"Anda pasti bercanda! Itu tak mungkin terjadi!" Warren mengangkat belati berbilah peraknya pada Erik Graylock. Sosok yang dibawa pulang secara diam-diam oleh adiknya. Rae memanggilnya yang berada di ruang kerja yang baru pulang dari rapat. Dia menemukan pria di ruang tamu, yang entah bagaimana memiliki kemiripan tersendiri dengan Kethra. Dari tatapan mata sampai gestur wajah.
Dia tak menerima fakta ini. Seluruh isi tubuhnya diaduk-aduk oleh lelehan kemurkaan, di mana darahnya naik ke kepala dan terkesan akan meledakkannya dalam sekejap. Pewaris Chandier itu menemukan kaki dan tangannya kesemutan, ingin menghajar pria di depannya yang dengan lancang mengaku bahwa dirinya berselingkuh dengan Duchess.
"Kakak, cukup." Kethra, yang telah kehilangan nyaris semua tenaganya, tak mampu untuk mengangkat tangan demi menahan sang kakak. Dia hanya bisa bersuara, itupun seperti cicitan tikus, dan terkesan akan tenggelam sebentar lagi. Tak ada emosi yang tertampang di wajahnya, Warren langsung mengetahui bahwa adiknya ingin beristirahat. Semua begitu mengejutkan, dan dibanding dirinya, serangan mental yang dialami Kethra lebih besar.
Adiknya bakal limbung kapan saja. Warren melihatnya benar-benar tak berdaya, tangan dan kakinya bergetar di bawah sarung tebal, tak mampu membungkus gadis itu dari dinginnya udara. Darah seolah-olah tersedot dari wajahnya, dihisap oleh vampir dan menyisakan tubuh yang memiliki sisa-sisa kesadaran.
Warren, memelototi Erik sebelum memasukkan belati ke sarung. Dia tak pernah melepas belati itu dari pinggangnya saat bepergian, karena hanya itu caranya melindungi diri. Para bangsawan tak berkomentar, mereka sendiri seringkali menenteng senjata diam-diam ke mana-mana.
"Maafkan aku." Warren mendekat, berjongkok di depan adiknya dan menyalurkan sihir penyembuhan. Itu cukup bekerja pada mental Kethra yang kacau. Warren diam-diam merengut karena kekuatannya lemah. Padahal sihir itu dapat menangani luka fisik maupun mental. Menata luka mental berkali-kali lebih sulit ketimbang fisik, pikirnya. Dia hanya ingin menyembuhkan Kethra.
"Kenapa kau membawanya ke mari?" tanyanya lembut, menopang bahu Kethra lantas duduk di sampingnya. Kethra memberengut. "Aku hanya berpikir untuk mengamankannya. Orang-orang sudah tahu dialah Erik Graylock. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku hanya berpikir membawanya ke mari dan mendiskusikan sesuatu pada kakak."
Warren mengangguk paham. Erik sudah sepatutnya dibuat bungkam, tiap katanya dapat menjadi belati untuk mereka. Mereka harus berhati-hati dalam mengambil langkah, karena setiap tindakan mereka akan mendapat komentar publik.
Kedua Chandier itu mengalihkan pandangan pada Erik, yang bermuka datar seraya mengusap darah di lehernya. Warren baru sadar itu. Dia hanya menghunuskan belati tanpa menyentuhkannya pada kulit Erik, tapi kenapa pria itu berdarah?
Oh, setelah dipikir-pikir lagi, tak mungkin Erik mengaku berselingkuh kalau dia tak dipaksa.
Ya, pasti begitu.
Rae dan Luther memiliki persenjataan lengkap –– dia juga memperkirakan setidaknya ada lima pisau lipat di pakaian dua ksatria itu –– sehingga Kethra tinggal mencabut pedang salah satu dari mereka.
"Kita memang tak bisa melepaskannya."
Erik mendengus pelan, mengundang keinginan Warren untuk melempar vas padanya. "Maaf saja, tapi tampaknya itu takkan berjalan sesuai keinginan kalian."
"Mengapa demikian, Tuan? Anda ingin aib Anda tersebar ke seluruh Kekaisaran? Dan Anda pasti tahu itu juga merupakan aib Chandier. Sejujurnya saya tak peduli sama sekali pada Anda, tapi karena Anda berkaitan dengan kami, jadi saya memilih untuk peduli," kata Warren tanpa perasaan. Dia takkan peduli jika Graylock meminta bantuan jenis apapun padanya.
