Terimakasih atas partisipasi kalian selama membaca Cousin Problem, maaaf selama ini aku banyak typo dan kurang memuaskan. Dan sekali lagi, sepertinya aku ga bakal bikin squel cerita Intan dan Devin. Kenapa? Aku masih dalam project pembuatan squel SECRET Admirer yang mau aku bikin tentang Zhifa, Al dan Edgar belum lagi tentang BiLun. Kalau ada yang mau nanya silahkan dikoment dan pasti aku jawab. Dan selama ini maaf kalau authornya rada gajelas. Kalau kalian ada yang mau nanya selain cerita aku, gapapa yuk kita berteman hehehe.
Di mulmed gaun Intan ya.
Aku berjalan dengan gugup di karpet berbulu halus berwarna keemasan menggunakan gaun putih yang sangat indah. di depanku kini berjalan seorang anak laki-laki tampan dengan suit seukurannya tengah tersenyum mendampingiku. semua para undangan menatap kami setelah pria yang menungguku disamping penghulu telah mengucapkan sakralnya, hari ini impian duluku terkabul melihat pria bermata hazel menatapku penuh cinta setelah mengucapkan ijab kobul.
hingga tak terasa kini aku berdiri didepan pria yang memakai jas hitam yang sangat melekat ditubuhnya, kemeja putih yang dikalungi dasi simple di lehernya dan terakhir rambutnya yang baru itu tengah menyodorkan tangan kananya padaku sambil tersenyum dengan senang hati aku menerimanya dan langsung berdiri disampingnya.
"allhamdulilah, sekarang Intan boleh mencium tangan Devin selaku suami sah kamu" ujar sang penghulu membuatku melirik kearah pria disampingku.
Dia adalah Devin Elviansyah Carolo, sudah menghalalkanku setelah perjuangan yang ia lalui agar aku ingat dengannya, pria yang pernah aku anggap ssaudara sepupu yang tak mungkin aku cintai kini bisa aku miliki, pria yang menerima kekuranganku dahulu hingga sekarang dan ayah kandung jagoanku Ramadanish Elro yang kini memiliki nama Carolo dibelakangnya juga ayah dari anak-anakku nanti.
sebelum aku mencium tangannya, Rama sebagai pendampingku memberikan kotak berwarna tosca kepada Devin. cincin berbentuk sederhana dengan bermata berlian berwarna merah kini ia masukkan ke jari manisku, lalu aku mengambil pula cincin yang sama dalam kotak tersebut dan memasukkannya ke jari manis Devin dan aku mencium punggung tangannya dengan hikmat, ia memegang kedua sisi kepalaku dan didekatkannya wajahnya padaku begitu pula bibirnya yang kini sudah mendarat di keningku.
"aku mencintaimu, my dear" bisiknya tepat ditelingaku, rasa hangat juga senang menyelimuti hatiku yang tengah bergemuruh.
"aku lebih mencintaimu, Dev" balasku menatap mata hazelnya yang kini menatapku seakan kami hanya berdua diruangan ini.
"Bundaa!!" teriakan itu membuyarkan kami berdua dan mencari asal suara yang membuat kami terkekeh melihat wajahnya yang sedang cemberut menatap kami dari bawah.
Devin menggendong Rama dengan cekatan, lalu mencium pipinya membuatku tersenyum karena Rama mau menerima Devin sebagai ayahnya meskipun ia tetap menganggap Rio ayah tersayangnya.
"Ramakan manggil bunda bukan ayah" cletuknya yang memandang sinis kearah Devin, aku terkekeh karena sifatnya yang sangat tidak suka pada Devin meskipun aku tau dia sangat sayang dengan Devin dan Rama pun sudah mengetahui kalau Devin ayah kandungnya dan akan menerimanya dengan senang
"tapi Rama ganggu Ayah yang lagi mesra-mesraan sama Bunda" ucap Devin tenang yang langsung aku hadiahi cubitan di pinggangnya karena mengucapkan kata sevulgar itu didepan anak berumur lima tahun.
