Crazy Woman

By adadeh19

53.1K 3.9K 213

Ria Ananta. Ananta itu kepanjangan dari Anaknya Antara, papahnya Ria. Ia sengaja diberi nama itu untuk menutu... More

1: The boyz
2: Jahil
3: Gejala
4: Posesif AF
5: Opah 😠
6: Fucking sounds
7: Terungkap
8: Papah
9: Crazy
10: Comeback (?)
11: Alot
12: Ruangan Antara
13: Peralihan Tugas
14: GMC
15: Jatuh
16: Bertemu
17: Kenalan dengan GMC
18: First Met
19: Shopping
20: Protes
21: Sakit
22: Dirawat Tian
23: Reynal
24: Numb
25: Wira
26: Cemburu
27: ...
28: Pulau Biru
29: Sesusai Porsi
30: Berantem
31: Expensive lunch
32: Keputusan Sepihak
33: Nona Ana
34: Bucin
35: Kekuasaan
36: Ria is Back!
37: Dua Raksasa
38: Tidak Takut
39: Rich
40: Dorm GMC
41: Belanja
42: Dipecat
43: Menjauh
44: Kesal
45: Masalah Antara
46: Guest Star
47: Galak
48: Hukuman
50: Monster
51: Kepergiannya
Hallo! 💜
52: Gue Buktikan
53: Rumit
54: Berbeda
55: Bar
56: Meninggal
57: Penyerangan
58: Memori
59: Rumah Sakit
60: Tenang
61: Di luar dugaan
62: Pindah
63: New Place
64: Sensitif
65: Antisosial
66: Cedera
67: I'm not her
68: Berdamai
69: Ibu
70: Ke New York
71: Berdamai (II)
72: Ruang Makan
73: Begaduh
74: Bukan Tandingan
75: Khawatir
76: Sorry
77: Poison
78: Reno
79: Memori (3)
80: Ananta
81: Vegas
82: Hangout
83: Relaps
84: Rumor
85: Menepi
86: Berbincang
87: Pindah Haluan
88: Kerja
89: Marah
90: Envy
91: Teror
92: Apartemen
93: Call
94: Gosip Murahan
95: Borjuis
96: .......
97: Papah dan Ayah
98: Viral
99: Relaps
100: Lompat
101: Pukulan Telak
102: Pasca Relaps
103: Monokrom
104: Belum Menerima
105: Penggelapan Dana
106: Berseteru
107: Keinginan Antara
108: Terungkap
109: Cerita Septa
110: Hangout
111: Penolakan
New Project!!!
112: Penganiayaan
113: Ananta
114: Sakit Hati
115: Berakhir
116: Wira's Birthday
117: Last but not least
Salam!

49: Butuh Kamu

370 35 1
By adadeh19

Lagi. Untuk kesekian kalinya Tian hilang kontak dengan Ria. Mereka tidak saling berhubungan selama hampir seminggu ini. Kabar terakhir yang ia dapatkan Ria bermain bersama Reynal di pinggir jalan wilayah kampus hingga dini hari. 

Tak lama paginya ia mendengar berita bahwa terdapat penyerangan di wilayah tersebut karena meninggalkan bercak darah di sepanjang trotoar. Bagaimana Tian tidak khawatir jika tempat itu yang Ria kunjungi bersama Reynal malam itu? 

Tian sudah mencoba menghubungi segala kontak yang dimilikinya untuk mengetahui kabar terbaru Ria, tidak membuahkan hasil. Panggilannya ke nomor Anton dan Ria tidak mendapat jawaban. Hidupnya kembali uring-uringan. Hal seperti ini yang membuatnya kesal dan tak berdaya.

Bukannya Tian tidak menyewa seorang detektif untuk melacak keberadaan Ria, sudah dilakukannya tapi seolah keberadaan Ria memang ditutupi dan disembunyikan oleh keluarganya dan tidak ada yang bisa menembus ke dalam sana. Tian juga selalu heran, seberapa besar kekuatan yang dimiliki keluarga Ria hingga seorang detektif yang dibayarnya tidak mampu menemukan keberadaan Ria? 

Tian tidak suka menjadi orang yang paling tidak mengetahui kabar terbaru dari Ria. Gadis tersebut terkesan bisa mengatasi semuanya sendiri dan tidak ingin Tian mengetahui kondisi terburuk Ria. Padahal apa gunanya suatu hubungan jika mereka tidak saling berbagi duka dan saling menguatkan? 

Tian seringkali merasa tidak berguna menjadi orang yang spesial di hidup Ria karena gadis tersebut terlalu tangguh. Padahal Tian selalu pulang ke Ria dalam kondisi apapun. Ketika dirinya bimbang dan jatuh hingga titik terbawahnya, ia selalu pulang ke Ria. Tapi mengapa tidak demikian dengan gadis itu? 

Tian juga ingin merasa dibutuhkan. Dijadikan alasan untuk pulang. Menerima segala kesakitan yang Ria rasakan, bukan hanya di masa bahagianya Ria saja. Makanya ketika Ria datang ke dorm kala itu dalam keadaan kacau luar biasa, betapa bahagianya Tian karena akhirnya Ria pulang padanya dan mengakui bahwa Ria membutuhkan Tian. 

