Udara dingin pada sepertiga malam membuat sekujur tubuh Darma meremang. Wajahnya bersinar setelah melaksanakan shalat tahajud di masjid pinggir jalan saat dirinya hendak pergi ke pasar untuk bekerja. Remaja 16 tahun itu melipat sarung yang baru saja dipakainya lalu menumpuknya bersama seragam sekolah di jok motor. Pekerjaan apa pun akan Darma lakukan demi memenuhi kebutuhan ibu dan adiknya di rumah, karena itu Darma menyampingkan ego untuk bersenang-senang layaknya remaja lain. Salah satu pekerjaan yang Darma tekuni sekarang adalah menjadi tukang parkir di pasar, tidak terlalu buruk. Toh, Darma juga lumayan mahir dalam mengatur lalu lintas dan menertibkan kendaraan.
"Darma, ntar sebelum pergi sekolah nyarap dulu di rumah, gue udah siapin nasi uduk sama teh anget." Haji Oka, pemilik toko sembako yang sudah tidak familiar dengan sosok Darma menepuk pundak kokoh itu yang baru saja sampai. Darma yang sedang membuka jaket tebalnya tersenyum sumringah menyambut kebaikan pria baya di hadapannya.
"Makasih Pa Haji, ntar Arma makan. Omong-omong Mang sholeh belum dateng?" Darma memerhatikan Haji Oka yang kembali sibuk mengilo telur. Mang Sholeh sendiri adalah karyawan tetap di toko sembako haji Oka. Sudah menjadi kebiasan Darma menyimpan motor supranya di pekarangan toko sembako itu karena sudah mendapat izin dari pemiliknya.
"Belom, die izin katanya, mau nemenin istrinya lahiran."
"Hebat bener mang Sholeh udah mau jadi bapak. Arma bantuin, ya, pa Haji, itung-itung bayaran nasi uduknya." Darma terkekeh renyah menyiapkan baskom besar untuk wadah telur.
"Alah, kayak sama siapa aja lu. Udah kagak usah, ntar lu bau anyir. Udah diem aja. Lagian lu harus mulai ke area parkir bukannya?"
"Harusnya, tapi masih sepi pa, lagian ada shift malem sih, bang Rojak. Itung-itung ngaso dulu."
"Ya udah dah, terserah lu aja." Haji Oka menyerah, membiarkan Darma melakukan apa yang dia mau.
"Belajar yang bener ye Ar, lu harus jadi orang sukses, biar hidup lu enak. Mau kayak gue nggak lu?" celetuk Haji Oka.
"Mau lah pak, coba do'ain Arma biar kecipratan berkahnya."
"Selalu, lo udah gue anggep kayak anak gue. Kalau bisa lu nikah aje sama si Ryuki, gue restuin langsung dah."
"Buset, Arma masih sekolah."
"Berarti kalau udah lulus mau ni? Kalau iya, biar gue langsung ngomong ke si Ryukinya." Jelas panik lah Darma ditawari hal di luar nalar seperti itu, lagian memangnya Ryuki mau berjodoh dengannya yang tidak punya apa-apa.
"Serius bener pak, Arma degdegan jadinya." Kegiatan itu mereka lakukan sembari berbincang ringan sesekali Haji Oka melontarkan lelucon yang ditanggapi heboh oleh Darma.
Terkadang, Darma kerap belajar dari orang orang dewasa di sekitarnya perihal hidup, dibanding materi padat sekolah yang begitu memusingkan.
*****
Jam pertama masih aman, Darma sebisa mungkin memerhatikan guru di depan yang sedang menjelaskan meskipun pedih di mata meraksuk. Sayangnya pada jam selanjutnya Darma sudah tidak tahan, kantuk mulai menyerang, bahkan Keivano teman sebangkunya beberapa kali mencubit lengan Darma agar tidak tertidur di pelajaran Pak Subroto karena beliau tidak akan segan menghukum muridnya.
"Nanti aja tidurnya, lo apa kagak serem liat pak Subroto bawa rotan runcing?" Keivano berbisik dan Darma hanya berdehem tidak jelas seraya membenarkan posisi duduknya agar tidak terlalu mengantuk.
"Lagian tadi lu di pasar sampe jam berapa? Capek banget pasti." Kei pura-pura mencatat saat Pak Subroto meliriknya.
"Cape banget, Kei. Ini gue kayak lagi melayang saking ngantuknya," racau Darma didengar oleh seluruh murid termasuk pak Subroto. Keivano menepuk jidat, begitu pula dua teman satu geng Darma yang langsung memalingkan wajah. Talaga Laut dan Candra Kuda.
"Gelo ai sia mah, belegug," hardik Keivano menyentil telinga Darma. Gemas, karenanya Pak Subroto menghampiri mejanya.
"Darma! Kalau kamu tidak berniat mengikuti pelajaran saya, silakan keluar dan jangan mengikuti pelajaran saya untuk dua minggu ke depan. Kamu juga Keivano. Bukannya bangunkan Darma malah ngobrol, keluar kalian berdua lalu berdiri di depan kelas sampai bel istirahat!"