"tapikan hari ini hari ulang tahun Rama, tapi kenapa Ayah sama Bunda yang seneng harusnyakan Rama!" gerutunya.
kami memang menikah saat Rama berumur lima tahun yang tepat hari ini karena Devin yang meminta malah aku meminta agar ditunda dulu untuk kesehatanku, dan hari ini dengan wajah murung Rama malah membuatku semakin gemas dengan jagoanku.
"loh? Rama emang enggak seneng liat Bunda menikah sama Ayah Devin?" tanyaku menatap mata hazelnya yang kini menatapku juga..
"seneng sih, tapi kan cuma Ayah sama Bunda doang yang jadi pusat perhatian bukan Rama" ucapnya dengan percaya diri. entah bicara apa, Devin membisikian sesuatu ketelinga Rama yang fokus mendengarkan lalu mengangguk sambil tersenyum bahagia menatapku.
"are you promise,dad?" ucapnya menatap Devin.
"I'm promise, my Boy" balas Devin tak kalah senang, dan aku mulai curiga dengan mereka karena pasti Devin menghasut negatif kepada Rama kalau Rama sedang cemberut seperti itu dan akan meluluh jika dikabulkan apa yang dia inginkan.
"kalian ngomong apasih? Bunda ga dikasih tau?" tanyaku menatap mereka semua dan kompak menggelengkan kepala membuatku pasrah.
"yaudah kalau gamau kasih tau, Rama mau kado apa dari Bunda?" tanyaku.
"nanti Ayah bakal ngasih Rama hadiah yang mengejutkan, jadi Bunda gaperlu ngasih" ucapnya yang langsung turun dari gendongan Devin membuatku mengerutkan kening menatap suamiku yang kini tersenyum penuh seringai.
"abis racunin apa ke otak Rama, heum?" tanyaku saat kami masih berdiri di depan para tamu.
"sudahlah, mereka sudah menunggu bungamu" ucap Devin menatap kedepan membuatku mendengus kesal dan melempar sebuket bunga yang aku bawa.
Devin POV
Dari sekian hari yang aku lalui selama ini,mungkin hari inilah yang sangat bahagia bagiku karena wanita yang sedang duduk di kursi rias adalah istriku,dia tengah membersihkan make up yang masih menempel diwajahnya baju pengantinnyapun belum dibuka sedangkan aku duduk menyender ditempat tidur bersama jagoanku yang tengah bermain lego hadiah pemberian Daddy Ren.
aku membisikan sesuatu ketelinga Rama yang masih asik bermain lego, "Rama main dikamar gih, Ayah mau bikin hadiah buat Rama" ucapku sepelan mungkin.
"emang gabisa langsung kasih ke Rama,Yah?" tanyanya menatapku polos.
"kan harus dimasukin dulu, nanti kalau Rama liat ga surprise dong dan hadiahnya jadinya lama jadi Ayah sama Bunda butuh kerja berdua dulu" ucapku mencoba meyakinkan jagoan kecilku yang sangat polos ini.
"Rama bisa bantu kok, kalau Ayah sama Bunda ribet bikin kadonya" ucapnya yang masih kekeh dengan pendiriannya. dan malah membuatku kalang kabut memberinya alasan apalagi.
"ini khusus Bunda sama Ayah, Rama bobo dikamar ya" bujukku, dia terdiam memerhatikan legonya sifat keras kepalanya memang sangat mengesalkan tapi tak beberapa lama kemudian dia membereskan mainannya dan beranjak keluar dari kamar.
"loh? Rama mau kemana? enggak tidur sama bunda sama ayah?" tanya istriku itu, Rama tanpa menengok dan hanya menggelengkan kepala membuat istriku menatapku penuh tanya.
"Dev, kamu apain sih Rama?" tanyanya kesal sambil mencoba membuka resleting belakangnya tapi tidak berhasil membuatku bangun dan menghampirinya untuk membantu membukakan resletingnya.
"mungkin dia tau, kalau kita mau buat adik untuknya" jawabku seraya menurunkan resletingnya tapi dia spontan menatapku horor membuatku menaikkan sebelah alisku.
