My Shadow [END]

By indknia

2.7K 563 454

Satu per satu orang yang mem-bully Anantha Gheania terbunuh dengan keadaan mengenaskan. Hal itu menjadi perta... More

1. Pembalasan Pertama
2. Seseorang Yang Sama?
3. Kebohongan
4. 'Dia' Muncul Kembali
5. Drama Baru
6. Kematian Selanjutnya
7. Sebenarnya Siapa 'Dia'?
8. Tiada
9. Terlibat
10. Kematian Tak Terduga
11. Target Terakhir
12. Kejanggalan
13. Lalu Siapa Dia?
15. Semakin Rumit
16. Diadili
17. Jawaban Sebenarnya
18. Kebusukan yang Terungkap
19. Akhir Segalanya [END]

14. Fakta Mengejutkan

105 18 10
By indknia

"Ya, namanya Bu Martha! Dia dekat dengan Anantha!"

Beberapa orang kini tengah berkumpul di ruangan khusus untuk membahas kasus yang masih berjalan ini. Mereka mencoba menemukan satu orang lagi yang bisa dijadikan sebagai saksi atau lainnya.

"Benar, Bu Martha namanya. Seorang guru Matematika yang mengajar di SMA Bina Bangsa."

Mereka tampak berunding dengan serius. Mengandalkan pernyataan Bella saja tidak cukup, apalagi hasil tes DNA juga akan keluar dua hari ke depan.

"Saat siuman, Anantha bergumam dan terus mencari Bu Martha," jelas pria yang kemarin menemani Anantha di ruang rawatnya. Dari gerakan bibir Anantha, dia dapat membaca kalau cewek itu mencari sosok guru tersebut.

Satu lagi, pria itu mengingat betul sesekali Anantha bertingkah aneh. Ia melirik ke samping, seakan Bu Martha berdiri di samping ranjangnya.

"Dua orang datang ke SMA Bina Bangsa sekarang." Ketua polisi menunjuk dua rekannya untuk bertugas. Mereka langsung mengangguk dan bergegas ke sekolah itu.

Keadaan sekolah belum kondusif sejak kemarin. Banyak jam kosong karena para guru juga masih berduka cita atas kejadian tidak terduga yang menimpa anak murid mereka, bahkan Hendra selaku kepala sekolah, serta kedua orang tua Levant yang menjadi donatur sekolah ini.

"Pelakunya udah ketangkap, dan emang mirip banget sama Anantha. Lihat!" Siswi menuding layar ponselnya yang menampilkan sebuah artikel dengan foto pelaku di sana.

"Wah, bener mirip banget!" timpal dua siswi lain yang ikut menyimak.

"Jangan-jangan emang kembaran Anantha!"

"Kalau iya, selama ini kita semua salah dong karena udah beranggapan ini ulah Anantha?"

"Tapi jangan berpikir begitu, soalnya belum ada jawaban dari kasus ini."

Baru juga sampai, kedua polisi itu langsung mendengar gosip tiga siswi yang berdiri di tepi koridor. Mereka berdua tampak mencari ruang guru yang sudah ditunjukkan oleh penjaga gerbang di depan sana.

Menemukan ruangan bertuliskan ruang guru, kedua polisi itu masuk dengan santun.

"Permisi."

Para guru yang sedang asik berkumpul terkejut dengan kedatangan dua anggota dari kepolisian.

Mereka membubarkan diri, kembali ke mejanya masing-masing. Salah satu guru menemui dua polisi itu.

"Silakan masuk, Pak." Pak Bayu selaku guru bahasa Indonesia mempersilakan mereka berdua untuk duduk.

"Ada apa ya, Pak?" Guru itu bertanya dengan hati-hati. Ia cukup terkejut dengan kedatangan dua polisi ini yang mendadak.

Dirasa suasana cukup baik, salah satu polisi itu mulai bertanya.

"Apakah di sini ada guru yang bernama Bu Martha?" tanyanya sembari melihat sekitar. "Bu Martha dekat dengan Anantha, siswi itu kini sedang di rumah sakit karena diserang oleh sosok misterius di apartemennya."

Hening. Atmosfer di ruang guru langsung berubah dengan sekejap. Para guru yang duduk di kursinya masing-masing saling lirik tajam.

Pak Bayu berdeham untuk mencairkan suasana canggung ini.

"Maaf, Pak. Apakah Bapak tidak salah?" tanya salah satu guru di belakang sana dengan lantang.

"Maksudnya?" Kedua polisi itu malah bertanya balik.

"Bu Martha sudah meninggal dua bulan lalu karena kecelakaan."

Jawaban Pak Bayu mengejutkan keduanya. Mereka tidak percaya dengan jawaban itu.

"Tolong katakan dengan jelas, Pak!" tegas salah satu polisi.

"Memang benar Bu Martha meninggal dua bulan lalu karena kecelakaan saat hendak berangkat mengajar ke sekolah ini," jelas Pak Bayu panjang.

Kedua polisi itu saling tatap tidak percaya dengan fakta ini.

"Kalian tidak percaya?" Pak Bayu mendongak. "Silakan datang ke makam Bu Martha, mari saya antar."