"Bukan begitu. Saya menyadari seseorang menguping pembicaraan saya dengan Nona. Siapapun orang itu, dia akan memberitahu yang lainnya tentang kejadian itu."
Bahu Kethra merosot, dia menyandarkan badan ke sofa dan merengut semakin dalam. "Ah. Aku tak sadar sama sekali, padahal biasanya aku tahu ada penguping."
Rae dan Luther juga tampak sangat bersalah. Mereka sudah kecolongan. Ini karena mereka terlalu fokus dengan Erik sampai tak sadar sekitar. Kewaspadaan mereka melonggar terlalu banyak. Warren mengangkat alis. "Anda sadar ada penguping? Bagaimana bisa?"
"Bagi orang yang menghabiskan waktu di tempat sunyi, itu bukan hal susah. Saya punya ketajaman indra pendengaran, tapi sekarang itu bukan yang terpenting. Penguping itu akan menyebarkan informasi ini, dan takkan butuh waktu lama seluruh ibukota akan tahu kebenarannya," jelas Erik, merasa sangat cemas dan takut.
Melihat air muka tajam Chandier sulung, dia melanjutkan, "Maaf. Seharusnya saya diam saat dipaksa, tapi saya baru menyadarinya saat selesai berbicara. Ada suara vas yang digeser, itu artinya ada seseorang di luar. Tentu saja, saya tak bisa menemukan siapa dirinya karena langsung diseret ke mari." Erik kelihatan jengkel, dia ingin menangkap penguping itu.
"Kebenaran ...." Warren berbisik tanpa tenaga, mendadak merosot dengan segunung amarah di bahunya. Mata ungunya menangkap mata merah yang tak bercela. "Saya tak menerima itu kebenarannya. Saya rasa rasa sampai kapanpun aku takkan menerima kenyataan bahwa Kethra adalah anak Anda. Itu tak mungkin!" Matanya bergerak secara tak jelas, diliputi berbagai emosi yang meledakkan kepala.
"Saya tidak berbohong. Saya menghabiskan waktu dengan Daisy, dan melakukan itu. Saya tahu dosa saya takkan diampuni sampai kapanpun, tapi itulah kebenarannya. Saya tak tahu apakah Nona anak saya atau tidak, saya tak bisa memastikan itu," ucapnya tanpa menatap mereka.
Kethra mengangkat wajah dan berkata dengan lantang. "Tidak. Sampai kapanpun saya takkan menerima Anda sebagai Ayah. Saya adalah Chandier asli, dan akan selamanya begitu!" Dia mengangkat dagu, meskipun seluruh tubuhnya bergetar, tapi kesombongan dan kekeraskepalaan yang terkandung dalam kalimatnya begitu meyakinkan.
"Terserah pandangan Anda, Nona, tapi darah Chandier dalam tubuh Anda masih dipertanyakan," balas Erik. Kethra menggeram seperti serigala, dagunya semakin naik dan suaranya meninggi. "Saya adalah Chandier! Anda bukan Ayah saya!"
Itu adalah cara Kethra menenangkan dirinya, dengan menyangkal kemungkinan terburuk dalam benak. Dia tak peduli jika perkataannya menyakiti hati Erik Graylock. Dia hanya peduli pada diri sendiri.
𖤓𖤓𖤓𖤓𖤓
Henrietta menaikkan tudung jubah supaya menutup kepala. Bulu kuduknya meremang sedemikian rupa, semakin menguat saat tatapannya terpaku pada pilar-pilar yang berdiri di depannya. Pilar-pilar itu sama sekali tak kokoh, sudah aus dimakan oleh waktu. Lumut-lumutnya menyebar, tapi tidak berwarna hijau. Melainkan ungu kehitaman. Cairan keluar dari sana, kental dan berbuih. Itu adalah racun.
Dan lebih banyak tanaman beracun di sekeliling mereka. Jika mereka salah menggeser langkah sedikit saja, maka nasib sudah. Racun-racun itu akan melahap mereka, tak butuh waktu lama untuk penyebarannya. Racun telah bermutasi di sini, sehingga penyebaran dan efeknya memarah. Mereka mengonsumsi energi monster yang ada di antara rantai, mengolahnya menjadi racun mematikan yang setara dengan kematian akibat monster itu sendiri.
Pilar-pilar itu sendiri dililit oleh rantai-rantai tua berkarat. Sudah banyak di antaranya yang copot. Tergeletak di tanah, tak berani dipegang oleh siapapun meskipun tampak biasa-biasa saja. Hanya beberapa yang masih melilit pilar, bertahan menjerat di saat yang lain luluh lantak karena kekuatan moster yang memaksanya terputus.
"Ini tak benar," guman Henrietta. Dalam rantai-rantai itu, terkandung kekuatan dewa. Bersinar keemasan, dulunya pasti sangat indah. Tidak seperti sekarang yang pelan-pelan dimakan oleh kabut hitam. Kedua aura itu saling berusaha mendominasi, tapi Henrietta melihat kabut hitam hampir menguasai rantai. Di beberapa titik itu menebal, seperti gel, tapi di titik lain seperti bintik-bintik yang menyebar di mana-mana. Alih-alih datang dari satu sisi, itu seperti berbaur dengan aura lain kemudian melahap tanpa mereka sadari.
"Aura kegelapan yang mengandung energi monster telah memakan sebagian besar aura cahaya dari dewa. Kami sudah menyaksikannya sejak berhari-hari yang lalu, dan makin parah saja." Orang di sisi Henrietta, memakai pakaian serba gelap yang menonjolkan kulit pucat dan rambut peraknya di bawah cahaya mentari, menjelaskan semuanya dengan teliti. Dia adalah ketua Menara Penyihir Pusat, yang menjabat hampir dua puluh tahun lebih. Wajahnya tergolong muda untuk seusianya, dan cukup tampan. Henrietta menampar pemikirannya secara spontan, menggerutu bagaimana bisa dia memikirkan pria tampan di saat-saat seperti ini.
Ada dua puluh orang di sekitar mereka. Sebagian penyihir, sebagian lagi rohaniwan. Rohaniwan itu bukan warga Kekaisaran, melainkan warga kerajaan lain. Mereka dikirim dengan tugas membantu masalah ini, karena mereka mendapatkan berkah dari dewa. Henrietta mengenal salah satunya, Lynette, Saintess dari Kerajaan Luhan, yang mendapat berkah dari Ares. Dia mengetahuinya dari buku saat kelas di istana. Namun, dia tak mengingat semua wajah di buku itu.
Lynette memiliki garis-garis kekejaman di wajahnya, terutama saat menggeram dan mendengus. Namun, dia tak menunjukkan gerak-gerik kejengahan. Jadi, meskipun kasar dan dingin, dia menjalani tugasnya tanpa protes.
"Apakah mereka tak berhasil menahan energi ini menyebar?" Inti permasalahan itu adalah penyebaran energi monster. Mereka tak tahu cara mengganti rantai, tapi jika mengatasi penyebaran terdengar lebih masuk akal. Rantai yang mengikat monster bukanlah sembarang rantai. Itu ditempa secara khusus, dengan inti material yang hanya ada di alam dewa. Mereka fana, mereka takkan bisa menginjakkan kaki di alam itu. Dan para dewa tampaknya sangat tak peduli dengan urusan monster ini.
Henrietta ingat jika mereka akan menurut pada Apollo, yang merupakan dewa Kekaisaran. Karena Apollo memilih acuh tak acuh, jadi mereka tak bertindak apa-apa. Kehendak semua ini ada di tangan Apollo.
Seseorang mendekat, tak terdengar langkahnya karena dia terbang beberapa senti dari tanah. Sihir kecil-kecilan yang bisa dilakukan sebagian orang-orang kuil. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kekuatan kami nyatanya tak berdampak sebesar itu. Kami hanya bisa menahan penyebaran selama beberapa jam." Saint itu menangkupkan tangan di dada, membungkuk ringan pada Henrietta. Rambutnya jatuh ke depan, menutup wajah berkulit perunggu tersebut. Di jemarinya, terdapat cincin bermotif burung. Dan di lehernya, tergantung patung mungil emas sosok bersayap, yang cakarnya menunjuk Henrietta. Punggung Henrietta mendadak dingin, memikirkan makhluk macam apa di leher si Saint. Bukan monster, tapi juga bukan dewa.
"Saya Michael, putra Dewi Hera."
"Senang bertemu dengan Anda. Saya Henrietta, putri Dewa Apollo." Para penerima berkah sering menyebut diri mereka sebagai putra-putri dewa. Henrietta mendapat kesan kelembutan dan ketegasan secara bersamaan dari Michael. Dikarenakan dirinya anak penerima berkah Hera, dia bertanggungjawab atas sebagian besar pernikahan dan hubungan keluarga. Dia tahu semua hukum mengenai pernikahan.
"Paling lama kami menahan penyebaran selama seharian penuh. Energi monster menekan kekuatan suci kami. Energi itu semakin membesar, kami semakin kepayahan menahannya," lanjut Michael. Kulit perunggu khas dengan kerajaannya yang sebagian besar berupa gurun, itu memberikan sentuhan tersendiri yang membuat siapapun terpikat. Di antara kegelapan kulit dan pakaiannya, irisnya yang berwarna abu-abu sangat mencolok.
"Sepertinya para monster makin tak sabar," balas Henrietta. Michael tersenyum kecil, menyibakkan anak rambut yang menutupi dahi. "Mereka semakin liat saat menyadari kekuatan dewa melemah. Tampaknya mereka telah memperkuat kekuatan mereka selama ratusan tahun belakangan di alam sana."
Henrietta mengernyit. "Andai kita tahu apa yang terjadi di sana."
"Dewi Hera pernah berkata sesuatu pada saya. Alam monster yang dibuat Dewa Apollo tidak terhubung ke manapun. Tak ada yang bisa masuk ke sana, tapi seperti hukum alam, akan ada pemimpin. Siapa yang kuat, maka ialah penguasanya. Maksud saya adalah di alam itu pasti terdapat raja."
Henrietta menyela, "Dan penguasa itu memerintah monster untuk mengumpulkan kekuatan bersama demi menghancurkan segel?"
"Benar. Kekuatan yang dikumpulkan bersama-sama akan lebih kuat ketimbang dikumpulkan sendiri. Penguasa itu memiliki kesadaran dan akal, tidak seperti monster lain. Ia mungkin memanfaatkan kekuatan alam yang ada," balas Michael. Henrietta berusaha mengalihkan pandangan dari patung sosok bersayap di leher Michael, dan akhirnya matanya tertuju pada di dahi si Saint.
"Alam itu memiliki energi dewa sepenuhnya, monster takkan bisa memanfaatkannya," sanggahnya. Michael mengangguk-angguk, memasukkan kalung ke dalam baju satin putih di bawah jubah kebiruannya. "Ia bisa saja mengubah energi itu menjadi energi monster."
"Ah, saya ingat!" Henrietta menjentikkan jari, setengah dirinya bertanya-tanya apakah Michael tahu dia memandangi kalung miliknya, sementara setengah lagi menjelajah ke dalam lautan informasi yang didapat dan dipelajarinya mati-matian.
Michael mengulas senyum. Dia sudah menjadi Saint selama lima tahun lebih, dia memahami kisah-kisah para dewa dan makhluk lainnya lebih mahir ketimbang Henrietta. Henrietta hanyalah Saintess baru, usianya bahkan belum setahun lebih. Namun, dia milik Kekaisaran. Dia berada di tempat di mana penyegelan monster berada. Dia adalah penopang dan penentu kehidupan ke depannya. Dia adalah putri dewa paling berpengaruh di benua. Dewa yang keberadaannya sangat menentukan masa depan benua ini. Sayangnya, ada Hukum berlaku di alam dewa sana. Hukum yang membuat dewa-dewi lain tak dapat ikut campur sesuka hati mereka, meskipun mereka sangat kepingin.
Henrietta sangat pemula. Sifatnya lugu, manis, polos, dan mudah tersenyum. Itu terkesan seperti dirinya gampang dipengaruhi. Anak penerima berkah pada umumnya memang mudah tersenyum, tapi mereka tegas dan berpendirian teguh. Mereka tak boleh terombang-ambing oleh perebutan takhta dan lain-lainnya, serta tak gampang dipengaruhi emosi. Henrietta punya cukup pengendalian dalam itu, tapi tergolong kurang jika dibandingkan dengan penerima berkah lainnya.
Mari memikirkan hal lain saja, batin Michael seraya menggelengkan kepalanya. Yah, dia tak tahu saja kalau Henrietta beberapa kali mengumpat tanpa diketahui siapapun. Ilmu dari Lorrin saat kecil.
"Saat perang ratusan tahun lalu, ada monster yang memiliki kemampuan mengubah kekuatan apapun di sekitarnya menjadi kekuatannya. Itu adalah kemampuan tertinggi. Jadi, monster itulah rajanya?"