"oh dari tadi kamu hasut dia, bagus banget deh trik kamu" ucapnya sarkatis penuh horor lalu pergi mininggalkanku.
kalian penasaran bukan kenapa wanita itu bisa menjadi istriku? jadi waktu itu saat ia pingsan dia masuk keruang UGD karena badannya yang menggigil setelah pulang liburan bersama, tak lama dia berada di ruang UGD dan bisa pindah keruang rawat dan dokter yang menanganinya pun mengatakan kalau fungsi otaknya yang menyimpan memori kembali menegang dan bisa membuatnya lupa ingatan seutuhnya, disitu aku panik bukan main karena masalah sebelumnya belum kelar masa nambah masalah lagi tapi apa boleh buat aku pun menyusul keruangannya menatap wajahnya yang tengah tertidur.
dia mengalami koma selama dua hari, saat ia sadar hanya ada sang dokter juga suster karena aku sedang bekerja diluar kota sedangkan Rama sedang tinggal dengan Mommy Ifah dan membuatku tak dapat berada disana tapi saat pulang kantor aku menemui dokter yang merawat. Dokter tersebut bilang kalau aku segera bertemu dengannya, aku berlari keruangannya dan melihat ia tengah menatap kearah jendela tanpa terganggu saat aku masuk kedalam. disitu dia bilang sudah ingat denganku juga setiap moment denganku tapi dia ingin aku menjauhinya spontan aku menolak karena sudah hampir 20 tahun perasaan ini berkembang dan dia seenaknya nyuruh aku menjauhinya, lalu kami berdebat cukup lama dengan berakhir aku diberi kesempatan untuk bersamanya lagi dan sekarang aku bisa mendapatnya kembali.
"kamu dengerin aku ga sih?" ucap seseorang yang kini tengah merebahkan tubuh diranjang membuatku tersenyum, sejak kapan dia sudah masuk ke kamar?
"maaf tadi aku melamun" ucapku jujur lalu menghampirinya duduk menatapnya.
"gausah dipikirin masa lalu mah Dev, yang penting sekarang kita bersama. kalau dulu aku suka kesel sama kamu itu mungkin biar narik perhatian kamu" ucapnya yang membalas menatapku dengan tatapan seenaknya, dia Intan yang dulu.
"ga nyangka ya, pria setampan aku nikah sama janda" ledekku, dia langsung menaiki sebelah alisnya dengan menatapku sinis.
"ye gue janda juga gara-gara lo, kalau lo ga hamilin gue mana mungkin gue nikah sama Rio" ucapnya sarkatis membuatku gemes ingin menarik bibir pedasnya itu.
"tapi bagus deh aku hamilin kamu, berarti ga ada yang bisa macem-macem ama kamu. Rionya aja yang ganjen nikah-nikahin kamu" ucapku enteng.
"gitu-gitu mantan suami gue ye, kalau ga ada dia Rama ga bakal ada didunia" ucapnya yang membuatku spontan menatapnya penuh tanya. "dulu tuh gue mau ngegugurin dia, tapi Elle bilang jangan nanti bakal dirawat sama dia tapi malahan Rio yang mau nikahin gue" ucapnya.
"tapi kamu ga ngapa2inkan sama dia?" tanyaku menatapnya, wajahnya berubah dengan seringai penuh joke.
"ya ngelakuin sunah rosul-lah, kan udah suami istri" ucapnya seraya menatapku, aku menatapnya penuh intimidasi tapi bukan Intan namanya kalau dia takut malah sekarang dengan seenaknya dia memeletkan lidah sambil tersenyum membuatku kesal.
"malam ini, aku bakalan buat dedek buat Rama!" ucapku penuh seringai menatapnya yang berada dibawahku.
**
terlalu pagi untukku bangun setelah semaleman aku menguras energiku, tapi pagi ini tak menganggu seperti biasa yang Sam lakukan setiap hari karena pagi ini aku mendapatkan bidadari tengah memelukku seperti guling tanpa sehelai benang pun yang hanya ditutupi selimut bagian bawah tubuh kami dan yang pasti pemandangan tersebut membuatku turn on ingin menghabisinya kembali seperti semalam. tapi aku sadar dia pasti lelah dengan pelan akhirnya aku menarik selimut hingga menutupi tubuhnya tanpa merusak posisinya, alis tebal serta rambutnya yang kini berubah menjadi cokelat panjang tergerai menutupi sebagian wajahnya yang membuatku secara tidak sadar memegang rambutnya dan ku lampiri dibelakang telinganya.
"aaassshh.. Yo" desahnya yang seketika aku terdiam.
tadi dia bilang apa? sedengarku bukan desahan namaku,ah ya melainkan nama mantan suaminya. sungguh kejam istriku ini membuatku emosi dipagi hari. aku masih menunggu reaksinya lagi, dan sedikit merangsangnya dengan beberapa kecupan diwajahnya, aku ingin memastikan kalau tadi dia hanya mengigau tapi tak ada reaksi malah wajahnya tenang tanpa terganggu sedikitpun. lalu tanganku membelai punggung belakangnya dengan gerakan merayu seperti membuat lingkaran atau pun goresan dengan jariku,lalu reaksinya kini membuattku tersenyum.
"ssshh, Ri..o" Sialan!! dia kembali mendesah menyebutkan nama sialan itu, tanpa berpikir panjang aku langsung berada diatasnya yang membuatnya membuka mata dengan sayu karena terkejut.
"aku lelah" ucapnya yang kembali menutup matanya dengan enteng, aku semakin kesal karena dengan tidak tau dirinya dia meninggalkanku tidur setelah menyebutkan nama sialan itu. aku langsung menyambar bibirnya itu membuatnya membulatkan matanya dengan sempurna, aku menyeringai penuh kemenangan.
tunggu? dia menyeringai balik saat aku sedang mencium bibirnya. ada apa sebenarnya dengan istriku ini? aku langsung melepas pagutan kami dan baru ingin mengeluarkan suara tapi tiba-tiba dia langsung membantingku hingga kini ia berada di atasku dengan senyum menyeramkan itu.
"aku berhasil bukan membuatmu kesal, seperti dulu?" ujarnya masih menatapku tepat dimata hazelku, alisku menaik sebelah sebagai ucapannya yang tidakku mengerti.
"aku sudah bangun sebelum kau, jadi tadi aku hanya bercanda" ucapnya lalu kembali merebahkan tubuhnya sambil tertawa, dasar bidadari bersifat setan.
"jadi, kau ingin aku cemburu lalu menerkammu dengan ganas seperti Christian Grey,Manis?" ucapku yang menatapnya penuh maksud, aku mendengar tawanya terhenti dan perlahan dia menatapku dengan penuh waspada.
"kalau itu maumu, akan dengan senang hati aku melakukannya" ucapku dengan senyuman penuh kemenangan dan bangkit.
"kau punya Red Room seperti Christian Grey?"tanyanya polos, astaga Istriku ini benar-benar membuatku darah tinggi di pagi hari. aku menatapnya tajam seakan mataku ini dapat membunuhnya tapi bukan Intan namanya kalau ia takut dengan tatapanku, malah kini dengan polosnya dia menatapku penuh ingin tahu.
"kau punya kelainan seks,Dev?" mulutku terbuka secara tak sadar, bukan marah padanya tapi aku tak habis pikir kenapa setelah amnesia otaknya jadi begitu aneh.
"Niaa, kurangilah nonton film. itu berdampak tidak baik untuk otakmu" ucapku pelan dan yang tadinya dia berhasil membuatku turn on secara otomatis pula dia turn offkan diriku, aku beranjak bangkit dari kasur tanpa membawa apapun karena aku berniat kekamar mandi dan tak mungkin ada yang melihat kecuali Intan, tapi dia pasti sudah melihatku semalam secara keseluruhan mengingat semalam dia begitu dominan dan aku sub nya.
"Bun.. Ayah? kenapa ayah ga pake baju?" suara itu menyadarkanku dan aku langsung bersembunyi mengambi barang apapun yang dapat melindungi asetku, terdengar kekehan dari Intan.
"Rama!! kenapa tidak ketuk pintu?" tanyaku penuh emosi, karena ini menyangkut aibku didepan anakku sendiri.
"loh? Rama udah ketuk dari tadi yaa, tapi Bunda sama Ayah ga denger. yaudah Rama masuk" ucapnya polos yang masih berdiri di depan pintu, aku menutup mukaku dengan tanganku. aku memang tak pernah bersahabat dengan pagi, karena pagi inipun aku kembali sial.
