Don't forget to vote and comment 💜
Kemarin vote nya dikit banget jadi sedih dan banyak yang sider pula🤯
Happy reading N Borahae💜
Psst! Author gabut, baru pulang liat kemah besar di sekolah author wkwk biasa kalo alumni kudu liat perkembangannya Junior junior. Author gk tidur nanti bangun kesiangan soalnya kerja author jam 5 :v
.
.
.
"E-eh.." Jimin terkejut apa yang dilakukan Jungkook. Jungkook tersenyum, sungguh sangat tampan hingga membuat Jimin terlena.
"Nanti kamu jatuh, mangkanya aku benerin tali sepatumu. Ayo?" Tangan Jungkook menjulur, kode untuk menerima uluran tangan Jimin.
"Ma-makasih." Jimin menggapai tangan Jungkook, menerima uluran sang dominan jadi-jadian ini.
"You're welcome, Baby." Jungkook menarik lembut tangan Jimin melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
Detektif dadakan Kelas 2 IPA 1 tersebut langsung menghela nafas panjang. Sempat menahan nafas melihat perlakuan lembut nan gentle dari Jungkook. Yoongi hanya menatap datar kedua sahabat baik adiknya tersebut,
'Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu-eh malah nyanyi boyband merk motor sih. Gue harus bertindak dengan cepat nih.' Batin Yoongi sambil mengepalkan tangannya.
"Sabar, Bang.." Namjoon mengelus pipi Yoongi untuk menghilangkan esmosi Abangnya itu.
"Hmm." Yoongi menghela nafasnya lali memegang tangan mungil milik Namjoon.
"Ayok kita lanjutin acara detektif kita." Sorak Lisa kembali memimpin anak buahnya.
"Ayok!!"
Jungkook membawa Jimin ke resto khusus makanan Jawa. Tempatnya lumayan ramai namun tempat ini terkenal enaknya dan serasa rindu dengan desa.
Jungkook mengambil tempat duduk di pojok belakang yang terlihat ke-estikan lukisan dan juga hiasan khas jawa-belanda. Para detektif dadakan ini merasa kesulitan karena ini resto yang cukup mengurus dompet.
"Tck, gimana nih anying dah Jungkook niat bet bawa Jimin ke tempat mehong begini." Kesal Lisa, Jennie dengan sigap mengeluarkan blackcardnya dan memamerkannya didepan muka Lisa.
"Kalian lupa siapa gue ya." Jennie merupakan anak pengusaha batu bara utama di negeri ini dan jangan lupa Jennie adalah selebgram terkenal.
"Asyik!! Mam sepuasnya." Sorak anak cowok minus Yoongi dan mendapat deathglare dari Jaebum.
"Eh, ampun pak boss."
"Ah, kalian makan secukupnya aja. Jangan pesan sembarang mentang-mentang ditraktir anak holkay." Celetuk Namjoon.
"Yaudah kita masuk, kebanyakan cincong kalian semua." Yoongi mencari tempat strategis agar tak keliatan dengan kedua orang tersebut.
Meja yang luas terdapat sekat pembatas khusus untuk pelanggan banyak. Kebetulan juga tempat mereka bersisian dengan meja JiKook. 10 detektif kelas 2 IPA 1 mulai membaca menu dan sedikit melupakan tujuan utama mereka. Kecuali Yoongi yang menemukan celah mengintip kegiatan pujaan hatinya dengan Dominan jadi-jadian itu.
"Ah, Chan jangan yang itu. Bakmi Jawa aja malah enak." Bujuk Tzuyu yang menunjuk gambar makanan di buku menu.
"Mbak Nasgor nya 2 piring, emm apa lagi ya?" Jinyoung memilih menu lagi. Sedangkan pelayan restoran tersebut agak pusing sebenarnya dengan anak muda seperti mereka berada di restoran mahal ini.
"Bakmi Jawa nya 2 piring mbak sama ayam bakar pedas 2 piring juga." Itu Lisa sama Jennie lagi diskusi memilih makanan lagi.
"Ah, Lisa xiexie udah pesenin bakmi Jawa."
"Daripada pilihan Bangchan nasi mawut mending Bakmie Jawa enak."
"Cukup kali menu segini." Ujar Han.
"Eh kita ini 12 orang ya, sekali sendok pasti habis apalagi si Lisa itu." Timpal Namjoon sambil cengengesan. Jadi keinget waktu pulsek Lisa beli batagor 10 ribu.
"Namjoon mah gitu buka kartu As aja."
"Yaudah pesan soto Lamongan 1 porsi ya mbak. Guys kalian kagak minum nih?" Namjoon membuka halaman menu minuman.
"Mending samain ajalah minumnya nanti ribet kalo beda-beda." Usul Bangchan.
"Kita lihat menu minuman paling terkenal apa." Jaebum menemukan satu menu paling bagus. "Gimana kalo es buah yang ini?"
"Wah ide bagus itu, lumayan juga ada buahnya ama rumput laut. Mbak es buahnya 12 ya, udah segitu aja yang kamu pesan." Jennie menghentikan acara memilih menu, udah banyak sebenarnya ini dan gak tau seberapa banyak yang dihidangkan nantinya.
