RENNALA [Discontinued]

Por lavendherr

2.7K 221 6

rahasia tetap diam tak terucap, meski hati bergemuruh berisik meminta untuk menyelami diri sang pemilik hati... Más

OO. Sanctuary
O1. Sama Denganmu
O2. Upaya Selamat di Jalan
O4. Malam Unggun
O5. Sesaat Yang Abadi
O6. Bagian
O7. Singgah
O8. Satu Denganmu
O9. Dua rasa
1O. Ceritaku
11. Rawat
12. Pikiran ; rumit
13. Tahun Baru
14. Kacamata
15. Nyanyian
16. Cut
17 Family Line
18. Better

O3. Berdua DenganMu

150 13 0
Por lavendherr

"Weh sumpah! Capek banget Gue anjing!" ucap Disa mengeluh, tapi masi melanjuti langkahnya.

"Semangat Dis, semangat!" Bian di sampingnya menyemangati.

Mereka kini sedang menuju keposko ke-6 dan Nala akui ini sangat melelahkan, apalagi ini adalah hal pertama baginya. Tapi melihat teman-teman yang saling menyemangati, akhirnya Nala pun mengkuat-kuatkan dirinya untuk terus berjalan bersama.

"Na, gimana experience pertama kali jalan kaki sejauh ini?" tanya Aruna, berjalan beriringan di sampingnya.

"Capek banget," kawab Nala lemas. "asli ya, Run. Gue jalan kedepan gapura rumah aja tuh males banget dah. Ini di suruh naik gunung!"

"Emang Lo nya aja yang males," Aruna ketawa. "abis ini langsung tidur aja deh, Na. Nanti Gue temenin di samping."

"Gak lah. Kita bantuin dulu yang lain beres-beres, pasang tenda juga."

"Tenang aja itu mah. Ntar Angga aja yang pasangin tenda kita berdua."

"Lo mah, kasian pacar Lo tuh!"

"I'd do anything for her, Nal." Angga menyahut. Ternyata dia dari tadi berjalan di belakang Nala dan Aruna.

"Idih gelay." Nala berjingit geli. "Jauh-jauh deh Lo!"

"Lo jangan gitu dong. Gue kan mau deketan sama pacar Gue." ucap Angga dengan ekspresi sok sedih.

Nala menggeleng-geleng heran, "Suka-suka Lo deh, merinding banget gue dengernya."

"Udah kamu mah diam aja ah, Ay. Aku berduaan dulu sama Nala." ucap Aruna sambil memberi gestur agar Angga tidak mengganggu.

Nala memeletkan lidahnya pada Angga. Merasa menang karena Aruna lebih memilih untuk bersama dirinya. Sementara Angga juga membalas ejekan itu.

"Na, si Eja gimana tadi?" tanya Aruna dengan suara sekecil mungkin sampai hanya mereka berdua yang dengar.

"Dia bikin Gue gila setengah mampus," jawab Nala ikut berbisik. "dia baik banget, Run. Gue suka. Suka banget."

"Njir. Bener-bener kepincut Lu sama dia." Aruna mendecak-decak heran. "Eh Gue kadang bingung ya, Na. Udah selama ini Lo suka sama dia loh? Tahan banget kayaknya."

"Gue suka, Run. Suka banget. Dengar namanya aja buat Gue seneng."

Aruna menghela nafas panjang, "Gue udah berkali-kali loh denger Lo bilang gini. Jatuh cinta beneran Lo sama dia."

Nala ketawa kecil, "Bahasa Lo, Run. Dangdut banget jatuh cinta."

"Eh Guys posko 6 udah di depan nih!"

Teriakan Nindi memberhentikan obrolan Aruna dan Nala. Capek yang mereka rasakan terbayarkan sudah setelah melihat bagimana pemandangan indah dari atas gunung ini begitu mereka benar-benar sampai di posko enam.

"Wah gila ya! Akhirnya sampai juga!" Mira teriak dengan puas. Merasa lega karena sudah sampai.

"Kita tiga hari dua malam aja nih, jadi di puas-puasin ya!" ucap Nindi dengan bahagia.

"Istirahat dulu semuanya, habis itu pasang tendanya ya!" ujar Pandu.

Masing-masing dari mereka mengambil posisi untuk beristirahat dan ada juga yang masih mau menikmati pemandangan. Aruna lalu mengajak Nala ketempat yang agak adem di bawah pohon dan mereka duduk.

Aruna meluruskan kakinya kedepan, sementara badannya Ia sandarkan kebatang pohon. "Sini, Na. Taruh tasnya di sini aja, baringnya ngadep sana."