"Rama, dikamar dulu ya. Bunda nanti nyusul sama Ayah" ucap Intan yang entah dari mana dia sudah memakai kemejaku dan sudah lengkap dikancingi. tanpa membantah Rama mengangguk dan menutup pintu kembali, kini tersisa aku yang masih memegang lukisan yang semalam aku ingin pajang. aku melihat Intan terkekeh sambil membawa handuk yang langsung ia berikan kepadaku dengan tidak sopannya ia lemparkan tepat dimukaku,spontan aku mengambilnya dengan kedua tanganku hingga lukisan itu jatuh dan membuatku tidak tertutup lagi.
"wah, aku ga nyangka suamiku begitu menggoda" ucapnya disertai kedipan mata, aku menggeram pelan.
"pertama, seminggu ini akan ku ungsikan Rama kerumah Mommy Ifah. dan kedua aku akan membuatmu tak bisa meninggalkan tempat tidur selama seminggu pula, Miss Carolo" ucapku penuh ancaman lalu beranjak ke kamar mandi dan masih ku dengar ucapannya yang malah membuatku menghela nafas kesal.
"aku tak sabar menunggunya, honey".
**
Hari ini aku dan Intan akan menjemput Rama dirumah Mommy,setelah seminggu ku ungsikan bocah itu dirumah Mommy dan tentu saja aku menepati ucapanku saat itu kalau aku akan membuat Intan tak dapat meninggalkan tempta tidur dan ia pun kini tetap terlihat segar meskipun ah begitulah.
"Dev, semalem aku mimpiin Rio" ucapnya saat baru memasuki mobil, aku yang berada di kursi supir menatapnya penuh tanya meskipun mulai saat ini aku akan mengakuin kalau Rio orang baik karena sudah membesarkan Rama juga menjaga Intan selama 4 tahun itu.
"dia cuma tersenyum ngeliat aku, terus dia bilang kalau sekarang dia bahagia. terus dia ngasih aku aku sesuatu dan pas dia kasih ketangan aku tiba-tiba ilang" ujarnya dengan serius begitu pula aku, pasti Rio punya maksud tertentu datang ke mimpi Intan tapi aku tak ambil pusing mungkin itu hanya bunga tidur istriku.
"kangen mungkin sama kamu. kamu udah jenguk makamnya?" tanyaku, dia terlihat diam menatap lurus kedepan.
"aku tidak tau dimana" jawabnya sambil menyengir lebar menghadapku yang langsung aku hadiahi tepukan di jidatnya.
"dasar mantan istri durhaka" godaku seraya menyalakan mesin mobil, tiba tiba saja dia langsung memelukku dengan erat membuatku terdiam.
"jangan tinggalin gue lagi" ucapnya sepelan mungkin tapi dapatku dengar. aku mengelus rambutnya dan merelaxkan tubuhku.
"tidak. tidak akan pernah aku ninggalin kamu, cukup waktu kamu ke Malang aja dan waktu hamil Rama. maaf ga bisa jaga kamu, gabisa manjain kamu waktu kamu hamilin Rama." ucapku penuh penyesalan.
"semoga usaha seminggu kita ini berhasil ya Dev, karena waktu itu aku lagi tidak masa subur" ucapnya dengan senyuman senang menghiasi wajah cantiknya tatkala aku yang juga menyetujuinya.
"kita akan terus berusaha, aku gak pengen Rama sendiri sepertiku" ucapku.
kamipun meninggalkan rumah dan segera menuju Jakarta untuk mengambil Rama yang aku ungsikan dirumah Mommy, aku rasa Rama betah tinggal disana karena selama seminggu aku jarang mendapat keluhan dari mommy tentang Rama malah ia bercerita kalau Rama kini bersekutu dengan Mario untuk mengerjai Princess.
selama perjalanan hanya diisi suara musik kesukaan Intan tapi istriku itu hanya diam menatap keluar jendela sibuk dengan dunianya sendiri, entah apa yang ada dipikirannya. aku menyentuh puncak kepalanya seraya mengelus untuk menyadarkannya dari pikirannya, dia menatapku dengan senyum terukir di wajahnya.
"kamu baik-baik aja?" tanyaku.
