia memberikan kelonggaran selama satu bulan dengan konsesuensi tidak menerima bayaran apapun untuk bulan ini. Haruto sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
Lalu memberitahu Papi terlebih dahulu mengenai keadaannya. Tepat setelah Papi mengetahui duduk permasalahan, Papi melemparkan satu pukulan keras ke rahang Haruto dengan napas memburu, memberikan ceramah yang intinya, "Papi nggak pernah ngajarin kamu jadi orang brengsek seperti ini!" sampai kupingnya pekak. Lalu beliau mempertemukannya dengan beberapa pengacara untuk membantunya mengatasi permasalahannya. Dari pengacara inilah Haruto tahu, bahwa dia tidak punya hak apa pun terhadap anaknya karena tidak punya ikatan hukum sama sekali baik dengan Junghwan maupun dengan Elan. Mereka juga mengusulkan agar dia menempuh jalur kekeluargaan dan membicarakan dengan baik mengenai hak asuk anaknya dengan Junghwan.
Stupid law! geram Haruto mendengar penjelasan para pengacara papi. Dia ayah biologis Elan, hukum harusnya mau mengakui itu!
Memberi tahu Mami setelahnya tidak kalah dramatis. Pipi Haruto panas minta ampun setelah di tampar Mami bolak-balik sambil berteriak histeris. Setelah itu mami menangis tersedu-sedu ngotot minta dipertemukan dengan cucunya. Beliau baru mau berhenti merengek setelah Papi dan Hinata ikut membantu menjelaskan duduk permasalahan ini secara hukum.
Mami tidak tahu saja, keinginan Haruto untuk menangis meraung-raung meminta maaf pada Junghwan, memohon agar diperbolehkan bertemu dengan Elan juga besarnya luar biasa. Setiap hari Haruto memikirkan 1001 langkah terbaik untuk bisa masuk menjadi bagian dari kehidupan Junghwan dan Elan secepatnya. Dia sudah ketinggalan enam tahun lebih, dia tidak ingin menunda lebih lama lagi.
Yang menjadi ganjalan tebesarnya adalah, bagaimana dia bisa meyakinkan Junghwan untuk membiarkannya menjadi bagian kehidupan mereka kalau dalam sebulan kedepan dia akan tinggal beribu-ribu mil jauhnya di Los Angeles. Dia sudah punya kehidupan mapan di Chicago dan sedang menyiapkan kehidupan baru di Los Angeles setelah trasfernya kesana nanti, rencananya sudah matang dan dia hanya berniat berlibur sementara di sini. Prospek hidup di sini membuatnya sedikit enggan karena kemungkinan harus mulai dari awal lagi. Walaupun tentu saja kalau dia mau minta posisi bagus, dia bisa minta papi dan mami untuk menempatkannya di rumah sakit bagus melalui koneksi mereka. Tapi Haruto tidak suka dengan cara itu, dia lebih memilih membangun karir tanpa melibatkan budaya nepotisme seperti itu.
Alternatif lainnya adalah dengan memboyong Junghwan dan Elan ke Los Angeles bersamanya. Jujur Haruto berharap Junghwan setuju dengan usulannya ini. Dia akan menikahi Junghwan dan memulai kehidupan baru keluaraga kecilnya di sana. Sesuatu yang begitu Haruto dambakan tapi sepertinya tidak akan pernah Junghwan setujui, melihat dari cara Junghwan lari tunggang langgang setiap kali melihatnya. Sepertinya Haruto sudah untung kalau Junghwan memperbolehkannya bertemu dengan Elan, tapi untuk meminta Junghwan menikah dengannya, rasanya mustahil.
Meskipun begitu. Haruto masih berpegang teguh pada kata-kata 'nothing is impossible, anything can happen as long as we believe'. Segala sesuatu masih bisa terjadi asalkan dia percaya dan berusaha.
Dan Haruto selalu percaya pada dirinya sendiri, dia juga sudah memutuskan untuk berusaha sampai titik darah penghabisan.
Sekarang mari kita temui Junghwan dulu.