Those Eyes

By RN_1978

73.2K 6.2K 1.9K

" Diam adik kecil! Tangismu ga ada gunanya! " desis pemuda itu saat tangan kanannya mencengkeram erat pipi mu... More

Pengantar
A. Tasya dan Syibilla
B. Akhir Pekan
C. Sebuah Rasa
E. Are You Happy, Sya?
F. Feeling Blue
G. Imbalan
H. Bertemu
I. Roller Coaster
J. Broken Vow
K. Kejutan
L. Gelisah
M. It's Hurt !
N. Paundra Fernando
Disclaimer # bukan update
O. Please be happy, Syibilla
P. Kembali (Pulang)
Q. Senandung Realita
R. Sebuah Proses
S. Hujan, Kenangan, dan Harapan
T. Terungkap
U. Antara
V. Melepaskan Rasa
W. Say Hello to me
X. Nice to meet you
Y. Denting Hati
Z. Aamiinku yang Paling Serius
a. A New Chapter
b. Deep Talk ?
c. Alkisah sebuah Story
d. The Mission
e. Boyz Talk
f. Love is in the air
g. Kisah Mereka
h. Orang Lama
i. Dijodohkan
j. Satu Mimpiku
k. Melawan Dunia
l. Bukan Cinta Sesaat
m. A Day in (Our) Life
n. Resah Restu
o. Yang baru dan yang hilang
p. Jejakmu
q. Recovery Hati
r. Status Baru
s. Kenyataan
t1. Yang (tak) terungkap
t2. Keputusan Pahit
u1. Tracking
u2. Menyerah ?
v. Padamu, Luka
w1. Lepas Landas ...
w2. Bertaut

D. Bodyguard Pentas Seni

1.4K 119 12
By RN_1978

#Hai hai.. wah ga terasa udah 4 chapter aja ini cerita. PANAROMA emang mood banget ya, jadi ide ngalir aja kalau lihat mereka.
Btw, makasih banyak buat yang sudah mampir disini, apalagi komen dan kasih bintang.. ahhh senang nya kalau kisah ini ada yang menikmati.
Oke lanjut aja di chapter berikutnya yang makin seru ..semoga seru nya nyampai ke kalian yaa.
Regards #RN
_________________________________________

Hiruk pikuk persiapan pementasan sore nanti sudah mulai terlihat di halaman tengah sebuah SMA ternama di kota ini.
Beberapa siswa menggunakan jersey khusus dsn ber name tag hilir mudik dengan tugasnya masing².

Termasuk salah satunya seorang Anrez. Didapuk sebagai ketua panitia di event besar seperti ini.
Kerap berkomunikasi dengan HT di tangannya, ia berusaha memastikan semua persiapan berjalan lancar.

" Do, pastiin ya semua microphone fungsi oke lho ya. Gak ada kata kesalahan teknis kali ini. Zero fault. Oke! " titahnya pada Vido, seorang panitia yang juga teman seangkatannya.
" Oke bro! " sahut Vido di seberang sana.

Berada di bawah tenda panitia, ia mengecek semua kelengkapan dan kehdiran pengisi acara.
Acara masih sore nanti dimulai, namun persiapan menjadi ujung tombak utama untuk memperlancar semua rangkaian hingga usai.

Dari kejauhan matanya menangkap sosok yang berjalan mendekat. Senyuman segera terukir di bibirnya.
" Halo Syibilla " sapanya lembut.
Membuat beberapa teman di sekitar Anrez riuh mengoloknya. Karena Anrez akan otomatis berlaku lembut hanya di depan Syibilla. Tidak pada yang lain.

" Iya kak Anrez " sahut Syibilla pendek seraya mengangguk.
Anrez pun mengangguk pada perempuan yang melangkah di belakang Syibilla. Ia mengenal sosok itu sebagai kakak Syibilla, Tasya.

Salah satu sosok yang Anrez anggap selalu menghalanginya untuk mengantar Syibilla pulang. Selain supir Papa Tasya tentunya.
Apabila Tasya tidak bisa menjemput Syibilla, maka tugas menjemput Syibilla beralih di pundak Pak Agil, supir pribadi keluarga.

Pagi ini Tasya menjalankan tugasnya sebagai pengawal Syibilla. Membuat Anrez sedikit mati kutu karena tatapan tajam Tasya padanya saat ia mencoba berinteraksi dengan sang gadis incaran.
Syibilla tersenyum lega.
Setidaknya fangirl Anrez ga akan berkutik hari ini, karena tatapan membunuh Tasya bisa melelehkan siapa saja yang mencoba mengganggu Syibilla.
Seandainya Kak Tasya selalu ada di sisinya saat di sekolah, Syibilla akan berteriak riang.