Tanpa mendengar jawaban dari kedua polisi itu, Pak Bayu langsung beranjak dari tempat duduknya. Kedua polisi itu mengikuti langkah Pak Bayu hingga sampai di parkiran.

"Tempat pemakaman umum tidak jauh dari sekolah ini," jelas Pak Bayu sebelum masuk ke mobilnya.

Dua polisi itu mengikuti mobil Pak Bayu. Mereka fokus menyetir, tetapi otak mereka malah terus bertanya-tanya kenapa semua ini menjadi sangat rumit?

Mobil keduanya terparkir di depan tempat pemakaman umum yang sangat sepi. Pak Bayu mendahului untuk melangkah dan diikuti dua polisi itu.

Langkah Pak Bayu terhenti di depan sebuah makam dengan nisan bertuliskan 'Martha Seera' dengan tanggal lahir dan kapan guru itu meninggal.

"Tepat tanggal sembilan belas bulan Oktober, Bu Martha tiada." Pak Bayu menunduk, menatap makam guru paling ramah di sekolah SMA Bina Bangsa.

"Kami para guru, juga para murid terkejut dengan kematiannya. Bu Martha sangat baik, dan ramah kepada semua orang. Namun, takdir berkata lain dan Tuhan lebih sayang padanya."

Kedua polisi itu menunduk. Makam dengan rumput liar yang tumbuh subur menjadi penghias tempat peristirahatan terakhir Bu Martha.

Otak keduanya terus berpikir keras. Lalu siapa lagi guru bernama Martha yang dekat dengan Anantha?

"Maaf, Pak." Salah satu polisi menyela dengan santun. "Apakah bapak pernah melihat Anantha bersikap aneh saat sekolah? Atau hal yang lainnya? Bisa dijelaskan kepada kami, Pak. Kami sedang mencari bukti kasus pembunuhan itu."

Pak Bayu mengangguk samar. Guru empat puluh tahun itu menarik napas panjang, sebelum menceritakan semuanya kepada polisi.

"Anantha adalah korban bully Venya, Levant, dan Varo. Setiap hari mereka menindas Anantha tanpa ampun. Bukan hanya mental, fisik Anantha juga hancur karena mereka."

Perlahan Pak Bayu menceritakan semuanya.

"Semua guru tentu tahu dengan Anantha. Mereka kasihan dan ingin menolong Anantha. Tetapi ...." Pak Bayu menjeda ucapannya karena terlalu sakit membayangkan ada di posisi Anantha.

"Mereka mengancam para guru jika menolong Anantha, akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Pak Hendra sebagai kepala sekolah pun berucap seperti itu. Karena Pak Hendra sendiri ...."

"Pak Hendra punya rahasia besar. Beliau korupsi dana pembangunan sekolah dari kedua orang tua Levant yang menjadi donatur terbesar di SMA Bina Bangsa."

"Pak Hendra juga diancam kalau beliau menolong Anantha, rahasianya akan dibongkar oleh Levant. Nama Pak Hendra akan tercoreng, bahkan bisa terkena pidana."

"Setelah semuanya berakhir seperti ini, para guru menyesal kenapa takut dengan ancaman mereka. Kebenaran tidak bisa ditegakkan hanya karena ancaman, Pak."

Kedua polisi itu menyimak ucapan Pak Bayu dengan seksama. Tentu mereka sudah tahu soal dana yang digelapkan oleh Pak Hendra.

Jawaban yang mereka inginkan belum terucap dari Pak Bayu.

"Apakah Anda mengenal guru lain yang bernama Bu Martha?"

"Saya tidak mengenal orang lain bernama Bu Martha, Pak," jawab Pak Bayu bingung. Dirinya mengingat-ingat hal kecil apapun soal Anantha.

Sebuah ingatan menyadarkan Pak Bayu. "Saya hanya mengingat tingkah aneh Anantha. Beberapa kali saat saya melihat dia dibully."

"Apa itu, Pak?"

"Dia seperti ... berbicara sendiri."

Bukannya mendapat jawaban yang logis lagi, Pak Bayu semakin membuat kedua polisi itu bingung.

"Tak masuk akal memang, tapi itu benar-benar terjadi, Pak." Guru itu meyakinkan polisi yang masih tidak yakin.

Saat ingin mengatakan sesuatu, salah satu ponsel mereka mengeluarkan notifikasi pesan. Dengan sigap dia membuka pesan dari ketuanya.

|Segera ke rumah sakit, Anantha bertingkah aneh.

Rekannya yang membaca pesan itu langsung bergegas menuju ke mobil.

"Maaf, Pak. Kita harus ke rumah sakit terlebih dahulu. Terima kasih atas kerjasamanya, Pak."

Pak Bayu hanya mengangguk. Ia menatap kepergian dua polisi itu dengan perasaan aneh.

•••

Ketua polisi berniat untuk menjenguk Anantha setelah tahu kabar kalau cewek itu sudah siuman. Dia sendiri, tidak ditemani rekannya karena sibuk membagi tugas agar semua ini cepat selesai.

Saat ingin memutar kenop pintu, pria tersebut mendengar sesuatu yang aneh dari dalam ruangan Anantha.

Dia mengurungkan niatnya untuk masuk. Pria itu perlahan mengintip di jendela yang tak jauh dari pintu.

Alisnya berkerut setelah melihat cewek di dalam ruangan sana bertingkah aneh.

"Maafkan saya, Ana, saya tidak bisa membantu kamu. Seharusnya ini menjadi tanggungjawab saya."

"Tidak perlu meminta maaf. Itu bukan urusan Bu Martha."

"Akhirnya Levant mati. Semua target gue sudah ke neraka."

Samar-samar pria itu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Anantha. Cewek itu duduk di atas ranjangnya, sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri seakan ada dua orang di sampingnya yang mengajaknya berbicara.

Padahal Anantha hanya sendiri.

Polisi itu mengambil ponsel yang menghuni saku celananya. Ia menghubungi rekannya yang ditugaskan untuk ke SMA Bina Bangsa.

Diserang kebingungan, pria itu langsung membuka pintu. Respons Anantha yang pertama kali melihatnya menjadi kefokusannya saat itu.

"Halo, Pak." Anantha menyapa dengan senyuman misteriusnya.

Ketua polisi terdiam. Otaknya berpikir keras, kenapa Anantha sangat berbeda? Bahkan dari raut wajahnya dan tatapannya sangat berbeda dari Anantha yang lemah karena menjadi korban bully.

Tidak ada respons dari pria itu, Anantha menghela napas malas. Pandangannya tertuju ke samping kiri. Kedua matanya menangkap sosok yang sudah menemaninya, sosok khayalan yang aslinya sudah tiada.

"Sekali lagi saya minta maaf, Ana." Suara Anantha berubah menjadi suara khas wanita dewasa.

Dahi pria itu kembali tertekuk melihat Anantha bicara sendiri.

"Tidak perlu, yang penting saya selamat." Anantha menjawab sendiri perkataannya.

Cewek itu kembali tersenyum. "Gue harus nunggu apakah polisi bisa nemuin titik terang kasus ini. Bukti kuat harus ditemukan sebelum diajukan ke pengadilan."

Pria itu merogoh ponsel yang menghuni saku celananya. Ia berniat menghubungi seseorang, tetapi niatnya hilang setelah mendapat dua pesan dari rekannya.

|Baik, Pak. Kami akan segera ke sana.

Satu pesan lagi yang membuat pria itu kebingungan.

|Pelaku bilang dia adalah Anantha Gheania, Pak. Jika benar dia Anantha, lalu yang di rumah sakit itu siapa?

Anantha  menatapnya balik dengan seringaian. Kebingungan tidak dapat didefinisikan lagi. Semua ini tidak masuk akal.

Jari jemari pria itu sampai kaku untuk membalas pesan dari rekannya.

"Bapak kenal saya?" tanya Anantha menuding dirinya. "Saya Anantha Gheania, Pak. Orang yang bapak temukan di apartemen dengan keadaan terluka."

"Saya tidak percaya itu kamu, Ana." Pria itu menatap Anantha dengan penuh intimidasi.

Anantha tersenyum tipis dan kembali berbaring. Cewek itu juga menarik selimut sampai ke batas dadanya.

"Terserah Bapak mau percaya saya Anantha atau bukan," ucapnya melirik pria itu yang masih mematung.

"Saya Anantha Gheania, dan yang sedang terkurung di sel juga Anantha Gheania."

Continue Reading

You'll Also Like

398K 16.7K 22
[21+] Untuk mempertahankan RARISSIME---bisnis fashion yang dibangunnya setengah mati---dari kasus plagiarisme, Jenna berani mempertaruhkan apa pun. D...
256K 10.6K 66
[[ ๐…๐Ž๐‹๐‹๐Ž๐– ๐’๐„๐๐„๐‹๐”๐Œ ๐Œ๐„๐Œ๐๐€๐‚๐€๐Ÿ–ค ]] โš ๏ธโš ๏ธ๐Ÿ๐Ÿ–+ ๐ฏ๐ข๐จ๐ฅ๐ž๐ง๐œ๐ž, ๐›๐ฅ๐จ๐จ๐, ๐›๐ฎ๐ฅ๐ฅ๐ฒ๐ข๐ง๐ , ๐ฏ๐ข๐œ๐ญ๐ข๐ฆ๐ฌ ๐จ๐Ÿ ๐š๐›๐ฎ๐ฌ๐ž, ๐ก๐š๐ซ๐ฌ...
170K 6.9K 57
[Tahap Revisi] ๐Ÿ”ž๐Ÿ”ž(FOLLOW SEBELUM BACA) Alexa Elviana Janshen. Gadis berwatak dingin, pendiam, dan kejam. Trauma menyaksikan kedua orang tuanya dib...
1.3M 51.6K 38
"Mereka itu antagonist couple." - Menurut orang orang mereka adalah pasangan iblis. Finola yang kerap kali di sebut queen bully dan devan yang kerap...
Wattpad App - Unlock exclusive features