"I'm fine" jawabnya seraya memegang tanganku yang masih mengelus rambutnya, dia mengelus dengan pelan tapi tatapannya hanya memandang lurus kedepan.
"apa yang kamu pikirkan?" dia kembali menatapku dengan senyuman tapi matanya mengisyaratkan kekhawatiran menatapku.
"cuma rindu Papa,Mama sama Alen, Dev" ujarnya tapi aku tau kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"setelah jemput Rama kita ke makam mereka,kenalin cucu terbaik dariku" ujarku mencoba menghiburnya dan senyumnya itu pun terukir diwajahnya secara perlahan.
"halah, terbaik apanya? yang ada tiap bulan aku berantem mulu sama Rio entah kesalahan apa, mungkin waktu itu dendam kamu sampe menurun ke Rama kali" ujarnya yang kini terkekeh dengan pipinya yang sedikit memerah.
"mungkin saja, dan sebaiknya kita turun" ujarku karena kami memang telah tiba dipelataran rumah Mom Ifah yang luas ini.
Intan POV
kami masuk kedalam rumah yang sedikit sepi, hanya beberapa pelayan yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing tapi suara dari belakang halaman yang ramai membuatku dan Devin langsung meluncur ke TKP. Devin menggenggam tanganku membuatku menatapnya, rasa yang dulu pernah aku rasakan saat kami sekolah kembali mengisi ruang hatiku karena dulu kami pernah sedekat ini meskipun aku menganggapnya saudaraku.
benar saja, ternyata keluarga tante Ifah sedang berkumpul di halaman belakang. disana ada Caca yang asik berjemur di tengah kolom renang sambil mendengarkan lagu lewat iPod, lalu tante Ifah yang tengah duduk disamping om Ren yang masih sibuk dibalik laptop dan terakhir aku lihat Rama bermain dengan si kece Mario yang sedang liburan di Jakarta.
"Bundaaa!!" teriakan itu langsung terdengar saat aku dan Devin menggeser pintu kaca untuk masuk kedalam halaman, membuat tante Ifah beserta Om Rend dan si Caca menengok kearah kami.
"anak Bunda sehat?" tanyaku yang langsung menggendongnya dengan erat, Rama pun melingkarkan tangannya di leherku sambil tersenyum ceria.
"sehat dong, kak Mario ternyata asik loh Bund orangnya. dan hari ini kak Mario janji sama Rama mau ngajak Rama main futsal" ujarnya dengan senang sambil melihat ke Mario yang membalas dengan anggukan. karena ini pertama kalinya untuk Rama mengenal keluargaku setelah empat tahun tinggal di Dubaii bersamaku dan Rio saja meskipun sesekali menginap dirumah Mama Oliv dan Elle.
"Rama kamu banget Dev waktu kecil, suka ganjen sama Mommy" ucap Om Rend yang kini berdiri dihadapan kami bersama tante Ifah yang juga berdiri disampingnya, akhirnya Om Rend merestui kami setelah sekian lama juga mengalah ntah karena apa aku hanya bisa berterimakasih padanya.
"namanya juga anak Dev,Dad. jadi ya hampir miriplah. ya tidak Ram?" ujar Devin memberikan high five kepada Rama yang dengan polosnya anakku ini membalasnya.
"semoga Rama makhluk terakhir yang ganjen sama Mommy, kalau adalagi akan Dad pastikan Mom pake topeng" ucap Om Ren dengan guyoman yang membuat kami tertawa tapi terhenti saat suara Rama.
"pake topeng sarimin,opah?" tanyanya dengan polos dan malah membuat kami semakin tertawa.
Inilah hidupku, bersama Devin aku lebih merasa bahagia meskipun cobaan kami yang berat tapi aku yakin jika kita saling berusaha untuk kebaikan maka disitulah ada jalan.
Devin yang sempurna dimataku kini akan menjadi orang yang pertama saatku bangun dan terakhir saatku menutup mata. Dialah pria terhebat setelah Papa, dia yang tetap mencintaiku dengan segala kekuranganku.
Terima kasih selalu ku ucapkan pada-Nya, yang telah memberiku Rama dan Devin yang siap mengisi hari-hariku