Chapter 6
Start
JUST RIGHT !
Main Cast :
Byun Baekhyun aka Kim Baekhyun
Park Chanyeol
Cast akan muncul setiap bertambahnya Chapter.
Jangan salah lapak:
GENDERSWITCH (GS)
Romance & Drama
Semua cast sesuai dengan imajinasi kalian pembaca
.
Jangan lupa tinggalkan jejek sesudah maupun sebelum membaca
.
.
.
Peringatan
Awas typo bertebaran.
Just read on~
Dengusan lelah dan tatapan sayu tercetak jelas pada wajah rupawan seorang wanita yang sedang memolek dirinya dipantulan cermin. Hatinya sampai saat ini tidak tenang setelah apa yang terjadi siang tadi. Pria itu setelah makan siang bersama langsung melesat pergi ke Hotel mengurus persiapan malam ini.
Sebenarnya Baekhyun ingin meminta maaf, sayang Chanyeol tidak kembali. Saat dia bertanya kepada eomma Chanyeol, pria itu ternyata kembali ke Seoul. Huffft~
"Dia membuatku benar benar ingin mengumpat" kesal Baekhyun mengoles lipstik berwarna plum dibibir tipisnya dengan kasar. Dia benar benar kesal bukan main.
"Lihat saja nanti, aku akan memukulmu jika kau sampai membuatku kesal" Baekhyun menunjuk pantulan dirinya sendiri dengan mengacungkan lipstik digenggamannya.
"Ashh-"
Umpatan yang sudah siap keluar dari belah bibir ranumnya gagal setelah telingannya mendengar ketukan dari pintu kamar yang dia tempati.
"Nde, tunggu sebentar" seru Baekhyun melangkah mendekat.
Apa yang Baekhyun lihat setelah membuka pintu membuatnya terdiam terpaku. Sosok pria yang ingin dia umpati berdiri dihadapnnya dengan menggendong Daseul. Bahkan adiknya itu tersenyum cerah kerahnya.
Chanyeol di depan pintu terteguh memperhatikan penampilan Baekhyun, bahkan dia tidak mengalihkan tatapannya sama sekali. Pria itu terpesona dengan kecantikan wanita dihadapnnya. Semakin bertambahnya usia aura Baekhyun terlihat sangat bersinar dan berkali lipat cantik. Rasanya dia ingin mengurung wanita itu dikamarnya agar tidak ikut ke dalam acara yang digelar. "Apa kau sudah siap, kita harus segera berangkat. Appa dan eomma mu sudah bersiap berangkat"
"Hmm, aku sudah selesai. Daseul ayo dengan eonni" ajak Baekhyun mendapat penolakan dari balita kecil itu.
"Biarkan aku yang menggendongnya, bawa saja apa yang perlu kau bawa. Kita harus segera berangkat sebelum acara di mulai. Mereka semua sudah berangkat hanya kita saja" jelas Chanyeol menahan kekehannya saat respon keterkejutan Baekhyun terlihat mengemaskan.
Orang tua Chanyeol sudah berangkat terlebih dahulu semenjak dua jam lalu, sedangkan keluarga Kim menyusul setelah mendapat pesan dari eommanya untuk segera datang dan hal itu bersamaan dengan kedatangan Chanyeol seusai perjalanan jauh dari Seoul. Ya, urusan pria itu di Seoul sudah selesai dan langsung menuju ke Paju. Untuk Daseul kenapa bisa dengan Chanyeol?? Bocah itu rewel digendongan mommynya ingin menemui eonninya sedang bersolek. Jadilah dia menawarkan diri setelah bersiap, menggendong Daseul dan menunggu Baekhyun. Dia juga meminta tuan Kim agar meninggalnya, kedua putri cantiknya dia yang bertanggung jawab mengantarnya.
"Kenapa mommy tidak menunggu ku" protes Baekhyun dengan kerutan didahinya membalas tatapan Chanyeol kepadanya.
"Aku yang memintanya, eomma meminta agar mommy mu segera datang. Kau tau bagaimana eomma, tidak hanya dua kali dia menelepon melainkan lebih. Aku kasian melihat mommy mu selalu terlihat kesal setiap meladeni eomma ku. Ayo kita berangkat" ajak Chanyeol lembut. Seakan kejadian siang tadi tidak pernah terjadi.
"Hmm" gumam Baekhyun baru beberapa melangkah kembali kedalam ingin mengambil tasnya, dia sudah berhenti terdiam sesaat mendengar perkataan dingin Chanyeol yang ditujukan kepadanya.
"Tidak bisakah kau memakai pakaian yang layak, jika tidak ingin menggantinya setidaknya kau bisa menggerai rambut mu" ucap Chanyeol dingin saat mata tajamnya mengetahui punggung wanita itu terekspos sampai batas pinggang. Awalnya dia biasa saja memperhatikan gaun malam itu dari depan yang terlihat sopan dan hanya mengekspos lengan putihnya namun dia sangat terkejut setelah Baekhyun berjalan kembali masuk kekamarnya.
Walaupun gaun malam itu terlihat tertutup dibagian dadanya dari depan, ternyata tidak jika dilihat dari belakang. Punggung putih itu terlihat jelas. Ditambah model rambut wanita itu ditata rapi digulung keatas.
Baekhyun sebenarnya disini hanya terima pakai. Dia tadi meminta gaun malam pada Jaemin agar membawakannya dari almari pakaiannya, itu pun terserah adiknya yang terpenting terlihat elegan. Adiknya itu memang dapat dia percaya, dia setuju saja dengan apa yang dia pakai saat ini. Namun semua itu harus terbantahkan ulah Chanyeol. Tatapan pria itu kepadanya sangat membuatnya tidak nyaman.
"Ini tidak buruk, aku menyukainnya" Baekhyun tetap pada pendiriannya tidak ingin merubah penampilannya barang sedikit pun. Lebih menyibukkan diri memasukkan barang barang yang menurutnya penting.
"Baiklah jika begitu, aku tunggu di mobil" gumam Chanyeol melangkah pergi menahan ketidak sukaannya akan apa yang Baekhyun kenakan. Chanyeol memilih mengalah dari pada berdebat dengan wanita itu yang berujung mereka tidak akan segera berangkat.
Kepergian Chanyeol meninggalkan sosok Baekhyun yang mendengus lelah menatap pantulan dirinya dicermin. Dapat dia lihat tidak ada pancaran kebahagiaan di garis wajahnya. Dengan helaan nafas berat, dirinya melepas hiasan di rambutnya, membuat rambut itu terjuntai jatuh memanjang.
.
.
.
Acara yang digelar berjalan dengan sempurna seperti harapan keluarga Park. Tamu tamu kolegan menikmati hidangan yang telah disiapkan setelah acara pembukaan selesai. Seperti halnya para wanita sosialita yang sudah pergi dari samping suaminya memilih saling menyapa temannya dengan tujuan memamerkan apa yang sedang mereka kenakan. Mereka tidak ingin kalah saing, sedikit saja celah kekurangan pasti akan mendapat sindiran maupun tatapan remeh. Sayang kali ini, keluarga Park Minho yang menjadi sasarannya saat mengetahui putri kedua keluarga itu hadir.
"Seulgi-a, tidak biasanya kau datang bersama putri kedua mu. Hubungan kalian sudah membaik ternyata" sindir Yuri menatap remeh temannya dan menepuk lengan temannya yang lain agar menyahuti.
"Kali ini Min-jeong dapat ikut dengan kami karena tidak bentrok jadwal pekerjaannya di rumah sakit. Bukan begitu sayang" Seulgi tersenyum manis menimpali perkataan itu yang menurutnya sangat keterlaluan. Hubungan mereka memang sudah membaik malah setelah dia mendekatkan diri dengan putrinya, dia tidak ingin jauhan. Ada saja yang mereka bicarakan.
"Benar apa yang eomma saya katakan, hari ini saya luang, jadi saya bisa hadir dengan keluarga ke acara ini" jawab Min-jeong ramah.
Min-jeong tahu arti tatapan yang teman eommanya arahkan kepadanya, itu tatapan meremehkan. Sebelum dia berangkat eonninya berpesan agar jangan terpancing omongan teman teman eomma. Mereka memang suka seperti itu. Dulu eonninya juga pernah dan ditanggapi eonninya dengan perkataan tak kalah pedas, malah keluarganya yang mengalami masalah. Jadi eonninya mewanti wanti, mereka akan kalah jika ada seseorang yang menegur memiliki level diatas mereka. Hanya itu.
"Itu bisa dikatakan hal baik jika begitu" Balas Tifany mengangguk pelan. "-Namun, wah aku tidak menyangka seorang dokter muda dapat memakai barang barang mahal seperti itu, atau jangan jangan kau yang membelikannya Seulgi-a"
"Atau jangan jangan kau memiliki pekerjaan lain dan alasan itu kenapa keluarga besar mu tidak pernah mengekspos ke publik mengenaimu. Kenapa hanya Rose saja yang selalu kau banggakan" lanjut Sana dengan memamerkan senyumnya. Seakan perkatannya tidak memiliki arti apa apa bagi Seulgi.
