"Kita nggak pernah tau, besok kejadian apa lagi yang bakal terjadi. Tapi, siap atau enggak siap kita harus tetap bisa ikhlas."
***
ATHARKA tengah duduk di lantai kamarnya dengan punggung yang ia senderkan pada samping ranjang, kaki kiri ia luruskan dan kanan ia tekuk menumpu lengan kanannya. Pandangannya kosong, fokus menatap ke depan dengan mata yang memerah karena menangis. Rambut Atharka sudah sangat acak-acakan, bibirnya kering karena sudah dari kemarin belum minum.
Kondisi kamar bernuansa abu itu tampak sangat berantakan sekarang. Lampu yang dimatikan serta tirai jendelanya yang tetap tertutup rapat, tidak membiarkan sedikit pun cahaya untuk masuk. Beberapa vas bunga sudah berhasil pecah berserakan di lantai karena ulahnya sendiri, buku-buku yang tidak lagi berada di tempat semestinya, serta selimut yang ia lempar jauh dari tempat tidur.
Atharka hancur. Atharka sakit. Atharka marah. Atharka sedih. Bagaimana bisa semua orang tega dengannya. Atharka sangat menyayangi Papinya. Papinya yang selalu lebih mengerti dirinya dan memanjakannya. Atharka anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu, sudah pasti ia akan jauh lebih dimanja oleh Papinya.
"Terus sekarang Atharka main golf-nya sama siapa, Pi?" gumamnya. Memori-memori kebersamaan keduanya kembali terputar di otak cowok itu. Air mata kesedihan lun kembali jatuh tanpa seizinnya.
"Papi bilang mau nganter Atharka kuliah ke luar negeri."
"Terus siapa yang bakal jagain Mami sama Kakak? Papi pikir Atharka sanggup jagain dua perempuan itu sendiri?"
"Atharka aja masih butuh Papi. Papi nggak bisa gini! Kenapa secepat ini, Pi?"
Atharka menundukkan kepalanya, menangis dengan pilunya ketika kembali menyadari kenyataan bahwa Papinya, super heronya sudah tidak lagi bersamanya. Sudah pergi jauh darinya dan tak akan pernah kembali lagi.
Pintu kamar terbuka menampakkan Oliv yang masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Atharka. Wanita itu juga merasa tak berdaya ketika melihat putranya hancur seperti ini. Dengan cepat ia mengusap air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Bagaimanapun juga ia harus tetap terlihat kuat di hadapan anak-anaknya.
Oliv menaruh nampan di atas nakas samping tempat tidur, dan meraih remote control untuk membuka gorden di kamar Atharka. Kain tebal itupun terbuka secara perlahan, sinar matahari mulai masuk ke kamar Atharka, memancarkan kecantikannya. Wanita itu mengembalikan alat canggih itu di tempat asalnya.
Oliv duduk di samping Atharka, menyentuh bahu putranya yang sedikit bergetar, menandakan ia masih menangis. "Sayang, makan dulu, ya? Kamu belum makan dari kemarin."
"Atharka sayang, maafin Mami ..." lanjutnya mencoba untuk tidak ikut menangis.
"Mami jahat," ujar Atharka bergetar namun, masih dapat didengar oleh Oliv.
"Ka---"
Atharka mengangkat pandangannya menatap Oliv dengan perasaan hancur. "Mami tega sama Atharka. Mami sama sekali nggak mikirin perasaan Atharka."
"Ka ... Mami minta maaf. Mami sembunyiin ini semua karena Mami nggak pengen kamu kepikiran terus. Mami tau kamu sayang banget sama Papi. Kamu juga pernah bilang sama Mami, kalau kamu nggak pengen kehilangan Papi ...."
"Terus, apa dengan cara kayak gini bisa ngerubah semuanya, Mi?" tanya Atharka.
Suara cowok itu memang tampak tenang namun, yang seperti inilah yang membuat Oliv jauh lebih takut. Dari mata Atharka sangat terlihat jelas rasa sakit di sana.
"Apa Mami pikir semua ini sepele buat Atharka? Enggak, Mi. Justru dengan Mami sembunyiin ini semua, yang malah bikin Atharka lebih gila lagi. Dari kecil Mami selalu ajarin Atharka buat selalu jujur tentang apapun, masalah sekecil apapun, tapi Mami? Mami tega sembunyiin rahasia sebesar ini dari Atharka."
Atharka mengerti, ia paham betul jika maksud Oliv itu baik. Tapi Atharka kecewa. Kecewa dengan pilihan Maminya yang menurutnya sangat kurang tepat.
"Pertama kita kehilangan Bang Arka yang sampai sekarang masih belum bisa ditemuin keberadaannya, dan sekarang, kita kehilangan Papi, Mi. Buat selamanya, nggak bakal pernah balik lagi."
"Terus besok kita harus kehilangan siapa lagi, Mi?" tanya Atharka dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya.
Oliv mendekap tubuh Atharka. Menumpahkan semua rasa sakit di hati masing-masing. "Maafin Mami, Ka. Maafin, Mami."
"Kita nggak pernah tau, besok kejadian apa lagi yang bakal terjadi. Tapi, siap atau enggak siap kita harus tetap bisa ikhlas."
"Sekarang Papi pasti udah bahagia di sana ..."
***
finished; 1.36 p.m
typed with 657 words.
kindly vote, comments, and share ‼️
follow me on ig; @chaindaputri
- pendek dulu buat part ini. aku pusing wkwk. kalo mood aku bagus, aku bakal update lagi buat hari ini. tapi sabarrr. ini juga udah part-part menuju ending. udah siap belum buat akhir dari cerita ATHARKA?
sad ending?
happy ending?
gantung?
LOL. stay tune aja lah ya <3
- adiós 🐞