= Papa Muda =

By RE_01Line

51.9K 5K 546

- Jungwon Harem - Ini kisah Yang Jungwon si Papa muda penarik hati dan Putra kecilnya. Start: 02-05-2023 End- More

01.
02.
03.
04.
05.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20
21.
22.
23.
24.
25

06.

2K 222 15
By RE_01Line





Hari ini Jungwon akan memulai harinya sebagai seorang pelajar lagi. Tepatnya sebagai seorang Mahasiswa baru disalah satu Universitas yang cukup terkenal di Korea.

Sebelum Jungwon berangkat terlebih dahulu ia mengantarkan sang buah hati ke Daycare yang memang kebetulan sekali tempatnya tidak terlalu jauh dari komplek Apartementnya.

"Ingat apa pesan Appa? " Jungwon memakaikan Jiwon topi serta mengeratkan jaket yang Jiwon pakai.

"Tidak boleh bicara sama orang asing. Jiwon gak boleh nakal. Gak boleh kelelahan. Terus harus nelpon Appa setiap 30 menit " Saut si kecil seraya menggerakkan jari-jari munggilnya seperti sedang berhitung. Sang Appa mengangguk.

"Nomor berapa yang harus Jiwon pencet kalau mau nelpon Appa? "

"Nomor satu! " Dengan senyuman lebar Jiwon menunjukan satu jarinya ke pada sang Appa.

"Anak pintar" Jungwon dengan gemas menjawil kedua pipi Jiwon kemudian memeluknya dengan sayang.

"Maaf ya Jiwon karena Appa harus meninggalkan Jiwon disini, Appa berjanji setelah Appa pulang kuliah Appa pasti akan langsung menjemput Jiwon"

Sebenarnya berat bagi Jungwon menitipkan Jiwon di tempat ini. Tapi apa boleh buat? Jiwon masih terlalu kecil untuk ia bawa ke lingkungan Universitas yang mungkin tidak akan cocok untuk anak kecil seperti Jiwon. Di tambah peraturan Universitas melarang orang luar yang tidak memiliki kepentingan penting untuk memasuki wilayah Universitas.

"Jiwon mengerti Appa" Pelukan di lepas setelah Jiwon memberikan kecupan manis di pipi sang Appa.

"Jiwon akan menunggu Appa , jadi Appa yang semangat ya kuliahnya hihi" Jungwon tersenyum haru dan mengangguk.

Jungwon merasa sangat beruntung karena mendapatkan putra yang sangat pintar dan pengertian seperti Jiwon.

"Dadah Jiwon! "

"Dadah Appa! "

Ayah dan Anak itu saling melambaikan tangannya.
Interaksi keduanya tak luput dari pengamatan para pegawai. Beberapa diantara mereka masih tidak menyangka kalau Jungwon adalah Ayah satu anak.
Bagaimana tidak, di dalam formulir jelas ter-tera kalau Jungwon itu masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ayah dengan usia anak 4 tahun.

"Entah bagaimana dia bisa melewati hari dengan merawat putranya tanpa sosok seorang Ibu" Gumam salah satu pegawai pelan, yang kemudian mengajak Jiwon masuk kedalam untuk bergabung bersama dengan Anak-anak lainnya. Sementara Mobil Jungwon mulai melaju meninggalkan parkiran.



...


"Ah iya. Hari ini hari pertama Jungwon kuliah"
Sembari memarkirkan mobilnya Jungwon menjawab panggilan telepon dari sang Kakek.

" Lalu Jiwon nya bagaimana? "

"Jungwon baru saja mengatar Jiwon ke Daycare. Tempatnya dekat kok sama Apartement Jungwon. Kakek gak usah khawatir, Setelah Jungwon pulang kuliah Jungwon akan langsung jemput Jiwon"

Sampai di lobi gedung Apartement Jungwon segera menekan tombol lift. Ia masih memiliki waktu sekitar 30 menit sebelum pergi ke Universitasnya. Itu Cukup untuk membersihkan dirinya. Dan mungkin juga bisa memberikan perutnya beberapa potong sandwich.
Karena saking cemasnya Jungwon pada Jiwon yang akan ia titipkan di Daycare, fokusnya hanya tertuju untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang Jiwon perlukan. Seperti sarapan Jiwon, kotak makan siang Jiwon. Baju ganti Jiwon. Mainan kesukaan Jiwon.
Jungwon sampai melupakan keperluan dirinya sendiri . Melupakan kalau perutnya belum ia berikan sarapan. Melupakan kalau dirinya belum membersihkan diri padahal sebentar lagi ia akan mulai berkuliah.

"Baiklah Kakek merasa lega mendengarnya. Kalau begitu Kakek tutup dulu telponnya. Kamu juga harus segera pergi ke Universitas mu bukan? "

"Umm, jaga kesehatan dan jangan terlalu menghawatirkan Jungwon dan Jiwon disini. Jungwon sayang kakek"

Tut.

Panggil ditutup tetap ketika pintu Lift terbuka yang memperlihatkan sosok pemuda yang pernah Jungwon temui sebelumnya.

"Oh! " pemuda itu nampak sedikit terkejut ketika melihat Jungwon.

Jungwon menundukan sedikit kepalanya tanda kesopanan.

Lalu memasuki liftnya.

Jungwon menunggu pemuda itu untuk bergerak keluar dari dalam Lift tanpa melirik nya. Namun Sampai beberapa menit kemudian pemuda disampingnya ini tak kunjung menujukan tanda-tanda keluar dari dalam Lift. Jungwon pun akhirnya menoleh ke samping.

"Apakah anda tidak ingin keluar? " Tanya Jungwon heran.

Pemuda itu malah tersebut manis bukannya menjawab. Jungwon mengerutkan keningnya.

Aneh. Begitu pikirnya.

Bersikap tak peduli, Jungwon menekankan tombol lift sehingga membuat pintu lift itu tertutup dan membawanya naik ke lantai 3. Bersama si sosok pemuda.

"Jihan bagaimana? Apakah sudah di jemput sama Heeseung? " Didalam keheningan tiba-tiba pemuda itu bersuara. Tubuhnya sedikit menyerong ke arah Jungwon. Tangannya terlipat didepan dada dan setengah tubuhnya bersandar di din-ding lift.

Jungwon menoleh " Sudah" sautnya dengan singkat. Lalu kembali menatap ke depan.

"Heeseung bukanlah Paman yang buruk seperti yang lo pikirin. Ya mungkin dia memang sedikit ceroboh tapi dia bukan paman yang buruk. Gue bisa jamin"

Jungwon kembali menoleh ke pemuda itu. Dan mendengarkan setiap kalimatnya.

"Asal lo tau aja, Jihan adalah satu-satunya keluarga yang saat ini masih Heeseung miliki. 3 bulan yang lalu Ayah Jihan meninggal karena kecelakaan"

Membuat Jungwon seketika di liputi rasa bersalah.

Bagaimana ia bisa dengan mudah memaki Paman Jihan seperti kemarin? Tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.




"Btw... Kita belum kenalan"

Pemuda itu mengulurkan tangannya dengan senyum menawan yang tak pernah luntur menghias wajah tampanya.

Jungwon dengan perasaan yang campur aduk karena rasa bersalahnya pada Paman Jihan itu menyambut uluran tangan Pemuda itu.

"Nama gue Sunghoon. Park Sunghoon. Lo bisa ngomong santai sama gue gak perlu formal banget. Kesannya kayak ngomong sama bapak Presiden gue" Pemuda itu. Park Sunghoon terkekeh renyah. Jungwon hanya bisa menanggapinya dengan senyuman tipis. Hatinya masih sedikit gelisah akan kesalah pahamannya terhadap Paman Jihan.

"Gue penghuni lantai 4, unit 15. kalau lo butuh sesuatu lo bisa dateng minta bantuan sama gue" Sunghoon mengedipkan sebelah matanya.

"A... Terimakasih. Nama gue Jungwon. Yang Jungwon"

"Nama yang bagus" Jabatan tangan mereka terlepas begitu pintu Lift terbuka di lantai tujuan Jungwon.

Jungwon segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam Lift sedangkan Sunghoon tetap di posisinya. Jungwon berbalik menatap Sunghoon.

"Sampai ketemu lagi Jungwon" sebelum pintu lift itu tertutup. Sekali lagi Sunghoon mengedipkan sebelah matanya kepada Jungwon.

"Gue harus minta maaf" Jungwon memukul kepalanya pelan. Merasa kesal atas tindakan yang sudah ia lakukan kemarin pada Paman Jihan. Seraya berjalan menuju unit Apartementnya.

"Paman Jihan tinggal di Unit berapa ya? " Jungwon sempat berhenti di depan unit Apartement nomor 10 yang sepertinya milik pemuda bersurai Blonde yang kemarin sempat ia lihat.

"Apa nanti coba gue tanyain? "

Jungwon ingat kalau kemarin dia lupa memberikan tetangganya kue sebagai bentuk tanda perkenalan darinya. Jadi Jungwon berencana setelah pulang kuliah dan menjemput Jiwon. Ia akan mampir ke Mall untuk membeli beberapa makanan untuk diberikan kepada para tetangganya. Sekalian ingin bertanya di unit berapa Paman Jihan itu tinggal.




Papa muda satu anak ini mau pergi kuliah dulu ya hyung ☺






Continue Reading

You'll Also Like

65.1K 7.9K 18
Ayah tu emang ngeselin, tapi Ayah will always my best Hero - Ni-Ki Meskipun Papa kayak Ibu-ibu rese, tapi Papa tetap jadi Papa kesayangan aku. Oh iya...
19.3K 577 8
Yaaa gitu deh 🌚✨
21K 1.1K 11
kisah hidup yang rumit dan berliku ... kisah jungwon dan para beodjang enha
9.6K 757 29
⚠ 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐭𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐢 𝐣𝐮𝐝𝐮𝐥 ⚠ 𝐄𝐫𝐚 𝐊𝐲𝐮𝐡𝐨𝐨𝐧 𝐆𝐤 𝐬𝐮𝐤𝐚? 𝐒𝐤𝐢𝐩 𝐏𝐨𝐤𝐨𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐝𝐞𝐡 ya😉😉
Wattpad App - Unlock exclusive features