Revenge For A Heartbreak

By heynukha

723K 25.5K 2.4K

Leece baru saja patah hati. Dia tidak mau merasakan sedih yang berlarut, maka menyusun sebuah rencana untuk m... More

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Visual
Part 15
Part 16
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Special Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Special Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Penutup
Final Chapter

Part 17

10.8K 449 21
By heynukha

Jangan lupa tekan bintang di kiri bawah dulu sebelum lanjut baca ya. Follow aku juga

Selamat membaca part ini, panjang 2200 kata.

*****

Dalam waktu sekejap saja, tak sampai hitungan minggu, Faydor telah berhasil merubah persepsi Leece tentang sosok suami yang awalnya dikira dingin, acuh, menyebalkan, ketus, sinis, dan jauh dari kata hangat maupun perhatian. Baru satu hari setelah pernikahan pun wanita itu telah melihat sisi lain seorang Faydor Calle Giorgio. Terpesona bukan sekadar dari ketampanan saja, tapi sisi lain yang berhasil membuat hati menghangat.

Kini apa pun yang dilakukan oleh Faydor terasa seperti indah. Sekali pun pria itu hanya bergerak, berjalan, atau diam saja. Mungkin Leece tersihir. Entahlah, tapi apa pun yang membuatnya seperti sekarang, pasti ada alasannya. Yang jelas, kini ia menginginkan dicintai oleh suami sendiri.

Kalau tanpa cinta saja perhatian yang diberikan sudah terlihat nyata, lantas jika menggunakan perasaan akan seperti apa? Leece sangat penasaran. Pria misterius memang sangat menantang untuk digali.

Sejak sampai di Helsinki, Leece tidak pernah menyentuh kopernya sedikit pun. Faydor yang membawa. "Aku jadi seperti ratu," gumamnya seraya menyusul langkah kaki suami yang mulai bergerak menjauh menuju imigrasi.

Melihat lengan kekar Faydor tengah mendorong trolley barang, membuat otot-otot terlihat muncul ke permukaan dan menambah kesan macho. Leece tertarik untuk melingkarkan tangan ke sana.

Anggap saja sebagai langkah awal untuk mencuri perhatian. Daripada hanya dituduh terus menggoda, lebih baik Leece lakukan saja sungguhan. Toh sekarang misinya bukan lagi balas dendam pada mantan, itu sudah berhasil karena wajah Bernard saat melihatnya menikah pun cukup menunjukkan kalau tidak terima. Tapi, sekarang dia ingin meluluhkan hati suami.

Manusia memang begitu, tidak mudah puas. Selalu ingin mendapatkan lebih.

Dia benar-benar melakukan itu. Saat tangannya melingkar di lengan Faydor, hanya mendapatkan lirikan tanpa didorong menjauh. Lumayan, Leece tidak akan malu mendapatkan penolakan.

"Kenapa, kau pusing? Jet lag?" Justru sebuah pertanyaan yang dikeluarkan.

Padahal sebatas kalimat yang dilontarkan datar, tapi bagi Leece itu adalah bentuk perhatian. Mungkin sekarang sedang dikutuk karena dahulu menganggap dan menilai kalau Faydor itu manusia buruk hanya karena tampilan tanpa ekspresi dan jarang bicara.

Leece mengangguk membenarkan, padahal sama sekali tidak. "Takut tiba-tiba pingsan."

"Naik ke trolley, ku dorong saja, kau tak perlu jalan kaki," tawar Faydor.

Wajah Leece berubah kecut. Dia pikir akan dirangkul atau gandeng. Eh ... ternyata mau didorong jadi satu dengan koper. Memang luar biasa ide suaminya itu "Tidak, aku begini saya, malu dilihat orang, nanti dikira masih anak-anak."

"Memang masih bocah, kan?"

"Umur saja yang muda, tapi badanku sudah seperti wanita dewasa," eyel Leece.

Tidak bisa dipungkiri, memang mulai dari atas sampai bawah, Leece sangat molek. Cocok sekali menjadi model bikini. Seksi.

Faydor tidak akan mendebat lagi karena sudah kalah oleh kenyataan. Bahkan ia juga masih ingat jelas betapa memesona tubuh Leece. Setiap lekuk tanpa balutan busana pun pernah dilihat, hanya belum merasakan saja.

Hei! Dasar pikiran kotor seorang pria! Sedang berjalan saja masih sempat-sempatnya memikirkan itu. Faydor segera menepis yang tak seharusnya diingat. Bisa gawat, nanti bermain solo lagi di kamar mandi.

Lalu lalang bandara sangat padat hari ini. Orang-orang berjalan cepat seolah tengah dikejar oleh waktu. Tiba-tiba secara tak sengaja ada yang menubruk Leece dari belakang.

"Aw ...," pekik Leece. Bukan berlebihan, tapi trolley yang menghantamnya.

"Maaf, aku tidak sengaja," orang yang menabrak pun berkali-kali menundukkan kepala dan merasa bersalah.

Faydor sudah menatap tajam pada sosok itu. Siap memaki. Tapi, lain dengan Leece yang langsung memaafkan.

"Aku baik-baik saja." Leece tersenyum untuk menunjukkan jika tak ada hal buruk yang terjadi padanya.

"Kalau begitu, aku permisi, buru-buru."

"Oh, silahkan." Leece yang memilih untuk menyingkir. Mungkin tadi ia menghalangi jalan sampai tertabrak begitu.

"Sini, aku sudah berjanji dengan orang tuamu akan menjagamu." Faydor menarik tangan Leece, lalu mengurung wanita itu diantara dua tangannya yang mendorong trolley barang.

Posisi yang sangat mendebarkan. Leece bisa menghirup aroma parfum suaminya dengan sangat mudah. Mereka terlalu dekat, bahkan terlihat romantis dan seperti pasangan sungguhan yang saling menjaga.

.....

"Kamarmu yang ini." Sesampainya di apartemen, Faydor membawa masuk barang bawaan Leece ke sebuah ruangan yang bersebelahan persis dengan kamarnya.

"Kita pisah kamar?"

"Ya, memangnya kau mau seranjang denganku?"

"Mau-mau saja." Leece meringis.

"Aku yang tidak mau." Lagi-lagi Faydor menyentil kening istri kecilnya. Seperti sudah kebiasaan dan otomatis kalau ia gemas.

Mencebik sembari mengusap dahi. "Punya istri seksi, jangan dianggurin, nanti banyak lalat berdatangan baru tau rasa."

Faydor memilih untuk mengabaikan dan tidak menanggapi lagi. "Kalau ada apa-apa, kau bisa ke kamarku dan minta tolong. Aku jarang keluar. Jika pergi pun pasti akan bilang."

Leece mengangguk. "Baiklah." Melambaikan tangan saat suami pergi meninggalkan kamarnya.

Tak apalah masih pisah ranjang. Toh ini baru sehari setelah menikah. Ada banyak waktu untuk membuat suami memiliki perasaan padanya.

Badan masih terasa lelah, Leece memilih untuk merebahkan punggung saja. Beres-beresnya besok lagi.

.....

Terhitung satu minggu Leece tinggal di apartemen. Dia pikir, akan mudah untuk berdekatan dengan suami karena tidak ada jarak yang membentang. Nyatanya, salah. Mengajak komunikasi Faydor ketika sudah hanyut dengan pekerjaan adalah hal paling sulit dilakukan. Pintu selalu dikunci dan di depan ditulisi 'jangan mengganggu, kecuali sangat penting dan mendesak. Aku sedang sibuk, banyak projek harus segera selesai' begitulah peringatan yang membuatnya tidak bisa sesuka hati mengetuk kamar Faydor.

Leece tidak mau pria itu membencinya. Jadi, memupuk kesabaran dan menanti pekerjaan Faydor selesai, atau setidaknya tidak sesibuk sekarang.

Tiap hari makan sendiri, tidak ada yang menemani. Rasanya amat sepi bagi dirinya yang terbiasa makan ditemani. Mau bagaimana lagi? Faydor tidak bisa diganggu gugat.

