Selamat membaca!
.
.
.
.
.
Intensitas ketukan pada pintu menebal seiring berjalannya waktu, membuat seseorang yang berada di dalam berulang kali berusaha mempertahankan titik fokus. Lin Yi sangat tidak suka diganggu jika sedang membaca dokumen penting agar tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun pada proyek besar. Dia memberi instruksi kepada para bawahan untuk tidak masuk ke dalam ruangan selama beberapa jam mendatang. Namun, belum ada sepuluh menit, seseorang datang untuk memohon kematian.
Lin Yi membangkitkan diri secepat kilat, menuju ke pintu dengan membawa serta aura bahaya. Dia baru saja akan melayangkan perintah pemberhentian kerja, tetapi urung dilakukan ketika melihat sosok yang berdiri di depan ruangannya. Melihat wajah datar yang sangat dikenali, kekesalan memudar seketika, digantikan dengan bubuk-bubuk keceriaan. Senyum lebar berbaur menjadi satu dengan raut keheranan. Tidak pernah menduga bahwa yang datang adalah keponakan kecilnya. Kedua tangan bertengger di lengan sang keponakan, sedikit meremas ketika tidak sengaja menyentuh otot-otot kekar yang memabukkan. Dia baru sadar jika sebutan keponakan kecil sudah tidak lagi sesuai dengan maknanya. Lelaki tampan yang dulunya memiliki tubuh lebih kurus dari Lin Yi, kini tampak seperti raksasa.
Terlalu asyik mengagumi hingga tanpa sadar waktu telah terbuang dengan sangat sia-sia. Tidak ada kalimat sapaan untuk sementara waktu, hanya ada wajah penuh kekaguman milik Lin Yi yang tiada henti meneror manik mata Chen Yu.
"Sangat kekar! Bagaimana kamu menciptakan otot mengagumkan ini?" tanya Lin Yi pada akhirnya. Dia semakin membelai otot Chen Yu hingga sang pemilik sedikit banyak merasakan ketakutan.
"Olahraga setiap hari," sahut Chen Yu singkat, padat, dan jelas. Bersamaan dengan itu, dia melangkah mundur. Tidak ingin mengambil resiko bahwa sang paman akan jatuh cinta kepadanya jika berlama-lama melakukan adegan intim yang sangat tidak enak dipandang.
Salah satu ujung alis Lin Yi menukik tajam, menatap lamat-lamat ke arah Chen Yu demi mengetahui sesuatu yang tersimpan di dalam netra itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami apa yang terjadi, terlebih lagi ketika menangkap gurat kengerian pada wajah sang keponakan.
Lin Yi merasa tertarik untuk memberi penjelasan dengan tekanan di setiap kata, "Aku hanya mengagumi tubuhmu. Tidak ada rasa suka, mustahil bagiku menyukai bocah ingusan sepertimu."
Chen Yu hanya menanggapi dengan dengusan. Menatap lurus ke dalam ruangan Lin Yi, dia segera melesat ke sofa yang terlihat sangat nyaman. Berjam-jam duduk tidak nyaman di dalam pesawat, membuat tulangnya nyaris remuk. Rencana untuk tidur hancur berkeping-keping, selama tidak sedang dalam posisi berbaring, mata sangat sulit untuk tertutup. Sehingga ketika melihat adanya sofa panjang nan empuk yang pantas dijadikan tempat tidur, Chen Yu segera merebahkan diri tanpa mempedulikan tanggapan dari pihak lain. Napas lega berembus ketika tubuh direbahkan. Dia dengan cepat menutup mata demi berimigrasi ke alam mimpi.
"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" Kebingungan singgah pada diri Lin Yi ketika menyadari bahwa sang keponakan bisa sampai ke perusahaan itu dengan sendirinya. Chen Yu pergi ke luar negeri tanpa sepengetahuan Lin Yi maupun Xiao Sa.
Meski masih setia menutup mata, Chen Yu menjawab dengan penuh kejelasan, "Mencari melalui internet."