Selama ini, hanya Anggis dan Syarla, teman terdekatnya yang selalu membantu Syibilla kala jadi sasaran fangirl Anrez.

" Semangat Bil.. udah main lepas aja, kamu udah bagus tanpa embel² banyak bumbu. " tepukan Tasya di punggung Syibilla saat namanya dipanggil untuk GR.
Dan, tentu saja, itu memberi semangat Syibilla melakoni tampilannya. Lancar, mulus tanpa hambatan.

" Ga ada kegiatan lagi kan? " tanya Tasya saat GR sudah usai.
" Persiapan perform aja kok Kak. "

Tasya menengok ke pergelangan tangan kirinya,
" Masih ada 4 jam dek, kita cari makan yuk. Aku laper. " ajak Tasya
" Boleh kak " Syibilla menyanggupi.
" Anggis sama Syarla ikut sekalian yuk. " ajak Tasya ramah

Anggis dan Syarla saling pandang, sebelum menjawab malu².
" Udah ayo ikut, sekalian biar rame " Ajak Tasya sambil menenteng tasnya di sebelah pundak. Tangannya kanan memainkan kunci mobil, bersiap membawa rombongan anak SMA di belakangnya.

********************
2 Jam sebelum perform dimulai.

Syibilla mulai bersiap di ruang kelas yang disulap sedemikian rupa menjadi ruanh wardrobe untuk pengisi acara.
Hiruk pikuk sudah tak bisa dilukiskan, apalagi pengisi acara yang perempuan. Butuh waktu untuk menata busana, juga rias wajah, rambut demi penampilan yang terbaik.

Syibilla merasa mempunyai team wardrobe khusus. Tasya dengan cekatan memakaikan jilbab di kepalanya, penuh ketelatenan, agar terlihat rapi.
Anggis bagian make up wajah. Sedangkan, Syarla yang punya koleksi asesoris bling bling tak kalah heboh untuk di mix match kan dengan konsep penampilan Syibilla.

30 Menit sebelum acara dimulai.

Tasya berpamitan pada Syibilla. Ia berjanji untuk duduk di bangku penonton dan mendokumentasikan penampilan adik tersayangnya.
Sebuah handycam sudah ada di genggamannya. Fit and slim.
Semua sudah ia siapkan sejak semalam, slot memory dan baterai yang mumpuni.
Sementara Syibilla masih berada samping panggung ditemani Anggis dan Syarla.

Perform ini sudah Syibilla siapkan sejak sebulan lalu. Antusias ini pun menular pada Tasya yang ingin melihat adiknya bersinar di atas panggung pensinya. Sebuah obsesi yang mungkin tak bisa dicapai Tasya saat sekolah dulu.

" Sya! " sebuah panggilan mengejutkannya, saat melangkah menuju bangku penonton dari ruang wardrobe.

Wajah Tasya sumringah saat melihat siapa yang menyapanya barusan.
" Hai Vin! " ia menepuk bahu Melvin, " akhirnya dateng juga lo. "
Pemuda itu hadir dengan penampilan seperti biasa, memakai Jaket sebagai pelapis t-shirt polos. Celana jeans hitan dengan sepatu sports kekinian. Sebuah tas kecil terselempang di depan dadanya. Rambut sedikit klimis, membuat wajah kuning langsatnya makin bersinar.

Melvin tersenyum,
" Kan gue udah janji kemarin. "
Tasya manggut² tanpa menghentikan senyum bahagianya. Lalu mengajak Melvin menuju bangku penonton.

Mereka duduk bersebelahan di deretan ketiga dari depan. Lumayan strategis untuk menikmati acara dan mendokumentasikannya.

Rangkaian acara pun dimulai.
Dari yang sifatnya formalitas seperti sambutan, tari pembuka dan sebagainya.

Syibilla tampil di tengah acara.
Cahaya lampu penonton diredupkan.
Fokus spot untuk Syibilla yang duduk di tengah panggung sambil memangku gitar, bersiap.
Tasya mulai menyiapkan kameranya, namun entah karena nervous atau apa, tangannya bergetar tak fokus.

Melvin yang menyadari itu, segera mengambil alih.
" Sini biar gue aja, ntar Syibilla ngamuk kalau gambarnya ngeblur semua" sempat²nya ia menggoda Tasya yang pasrah menyerahkan kamera itu pada Melvin.