Pasti saat keluar kamar dan menengok ke pintu sebelah, masih tertutup rapat. Meski begitu, Leece beberapa kali mendengar Faydor berbicara dengan seseorang entah siapa, setiap malam. Hanya saja ia tidak menguping isi pembicaraan, sebatas pendengaran yang terekam secara tak jelas oleh gendang telinga.

Lama-lama bosan juga. Leece tidak tahan kalau hidup berdua tapi terasa seperti sendirian. Jadi, ia memutuskan untuk nekat.

Menghampiri kamar Faydor, mengetuk sebanyak tiga kali. Kemudian ada sahutan dari dalam. "Kenapa?"

"Aku ... ingin minum wine."

"Ada di kabinet atas, ambil saja."

Leece menengok ke bar dekat dapur dan melihat betapa tingginya lemari penyimpanan itu. "Tidak sampai, boleh minta tolong?"

Tak lama, pintu pun terbuka juga. Setelah satu minggu tidak melihat wajah tampan suami, sekarang bagaikan terbayar sedikit kerinduan Leece.

Mengekori di belakang Faydor yang langsung jalan menuju dapur. Pria itu mengambilkan wine sesuai keinginan penghuni baru apartemennya. Begitu juga dengan gelas.

"Ada lagi?" tanya Faydor sebelum ia kembali ke kamar.

Leece menggeleng. Bingung mau minta tolong apa.

Dirasa tak dibutuhkan, Faydor pun mengayunkan kaki meninggalkan area dapur.

Saat suaminya belum hilang sepenuhnya, Leece pun meminta sesuatu. "Bisa temani aku minum? Rasanya tidak enak jika sendirian." Tidak lupa meringis sebagai permohonan.

Tidak memberikan persetujuan, Faydor baru menengok saja.

Leece segera memberikan penjelasan lebih. "Sudah satu minggu ini kau di dalam kamar. Aku ...." Menggigit bibir bawah sejenak untuk menimbang haruskah ia mengeluarkan kalimat selanjutnya. Dan akhirnya memutuskan iya. "Kesepian."

Mengurungkan niat untuk meninggalkan Leece menikmati wine sendirian. Faydor kembali menghampiri meja bar di dekat dapur. Ia membawa gelas juga.

"Ku temani, jangan pasang wajah murung lagi. Aku lebih suka melihatmu banyak tersenyum." Faydor mengambil botol, lalu menuangkan cairan berwarna ungu pekat ke gelasnya.

Oke, mulai sekarang Leece akan banyak senyum seperti kata suami.

Mereka menikmati minuman dengan kadar alkohol sedang. Tidak terlalu banyak, Faydor melarang Leece ketika mau minta tambah.

Walau sebentar sekali, tapi Leece menghargai waktu yang telah diluangkan. Setidaknya mengobati haus akan kasih sayang, meski sebatas ditemani minum dan sesekali juga suaminya mengusap puncak kepalanya kalau ia sedang bercerita tentang teman maupun kehidupannya.

.....

"Aku pergi, ada urusan penting. Sepertinya tidak pulang. Kalau kau takut sendirian, ku antar ke mansion orang tuaku." Faydor baru saja keluar kamar dengan pakaian tidak seperti mau ke kantor. Kaos hitam polos, ditutup dengan jaket kulit, ditambah celana jeans.

"Ke mana?" tanya Leece sembari mengekori suami yang kini berhenti di samping rak sepatu.

"Bertemu klien." Sembari memakai alas kaki yang terbuat dari kulit hewan asli.

"Oh ... ku pikir main, tadinya mau ikut. Tapi, kalau urusan kerja, cukup ku semangati saja." Leece tetap berdiri menanti suami selesai membungkus kaki dengan sepatu.

"Kalau ada apa-apa, kau langsung telepon aku. Jika mau keluar, pamit, setidaknya kirim pesan supaya aku tak bingung mencari keberadaanmu."

Seperti suami istri sungguhan saja. Menemani bersiap mau berangkat urusan kerja, satu lagi memberikan peringatan supaya kalau bepergian harus pamit.

Mengangguk. "Siap, suamiku."