Nala menurut dan mulai merebahkan dirinya setelah menaruh tas. "Ahh, lega banget rasanya, Run."

"Kalo di ajakin muncak lagi mau gak, Na?"

"Ngga dulu. Hampura ya, gakuat gue!"

Aruna tertawa kecil. "Lo tidur aja, Na. Gue jagain di sini."

"Jangan kemana-mana ya, Run. Gue perlu ngecas agak lama nih soalnya."

"Tenang aja. Tapi ntar Gue mintain Nindi atau yang lainnya kesini juga kalo Gue kebelet ya."

Nala hanya berdehem. Terserah siapa yang menemaninya, asal dirinya tidak sendirian saja.

"Nala kenapa, sayang?" tanya Angga, ikut duduk di samping Aruna. Membiarkan gadis itu untuk merebahkan kepala di pundaknya.

"Ngecas dia. Capek banget katanya."

"Kamu capek juga, 'kan?"

"Hmm," Aruna mengangguk sambil berdehem. Ia menutup matanya perlahan, tapi tidak ada niatan untuk tertidur.

"Minum dulu ya, Aru?"

Angga membuka botol minum lalu mengelus pelan pipi kekasihnya dan memegangi kepala Aruna untuk lurus. Angga kemudian mengarahkan botol minum itu kebibir Aruna dan membiarkan dia meneguk beberapa kali air botol itu dengan mata yang terpejam.

Barulah Angga memperbaiki posisinya seperti semula, menyandarkan Aruna pada dirinya.

"Aku kadang bingung sama Nala yang suka sama orang dalam banget. Tapi ternyata Aku sendiri sama aja kayak Nala."

Angga terkekeh, "Jadi ini yang Kamu pikirin tentang Aku? You love me that much, huh?"

Aruna berdehem, "You deserve to know that, Angga."

Angga tersenyum kecil dan mencium puncuk kepala pacarnya. Aruna yang biasanya sarkastik dan sedikit pemarah berubah menjadi seperti ini merupakan hal yang di sukai Angga. Bukan karena Angga lebih suka dengan sikap baiknya, namun karena perubahan drastis sikap Aruna yang lucu di matanya.

"Angga, malah pacaran di sini! Bantuin dulu anjir masang tendanya." Bian tiba-tiba datang memprotes.

"Ah Lo berisik banget setan, kesadaran gue baru aja mau ilang!" Aruna yang terganggu pun membuka matanya dan menatap Bian dengan kesal.

Angga terkekeh kecil. Kan? Perubahan sikap Aruna ini suatu hal yang lucu baginya.

"Yaudah sih, masih banyak yang lain juga." ucap Angga.

"Meni kasian itu si Eja sama Pandu yang bantuin terus dari tadi. Gantian lah yok!"

"Yaudah. Mana si Eja suruh kesini."

Bian pun langsung meneriaki nama Altezza begitu Aruna menyuruh untuk Altezza ketempatnya. Altezza yang sedang memasang tenda bersama Andra itupun menghampiri mereka.

"Apaan dah? Ntar kurang tuh tenaga mereka." kata Altezza, sepertinya peduli sekali dengan di sana.

"Gantian. Lo duduk di sini jagain Nala. Biar Gue, Bian, sama Angga yang lanjut bantu. Si Pandu juga suruh istirahat aja." ucap Aruna seraya berdiri di bantu Angga.

Sebenarnya akal-akalan dia saja supaya Altezzadan Nala berduaan di sini.

"Yaudah, buruan dah sana. Pada kesusahan tuh!" ucap Altezza menyuruh mereka segara pergi membantu.

Altezza pun akhirnya duduk di tempat Aruna duduk tadi dengan perlahan karena ada Nala yang tertidur. Dia lalu ngebuka topinya dan mengkipas-kipas dirinya yang kegerahan akibat beraktivitas sana sini. Dia juga ngambil kesempatan untuk istirahat sebenarnya.

Ternyata cukup adem di sini. Pantes saja Nala tertidur dengan nyenyak.

Nala membuka matanya. Entah sudah berapa lama dia tertidur hingga kini. Dia bangun dan melihat sekitar, tenda sudah di pasang meskipun belum siap semua. Kepalanya menoleh mencari Aruna. Tapi yang di dapat justru bukan Aruna, melainkan Altezza yang sedang memejamkan matanya sambil bersender.

Eja! Nala terkesiap. Ia langsung merapikan rambutnya yang berantakan.