"Ayok kita selca, buat kenang-kenangan kita pertama kali makan di restoran mehong." Seru Jennie sambil mengeluarkan ponsel durian digigit separuh miliknya.
"1, 2, 3, ckrek"
Beberapa kali mereka mengambil foto dengan beberapa pose yang nyeleneh. Pertama dengan sopan dan formal, lalu bergaya 'V', setelah itu gaya bebas yang bikin geleng-geleng kepala.
"Gue post nanti malem aja ya, nanti ketahuan kalo kita buntutin mereka berdua. Nanti gue tag kalian semua otomatis kalian semua punya foto di IG kalian sendiri."
"Eh, buat video toktok buat konten gue donk. Biasa cari cuan." Lisa pun menunjukkan beberapa gerakan dan mereka pun mempelajari dengan cepat.
Yoongi sebenarnya agak risih dengan adek-adek kelasnya ini. Tingkahnya itu lho diluar nalar padahal kelas mereka penyandang predikat terbaik dari seluruh kelas yang ada.
"Permisi." Beberapa pelayan resto membawakan menu yang dipesan oleh kesepuluh siswa kelas 2 IPA 1 ini. Mulut mereka menganga melihat betapa banyaknya porsi dalam 1 piring besar. Terlebih lagi soto yang dipesan Namjoon setara dengan soto yang ada di kondangan pernikahan yang prasmanan.
"Astaghfirullah untung gue pesan soto Lamongan 1 porsi doank." Namjoon bersyukur akan hal itu.
Akhirnya mereka berdua belas makan dengan khidmat beda dengan Yoongi yang sesekali mengintip kegiatan JiKook makan sambil bersuap-suapan.
'Tak!'
"Eh, monyong si Han monyong ya ampun." Latah Lisa yang terkejut dengan suara keras dari Yoongi yang membanting sendok di meja.
"Bang.. sabar Bang.." Namjoon mengelus pundak Yoongi.
"Mo sabar gimana cok, udah keterlaluan si Jungkook! Cukup segini aja gue ngintipin, hari gue udah panas. Jungkook suka cari kesempatan dari nyuapin lah, kecup pipilah, apalah."
"Kak Yoongi mohon maaf ya atas kejadian hari ini, mungkin ini diluar nurul kami. Kami gak tau bisa sampek begitu." Jaebum memohon maaf sedalam-dalamnya, ya emang diluar ekspektasi mereka semua.
'Brak!'
Yoongi mendorong kursi ke belakang hingga menabrak pembatas itu membuat Jimin dan Jungkook terkejut. Yoongi keluar dengan tergopoh-gopoh, tangan mengepal dengan kuat dan ekspresi yang gelap. Jangan sampai depresi Yoongi kambuh itu bahaya sekali.
Yoongi menggebrak meja yang ditempati oleh Jimin dan Jungkook dengan keras, untung posisi mereka di belakang pojok jadi tidak kentara suara keributan nya.
"Ka-kak Yoongi!?" Pekik Jimin yang terkejut, seperti ketahuan berselingkuh.
"Halo kak Yoongi, kebetulan kak Yoongi ada disini-" Ucapan Jungkook langsung dipotong.
"Cukup basa basi Lu! Kalo bersaing yang bener aja, Kook."
"Maksud Kakak apa? Emang kita bersaing?" Jungkook memang bingung, Jimin memeluk lengan Jungkook dengan erat sepertinya dia tau dimaksud Yoongi.
"Gausah pura-pura lu, anjing!"
"Bang, cukup jan bikin keributan." Namjoon menarik lengan Yoongi namun Yoongi mencekal pegangan Namjoon.
"Jan ganggu gue dulu, Joon. Ini urusan para lelaki."
"Bangsat ya lu, gue juga laki asu!"
"Maksud gue, lelaki dominan bukan uke kek Namjoon."
"Woi rekam-rekam."
"Udah gue rekam dari tadi, Chan."
"Gue juga ikutan rekam nih, Lis."
Lisan dan Jinyoung merekam dari sisi berbeda, entahlah memang aneh mereka. Tinggalkan aja mereka berdua kita fokus dengan Jungkook dan Yoongi.
"Sebagai sahabat Jimin harusnya Elu tau kalo gue suka sama Jimin." Yoongi menunjuk tepat di depan muka Jungkook.
"Meskipun gue sahabatnya tapi gue juga gak tau. Tapi fakta yang Elu beberin bikin gue tau, yaudah kalo emang bersaing kita mulai aja." Jungkook ber-smirk menatap wajah Yoongi yang rahangnya mengeras.
"Haahh.." semua detektif dadakan Kelas 2 IPA 1 terkejut secara bersamaan dengan mulut melongo. Jimin menatap Jungkook tak percaya.
"Elu harusnya sadar diri posisi lu dimana, sok-sokan seme-in Jimin." Yoongi yang sekarang ber-smirk, Jungkook hanya terkekeh yang terdengar mengerikan bagi semua temannya.
"Gue sadar diri, sebenarnya gue itu seme tapi gue menyamar karena ada hal sesuatu yang rahasia. Tapi sekarang gue udah gak tahan karena gue suka sama Jimin."
