Ohohoho kita ketemu lagi~
Semoga klean suka sama cerita ini yaw^^
Kali ini aku mau mempercepat alurnya gengs 😌
Happy reading!
•
•
•
•
•
"Baru pulang?"
"Ya selihatmu gimana?"
"Beneran kerja? Atau ngapel dulu ke rumah sekretaris-mu itu?"
"Aku baru pulang. Bisa gak, jangan ngajak berantem dulu? Aku capek!"
"Ya kamu pikir aku juga gak capek? Tapi aku usahain pulang tepat waktu tuh, gak sampai lembur."
"Itu 'kan kamu. Kerjaanku lagi banyak, proyek kantor lagi banyak yang bermasalah, gak mungkin aku pulang gitu aja disaat karyawanku pada lembur."
"Ya ya ya... Terus aja bawa kerjaanmu itu. Padahal ada udang dibalik batu sama sekretaris-mu yang cantik itu, ya 'kan?"
"Ella!"
"Apa!?"
"Kamu–"
"Apa, hah!?"
"Bisa gak, kamu tuh berpikir yang benar sedikit? Gak berpikir buruk sama suamimu terus, bisa gak?"
"Buat apa? Kamu kerja udah hampir satu bulan, apa pernah kamu pulang tepat waktu? Enggak, Tigra! Hampir satu bulan ini kamu tiap pulang kerja selalu telat, yang lembur lah, yang acara kantor lah, yang rapat dadakan lah, sampai bosen aku dengernya."
"Ya emang gitu kenyataannya!"
"Emang gitu? Atau ada maksud lain, karena sekretaris baru-mu itu?"
"Kamu nih ngomong apa sih!? Aku gak selingkuh! Aku kerja, puas!?"
"Loh? Aku padahal gak bilang kamu selingkuh tuh? Kenapa kamu bisa berpikir ke sana? Merasa?"
"Terserah kamu, aku capek!"
•
•
•
Helaan nafas terdengar berat dan panjang dari seorang Yoga. Ini sudah kesekian kalinya Yoga harus mendengar orang tuanya bertengkar. Tidak tahu apa permasalahannya, tapi yang jelas Yoga tahu itu karena sang mami yang selalu mengeluh kalau papinya pulang terlambat dari jam pulang kerja biasanya. Dan sudah hampir satu bulan ini.
Tv menyala dan menampilkan tayangan drama series yang sejak tadi tidak ia tonton, tapi justru sebaliknya. Kedua matanya menatap langit-langit kamarnya sembari tangannya yang ia gunakan sebagai penyangga kepala, meskipun bantal juga ia pakai.
Yoga ingin pergi rasanya dari rumah. Suasana rumah sudah tidak sehangat sebelumnya, yang biasanya jika jam seperti saat ini mereka biasanya berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. Tapi, sejak sang papi selalu pulang terlambat, semuanya terasa berubah. Yoga selalu merasa kesepian di rumah. Maminya juga bekerja dan pulang selalu sore bahkan mendekati petang, abangnya selalu pergi main entah kemana, dan terakhir salah satu penyebab masalah di rumah adalah papinya.
Yoga tidak ingin menyalahkan siapapun, yang Yoga inginkan hanyalah kedamaian dan suasana rumah hangat itu kembali seperti semula.
Ingin pergi pun, sudah malam. Jikapun ingin pergi, Yoga tidak tahu ingin pergi kemana. Ia tidak punya tujuan selain ke rumah teman-temannya. Tapi tidak mungkin. Sekarang sudah masuk jam istirahat untuk orang-orang, dan Yoga tidak mau mengganggu.
"Kenapa gue mendadak kayak Harvey kemarin? Apa perlu gue ngungsi ke rumah Vano? Siapa tahu gue bisa konsultasi gratis sama emaknya, kayak Harvey kemarin," pikirnya.
Helaan nafas kembali terdengar ketika Yoga meraih remote karena ingin mematikan tv yang menyala tapi tidak ia tonton. Yoga memilih untuk tidur saja. Tapi sebelum itu,
Drrrrttt– Drrrrttt–
Sebuah panggilan masuk dari temannya, sebut saja Harvey, berhasil membuat Yoga mengurungkan niatnya.
"Kenapa, Vey?"