Setelah mengucap salam, Syibilla pun memulai penampilannya.
Tepukan tangan sembari menyebut nama Syibilla mulai menggema.
Sejujurnya talenta Syibilla ini sangat dinantikan oleh siswa siswi di sekolah ini. Susah sekali mengajak Syibilla perform karena ia akan menolak, beralibi tak bisa menyanyi.

Tentu saja ia tak berkata jujur.
Suaranya pernah tak sengaja direkam teman sekelasnya saat ujian Kesenian di kelas X lalu, lalu disebar di media sosial. Viral lah Syibilla saat itu.
Bukannya bangga tapi Syibilla justru malu. Tak ingin menjadi yang terkenal, itu alasannya.

Maka ketika ia bersedia tampil di acara sebesar ini, suatu kebanggaan untuk panitia. Menemukan hidden gem yang dinantikan.

Sandarkan lelahmu, dan ceritakan
Tentang apa pun, aku mendengarkan
Jangan pernah kau merasa sendiri
Tengoklah aku yang tak pernah pergi

Bait awal lagu Pelukku Untuk Pelikmu mulai menggema. Syahdu dengan petikan gitar yang tepat.

Tasya bertepuk tangan lalu menangkup jemarinya, menatap kagum pada Syibilla di panggung sana.
Bersamaan pula penonton yang lain dengan reaksi serupa. Kilatan flash kamera dan cahaya dari layar Smartphone menebar dari berbagai sudut. Mengabadikan penampilan langka.

Bagiku, kau tetap yang terbaik
Entah beratmu turun atau naik

Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik-baik saja
Kita hanyalah manusia
Wajar jika tak sempurna

Koor suara penonton terdengar membuat suasana magis.
Tangis Tasya hampir pecah, namun sekuat tenaga ia tahan. Malu pada Melvin, karena lelaki itu beberapa kali menoleh ke arahnya.

Saat kau merasa gundah
Lihat hatimu, percayalah
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk

Lagu pertama dituntaskan Syibilla dengan manis. Lanjut ke lagu kedua, Driver License.
Penonton makin tak sungkan untuk ikut bernyanyi.
Melihat sambutan penonton yang meriah, rasa pede Syibilla pun meningkat drastis.

Dan lagu penutup penampilan Syibilla adalah Lagu Rindu milik Kerispatih.

Bintang malam, sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya

Embun pagi, katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

Tahukah engkau, wahai langit?
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya

Melvin melirik Tasya yang turut menyanyikan lagu ini. Sudut bibir kanannya terangkat sekjlas sebelum kembali fokus pada kamera.

Tepukan tangan meriah mengakhiri penampilan Syibilla. Melvin dan Tasya kompak memberikan standing ovation.
Sudah tak terlukiskan betapa bangganya mereka atas penampilan Syibilla tadi.

" Lo bangga banget ma Billa ya " Melvin menatap Tasya seraya mengangsurkan kamera ke empunya. Tasya tersenyum membalas tatap Melvin, membuat pemuda itu membeku sesaat.

" Billa itu adek kecil kesayangan gue. Dia yang bikin rumah jadi ada warnanya. Ga sepi lagi. " Tasya menerawang, masih dengan sunggingan senyum.

" mungkin kalau dia ga tinggal di rumah, gue bakalan jadi anak homeless saking ga betahnya di rumah yang sepi. "

Melvin mengangguk paham.
Sepaham bagaimana rasanya menjadi anak tunggal. Ia nyaris menjadi anak tunggal hingga usianya 14 tahun.
Hingga lahirlah sang adik yang merubah nasibnya menjadi anak sulung.

" Gue lihat lo suka ya ma Billa? " Melvin terkejut dengan pertanyaan Tasya yang menyelidik.
" Suka gimana?"

Tasya mengendikkan bahu setelah mendengar pertanyaan balik dari Melvin. Ia yang bertanya tapi entah di sisi hatinya merasa tidak siap apabila jawaban Melvin mengiyakan.

" Lo aneh Sya " alih² menjawab, Melvin justru melempar pernyataan.
Ajaibnya Tasya pun memutuskan untik menghentikan kekepoannya pada isi hati Melvin pada Billa.

Salahkan saja mulut lancangnya barusan, karena beberapa kali ia menangkap basah Melvin menatap ke arah Syibilla tanpa kedip, penuh kesan memuja.

Bahkan otaknya memutar memori interaksi Melvin dan Billa selama ini. Mereka makin dekat dengan obrolan yang mengalir. Bahkan Billa pun terkadang bersikap clingy pada lelaki dingin satu ini. Aneh bukan?

