Biasan matahari melesik masuk ke sela-sela gorden kamar tidurnya. dan tentu saja itu membangunkan si empunya yang sedang terlelap, padahal sudah pukul 7.35 pagi.
hembusan nafas hangatnya menerpa tengkuk leher jenjangnya. berhasil membuat bulu kuduk ini meremang, tapi bukan karena takut. justru sebaliknya.
kini posisi mereka saling berhadapan, yaa pria tampan dengan wajah tegas, di hiasi hidung mancung menantang, mata hitam legam. serta bulu mata lentik miliknya, bibir penuh kemerahan semakin menambah kesempurnaan pria itu. yang tepat di depan wajah dengan jarak beberapa cm, dengan masih memejamkan mata yang mungkin saja sedang bergelung dalam mimpinya. sehabis peperangan panas semalam.
tanpa sadar pipi wanita itu langsung memanas, Bulshing.
Haiss..
sudahlah lebih baik ia mandi saja. daripada memikirkan yang iya-iya terus.
OH MY GOOD!! HELP!!! Rani menjerit kecil.
tak kala melihat seonggok pedang, eeh bukan samurai yang membentang dengan gagahnya. sumpah salah banget ini, pake angkat selimut!! tapi guedeee banget cuy! lagi, ia membatin penuh kagum.
dan entah keberanian darimana. perlahan tapi pasti, jemari lentiknya kini sempurna menggenggam inti tubuh prianya yang hangat. mengecup kecil serta membelai dan melumatnya sesekali dengan penuh kenikmatan. seperti sedang memakan lolipop. tidak henti mengocok pelan benda pusaka yang menegang itu mengimbangi gerakan mulutnya yang naik turun, matanya sayu dipenuhi kabut gairah. yang siap meledak bersamaan.
tanpa ia sadar pria yang sedang ia jamah sepihak itu sudah tersadar dari alam mimpinya. "Kau tau.. "
"semuanya sangat biasa, tapi itu luar biasaa.. " bisiknya dengan suara serak nan tampan.
mendengar pujiannya, entah kenapa wanita bernama Rani itu semakin ingin memberikannya lebih. urat-urat yang menonjol di sekitaran penisnya semakin menambah sensasi yang luar biasa nikmat dalam rongga mulut wanita cantik ini.
"Hmm.. apa yang sedang kau bicarakan? itu sangat aneh," tanyaku menatap matanya sekilas, seraya merangkak naik, meraih puting dan dada bidangnya yang bebas.
"tiba-tiba aku semakin tidak ingin melepaskanmu.. " tangan kekarnya semakin menarik pinggang rampingku mendekat, hingga tubuh naked kami saling bersentuhan. hangat dan dingin secara bersamaan.
Rani meraih Tangan kekarnya mengarahkan tangan yang satunya untuk menyentuh liang surgawi yang sudah basah, dan dengan rakus pria itu terus menghisap putingnya, memainkan klitorisnya yang sudah tegang karena berhasrat dengan jari-jarinya. Ah miliknya terasa semakin basah, langsung ia masukkan jari tengah dan telunjuknya masuk kedalam lubang milik Rani.
"aaahhh ,Lian.. ini sangat enak kocok yang kencang pak" desahnya semakin keenakan, dan menutup matanya. Kata-katanya membuat Lian semakin liar, dan jemari tangannya mengocok semakin cepat didalam miliknya.
Tubuhnya meregang semakin keenakan dan desahannya semakin kuat, suara basah miliknya yang dikocok memenuhi kamar, Lian melumat lagi bibir ranum Rani agar desahannya tidak terlalu kencang.
"kau dengar suara becek milikmu yang sudah menahan hasrat padaku selama ini?" bisik Lian ditelinganya sambil menghisap rakus telinganya.
merasa tidak tahan lagi, dengan mudah Rani meraih penisnya yang sudah menegak sempurna. "dan saat ini membesar, itu terlihat sangat enak bukan!!"
Eengghh..
"kau tau.. sesaat setelah aku membuka mataku, aku akan memasukkannya ke mulutku. dan saat aku melihat matamu dengan dekat. aku ingin membuatmu merasa lebih baik," ucap Rani seraya menghujami seluruh wajah tampannya dengan kecupan kecil.
"sudah seharusnya.. jadi kita melakukannya tiga kali semalam, hmm?!" ia menggoda dan berhasil membuat pipi tirus Rani memanas.
"pesonamu benar-benar sialan, aku merasa seperti memakan sesuatu yang sangat enak!" balasnya memuji.
"kau sudah bangun sebelum alarm bunyi, dan sekarang menggoda-ku?" omel Lian jahil.
Rani langsung menghentikan cumbuannya menjauhkan wajah dari hadapan Lian. meski sedikit sulit karena ia tepat berada di bawah kuasa pria itu.
"Lian.. "
"apa kau terganggu? Karena apa yang aku lakukan ini?" ia menggeleng cepat.
"tidak mungkin!" jawabnya tegas, seraya menatap mata Rani. "kau luar biasa nikmat!!"
mendengar ucapannya Rani langsung melumat bibir penuh miliknya yang sangat candu.
"aaahhh.." desah keduanya keenakan, satu hentakannya membuat milik Rani penuh seketika. Lian mulai memaju mundurkan bokongnya dan memompa batang yang kekar kedalam milik Rani yang sudah ia nantikan selama beberapa bulan ini.
ia rasakan kedutan penisnya yang terasa semakin membengkak dan penuh didalamnya.
"oohh.. nikmat sekali "
"ya tuhan.. " Rani mendesah berulang kali, semakin cepat mengocok miliknya tat kala tangan kekar itu meremas kasar payudara padat yang menantang itu. mampu membuat Rani ingin orgasme untuk yang kesekian kali.
"sayang apa kau menyukainya?"
"aahh.. sial.. "
"aku menyukainya.. "
"aannggg.. penismu menyentuh bagian terdalam ku!" tubuh mereka bergetar hebat, rasanya isi vagina Rani menyebur tidak karuan, deras sekali. tubuhnya tak terkontrol penuh nikmat. lagi, ia merasakan sedang di awang-awang. dengan sisa orgasmenya.
_____________________
"kau tidak akan mandi dulu?" teriaknya dari arah dapur, karena melihat Rani kembali mengenakan baju yang sama. sementara ia sedang membuat kopi dan dengan santainya Lian tidak memakai sehelai benang pun.
"aku akan mandi dirumah, lalu aku akan mengganti pakaianku."
"jangan sampai kau mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, dan pergi bekerja. mereka akan menggosipkannya di perusahaan" katanya mengingat kan.
"Ooh yaa, apa perkumpulan sosial hari ini?" tanya Ranu seraya mengaitkan bra hijau tosca, dan miliknya semakin menyembul keluar.
"jam 08.30"
"aku akan terlambat, jadi kau atur suasanya agar baik,"
"kita tidak pergi bersama?" Lian menggeleng cepat.
"kau gila?! kalau begitu aku akan mencari pasangan yang sudah pasti tidak akan cocok." oceh Rani menghampiri Lian, dengan wajah memerah kesal. ia sama sekali tidak terganggu dengan penampilan naked pria ini.
"itu lebih baik, bukan!! jawabnya enteng.
"what? dia tidak punya mood sama sekali, dan pria itu satu-satunya yang jahat dan punya banyak masalah."
"bukankah sesk yang bagus, saling berinteraksi perasaan dengan pasangan?! dia ingin seorang pasangan yang memuaskannya dan memberikannya pelukan hangat."
"jika ingin kehangatan setelah melakukan seks.. bukan kah lebih baik, kalau kau punya pacar."
Deg! Rani tertegu mendengar ucapan santai Lian. tidak menyangka ia akan bicara seperti itu.