•
•
•
Yoga, Harvey, Hafiz, Sean, dan Elvano, kelima pemuda tampan komplek Kanigara itu memilih untuk duduk di masing-masing kursi yang ada di depan minimarket. Karena mereka tidak membawa kendaraan, pergi ke tempat yang terdekat juga selalu menjadi tujuan mereka. Dan kali ini, sebuah minimarket dekat komplek lah yang menjadi tujuan mereka, lengkap dengan masing-masing cemilan yang mereka beli menggunakan uang Elvano.
"Kata gue ya, Ga. Mending lo nginep aja dah, di tempat Vano," kata Harvey yang membuat si tuang rumah yang disebutkan namanya lantas menatapnya.
"Gue tadinya juga mikir gitu. Siapa tahu emak gue dapet wejangan juga kayak emak lo dari emaknya Vano," timpal Yoga.
"Secara gak langsung rumah gue jadi posko pengungsian anak korban pertengkaran orang tua ya?"
"Gunanya teman kan gitu, Van. Ya gak El?" Hafiz yang diajak bicara disaat dirinya sedang mengupas kulit kuaci pun hanya mengangguk.
"Tapi dengar emak lo ngomong tuh, ikutan adem anjir Van." Timpalan Sean membuat Harvey menyodorkan tangannya untuk bersalaman, "Kita sama, brodi."
"Emak sama bapak lo, open adoption anak gak? Kalau iya, gue daftar nih." Setelahnya, yang Yoga dapatkan hanyalah dorongan kecil di kepalanya dari siapa lagi jika bukan Elvano sendiri.
"Kalau lo sejenis Lala mungkin udah diadopsi sama Carlos," timpal Elvano.
"Anjing!"
"Si Lala emang anjing kan."
•
•
•
"Anak-anak, ayo bangun! Udah pagi, sarapan dulu ayo!"
Cklek!
Rania yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya karena akan segera berangkat ke rumah sakit, menyempatkan dirinya untuk membangunkan sang putra yang ia yakini pasti masih tertidur. Dan Rania, dibuat menghela nafas oleh pemandangan di hadapannya hingga membuat tangannya terlipat di depan dada.
Sebuah pemandangan yang entah, bisa Rania katakan ia sudah merasa terbiasa ketika para teman anak-anaknya datang untuk menginap. Tapi Rania tidak pernah tahu jika mereka akan tidur dalam posisi yang cukup membuatnya heran, apakah tubuh mereka sakit atau tidak.
Bagaimana tidak, putranya sendiri tidur di atas kasur yang empuk dengan selimut yang melilit tubuhnya, lalu Yoga dan Harvey berada di karpet alas berbulu, Hafiz dan Sean berada di sofa dengan kepala Hafiz yang nyaman berada di paha Sean. Rania menduga jika kelima anak itu baru tidur pagi tadi.
"Pagi... Bun?"
Rania tersenyum saat si bungsu yang baru bangun langsung menyapanya, "Pagi sayang. Tidurnya nyenyak?" Dan Carlos mengangguk dengan senyuman sembari menghampiri Rania yang berdiri di depan kamar abangnya.
"Morning, Bun." Kali ini si sulung, Matteo yang baru selesai mandi dan sepertinya hendak ke bawah menyapa Rania.
"Kalian ngapain?" Tanya Matteo ketika melihat sang buna dan adiknya berdiri bersamaan di kamar Elvano. Begitu melihat, helaan nafas ikut terdengar dari mulut Matteo ketika melihat ke dalam isi kamar adiknya.
"Hh~ selalu aja. Kalau tidur posisinya gak pernah benar," keluhan Carlos kembali terdengar setiap ia melihat bagaimana teman-teman Elvano yang posisi tidurnya saling berlawanan.
"Orang mereka baru tidur tadi pagi."
"Kok abang tahu?"
"Abang baru pulang jam 2, terus lapar jadinya makan dan mereka baru tidur jam 3 mungkin."
"Kamu pulang pagi lagi?" Pertanyaan Rania kini membuat Matteo menatapnya. Kemudian cengiran bahkan senyuman ia berikan untuk sang buna.
"Ya sudah sana, langsung sarapan di bawah. Adek juga, basuh mukanya dulu terus ke bawah ya?" Ucapan Rania membuat kedua anaknya lantas pergi ke arah yang berbeda. Matteo menuruni tangga, sedangkan Carlos ke kamar mandi yang berada di samping kamar Matteo.
Sementara Rania masuk ke kamar Elvano guna membangunkan putranya serta teman-temannya.