Sebutlah mereka saling tertarik, sebenarnya tidak jadi masalah kan?
Tapi ada satu sisi rasa mengganjal yang Tasya sendiri tak paham apa maknanya.

Di sisa akhir acara, Melvin dan Tasya banyak berbincang. Di luar kebiasaan mereka selama ini.
Tak jarang mereka pun bertukar pandang dan membagi senyuman.

Pentas seni hari ini pun berakhir.
Tasya menghubungi Syibilla untuk menunggunya di dekat ruang wardrobe tadi.

Berdesakan dengan penonton yang lain, membuat langkah Tasya terhambat.

Tiba² Melvin menyalipnya, mengubah posisi mereka. Kini Tasya berjalan di belakang Melvin. Menatap punggung tegap itu dari jarak sedekat ini, entah mengapa ada kesan berbeda.
Apalagi sejurus tangan kanannya ditarik Melvin untuk digenggam seolah tak ingin Tasya hilang.

Melvin benar2 memposisikan dirinya sebagai pengawal pribadi. Membelah kerumunan bocah² yang menghalangi jalan, untuk sekedar berswafoto.
Hal yang merugikan, batinnya. Tak bisakah mereka menepi untuk memberi jalan pada yang lain?

Gelenyar aneh merasuki Tasya, saat hangat genggaman Melvin yang makin erat. Ia serasa dihipnotis, tak mampu menolak. Ada rasa nyaman disana, rasa terlindungi.
Tuhan, Tasya merasa ini ada yang tidak benar.

Lanjut saat bertemu Syibilla yang ternyata sudah siap menuju area parkir. Dibantu oleh Anggis dan Syarla yang membawa property, mereka menuju area parkir.

Tasya dan Melvin tak sadar, mereka masih saling menggenggam.
Hal yang tak luput dari pandangan Syibilla. Namun ia tak berani bertanya² sekarang. Fokusnya hanya bagaimana mencapai parkiran tanpa ada gangguan.

Saat mobil Tasya sudah di depan mata, Melvin melepaskan genggamannya.
But why, Tasya terpaku sekali lagi. Merasa kehilangan. Atau seolah ada yang terlepas darinya.

" Sya.. halo? Sya.. " Melvin mengibaskan tangannya di depan wajah Tasya.

" Kak.. Kak Tasya.. eh dia ngebug " kekeh Syibilla sembari menjentikkan jari di depan wajah Tasya berulang kali.

Anggis dan Syarla pun tersenyum simpul melihat kelakuan Tasya.

Tepukan pelan di lengan Tasya lah yang menyadarkannya.
" Kunci mobilmu mana? " Melvin menatap wajah Tasya, menelisik dalam.

Gadis itu tersadar lalu merogoh tasnya dengan tangan yang entah mengapa seperti kehilangan tenaga, kunci mobil itu tak juga ditemukan.

" Kak Tasya ngantuk deh kayaknya. Maaf ya kak, aku bikin kakak capek seharian ", Syibilla merasa bersalah.
" Idih siapa yang bilang Kakak ngantuk dek " elak Tasya perlahan.

Tak lama, kunci itu pun didapatnya. Syarla, anggis dan Syibilla bergantian memasukkan barang ke bagasi. Lalu Anggis mohon diri karena sudah dijemput ayahnya, pun Syarla yang undur diri setelah kakaknya terlihat menunggu di dekat gerbang sekolah.

Saat Tasya akan membuka pintu bagian supir, Melvin menyodorkan tangannya, meminta sesuatu.

" Apa? " tanya Tasya pelan
" Biar gue yang nyetir, kamu gak fokus" tak sampai lama, Melvin menyambar kunci mobil Tasya tanpa persetujuan empunya.
Lalu menggiring Tasya ke pintu samping kiri depan. Membukakannya, lalu mempersilahkan Tasya masuk.

" Vin, ga usah.. gue gak ngan.. "
" Gak usah ngeyel lo, diem dah " usai menutup pintu Tasya, Melvin memutar ke arah pintu supir. Dan sekarang ia duduk manis menghadap setir.

" Vin, lo ngapain nyupirin kita? Gue bilang gue ga ngantuk. Masih bisa nyupir sampe rumah. Udah lu malah repot nanti. "

" Udah lah Sya, lu ga ngantuk tapi lu ga fokus. Orang nyupir itu perlu fokus. Biar ga celaka. "

" Enak aja lu bilang gue gak fokus. Vin .. please lah.. "

" Kenapa ? Lu takut ma cowok lu? "
Tasya tergagap mendengar pertanyaan Melvin.
" Lhah kenapa nyangkut Andra? "
" Abisnya lu ngeyel banget . Dah lah.. "
" Vin.."