Saat berdiri tegak, kening Faydor mengernyit mendengar panggilan dari Leece. Terkesan aneh, tapi terdengar oke juga. Entahlah, dia tak akan mempermasalahkan hal-hal sepele hanya karena nama panggilan.

"Aku pergi," ucap Faydor seraya menarik ritsleting jaket.

"Tunggu," cegah Leece. Mencekal tangan sang pria agar tak buru-buru keluar.

"Cepat katakan, aku tidak ada waktu, sudah ditunggu orang."

Bukan mau mengatakan sesuatu, Leece sebatas ingin memberikan semangat pagi pada suami.

Dengan begitu berani dan ini adalah pertama kali, ia menjinjit di hadapan pria bertubuh tegap. Secepat kilat menyatukan bibir untuk memberikan kecupan singkat.

Sebelum dan saat pernikahan, biasanya Faydor yang mengejutkan dirinya karena beberapa kali menerjang bibirnya. Sekarang berbalik. Leece yang melakukan itu karena sudah lama merasa tidak disentuh.

Bukan haus belaian. Hanya saja jika tak memberanikan diri, maka hubungan hanya akan berjalan di tempat dan tak mungkin ada kemajuan. Sementara ia menginginkan adanya balasan.

Leece paham jika tatapan Faydor saat ini sedang terkejut. Ia cukup memasang wajah polos bagai manusia tidak berdosa saja. Jangan lupakan gigi meringis. Kemudian kaki mundur beberapa langkah.

"Hati-hati, cari uang yang banyak. Sepertinya hari ini aku akan memakai credit card yang kau beri. Jadi, siap-siap mendapat tagihan." Tangan Leece melambai.

"Belajar dulu mencium yang benar." Faydor mengacak-acak rambut Leece, lalu keluar meninggalkan wanita itu sendirian. Dia tidak memiliki banyak waktu karena sudah ada janji.

Demi apa? Tidak marah dikecup? Leece padahal cepat-cepat akibat khawatir kalau mendadak didorong karena ditolak. "Tahu begitu, aku ajak french kiss sekalian."

Orangnya sudah pergi. Besok-besok lagi saja kalau mau reka adegan. Sekarang Leece bersiap dan ingin pergi jalan-jalan. Walau tak ada teman, setidaknya tak suntuk selama beberapa minggu terus berada di apartemen dan tak ada jadwal keluar.

Kebetulan sekali, mertuanya telepon dan mengajak ke pusat perbelanjaan. Hitung-hitung ada teman jalan-jalan. Jadi, Leece terima tawaran untuk dijemput di hunian. Lagi pula Faydor tidak memberinya mobil untuk bepergian. Katanya demi keselamatan karena tidak percaya dengan kemampuannya berkendara di jalan.

.....

Tak ada lagi awan putih di atas langit tanpa mendung. Semua terganti oleh kegelapan dan bulan sebagai penerang. Leece sampai lupa waktu karena seharian penuh berbelanja dan diajak makan oleh mertuanya yang begitu girang.

"Aku mau beli makanan dulu untuk suami. Siapa tahu dia pulang dalam kondisi lapar setelah kerja," ucap Leece sebelum meninggalkan area yang dipenuhi oleh tempat makanan dari berbagai negara.

"Faydor suka makanan yang simple, spaghetti, fettuccine," beri tahu Cathleen. Ia menyerahkan beberapa tas belanja pada supir supaya dimasukkan ke bagasi terlebih dahulu.

"Oh ... baru tahu. Baiklah, ku belikan itu saja." Leece menggandeng mertua menuju restoran asal Italia.

Beberapa saat menghabiskan waktu untuk menunggu pesanan jadi. Setelah itu, keduanya kembali ke mobil.

"Ada lagi tempat yang ingin kau tuju?" tanya Cathleen. Ia meminta supir supaya melajukan kendaraan.

"Tidak. Sudah terlalu malam juga. Takutnya Faydor pulang dan aku belum di apartemen."