"Apa, pacar?" tanyanya marah. "kau bicara sesuatu yang tidak biasanya! hmm.. " dengan santai jemari lentik Rani meremas miliknya menggoda. " apa masih ada orang yang jatuh cinta atau semacamnya?" ia mencolek pipi porselin Lian, dengan kedipan matanya genit.
dengan acuh dan tanpa menjawab pertanyaannya, Lian melangkahkan kakinya menjauh. seraya menyeruput kopi panas itu.
"baiklah.. kalau begitu aku akan pergi bekerja, sampai jumpa nanti,"
sepeninggal Rani dari Apartemennya, Lian hanya menatap ranjang yang tidak berbentuk sehabis pergumulan panas semalam dan beberapa jam lalu itu. entah apa yang ia pikirkan.
sementara di tempat hingar bingar, yang di penuhi dentuman musik kencang, dengan pencahayaan mini. hanya beberapa Lampu yang berkedip sesuai beat lagu yang dimainkan Dj kini mulai di penuhi beberapa pengunjung yang semakin ramai.
Doom~
Doom~
Doom~
"apa kau tau, berapa orang yang berkumpul malam ini? Bima?" tanyanya pada pengawal yang membukakan pintu, ruangan secret.
"mungkin enam wanita, empat pria, termasuk Lex. departemen."
"bagus, ku pikir kami bisa berpasangan hari ini."
"hei apa kabar? semuanya baik-baik saja kan seminggu ini?" tanyanya semangat, saat memasuki ruangan yang sudah penuh beberapa yang di sebutkan Bima tadi. dengan minuman yang masing-masing mereka sukai. "Hai Kevin.. kau sangat penuh energi hari ini!" sahut salah satu diantaranya.
"tentu saja Elya. bagaimana dengan bisnismu?" mengambil duduknya tepat di sebelah wanita bergaun ungu itu, tentu dengan pakaian minimnya.
"terimakasih pak, berkatmu aku bisa memenuhi target. dan bisa menghasilkan 1 miliar lebih Minggu ini pak,"
"wow.. satu miliar, izinkan aku menanyakan rahasianya apa yang kau lakukan dengan rahasia itu?" sahut wanita berambut pirang itu antusias.
"kau akan tau, jika kau mampu melayaninya,"
"Hahaha.. " mereka tertawa terbahak mendengar jawaban yang sudah sangat lumrah itu. hingga terdengar keluar ruangan.
tanpa tau ada yang sengaja mendengar obrolan-obrolan tak berfaedah mereka.
"jujur saja, Ray terlihat lepas kendali. di tambah pemulihannya sangat lambat dan tidak bisa berdiri lagi.. " ejek seorang pria pada Ray, karena mengingat kejadian tempo hari.
"Hahaha.. bro,kau harusnya tetap menjaga batasan!"
"sialan! aku hanya lelah bekerja kemarin"
"kalau begitu buktikan hari ini, ayo kau harus memperlihatkannya disini!"
sementara gadis cantik itu terfokus dan mencoba mengintip ruang itu, seorang pria tampan justru memperhatikan gerak-geriknya. yang tak lain adalah Lian. dan sudah di pastikan ia tidak mengenali wanita berbaju mini dress selutut berwarna biru muda, dengan belakan dada yang sangat luar biasa itu. tapi anehnya ia tidak memakai alas kaki.
"Tuan, ada apa?" tanya Bima, yang terheran karena Lian menghentikan langkahnya. ia menginterupsi dengan matanya dan auranya yang dingin.
"maafkan saya Tuan, bagaimana bisa ada orang asing masuk kesini?!" gadis itu terperanjat ketika mendengar suara orang lain yang telah memergokinya.
"permisi Nona, kau tidak boleh masuk kesini!"
"tidak.." gadis itu melangkah mundur.
Bima menarik gadis itu untuk segera keluar. "cepat pergi, tidak boleh ada orang yang masuk kesini!"