Syibilla yang duduk di bangku belakang menegakkan punggung lalu menyandarkan dua sikunya di atas sandaran jok di depannya.

" Ehmm.. " deheman Syibilla mengehentikan debat kusir Tasya dan Melvin.

" Jadi gimana ini kakak²ku? Kapan kita bisa pulang? Aku udah ngantuk dan capek ini, please. Berantemnya lanjutin besok aja " Syibilla memandang bsrgantian Tasya dan Melvin.

" Kakak lu tuh Bil, ngeyel mulu. " sungut Melvin yang memasang seat beltnya.
" lhah gue lagi yang kena komplain. "

Melvin sudah tak menggubris omongan Tasya. Ia memilih melajukan kendaraan, keluar dari area parkir.

Sesaat suasana lengang. Hanya terdengar alunan musik easy listening dari mp3 mobil.

Tasya melongok ke bangku belakang, Syibilla ternyata sudah tertidur. Mobil berjalan konstan menyusuri jalanan kota. Waktu hampir mendekati tengah malam, namun hiruk pikuk kota masih terdengar, apalagi ini akhir pekan.

" Lu ga bawa kendaraan tadi ke sekolah? " tanya Tasya memecah kesunyian.

Melvin menggeleng, " nggak, gue naik ojol tadi. Lagi males bawa kendaraan, macet tadi jam segitu. "

Tasya menanggapi dengan ber ooh ria saja. Sesekali melirik ke samping kanannya, pembawaan Melvin yang memang kalem, terlihat dari caranya mengemudi.

Entah kenapa aura lelaki selalu terpancar keluar saat ia mengemudi.

Damn it!
Tasya memaki dirinya sendiri.
Melengoskan wajah menatap keramaian diluar kaca mobil. Mengalihkan fokus dari pria di sebelahnya mati²an hingga mereka sampai di rumah.

" Thanks Vin... hari ini.. lo ati² ya "
Sepenggal kalimat yang Tasya ucapkan saat Melvin berpamitan pulang malam itu. Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

Syibilla sudah bermimpi indah di kamarnya, untung saja tadi mudah membuatnya terbangun hingga tak perlu digendong keluar dari mobil.

Ojol yang dipesan Melvin sudah datang, membawanya pergi dari rumah Tasya dan segala kegiatannya malam itu.

Melangkah memasuki rumah, Tasya merasa ada yang janggal pada dirinya. Memandangi lekat telapak tangan kanannya. Hangat itu masih ada. Debarnya pun masih bisa ia rasakan.

Masih terngiang jelas segala perlakuan manis Melvin malam tadi. Ia merasa mempunyai pengawal pribadi. Kenyamanan yang entahlah ia tak bisa mendeskripsikan seperti apa.
Yang jelas, tak pernah Tasya dapatkan dari seorang Andra sekalipun akhir² ini.

Andra.. ahh..
Ia merutuki dirinya sendiri.
Baru mengingat nama itu dan bertanya², apakah ia sudah bermain diluar garis pada komitmennya?

Entahlah, Tasya tak mau berpikir jauh.
Sepertinya malam ini, ia tak akan bisa tidur nyenyak.

---------- bersambung ------------

#maafkan bila banyak typo
Panjang kan chapter ini.
Semoga suka ya.

Nah lho.. menurut kalian Tasya main api ga tuh? Dilanjut ga sih?

Krisan, vote dan komen tetap dinanti ya.. part² selanjutnya akan lebih seru sih.. semoga.. hehehe

See you guys..tengkyuu yang udh baca dan partisipasi.🥰🥰🥰

Continue Reading

You'll Also Like

61K 2.3K 38
"Ning kan cantik ya. pasti gampang cari suami yang lebih baik, lebih ganteng, dan lebih tua dari Gue." "Kalau takdir Saya adalah bocil bandel kaya ka...
307K 5K 69
[ 📌 PART of - MARRIAGE LIFE : Teman tapi Menikah |bab 1-60] _ Pasangan cewek sumbu pendek yang emosinya mudah sekali di pancing dengan cowok cool ba...
27.7K 2.5K 25
Tentang seorang gadis yang pertama kali jatuh cinta. Ia terlalu naif mengira bahwa hidupnya akan selalu baik-baik saja apalagi setelah mengenal sosok...
218K 5.5K 63
haii gayss !!💐 jadi ini cerita kedua aku sebelumnya aku pernah buat di akun yang pertama cuma udah lama dan gatau akun nya kemana, sekarang aku memp...
Wattpad App - Unlock exclusive features