"Kenapa tidak langsung pergi ke rumah? Xiao Sa hari ini ada di rumah seharian," perkataan Lin Yi membuat mata Chen Yu terbuka seketika. Ada banyak kerinduan di dalam manik mata gelap itu, siapa pun yang melihat pasti tahu seberapa besar keinginan untuk bertemu sang adik menetap di hati Chen Yu.
"Alamat rumah Paman tidak ada di internet." Chen Yu menatap lurus ke depan, penuh kekosongan yang tak berdasar. Keinginan untuk bertemu Xiao Sa memang sudah tidak dapat ditahan lagi, tetapi dia ingin memberi kejutan kepada semua orang. Dia juga merasa takut jika kehadirannya sama sekali tidak diterima oleh Xiao Sa. Jika hal itu benar-benar terjadi, apa yang harus dia lakukan? Setidaknya dia butuh Lin Yi untuk menjadi seorang penengah.
Lin Yi tahu bahwa perkataan Chen Yu tidak lebih dari sebuah bualan. Jika memang lelaki tampan itu berniat datang ke rumah, dia tidak ragu untuk menanyakan alamat. Chen Yu adalah orang yang terang-terangan dan bertindak cepat, sangat aneh jika dia tidak langsung datang ke rumah. Lin Yi yakin pasti ada sesuatu yang menahannya sehingga dia tidak lagi memperpanjang masalah agar tidak memperkeruh suasana.
Lin Yi berjalan menuju ke meja kerja, merapikan dokumen yang berserakan. Dia tidak lagi mempedulikan dokumen penting yang sejak tadi dia geluti. Dia ingin segera mengantarkan sang keponakan yang sedang memperjuangkan kedamaian. Mengirim pesan sejenak kepada Xiao Sa untuk menyuruh para koki memasak banyak makanan dengan mengatakan bahwa rumah akan kedatangan tamu istimewa.
Xiao Sa menjadi bingung dibuatnya. Selama tinggal di rumah Lin Yi, tidak sekali pun dia mendapati tamu penting. Lin Yi lebih memilih untuk bertemu dengan partner bisnis di luar rumah. Lalu, siapa kira-kira tamu istimewa itu? Apakah itu adalah kekasih Lin Yi? Xiao Sa tersenyum cerah seketika di kala mengambil persepsi seenak jidat. Dia mulai menyuruh para koki untuk memasak makanan yang romantis, bahkan dia sengaja terjun langsung demi membantu para koki. Bagaimanapun, jiwa anak muda banyak mengetahui tentang hal-hal romantis di dalam percintaan masa kini. Xiao Sa yakin dia akan memanen banyak pujian dari sang paman nanti.
Makanan siap di atas meja bersamaan dengan seorang bibi memberi aba-aba tentang kedatangan Lin Yi. Xiao Sa segera berlari ke jendela demi mengintip sedikit. Melupakan apron yang masih melekat kuat di tubuhnya, bahkan dia tidak sadar jika ada tepung yang menempel di wajah. Begitu besar rasa penasaran dan berharap untuk mendapatkan secuil informasi. Tubuh Xiao Sa membeku di tempat kala mata memandang ke arah lelaki tampan yang berjalan di sisi sang paman.
Sedikit demi sedikit getaran merambati tubuh Xiao Sa. Air mulai menyatu di sudut mata. Kaki begitu lemas seolah tidak dapat menopang tubuh dengan benar. Meski demikian, ada sedikit senyum tipis di bibir ranum ketika bertemu kembali dengan sosok yang dirindukan. Namun, senyum itu tidak berlangsung lama. Wajah kembali datar saat berada di jarak dua meter dengan sang kakak. Xiao Sa bertingkah seakan-akan mengabaikan Chen Yu, dia hanya fokus kepada Lin Yi. Meraih tas yang ada di genggaman sang paman sembari berseru, "Paman pulang lebih awal."
Chen Yu tidak banyak berbuat apa-apa. Dia berdiri dengan tatapan kosong menuju ke arah sang adik yang tampak ceria kepada orang lain. Sedangkan kepadanya, hanya ada aura dingin yang dipancarkan. Lin Yi diam-diam melempar tatap ke arah si kembar bergantian. Dia sama sekali tidak memiliki inspirasi, bagaimana cara memulai penyatuan si kembar kembali. Sebenarnya, hanya Chen Yu yang bisa memulai. Namun, entah mengapa lelaki tampan itu terlalu betah dalam kebungkaman. Mau tidak mau, Lin Yi harus membantu sedikit.
"Chen Yu baru saja tiba," ucap Lin Yi secara acak. Tidak mempertimbangkan betapa konyol ucapannya tersebut.
Xiao Sa menatap geli kepada sang paman, masih dengan ribuan pengabaian untuk Chen Yu. Dia terkekeh penuh kecanggungan. "Paman, aku tidak buta."
Merasakan suasana sedikit lebih membaik, Chen Yu maju satu langkah. Mendekat ke arah Xiao Sa dan memanggil dengan hati-hati, "Xiao Sa."
Baru di saat itulah pandangan mata Xiao Sa tertuju ke arah Chen Yu. Dia memiringkan kepala untuk sementara waktu, tetapi tetap diam seribu bahasa. Pada akhirnya, Chen Yu kembali bersuara, "Bagaimana kabarmu?"
"Eum?" Wajah Xiao Sa dipenuhi oleh kebingungan. Perlahan-lahan, kebingungan memudar ketika sebuah kalimat sindiran dilontarkan, "Ah, masih ingat aku rupanya."
Lagi-lagi, Chen Yu membeku di tempat. Dia tahu akan sangat susah membujuk sang adik jika sudah begitu. Setelahnya, dia benar-benar tidak bersuara. Menghargai ketidaknyamanan Xiao Sa akan dirinya. Ketika di meja makan pun lelaki manis itu hanya membuka kotak percakapan dengan sang paman. Dia diabaikan, kehadiran tidak dianggap seperti makhluk tak kasat mata. Alhasil, Chen Yu tidak dapat menelan makanan dengan baik. Hanya makan beberapa suap sebelum berpamitan ingin membersihkan diri. Dia berharap mendapatkan sedikit atensi dari Xiao Sa. Namun sayang, lelaki manis itu masih betah berdiam diri di tengah-tengah perang dingin saudara.
Chen Yu hampir menyerah, berpijak di bawah guyuran air agar kepala kembali dingin. Meski demikian, keributan di dalam kepala tidak juga mereda. Dia masih memikirkan tentang cara terbaik membujuk Xiao Sa. Pada dasarnya, dia adalah tipikal orang yang kaku. Tidak ahli dalam memahami perasaan orang lain. Akibatnya, dia memakan waktu berjam-jam hanya untuk memikirkan sebuah cara yang belum didapat sama sekali.
Getaran merambati tubuh Chen Yu. Dia menggigil merasakan hawa dingin. Gigi bergemeletuk hebat, berusaha keras ditahan. Namun, semakin besar usahanya, semakin besar pula tingkat kegagalan. Dia benar-benar tidak sanggup lagi terkena guyuran air. Harus menyelamatkan diri sebelum dagingnya mengembang seperti mayat yang mengambang di lautan.
Chen Yu sangat ingin tidur di kamar yang sama dengan Xiao Sa seperti di masa lalu. Namun, tidak mungkin bisa sebab situasi belum memungkinkan. Mau tidak mau dia harus menghabiskan malam di ruang tamu. Dia mulai mengeluarkan barang-barang dari koper, berniat untuk menata dengan rapi di dalam lemari. Tidak sengaja netra memandang ke arah kotak kecil yang beberapa jam lalu dia letakkan di atas koper. Meraih dan membuka, senyuman kembali terbit di wajah Chen Yu ketika membaca tiga nama tempat yang akan dia kunjungi bersama sang adik. Jari-jemari membelai dengan lembut seolah yang dibelai adalah wajah Xiao Sa.
Mengingat hal tersebut, Chen Yu menjadi penasaran apa yang sedang Xiao Sa lakukan sekarang. Dia pun mengurungkan niat untuk merapikan barang, bahkan dia lupa untuk mengeringkan rambut yang masih meneteskan bulir-bulir air dengan deras.
Tidak sulit untuk mengetahui di mana letak kamar Xiao Sa ketika kamar lelaki manis itu memiliki ciri khas yang berbeda. Sesuatu kekanakan di pintu melintasi mata Chen Yu. Ada satu stiker bergambar bunga matahari yang dikelilingi oleh banyak stiker lebah. Kemudian, tepat di lingkaran bagian dalam bunga matahari terdapat sederet huruf yang membentuk sebuah nama "Xiao Sa". Cukup kekanakan, bukan? Namun, itu benar-benar identik dengan Xiao Sa. Justru akan sangat aneh jika tidak menjumpai hal kekanakan di sekitar lelaki manis itu.
Membuat gerakan selembut mungkin, Chen Yu berusaha tidak menciptakan suara ketika membuka pintu. Membawa kepala untuk masuk ke dunia di dalam kamar, sementara tubuh masih berada di luar garis pintu. Dia mengintip sedikit dan menemukan lelaki manis yang berbaring memunggungi pintu. Chen Yu sempat terkejut ketika mendapati kamar yang dihiasi oleh beragam jenis barang berwarna merah. Sama sekali tidak ada barang yang memiliki warna lain selain merah, bahkan lampu tidur memancarkan warna merah samar-samar. Chen Yu ingat bahwa Xiao Sa tidak begitu tertarik dengan warna merah. Lantas, apa yang membuat adiknya itu kecanduan warna merah? Hal membingungkan yang cukup sulit untuk dipecahkan. Chen Yu memilih untuk mengabaikan pertanyaan di dalam hati untuk saat ini. Dia akan menanyakan secara langsung pada Xiao Sa nanti, jika mereka sudah berbaikan.
Chen Yu perlahan mendekati ranjang. Fokus berada pada selimut yang sedikit tersibak dari tubuh sang adik. Membenarkan sebentar sebelum mulai mengusap poni yang menutupi wajah Xiao Sa. Napas lelaki manis itu sangat teratur, tampak seperti sedang mengalami tidur yang nyenyak. Chen Yu menjadi tidak tega untuk berdiam lebih lama di sana, takut-takut kehadirannya hanya akan mengganggu tidur Xiao Sa. Melabuhkan kecupan singkat di puncak kepala sang adik, dia berbisik penuh kelembutan, "Tidur yang nyenyak."
Chen Yu baru saja akan melangkah ke luar kamar ketika mendengarkan gumaman rendah yang sedikit tidak jelas. Berpikir bahwa Xiao Sa sedang mengigau, dia kembali ke tempat semula. Berjongkok di samping ranjang dan menatap penuh harap pada lelaki manis dengan mata masih terpejam rapat. Tidak lama kemudian, gumaman kembali mengudara, "Tidak Ingin tidur?"
Di akhir kalimat, mata Xiao Sa perlahan terbuka. Menatap langsung ke dalam manik hitam Chen Yu yang tampak membulat sempurna. Mendapatkan serangan rasa kejut yang tiba-tiba, membuat pikiran tidak dapat bekerja. Pada akhirnya, dia hanya dapat mengeluarkan kalimat acak yang terdengar begitu canggung, "Ah, aku akan segera keluar."
Chen Yu bangkit seketika, bersiap untuk menjauh. Namun, pihak lain menahan pergerakannya pada langkah kaki yang ketiga. Meski tubuh tidak berbalik, mata berputar arah menatap sang pelaku yang tampak sedang bersusah payah untuk duduk. Xiao Sa mengusap kedua mata bergantian menggunakan tangan yang menganggur hingga urat merah menonjol samar-samar pada permukaan mata. Chen Yu segera menahan. Dia tidak ingin mata indah Xiao Sa terluka akibat digosok terlalu kencang. Tangan kekar menangkup wajah pihak lain, sedangkan yang ditangkup segera mengedip lucu akibat kebingungan. Kemudian, Xiao Sa merasakan embusan angin lembut mulai membelai lapisan mata. Dia menutup mata seketika, tidak siap menerima bantuan tanpa aba-aba.
"Jangan ditutup, aku akan membantu meniupnya," ujar Chen Yu dengan ketakutan yang samar. Dia takut diusir.