"Tenang, aku sudah mengirimkan pesan padanya kalau istri cantiknya sedang ku culik dan ajak jalan-jalan." Cathleen menoel hidung sang menantu. "Aku senang, sekarang jadi merasa memiliki anak perempuan. Jangan sungkan-sungkan ajak aku main kalau suamimu pergi. Sesekali menginap di tempatku juga, supaya mansion ramai."

Leece mengangguk. "Pasti."

Sampai di depan gedung apartemen, dia melambaikan tangan seiring mobil mertua mulai menjauh.

Tangan kanan dan kiri penuh oleh belanjaan. Tadi sempat ditawari mau dibawakan supir, tapi ditolak.

Leece menekan susunan angka membentuk pasword untuk akses membuka pintu. Masih sangat sepi, sepatu yang tadi pagi dipakai Faydor juga belum ada di rak.

Untung Leece bukan penakut yang ditinggal sendiri lalu menangis. Dia meletakkan makanan yang dibeli untuk Faydor, ke atas meja. Kemudian masuk ke kamar dan menghempaskan tubuh ke ranjang.

Baru ingin menikmati otot-otot dan punggung mulai relax, telinga mendengar sedikit suara di kamar sebelah. "Faydor?" panggilnya. Namun, ia tidak pernah mendengar ada seseorang menekan tombol di pintu paling depan.

Tak ada sahutan, Leece ingin memastikan secara langsung. Mungkin saja suaranya saat memanggil kurang keras.

Menarik pintu, Leece terkejut, begitu juga dengan seorang pria yang baru saja keluar dari kamar suaminya.

"Galtero?" Ternyata kembaran Faydor. "Bagaimana kau bisa masuk?" Sepertinya pertanyaan itu tidak perlu dijawab karena memiliki hubungan saudara dengan suaminya. Jadi, meralat pertanyaan. "Ada apa datang ke sini?"

"Tak apa, mencari Faydor." Galtero begitu tenang walau pasti Leece sempat menganggapnya bagaikan maling yang diam-diam bisa masuk ke dalam.

"Belum pulang. Tunggu saja." Leece bergerak menuju dapur. "Mau ku buatkan minum? Atau soda kalengan?" tawarnya dan siap untuk menjamu sang ipar.

"Tidak perlu, aku pulang saja," tolak Galtero.

"Buru-buru sekali." Leece mengurungkan niat, jadilah ia menatap sosok pria yang siap meninggalkan apartemen suaminya.

Galtero tidak segera mendorong diri keluar, padahal pintu telah ditarik. Ia menengok lagi ke dalam dan menatap ipar bertubuh seksi meski dalam balutan pakaian yang tergolong tertutup rapi.

"Ada yang tertinggal, atau mau menitipkan pesan?" tanya Leece.

Menggeleng. "Tentang pernikahanmu dan Faydor. Apa kau sudah pernah bertanya dengannya kenapa mau menikahimu?"

Seketika itu Leece terdiam. Benar juga. Dia sampai lupa dengan alasan kenapa secara tiba-tiba Faydor mau menerima tawarannya. Terlalu sibuk dengan keinginan balasan cinta, hingga ia lupa tentang hal yang sama pentingnya.

*****

Mending gausah tau aja Leci, daripada tar mewek sakit ati loh wkwkwk

Buat yang mau baca ceritanya lebih cepat, bisa ke karyakarsa ya. Di sana udah ada 30 part

Continue Reading

You'll Also Like

1.7M 90.4K 43
Andhara cinta mati pada Batara-duda yang enggan menikah lagi sebab masih mencintai Syahla-mendiang istrinya. Namun, anak Batara-Ganesa, ingin memilik...
186K 15K 66
ใ€‹Sequel Love Makes Hurtใ€Š โ€ข โ€ข โ€ข Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra...
1.3M 79.8K 32
Setelah kisah asmaranya dengan kekasih yang telah dipercayanya selama hampir satu dekade kandas, berhubungan dengan pria -terutama pengkhianat- adala...
856K 53.7K 21
Shaka Alastair bersedia membayar Dhara untuk menjadi istrinya. Bayarannya tinggi, dengan kontrak yang jelas dan Dhara juga tak perlu melayani Shaka k...
Wattpad App - Unlock exclusive features