Sebenarnya Rania tahu jika anak-anak itu baru tidur pagi tadi. Terlebih, ketika Rania bangun, ia berpapasan dengan Hafiz yang keluar dari kamar mandi dekat dapur setelah mengambil wudhu, saat ia akan bersiap untuk memasak.
Malam tadi, Rania mendadak dihubungi Elvano perihal meminta izin jika teman-temannya ingin menginap. Rania tidak menanyakan alasan tersebut, karena tiba-tiba saja Elvano bertanya apakah ia sibuk atau tidak, hingga akhirnya ia mengerti kenapa teman-teman putranya itu ingin menginap.
Menemani Yoga, katanya seperti itu.
Yoga semalam bercerita banyak pada Rania, perihal apa yang dialaminya. Rania pun dengan senang hati bersedia menjadi pendengar yang baik. Rania paham, kenapa teman-teman anaknya sangat nyaman ketika memilih untuk menginap lalu menceritakan masalah mereka padanya, meskipun dirinya bukan psikolog yang dapat memahami pribadi mereka masing-masing.
Rania jadi tahu, kenapa Yoga menginap di rumah keluarganya. Rania jadi tahu, permasalahan apa yang sedang terjadi pada keluarga Yoga dari sisi Yoga sendiri. Dan Rania juga jadi tahu, kenapa beberapa hari belakangan ini, tetangganya itu alias keluarga Yoga jarang sekali terlihat ikut berkumpul ketika ada acara di rumah tetangga yang lainnya.
Jadi, Rania berusaha semampunya memberikan sedikit nasihat dan solusi pada Yoga, tentang bagaimana ia harus menyikapi permasalahan keluarga yang sedang dialaminya. Dan Rania berharap, jika itu dapat membantu entah ketika Yoga pulang ke rumahnya atau nanti.
Drrrrttt~
Papski:
Yoga, kamu beneran gk mau pulang? Main kmn kamu?
Ibunda Negara:
Km main kmn nak? Yoga, plg sayang.
Kabarin mami kalau km baca ini.
Hendry Sompret:
BALIK WOY BALIK UDH PAGI BRENGSKI
Melihat ponsel Yoga yang layarnya menyala dan menampilkan pesan masuk dari kedua orang tua serta kakaknya, membuat Rania langsung meraih ponselnya sendiri yang ia kantongi di celananya. Jarinya bergulir mencari nama orang tua Yoga, bermaksud ingin memberitahu bahwa putra mereka baik-baik saja di rumahnya.
"Halo? Mbak Ella? Ini Rania, mbak."
•
•
•
"Yoga! Akhirnya kamu pulang nak!"
"Jangan kabur lagi ya? Maafin Mami sama Papi."
Yoga yang baru menapaki kakinya di rumah karena ia sudah ingin membasuh tubuhnya alias mandi, dikejutkan dengan kedua orang tuanya yang langsung memeluknya. Yoga dibuat bingung, karena seharusnya kedua orang tuanya itu sudah berangkat bekerja. Tapi kenapa ini masih ada di rumah? Bahkan Mami masih terlihat memakai piyama, dan Papi masih memakai celana pendek kesayangannya.
"Lah? Ngapain Mami sama Papi di sini? Bukannya kerja," kata Yoga yang masih berada dalam pelukan sang mami.
"Gimana kami mau kerja, kalau anak bontot aja gak pulang dari semalam. Main ke rumah Vano gak bilang, bikin khawatir aja."
"Besok-besok, kalau mau main tolong bilang sama Mami atau Papi, ya?"
Yoga hanya terdiam menatap orang tuanya secara bergantian. Sebelum akhirnya menghela nafas. Tubuhnya ia luruhkan pada sofa, yang membuat Ella dan Tigra ikut mendudukkan diri di samping putra bungsu mereka.
"Gimana aku mau bilang, kalau Mami sama Papi tiap hari ada aja yang diributin. Abang selalu pergi nongkrong kalau malem. Aku tuh sebenarnya capek, Mi, Pi. Tapi aku kadang bingung kalau mau lerai tuh gimana, mulainya dari mana, gak paham. Jadi tolong, kalau Mami sama Papi mau debat atau berantem dan sebagainya jangan di rumah, ya?"
Dan pada akhirnya Yoga mengatakan apa yang ingin ia katakan. Sudah cukup lama, tidak juga sih, hanya beberapa hari terakhir Yoga mendengar kedua orang tuanya selalu berdebat ketika sudah bertemu. Semalam, ia menginap di rumah Elvano dengan tujuan memang meminta solusi dari ibunya. Seperti yang dilakukan Harvey beberapa waktu yang lalu.