Farel si ketua fundraising akhirnya menghubungi Tian terkait keberlanjutan dana pelelangan tiket special dinner bersama Jimmy karena pihak Ria tidak bisa dihubungi. Bahkan Reynal juga tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya saat ini. Tian meminta manajernya alias Delfi untuk melunasi pembayaran tersebut. 

Panitia tidak berani menghubungi Jimmy karena dia yang dijadikan obyek pelelangan. Masa iya mau minta uang dari Jimmy juga. Entah keberanian dan pemikiran dari mana mereka memilih menghubungi Tian. Tanpa pikir panjang Tian memberikan mereka kertas cek sebesar 2,8 Miliar dari rekening pribadinya. Bukan hal yang besar nominal tersebut bagi artis sebesar Tian sekarang. 

"Yan, ayo meeting. Jangan hilang semangat gini, dong. Kita kan mau tour lagi," kata Januar menyemangatinya yang belakangan ini kehilangan semangat. 

Ini juga yang belum sempat diberitahukan pada Ria. Mereka akan memulai world tour bulan depan. Tentu saja tidak secepat itu persiapannya. Mereka sudah istirahat dalam jangka waktu yang lama dan mempersiapkan rencana world tour mereka ke negara yang belum pernah dikunjungi. 

Mereka harus berjauhan lagi. Mengapa rasanya ini semakin berat? Dengan komunikasi mereka yang sangat buruk dan pekerjaannya yang mulai padat, kembali berkunjung dari satu negara ke negara lainnya. Semoga saja Tian masih sempat bertemu Ria sebelum tour dimulai. 

Mudah saja sebenarnya untuk Ria mengunjunginya ke negara tempat GMC mengadakan konser. Tapi Tian tahu betapa besarnya beban kerja Ria dan sulitnya mengosongkan jadwal untuk sekedar pergi beberapa hari mengunjunginya. Ini hubungan yang berat, sungguh. 

**** 

"Saatnya makan siang, Nona," kata seorang suster yang diikuti Nia di belakangnya. 

Ria bangkit dari tidurannya dan bersiap menerima makan siang kali ini. "Kok bubur lagi sih? Gue bukan orang yang sakit pencernaan!" teriak Ria kesal dan mengembalikan mangkuk bubur tersebut ke atas nampan. 

"Yes, you are," balas Nia tegas. 

"No, I'm not!" Ria memandang Nia dengan sengit. 

Sang suster menghela napas lelah. Beberapa hari ini ia menemani Nia untuk merawat pasien VVIP mereka yang merupakan Ria dan hal seperti ini menjadi hal yang biasa terjadi. Keduanya memiliki watak yang sama, keras kepala dan tidak mau mengalah. Sang suster sampai harus menjadi penengah di antara keduanya jika mereka sedang dalam situasi seperti tadi. "Bu, sudah." 

"Gue udah sehat, kan? Gue mau pulang! Gak guna juga gue ada di sini." Ria berniat mencabut jarum infus di tangan kirinya sebelum niat tersebut langsung dihentikan oleh Nia. Nia menahan tangan Ria dan menggenggamnya dengan cukup keras. 

"Anda tidak boleh keluar dari sini tanpa persetujuan saya," ucap Nia dengan penuh intimidasi tapi tidak mempan untuk seorang Ria. 

"Kenapa sih orang-orang niat banget mengurung gue di dalam sini? Gak ada gunanya gue di sini, toh gak ada juga orang terdekat di sini. Gue sendirian! Lebih baik gue di apartemen yang bisa dikunjungi siapapun," kata Ria putus asa. Ia tidak butuh fasilitas kamar mewah seperti ini jika ia hanya sendirian. 

Ria benci keluarganya dalam mengurus orang sakit. Seolah dengan mengirimkannya ke rumah sakit dan menyerahkan perawatan sepenuhnya pada rumah sakit dapat membuat Ria pulih dengan cepat. Sama sekali tidak! Rumah sakit selalu mengingatkannya pada kenangan buruk ketika dirinya divonis mengidap gangguan jiwa dan harus dirawat di sana. Ria takut sendirian di rumah sakit. Suara tersebut muncul di kepalanya dan ia tidak suka itu. Rumah sakit menyeramkan! 

Mengambil walkie talkie di meja samping kanannya dan berbicara pada seseorang di luar sana. "Monitor, saya butuh sesuatu." Suara pintu menyambut perkataan Ria barusan. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan setelan hitam berjalan ke arah ranjangnya. 

"Gue mau pergi ke suatu tempat untuk menyelamatkan nyawa orang. Lo gak bisa menghalangi gue untuk hal ini!" tegas Ria sebelum Nia sempat menyela perkataannya. 

Nia menghembuskan napas sebelum berucap. "Anda masih belum bisa keluar, Nona." 

"Tapi ini hidup dan mati seseorang, Nia! Lo seorang dokter harusnya lebih paham terkait hal itu!" 