Sementara Xiao Sa segera menggelengkan kepala alih-alih menurut. Dia meraih tangan Chen Yu sekuat tenaga hingga kakaknya itu jatuh ke tepi ranjang. Kemudian, dia kembali bertanya. Namun, kali ini dengan kalimat yang memiliki makna begitu jelas. "Benar-benar tidak ingin tidur denganku?"
"Apakah aku bermimpi?" Chen Yu segera mencubit lengan Xiao Sa hingga menimbulkan suara ringisan yang begitu mengerikan. Mengetahui bahwa lelaki manis itu merasa sakit, dia sadar jika mereka tidak berada di alam mimpi.
Bagaimana bisa Chen Yu menolak ajakan tidur yang wajib diterima itu. Rasa rindu yang telah menumpuk di dada, meledak seketika. Selama kurang lebih setahun, dia tidak dapat tidur dengan baik tanpa kehadiran sang adik di sampingnya. Ketika kesempatan emas datang di depan mata, sangat haram untuk ditolak. Chen Yu melompat ke atas ranjang, meraih tubuh Xiao Sa dan mengurungnya ke dalam jeruji dekapan. Sudah lebih dari sepuluh menit berlalu, dekapan sama sekali tidak melonggar, justru semakin erat seiring berjalannya waktu. Chen Yu benar-benar ingin melampiaskan segala rasa rindu yang membuat batin tersiksa. Tidak peduli dengan rasa risih yang singgah di hati pihak lain meski Xiao Sa telah banyak memberontak akibat merasa sesak ketika didekap dengan sangat erat.
Pukulan tiada henti dilayangkan untuk sang kakak, tetapi itu tidak berpengaruh. Xiao Sa terbatuk, membuat gerakan seperti sedang berusaha meraup banyak oksigen. Baru di saat itulah dekapan melonggar.
"Gege, apakah kamu ingin membunuhku?" Wajah Xiao Sa tertekuk dengan tajam. Dia menatap horor ke arah Chen Yu yang menampilkan wajah tanpa dosa. Kemudian, lelaki tampan itu kembali mendekap, tetapi dilakukan dengan sangat lembut dan lebih manusiawi. Melantunkan banyak permintaan maaf yang dialirkan langsung ke dalam telinga Xiao Sa. Berhasil membuat rasa kesal berangsur-angsur memudar.
"Aku pikir kamu masih marah." Alih-alih menanggapi kalimat protes Xiao Sa, Chen Yu justru membawa perbincangan ke arah lain.
Xiao Sa menggeleng beberapa kali sebelum masuk ke dalam dekapan sang kakak. Merasakan aura dominan yang semakin tebal berkali-kali lipat, membuat tubuh merinding untuk sementara waktu. Dalam satu tahun sudah banyak perbedaan yang terjadi pada diri Chen Yu. Sementara pada diri Xiao Sa, tidak ada yang berubah sedikit pun. Masihlah seperti anak kecil yang tidak bisa jauh dari botol susu. Rasa iri menerjang hati. Meski demikian, ditekan kuat dan dia pun membawa pikiran ke arah lain. Bertanya mengenai kabar lelaki tampan di hadapannya, "Bagaimana kabar Gege?"
"Sangat buruk," Chen Yu menggesekkan hidung di pundak kepala Xiao Sa dengan lembut, "aku rasa aku tidak bisa hidup tanpamu."
Sentuhan kekesalan melintasi mata Xiao Sa. Dia tidak akan percaya dengan kalimat bualan seperti itu dari siapa pun. "Nyatanya Gege masih hidup sampai saat ini."
"Kamu ingin aku mati?" tanya Chen Yu dengan nada yang dipenuhi keluhan.
Merasakan kepanikan, Xiao Sa segera menyanggah, "Tidak, hanya saja kalimat yang Gege gunakan terlalu berlebihan."
Chen Yu tidak memiliki kata-kata untuk menjawab. Memang benar adanya kalimat tersebut terlalu berlebihan. Lidah begitu kelu untuk mengatakan, tetapi dia harus memaksa. Dikatakan bahwa kalimat itu sangat ampuh untuk membujuk seseorang. Dia sudah mencari di internet jauh-jauh hari, juga telah banyak berlatih agar suara terdengar alami.
"Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" lanjut Xiao Sa.