"Ju-jungkook really?"
Tangan Jimin yang bergetar dipegang oleh tangan besar Jungkook. Jungkook tersenyum tulus kepada Jimin. "Jimin, pilihanmu ada ditanganmu. Tapi aku juga berharap kamu memilihku."
Jimin tak bisa berkata-kata lagi, selama ini memang Jungkook menyayangi dirinya dibalik tingkah absurd nya yang bikin pusing. Tapi Jungkook lah yang selalu hadir di kehidupannya namun dirinya belum mempercayai sepenuhnya jika Jungkook.itu Dominan.
Jimin memang kagum dengan Yoongi yang keren dalam hal berbasket dan ketegasannya. Yang selalu bikin salting ketika ditatap. Tapi selama ini Jimin jarang dekat dengan Yoongi yang notabenenya kakak dari sang sahabat. Jadi dia belum sepenuhnya tau karakter Yoongi.
"Gu-gue bingung, tapi disisi lain emang selama ini nyaman dengan Jungkook tapi kalo Kak Yoongi gue suka. Enggak tau gue milih siapa?"
"Jimin, tenang dulu ya.. pikirkan dulu siapa yang elu pilih, gue sebagai sahabat se-komplek mendukungmu siapapun yang kamu pilih. Biarkan mereka bersaing merebut hatimu lantas pilih yang buat diri lu nyaman dan dicintai sepenuhnya." Namjoon menatap Jimin dengan senyum yang teduh.
"Thanks, Joon. Maaf kalo keputusan gue nanti bikin kita pecah."
"Jimin, semangat!! Apapun keputusan elu kita dukung kok." Sorak Jennie lalu diangguki oleh semua temannya.
"Temen-temen?"
"Ya, betul itu!! Terserah hatimu memilih tapi gue sih suka Jungkook hehe." Tzuyu terkekeh dengan ucapannya.
"Huuuu.." sorakan dari temen-temennya.
"Woi, Jungkook gilak ya Lu. Pasti elu orang kaya nih mobil mewah bro." Eunwoo menyenggol lengan Jaebum.
"Hooh, gue gak nyangka selama setahun sebagai ketua kelas jujur speechless sama Elu. Jadi mulai sekarang mulai terbuka ya, Jan nyembunyiin jati diri lagi."
"Kita selalu ada kok buat Jungkook dan Jimin."
Yoongi yang mendengar suara teman-teman Namjoon merasa tak ada harapan. Ia pun melangkahkan kakinya menuju keluar restoran. Namjoon yang menyadarinya langsung menyusul sang kakak.
"Sstt, Jan diterusin lagi mending kita lanjut makan aja kasihan di anggurin." Saran Lisa dan langsung saja mereka balapan menuju meja.
"Jungkook, selama ini kita selalu bersama sejak TK. Kenapa kamu tak jujur padaku, hah?" Jimin meneteskan air matanya, merasa kesal karena dibohongi.
"Jimin, i'm so sorry. Tapi harus kulakukan demi keluargaku, suatu saat kamu akan tau apa yang kulakukan selama ini."
'grep'
"Jungkook.. mulai sekarang kamu harus bercerita apapun tentang masalahmu. Tak hanya aku tapi Namjoon juga, kita bertiga adalah sahabat." Jimin memeluk Jungkook dan dibalas dengan Jungkook.
"Hmm, akan kucoba. Jimin?"
"Apa?"
"I love you so much, aku suka sama kamu sedari SMP hingga sekarang rasa cinta ku semakin bertambah. Terserah padamu ingin memberi feedback padaku atau tidak, yang penting aku lega bisa mengatakan ini."
Jimin melepas pelukannya dan menatap Jungkook sangat dalam. Seakan-akan mencari kebenaran.
"Beri aku waktu, ini sungguh sulit."
Sedangkan disisi lain Namjoon mengejar Yoongi yang menjauh dari restoran. "Abang!!"
"Gausah ngejar gue, Lu mending gabung sama temen-temen lu aja. Jan ngadepin gue, bahaya."
"Ta-tapi-"
"Namjoon please, urusin temen-temen lu aja kasihan temen elu tinggal. Gue gapapa."
"..."
Namjoon hanya menatap punggung mungil Abangnya yang mulai menghilang. Akhirnya dia kembali ke restoran dan langsung disuguhi pemandangan dari JiKook.
"Ekhem, mesra-mesraan aja." Namjoon tersenyum sendu menatap 2 sahabatnya.
"J-joon maap gue bikin-"
"I'm fine, itu urusan Abang gue jadi gue gak bisa ikut campur. Sebagai sahabat dan adik dari Yoongi gue bingung tapi entahlah yang penting gue udah punya pacar hahaha.."
"Haishh!! Sombong elu!" Rajuk Jimin dan Namjoon malah bertambah ngakak.
"Sono mesra-mesraan, gue mo gabung ama yang lain. Jungkook tolong jaga Jimin oke?"
"Namjoon Lu-"
"Sshhttt lain kali gue bakal interogasi elu, untuk saat ini have fun. Bye."
To be continued.