"Kemungkinan besar. Monster itu sangat merepotkan karena kemampuan Pengubahnya. Tanaman-tanaman terancam mengalami kepunahan massal. Tanah dan air tak berfungsi dengan baik. Kekuatan alami alam diserap oleh mereka." Michael meringis, fakta jika monster Pengubah berjumlah lebih dari dua membuatnya meremang. Menghadapi satu saja terkesan mustahil, apalagi tiga. Atau empat. Atau lima.
Mimpi buruk.
Ketua Menara Penyihir Pusat menyahut mereka, ketegangan tergambar tepat di bawah kulitnya yang mencetak samar tulang-tulang. "Monster Pengubah memiliki kemungkinan terbesar sebagai raja. Mereka juga memiliki kecerdasan. Mereka mempelajari kelemahan lawan, lantas bergerak dengan kecepatan menakjubkan. Selalu telak. Sangat memungkinkan mereka menjadi raja, tapi pertanyaannya adalah siapa itu? Apakah mereka menjatuhkan sesama spesies mereka?"
"Entahlah. Mungkin mereka membunuh sesama, atau saling mempertahankan untuk menguatkan kemampuan. Insting monster pada umumnya yaitu mempertahankan diri sendiri dengan membunuh spesies lain atau bahkan sesama spesies, tapi kita tak tahu apakah insting itu ada di dalam diri mereka. Jika raja memutuskan membiarkan Pengubah lain hidup, maka itu sama buruknya dengan ia menjadi satu-satunya Pengubah," balasnya. Ketua Menara Penyihir Pusat mengangguk. Jika ada satu Pengubah, maka sama saja Pengubah itu sangat kuat. Ia menduduki takhta raja dengan membunuh semua Pengubah. Ia berhasil dalam perebutan kekuatan alam. Namun, jika ada Pengubah lain, maka kekuatannya mungkin semencolok itu. Ia terpilih karena sedikit lebih kuat.
Suara bass Michael menarik orang-orang dari pemikiran mereka. "Nah, mari kita lakukan saja ritualnya. Hari sudah semakin sore, tidak baik berada di sini saat malam tiba. Ada tanaman yang menyemburkan asap beracun dan aktif saat malam."
Henrietta maju, menangkupkan kedua tangan di depan dada. Para penerima berkah membentuk lingkaran di sekelilingnya, melakukan hal yang sama tanpa basa-basi. Para penyihir menyingkir, melayang dua meter di atas mereka sembari berjaga-jaga.
Partikel yang memiliki berbagai warna melayang-layang di udara, berputar di sekeliling pemiliknya sebelum berbaur dengan yang lain dan membentuk jalinan yang lebih rumit. Mereka tak dapat membedakan warna lagi. Merah, emas, biru, putih, hijau, ungu. Semua bercampur di udara, mengirim sensasi merinding pada siapapun karena tekanan dan rasa kagum.
Henrietta, yang merupakan pusat lingkaran itu, mendongak pada pilar-pilar. Jalinan partikel membungkus rantai, mendesak aura monster untuk segera pergi. Perut Henrietta mendadak kosong saat pikirannya berkelana ke mana-mana. Bibirnya kelu untuk mengucapkan sepatah doa, lupa apa tujuannya ke mari.
"Nona Saintess." Michael menyadarkan Henrietta. Henrietta tersentak, mengucapkan maaf berkali-kali, meskipun tak begitu merasa bersalah.
"Dewa Cahaya yang Agung, saya memohon kepada Anda, perkuatlah segel ini. Lindungilah kami semua. Kami adalah rakyat Anda, kami berhak mendapatkan perlindungan. Maafkan kesalahan kami ratusan tahun lalu. Berikanlah kami kesempatan untuk membayar kesalahan kami. Ampuni kami semua." Itu hanyalah omong kosong. Apollo takkan datang untuk menyelamatkan mereka, tapi dia tetap memanjatkan doa dengan cuil-cuil harapan yang tersisa dalam rongga dadanya.
"Jika segel ini hancur, maka pupus sudah Kekaisaran. Jadi, saya mohon, cegahlah segel ini hancur."
Henrietta dengan tulus berharap, menjiwai tiap kata-katanya sembari mengalirkan kekuatan suci.
Kekuatan suci itu melingkupi seluruh rantai, perlahan-lahan menghapus aura monster. Kali ini, Michael memperhatikan, aura itu lebih cepat terhapus. Tidak seperti sebelumnya yang berjalan seperti kura-kura.
𖤓𖤓𖤓𖤓