"Lancar," Chen Yu tidak ingin Xiao Sa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di akademi kepolisian. Tidak ingin menambah beban pikiran sang adik. Bagaimanapun, lelaki manis itu memiliki sifat yang mirip seperti Xiao Zhan. Cukup lemah jika menyangkut tentang hal-hal yang menyedihkan. Dengan demikian, berbohong bukanlah pilihan yang buruk, "Bagaimana denganmu?"
Xiao Sa mulai bercerita tentang kehidupan di kampus selama satu tahun ke belakang. Itu tidak jauh-jauh dari pelajaran yang cukup sulit, teman baru yang dia miliki, tetapi dia menghilang sebagian cerita tentang sosok lelaki yang dikagumi. Dia ingin mencari aman, tidak siap mendengar omelan panjang dari sang kakak.
Tidak terasa waktu habis termakan oleh ocehan Xiao Sa yang tak berujung. Chen Yu selalu menjadi pendengar yang sabar. Menanggapi segala cerita yang dikemukakan sang adik, membuat adiknya itu betah berlama-lama menjadi pencerita. Ketika mendapatkan respon positif, bibir bekerja dengan baik, seolah tak jemu untuk bersuara. Kegiatan tersebut akhirnya berakhir ketika Xiao Sa jatuh ke titik lelap. Rasa kantuk tidak dapat ditahan lagi. Dia sempat bergumam tidak jelas ketika berada di ambang kesadaran.
Sementara Chen Yu yang memahami tingkah laku Xiao Sa mulai diam. Tidak membuat keributan apa pun selain menepuk halus punggung sang adik sembari bersenandung riang. Tampak seperti dia sedang menidurkan bayi kecil. Pemandangan itu tidak luput dari netra Lin Yi yang diam-diam mengintip dari celah pintu yang ternyata belum Chen Yu tutup. Mencari ponsel yang bersembunyi di balik saku celana, dia mengambil potret si kembar yang sudah akur. Kemudian, mengirimkan kepada seseorang yang jauh di sana, yang menanti perkembangan dari hubungan nyaris retak milik si kembar.
Setelah puas memandangi potret dua bersaudara yang sedang berbaring dengan berpelukan, Xiao Zhan membawa ponsel di depan dada. Bertindak seakan-akan dia turut memeluk si kembar. Itu mengingatkan pada masa lalu di mana si kembar masih berusia sekitar lima tahun. Pertengkaran besar terjadi dan berakhir dengan perdamaian yang tak berujung. Chen Yu kecil yang kesal kepada Xiao Sa akibat merasa cinta Wang Yibo tidak seimbang, berakhir dengan menyayangi sang adik dengan sepenuh hati. Kini, Xiao Sa besar yang kecewa kepada sang kakak, berakhir dengan pengampunan yang diliputi kasih sayang pula.
Xiao Zhan tidak bisa untuk tidak bahagia ketika mempunyai keluarga bahagia yang penuh cinta dan kasih sayang. Hanya saja kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika dia dikejar oleh Wang Yibo yang sedang meminta jatah. Melemparkan ponsel dengan sembarangan, Xiao Zhan berlari memasuki kamar. Namun sial, dia lupa mengunci pintu terlebih dahulu sebelum melompat ke tengah ranjang. Begitu pintu kamar dibuka, wajah penuh seringai licik membuat nyali Xiao Zhan menciut seketika. Dia harus berpura-pura pingsan untuk mencegah pantatnya kembali digempur habis-habisan.
Sayangnya, dia melupakan fakta bahwa Wang Yibo tidak mengenal yang namanya simpati. Dia tetap melancarkan aksi sekalipun napas pihak lain tak berembus lagi. Wang Yibo tidak peduli. Di kepala lelaki tampan itu selalu ada bayangan di mana tubuh polos sang istri sedang meminta untuk disetubuhi.
.
.
.
.
.
Bersambung ….
Udah lama ga bercinta, next chapter khusus bagian kemesuman Yizhan ya wkwk.
Anw, aku ga sadar ngetik sampai 3000 kata, biasanya per chapter cuma 2000 kata. Semoga kalian ga bosan.
[520, 2023]