"Kamu masih belum stabil, Ria. Kondisi kamu jauh lebih penting. Biarkan orang lain saja yang menyelamatkan nyawa tersebut, atau saya akan lapor polisi untuk menyelamatkannya." Nia mengambil ponsel di saku bajunya berniat menghubungi kepolisian. 

Ria langsung merebut ponsel tersebut dan memberikannya pada pengawal di sampingnya yang setia berdiri memperhatikan semua. "Don't you dare!" sentak Ria penuh amarah. Berhadapan dengan dokter di hadapannya sangat menguras tenaga. Ia seperti melihat cerminan dirinya sendiri ketika dihadapkan dengan situasi tertentu. 

"Gue sebenarnya gak ingin mengatakan ini, tapi karena gue memang harus pergi, dan lo tidak bisa melarang! Gue yakin Kakek gue membayar mahal untuk semua ini dan seharusnya lo tahu batasan, Nia. Hak pasien untuk mau menerima perawatan atau tidak." Perkataan Ria barusan menyentak seorang Nia. Benar, Ria membayar rumah sakit dengan nominal yang sangat besar. Seharusnya ia memuliakan pasien VVIP, bukannya bersikap layaknya ia yang memiliki kuasa di sini. 

Nia memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya yang daritadi muncul ke permukaan. "Baik, Nona. Anda boleh pergi. Tapi saya mohon untuk tidak melepaskan infusannya karena Nona tidak mengonsumsi makan siang dan obat Nona," ucap Nia dengan lebih lembut dibandingkan tadi. 

"Jangan-" 

"Ssstttt. Gue tahu. Jangan pulang malam karena gue harus minum obat dan ganti perban dan ritual lainnya. Udah, ya. Makasih." Ria berpindah ke kursi roda dan Fikri pengawal yang bersamanya tadi langsung mendorong kursi tersebut menuju luar kamar. 

"Wah. Udah gila itu orang tua. Sebanyak ini pengawal di depan kamar gue?" Ria sangat terkejut begitu keluar kamar dan disambut para pengawal berpakaian serba hitam tengah menundukkan kepala menyapa kedatangannya. 

Fikri terus membawa kursi roda ke arah lift yang akan mengantar mereka menuju lobby. Rumah sakit ini tidak menyediakan lift hingga basement. "Mana ponsel gue?" Ria mengangkat tangannya ke arah Fikri dan tidak ditanggapi oleh lelaki tersebut. 

"Fikri!" teriak Ria kesal. Kenapa sih orang-orang hari ini senang sekali membuatnya berteriak? Ria bersungut dalam hati. 

Ria tiba di lobby rumah sakit dan langsung melihat keberadaan mobil Lexus kesayangannya. Dengan tidak sabaran Ria bangkit dari kursi rodanya. "Aawwshh." Rintihan keluar dari mulutnya dan ditangkap Fikri dengan sigap. Ria belum sembuh, tapi sudah memaksakan diri seperti ini. Fikri hanya bisa mengikuti, selagi tidak membahayakan sang nona meskipun itu tidak mungkin. 

Selesai mengatur posisi Ria dengan kursi yang dibuat rebah dan tiang infus yang berdiri di sampingnya, Fikri memasukkan kursi roda tersebut ke bagasi dan ia menduduki kursi samping kemudi. 

"Fikri, ponsel saya," ujar Ria dengan merajuk. Sepertinya nada perintahnya sudah tidak mempan di mata para pengawal kiriman Wira karena mereka hanya akan tunduk dengan orang tua tersebut. 

Tanpa bersuara, Fikri memberikan ponsel tersebut pada sang empunya. Ria menerima dengan sumringah seolah mendapatkan hadiah emas puluhan kilogram. Ria menyalakan ponsel tersebut dan seperti biasa, ribuan notifikasi masuk membuat suasana mobil menjadi sangat ramai. 

Ria mengabaikan notifikasi tersebut dan langsung menghubungi seseorang sesuai dengan tujuan awalnya meminta ponsel tersebut. "Temani aku yuk menemui seseorang. Aku benar-benar butuh kamu saat ini  juga."

###################

Continue Reading

You'll Also Like

233K 3.3K 43
kia melakukan kesalahan, karena telah menabrak nita ibu dari Bean hingga membuatnya koma,yang menyebabkan kia Andrian putri terjebak dengan putra Sin...
20.4K 12.9K 49
"Lingkungan ini sungguh tidak nyaman, Sya. Padahal ini SMP impian ku." -Elara Lovelya Evanzha- "Aku bakal terus nemenin kamu dan aku gak mau, El. Lih...
31.6K 1.7K 34
[SERIES CAHAYA CENDEKIA: 2] [SPIN OFF AYUDNA || Dapat dibaca terpisah] TW // Sexual harrasment, mental issues, traumatic Intan - anak aktris bernama...
8.2K 403 40
Namaku ANANTA PRICILLEA. hudupku benar-benar hancur ketika bisnis papaku mengalami kebangkrutan... kini aku harus menjalani hidup serba pas-pasan yan...
Wattpad App - Unlock exclusive features