Keivano dan Darma saling sikut mencari perlindungan satu sama lain. Talaga dan Candra memasang wajah tengil ke arah mereka berdua seolah mengejek karena sudah membangunkan singa yang sedang tidur. Merasa tidak dihargai, Pak Subroto menggebrak meja dengan rotan kesayangannya hingga seluruh murid bungkam. Darma dan Keivano tersentak bangun dengan posisi siap.
"Tunggu apalagi? Keluar sekarang!" Pak Subroto kehilangan kesabaran dan berteriak nyaring yang langsung membuat keduanya lari terbirit-birit. Talaga dan Candra memberi jempol terbalik sambil menjulurkan lidah.
Di luar, Keivano mengernyit heran karena melihat Darma tiba-tiba kembali sumringah sambil merapikan rambut dan bajunya. Seolah rasa kantuk tadi sirna begitu saja.
"Lo kenapa?"
"Anak kelas dua belas lagi ngapain, ya? Kira-kira ada yang keluar nggak?" Darma mengeluarkan ponsel dan melihat refleksi dirinya di layar.
"Mau ketemu Bang Satya?"
"Hooh. Rencananya gue mau ngasih bekal ke dia, terus makan bareng pas istirahat," ucap Darma sambil menyender pada kusen jendela, matanya terus melirik ujung lorong berharap Satya muncul. Melihat itu, Keivano merasa iba, betapa besar kasih sayang yang Darma simpan untuk kakaknya.
"Ngantuk lo langsung hilang?"
"Hilang. Tapi nanti abis makan berdua sama Bang Satya, gue mau tidur di UKS."
"Good luck. Semoga abang lo mau," ucap Keivano sambil menepuk pelan pundaknya. Dia mencoba memberi semangat sebelum kesedihan benar-benar datang.
"Pasti mau, lah. Gue kan adeknya. Seneng banget gue bisa satu sekolah sama Bang Satya. Dengan begini, gue bisa ketemu dia tiap hari." Ada binar bahagia di mata Darma setiap menyebut nama Satya. Sejak kecil, dia menjadikan Satya sebagai panutan. Di mata Darma, Satya sempurna. Namun, kekaguman itu harus kandas ketika mereka dipisahkan oleh hak asuh.
"Bang Satya, Dar. Itu Bang Satya sama Bang Jema, kayaknya mau ke toilet." Kali ini justru Keivano yang heboh melihat keduanya keluar kelas.
Wajah Darma langsung merah padam, jantungnya berdegup kencang. Rasanya dia ingin memeluk kakaknya dan berkata bahwa dia tidak sanggup hidup sendiri dalam kesepian dan kesulitan.
"Bang Satya!" panggil Darma penuh semangat saat Satya dan Jema melintasinya. Keduanya berhenti. Jema tersenyum ramah kepada Darma dan Keivano, sedangkan Satya hanya berdiri tanpa menoleh.
"Bang Satya, lo nggak kangen gue? Bang, makan bareng, yuk, di kantin? Gue bawain nasi uduk dari Haji Oka. Udah dingin sih, tapi gue jamin masih enak. Lo mau kan, Bang?" Darma terus bicara, sementara Satya menatapnya dengan sinis dan risih. Jema dan Keivano hanya terdiam.
"Lo pikir lo siapa?"
Pertanyaan itu mengguncang hati Darma. Lututnya mendadak lemas, telapak tangannya dingin. Jujur saja, Darma tidak menyangka bahwa ucapan menyakitkan itu keluar dai mulut saudara kandungnya sendiri.
"Bang? Gue... gue Darma. Adek lo," lirih Darma, menatap kakaknya yang bahkan tak meliriknya. Suaranya tercekat ketika dia harus "memperkenalkan diri" lagi pada Satya.
"Jangan ganggu. Buang aja bekal yang mau lo kasih." Setelah itu Satya berlalu begitu saja, meninggalkan Darma dengan harapan patah dan senyum getir. "Lagian gue nggak suka makanan dingin."
Keivano ikut merasa nyeri. Dia merangkul pundak sahabatnya, sedikit menariknya ke dalam pelukan.
"Lo nggak apa-apa?"
"Hancur. Kok gini sih jadinya, Kei?" bisik Darma pelan, masih tidak percaya sikap kakaknya sendiri.
Hallo, this is another fiction for yeonbam. Semoga ini nggak hiatus dan kena writter block.
Yeongyuist angkat tangannyaaaaaaa!!!!!
Chapter 1 buat tes ombak dulu ye, apakah kalian mau lanjutttt?
Lanjut or not?
Choi Yeonjun as Satya Malverick
Choi Beomgyu as Darma Ardiansyah
Choi Soobin as Jema
Lee Heesung as Keivano
Kang Taehyun as Talaga Laut
Chandra Kuda
Bang PD as Haji Oka
Spoiler :
Ryujin as Ryuki
Hueningkai as Guardian Abello