Lalu di mana Aruna? Matanya kembali berkeliling sampai menemukan sosok Aruna yang di carinya sedang merapikan kursi-kursi kecil yang di buat melingkar di tengah-tengah tenda.

Nala yang mau beranjak untuk membantu pun terhenti karena suara Altezza yang mengejutkannya.

"Nala? Kapan bangunnya?"

"Baru. Baru aja. Lo kalo mau lanjut tidur, lanjut aja."

Altezza menggeleng. "Gue ketiduran padahal gak niat buat tidur juga. Mau kesana, Na?"

Nala mengangguk seraya berdiri. "Mau bantu sekalian naruh tas."

Altezza pun juga ikut berdiri sambil mengangkat tas Nala. "Gue bawain tasnya."

"Makasih, ya." ucap Nala, tidak menolak tawaran Altezza.

Keduanya pun berjalan kearah mereka. Nala mengarahkan Altezza untuk menaruh tas kedalam tenda yang akan di tempati Nala, Aruna, dan Nindi. Setelah itu keduanya kembali memencar. Altezza pergi menemui Bian dan Nala menghampiri Aruna yang di depan tenda.

"Pasti kerjaan Lo ya?"

Aruna terkekeh kecil melihat wajah sebal Nala. "Iya, kan lumayan, Na."

"Tapi gak dia juga, Run. Muka Gue jelek banget kalo tidur pas kecapean!"

"Gapapa. Simulasi berumah tangga."

"Apaan! Gue masih anak sma."

Aruna hanya tertawa saja, meski kesenangab ngeliat interaksi mereka berdua.

"Asik yang abis boboan bareng di bawah pohon nih?" Nindi datang menghampiri dengan tatapan menggoda ke-Nala.

"Ah, Nindii!" Nala merengek kesal. Nindi pun jadi ikut menggodanya. "Kalo dia ilfieel gimana? Jelek banget tau muka Gue!"

"Ntar gue pukul aja dia." respon Nindi sambil ketawa yang diikuti oleh Aruna.

"Beneran deh. Aduh bisa gila Gue!" Nala mendecak kedal dengan dirinya sendiri.

Memang senang duduk berdua dengan Altezza. Tapi kalo sampai melihat wajahnya yang jelek saat tertidur, membuatnya malu sekali.

"Aduh aduh aduh." Nala berjongkok lalu memukul-mukuli kepalanya sendiri.

"Kenapa di pukulin ini?" Pandu tiba-tiba datang, menahan tangan Nala yang akan memukul kepalanya sendiri lagi.

"Lagi gila Gue." respon Nala seraya menarik tangannya kembali dari pegangan Pandu.

"Biasa dia mah kayak gitu, Ndu." ujar Aruna mengarah pada Nala.

"Gak bagus ah." Pandu menggeleng-geleng. "Jangan di pukulin lagi."

Nala mengangguk mengiyakan saja agar cepat. "Terus ini Linda, Mira, sama Disa di mana?"

"Tidur mereka di tenda." jawab Pandu. "Eh cewe-cewe abis ini jangan lupa pada sholat maghrib ya. Itu kamar mandinya ada di sana. Barengan perginya."

"Siap, Ndu." ucap Nindi.

Pandu pun pergi setelah mengingatkan mereka. Masih lama waktu maghrib tiba, mereka bisa bersantai-santai dulu. Makanya Nindi dan Nala duduk bersampingan dengan Aruna untuk bersantai-santai.

"Kemana lagi nih nanti?" tanya Aruna tanpa memutuskan pandangannya dari langit sore.

"Jangan kegunung lagi please?" pinta Nala dengan memelas. Mengingat betapa capeknya dia tadi

"Kepantai aja kali ya?" pikir Nindi.

"Boleh tuh. Sekalian di villa aja, Nin." Aruna menambahkan.

"Villa di pantai?"

Aruna mengangguk. "Iya biar nginap tiga hari gitu? Anak-anak pasti mau deh. Penutupan sebelum masuk sekolah nih."

"Boleh ntar di bicarain. Kita nikmatin aja dulu di gunung ini." ucap Nindi sambil mengangguk-ngangguk.

"Puas-puasin deh sebelum masuk sekolah!"

Seguir leyendo

También te gustarán

119K 20.9K 31
Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 28/6/20 -
170K 2.4K 5
Kala rasa itu telah tenggelam oleh luka yang dalam. Apakah kamu yang akan datang dan bertahan. Terus mengetuk pintu hati dan memelukku dengan cinta...
73.5K 10.7K 40
Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 7/1/23 - 1/7...
63.3K 9.5K 40
Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 2/7/23 - 11...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas