“NADIVV!!” Suara cempreng mampu mengusik pandangan seorang gadis bernama Nadiv Revelin. Gadis dengan rambut yang bewarma pirang se pundak itu pun menoleh ke arah suara
Ini visual Nadiv Revelin.
“Karen? Ngapain lu disini?” Tanya Nadiv pada sosok yang selalu ada di samping Nadiv. Yaitu, Karen Narendra. Gadis dengan tinggi 160 cm, dan rambut hitam legam panjang nan lurus.
Ini visual Karen Narendra.
(Garang-garang cakep ye si Karen)
“Lah? Harusnya gw yang nannya, anak turnamen lainnya udah pulang, ngapain lu anteng disini?” Cerocos Karen peduli.
“Ya suka-suka gw lah.” Kata Nadiv yang begini membuat Karen tau kenapa Nadiv duduk di kursi sendirian. Padahal jam turnamen sudah selesai setengah jam yang lalu.
“Oh gw tau, lu pasti nungguin Daren Hendro itu kann?” Sengit Karen.
“Darendro kali, Daren Hendro siapa? Penjual borak?” Sahut Nadiv ketus.
“Tuh kan, mau cabut apa nunggu di jemput sih lu? Dah setengah jam lu nungguin.” Tanya Karen gregetan.
“Mo nyari penjual borak buat ngeracun mulut lu. Nanya mulu, berasa wawancara aja gw.” Sebal Nadiv.
“Ya gw disini mo jemput lu ya munarohh!! Mangkannya gw tanyain yang jelas. Kalo gw tinggal sendiri nih, paling lu udah di temenin mba kun depan pohon tuh” Tunjuk Karen pada satu pohon besar di depan mereka yang membuat bulu kuduk Nadiv berdiri merinding.
“Anjir, bisa ga sih mulut lu diem??”
“Yaudah gw pulang aja, sia-sia gw kesini. Info ga dapet, orangnya gamau pulang.” Cerocos Karen sambil menyalakan mesin motor gede dengan warna hitam doffnya itu.
“Bye, gw pulang!” Sungut Karen.
Baru saja motor berjalan satu meter, Nadiv sudah berubah pikiran dengan cepat.
“Renn!! Karenn!! Karenn jelekk, tungguin gw.” Teriak Nadiv sembari berlari ke arah motor, persetan sudah dengan doi, Karen lebih takut dengan kunti.
“Kan, berubah pikiran juga lu. Gini aja baru lo mau pulang, yaudah buru naik.” Ucap Karen sembari membukakan stepfoot untuk Nadiv.
(Kurang sweet gimana lagi si Karen?? Hadeuu author aja mleyot nulisnya. Jangan coba-coba nebak love language ya kak)
“Iyaa iyaa, gitu aja marah-marah. Belok ke gang tiga deh, gw beliin nasgornya Bu Astri.” Bujuk Nadiv
“Nahh, okiis, otw ngebut neng, pegangann HAHAHHAHAHHA”
Karen memacu motor kesayangannya dengan cepat, menyalip truk, mobil, semuanya. Itu memang gila, tapi inilah Karen Narendra.
“PEGANGAN APAAN? AMAL IBADAH? MOTOR LU GADA PEGANGANNYA YAA, BUSET” Teriak Nadiv di belakang. Mau tak mau Nadiv harus merangkul Karen agar tidak terjatuh konyol di bebatuan yang keras.
Jarak tempuh yang harusnya bisa di tempuh lima belas menit oleh orang normal, sepuluh menitnya di pangkas habis oleh Karen.
Karen dan Nadiv memang hidup serumah sejak Nadiv berusia enam tahun. Selain itu di rumah juga ada si mbok atau pembantu Nadiv yang hanya bekerja di pagi sampai sore saja. Nadiv tak keberatan karena memang sudah aturannya.
Lalu siapa yang membayar si mbok jika Nadiv tak bekerja?
“Nad, lu udah segede ini, selama ini juga gw udah temenin lu. Kenapa lu masih belom terbuka sama gw? Berat banget ya Nad?” Penasaran dengan Nadiv yang selalu merahasiakan semuanya. Padahal Karen merasa tak pernah mengkhianati sahabatnya.
Untung nasgor sudah di telan habis oleh mereka. Karen memang pandai mencari waktu untuk mencari jawaban, dan seperti biasa Nadiv hanya membalas “Gatau gw, kerja kali.” Lalu mengambil piring dan melenggang begitu saja.
Karen hanya terdiam bak batu, namun pikirannya terus menerka nerka asal usul Nadiv.
﹌﹌♡﹌﹌
Pov Nadiv
Sebenernya gw tau siapa mereka dan dimana, gw udah lama tau, dan yang ngasih tau gw itu si mbok. Awalnya si mbok bilang ortu gw kerja tiap kali gw tanya mereka dimana? Tapi gw juga ngga bodoh Ren. Mana ada belasan tahun kerja tapi ngga pulang sama sekali. Suatu pagi gw berontak ke si mbok, ngedesak dia karena gw bener-bener gabisa nyari sendiri, ga ada jejak sedikitpun selain dari si mbok.
Akhirnya si mbok bilang kalau bokap gw meninggal karena penyakit jantung waktu gw usia lima tahun. Trus ibu gw sedih, dan berujung ninggalin gw sendirian di rumah ini. Karena alasannya wajah gw mirip bokap. Dan dia hanya transfer uang lewat si mbok.
Mungkin dia sendiri kesusahan disana, jadi gw gaboleh gampang ngeluh.
Dan gw pernah penasaran, apakah gw anak tunggal? Apa punya saudara?
Kata si mbok gw anak tunggal mereka. Itu semua udah gw catet di buku hitam gw Ren.
Tapi gw belom siap nyeritain ini ke siapapun termasuk lu, sakit banget Ren.
Pernah gw gambarin di buku gw, kapan-kapan gw tunjukkin Ren. Itu pasti.
Maafin gw ya kalo lu ngerasa ga di percaya gw. Ini bukan pertama kali lu tanya ke gw selama gw 14 tahun. Tapi tetep aja, seribu kali lu tanya kalo gw belom siap gw gabisa bilang.
Ga akan ada yang tau tentang buku ini kecuali gw sendiri.
﹌﹌♡﹌﹌
Setelah melamun sekian lamanya, ia tak sadar jika air di dalam wastafel memercik kemana mana karena berpapar dengan piring Nadiv.
"Udah Nad, gapapa. Gw tau kok, tapi lain kali bilang yaa!! Jangan nyimpen sendirian" Karen muncul mematikan kran wastafel Nadiv.
Lalu mereka pergi ke kamar masing-masing untuk tidur, karena mereka akan sekolah esok hari.
"Malamm Nadd." Pamit Karen.
"Yaa Karen, have a nice dream." Sahut Nadiv tak kalah manis.
Nadiv tidak akan bisa tidur tanpa musik menyala, kecuali dia terlalu lelah hingga tertidur.
Nadiv tak langsung tidur, seperti anak pada umumnya, dia membuka sosmed, melihat chat Daren yang sangat sweet membuatnya tersenyum lebar.
Darendro Arsen, kekasih Nadiv sejak mereka menginjak kelas tiga di bangku sekolah menengah pertama. Daren adalah rumah bagi Nadiv, dan siapapun mengetahuinya, kecuali Karen yang tidak setuju dengan Daren. Bahkan karen tidak suka melihat gelagat Daren yang sok jago mentang-mentang menjadi kapten sepak bola semasa di sekolah Nadiv.
Ini visual Darendro Arsen.
(Manis gasih gais hahaha? cocok sama Nadiv yang juga cantik. Sama sama punya bakat pula, duh siapa si ngga ngeship mereka?)
Sepuluh menit Nadiv habiskan untuk menscroll sosmed, lalu ia terlelap tanpa suara. Nadiv tak perlu risau mengenai seragam, sarapan, atau kebrsihan rumah. Karena sudah di urus oleh si mbok dengan baik. Nadiv harus sudah menyalakan alarm untuk bangun jam lima pagi sebelum matahari menampakkan diri, karena harus membukakan pintu untuk si mbok. Jika Nadiv tak kunjung bangun, maka si mbok harus menelpon Nadiv hingga jengah.
(hahhaa semangat ya mbok)
﹌﹌♡﹌﹌♡﹌﹌♡﹌﹌
Di halaman pertama ini kira-kira ada yang mau di sampein ke mereka nggak??
Si mbok
Karen
Nadiv
Untuk halaman selanjutnya, author spoiler aja deh, bakalan bahas tentang tempat Nadiv menuntut ilmu yang sebentar lagi akan lulus.
Pantengin terus yaa!!
Jangan lupa vote!!
Komen jugaa!!
Terima kasihh
Semoga hari-harimu menyenangkan!!
-ifpy