Apalagi ketika ia ingin bercerita dengan kakaknya, orang itu terkadang sudah lebih dulu pergi ke tujuannya. Entah main atau kuliah. Selalu begitu, jadi membuat Yoga bingung kalau ingin menceritakan segala gundah gulananya. Kalau kata Yoga, Hendry adalah kakak yang tidak berguna.
Mendengar apa yang dikatakan Yoga membuat Ella lantas memeluk putranya, sedangkan Tigra mengusap kepala Yoga dan menepuk-nepuk pelan punggung putranya itu. Keduanya saling bertatapan, ada perasaan bersalah pada keduanya. Karena selama ini, mereka selalu berdebat di rumah mengabaikan kehadiran kedua putranya yang kemungkinan akan mendengar semua pertengkaran mereka.
"Maafin Mami sama Papi, sayang. Maaf, Mami sama Papi gak mikirin adek sama abang di rumah. Maaf, Mami sama Papi udah bicara tadi dan Tante Rania juga udah jelasin ke Mami. Semuanya memang salah paham antara Mami sama Papi, sayang. Maaf ya?" Untaian kalimat yang dikatakan oleh Ella, membuat Yoga lantas menganggukkan kepalanya.
"Papi minta maaf, Papi sama Mami memang ada sedikit masalah di tempat kerja. Seharusnya gak dibawa ke rumah dan buat semuanya runyam. Tapi Papi minta, besok-besok kalau mau nginap di rumah teman, seenggaknya kabarin Mami atau Papi. Jangan main nyelonong aja, ngerti?" Lagi, Yoga hanya bisa mengangguk setelah mendengar ucapan Tigra.
"Uwiiiiih! Bocil meresahkan dah balik! Nginap di rumah orang tuh ngomong, cil! Keren lo gitu, ha?!"
"Berisik lo ah! Mi, anak pungut tuh berisik!"
"Heh! Ngomong ape lo?!"
"Hih ngiming ipi li?!"
PLAK!
"Sakit anjir! Mi~ dahiku sakit~" Suara tamparan renyah yang mendarat sempurna di dahu Yoga yang dilakukan oleh Hendry, sukses membuat sang adik meringis kesakitan hingga mengadu pada sang mami.
"Nyinyinyi bocil meresahkan."
"Abang... Udah. Jangan digangguin adeknya." Mendengar ucapan sang mami justru membuat Yoga merasa menang. Hingga menjulurkan lidahnya ke arah Hendry, yang membuat laki-laki keturunan Tionghoa itu ingin sekali melempar adiknya dengan piring makan.
"Abang! Udah. Kamu mending makan sana, habis itu mandi. Jorok banget dari kemarin gak mandi." Hendry memilih melengos menuju dapur setelah mendengar ucapan papinya.
"Adek juga mandi, nanti ikut Mami sama Papi pergi," kata Ella.
"Beli sepatu baru, Mi."
"Heh! Gak usah ngelunjak! Sana mandi."
"Ck! Iya iya. Bang!" Yoga lantas beranjak dari duduknya, namun sebelum itu ia menghampiri Hendry di meja makan yang sudah berkutat dengan makanannya.
"Hm."
"Omongan lo bener. Papi nyebelin kalo soal duit."
"Anaknya, bukan? Kok baru tahu?"
"Heh! Papi denger! Cepet mandi sana nanti kita pergi."
"Iyaaaaaaaa~"
To be continue...
•
•
•
•
•
Haloooo
Long time no see y'all
Akhirnya aku update, setelah sekian lama wkwk
Btw, aku cuma mau bilang kalo aku gak bisa update yang terjadwal gitu. Karena aku sebenernya cuma menuangkan isi pikiranku, yaaaa sebut aja aku cuma iseng-iseng berhadiah gais :")
So sorry, kalo kesannya nih cerita lamaaaaa banget baru update 🙏🏻🙏🏻 But, aku selalu berterima kasih sama kalian yang udah mau mampir baca cerita ini. Yang aku sendiripun sudah memantapkan kalo gak akan terlalu panjang, tapi ya bingung kudu kumaha iyeu urang 😔
Overall, thanks for all of you who have to read this story.
See ya in the next chapter 🤟🏻👋🏻