"baiklah tunggu.. aku mencari seseorang," jawabnya gugup.
"jangan membuat alasan, ayo keluar. ikutlah dengan tenang,"
Lian hanya mengamati lekat-lekat gadis itu. dari beberapa langkah, entah apa yang ia pikirkan.
"tunggu pengawal!"
"maaf.. tuan?" Bima menoleh bingung dengan tingkahnya ini.
"gadis ini, kupikir itu seseorang yang saya kenal,"
"Benarkah?" tanyanya dengan nada tak percaya, karna jelas-jelas ia menyuruhnya mengusir gadis ini.
Lian meregoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang. "maaf, sudah membuatmu bingung Bim.. dia kenalan saya, karena baru pertama kali bertemu jadi saya baru ingat. maaf datang sedikit terlambat jadi berkeliaran di sekitar,"
"apakah kau keberatan jika saya memberi-mu ini!"
melihat sogokanya itu Bima tak mau ambil pusing, dengan senang akhirnya Bima menerima uang yang lumayan banyak itu. "baiklah jika Tuan berkata seperti itu,"
"ooh pengawal, tolong siapkan meja Rungan sebelahnya,"
_____________________
suasana canggung sangat terasa diruangan luas ini, menenggak minuman yang memabukkan itu. Lian tak berhenti menatap gadis yang ada di hadapannya ini. wajah cantiknya sangat terlihat bingung dan takut.
"aku tidak pernah berpikir bahwa itu adalah pakaian untuk ke club " gadis itu menoleh ragu. "kau.. apa kau mengenal diriku?"
"tidak, ini adalah kali pertama aku bertemu denganmu."
"lalu, kenapa kau mebantuku?" tanya gadis itu, ia semakin menjauhkan posisi duduknya dari hadapan pria ini. "Mmm.. kenapa aku membantumu? "
tiba-tiba pikiran Lian terbayang pada kejadian tadi pagi, dan beberapa kenikmatan lainnya. ia termenung di sisi ranjang di temani secangkir kopinya.
"semalam dengan Rani.. dia sangat agresif dan ganas, aku bisa merasakan ketulusan dengan gerakannya." percintaan panas dirinya sendiri dengan Rani sangat berutal dan sangat panas.
Bahkan di akhir pekan, Lian melakukannya dengan Angel di mobil. suaranya sangat keras hingga desahannya mungkin terdengar ke luar.
Di hari sebelumnya Lian membutuhkan wanita lain untuk lebih proaktif, dan dengan alat seks yang lebih keras dan menyiksanya. wanita itu pandai bersandiwara sengingga mampu membuat Lian terangsang.
"Tuan.. tuan ku mohon, tolong buat aku lebih hancur, ngghh.. " desahannya seolah belum puas dengan alat Vibra di bokong dan vaginanya. belum lagi dengan tangan terikat, serta penutup mata. payudarapun tidak luput dari jepitan penjemur baju. yang semakin membuat wanita itu menggila nikmat.
"aku menikmati setiap hari, lebih dari orang lain,"
kakinya melangkah ke depan jeldela kamar, memandangi mobil dan orang-orang yang sedang sibuk dengan aktifitasnya. "tapi kenapa, itu terasa kosong?!" batinya kala itu.
Lian menghembuskan nafasnya pelan, teringat perasaan dan hidupnya yang sepi mungkin.
"kenapa,"
"aku tidak tau kenapa.. dan aku penasaran mengapa kau berada disini?" jawab Lian mengingat pertanyaan gadis ini. dan yaa kalian sudah pasti bisa menebak apa isi pikiran di kepala mesum Lian.
"bisakah kau beritahu aku apa yang kau cari?"
____________________________
Hai.. saya kembali dengan cerita baru, semoga berkenan dan terhibur. tolong berikan komentar untuk cerita panjang ini.
thank you and see you di BAB II 🍒❤️