Untuk Min-jeong, wanita itu sudah menahan ingin menyahuti namun perkataan eonninya terus berkeliaran dipikirannya. Tapi jika dia tidak membalas teman teman eommanya mereka akan semakin menjadi dan dia tidak tega dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Seulgi yang mendengar perkataan teman temannya semakin meremat tas yang dia bawa. Dia sudah tidak pernah membeda bedakan kedua putrinya. Walaupun ada rasa menyesal, kenapa dia dulu begitu pilih kasih terhadap Min-jeong. "Jangan asal bicara, aku tidak membedakan mereka. Rose dan Min-jeong memiliki pekerjaan sendiri sendiri. Kenapa Rose lebih terlihat bersama kami disetiap acara karena dia terjun di perusahaan sedangkan putriku ini seorang dokter" jelas Seulgi marah yang ditanggapi tatapan remeh dari mereka semua. Memang diantara teman temannya dia yang memiliki pendidik biasa saja, tidak seperti mereka yang memiliki pendidikan diluar negeri ataupun Magister.
"Eomma, sudahlah aku tidak apa apa" gumam Min-je mengusap lengan eommanya agar tidak tersulut emosi. Mereka masih didalam acara yang belum selesai, seandainya ada keributan semua akan buruk.
"Tidak, tidak bisa seperti ini. Kau direndahkan sayang. Betul mereka teman eomma namun seharusnya tidak mengatakan hal yang dapat menyakiti hati putri eomma"
"Eomma sudah tidak apa apa. Maaf nyonya, meskipun saya hanya seorang dokter setidaknya sampai dititik ini saya berjuang tanpa merepotkan kedua orang tua saya. Jangan anda meremehkan sesuatu jika tidak mengetahui perjuangan yang sudah dilakukan. Eomma kita pergi, seharusnya eomma tidak perlu berteman dengan mereka yang hanya ingin bersosialisasi dengan selevelnya. Masih banyak teman eomma yang lebih baik dari mereka" sindir Min-je mengajak eommanya pergi dari mereka, namun baru saja berbalik dia menemui kekasihnya melambai kearahnya.
"Winter" panggil Jaemin memamerkan senyum tampannya.
"Jae, kau sudah datang dengan mommy dan deddy"
"Mereka sedang bersama tuan Park, aku langsung mencarimu setelah beberapa urusan sudah aku urus dengan para kologan" jelas Jaemin mengusak rambut pendek kekasihnya tanpa memperhatikan sekitarnya yang menatap mereka bertanya tanya maupun mengejek.
"Eomma, perkenalkan ini kekasihku Kim Jaemin yang beberapa waktu lalu aku ceritakan"
"Eomma Min-jeong, beberapa hari lalu putriku sudah menceritakannya, salam kenal Jaemin" sapa Seulgi ramah meskipun dia penasaran kenapa pria itu memanggil putrinya dengan nama lain. Putrinya beberapa hari lalu mengatakan jika memiliki kekasih dan ingin bertemu dengan keluarganya.
"Nde ajumma" balas Jaemin.
Baru saja mulut Jaemin tertutup rapat mereka bertiga sudah mendengar gumam teman teman Seulgi yang menurutnya tidaklah penting, itu bagi Jaemin dan Winter. Itu semua masa lalu dan Winter sudah menghadapi sosok wanita yang dulu membuatnya selalu tersulut emosi.
"Tiffany bukankah dia dulu kekasih Karina putrimu??" Tanya Sana berbisik.
"Kau benar, aku tidak menyangka bertemu pria kampungan itu. Dia hanya karyawan biasa kenapa bisa diacara seperti ini" balas Tiffany menatap sosok Jaemin yang membalas tatapannya dengan dingin.
Beberapa tahun silam dimana Jaemin mengalami masalah dilema yang membuat kepalanya ingin meledak. Tepatnya setelah selesainya program pertukaran pelajar di Swiss yang Min-jeong tuntaskan, wanita itu menjaga jarak dengannya. Bahkan menatap saja Winter tidak melakukannya saat bermain ke Mansion di Paris. Dirinya serasa seperti transparan. Setelah dia ingat ingat, disini dialah yang salah. Pertengkaran sebelum Winter pergi ke Swiss melukai wanita itu. Dia dengan marah meminta Winter agar menjauhinya.
Mengetahui kesalahannya dia berusaha keras sampai kata maaf itu terucap dibelah bibirnya dan dibalas dengan Winter tersenyum manisnya. Hubungan mereka kembali baik baik saja meskipun tetap ada batasan karena Jaemin memiliki Karina sebagai kekasihnya.
Semua berjalan seperti itu sampai Jaemin mendengar kabar dari temannya jika Winter menjadi residen di rumah sakit dekat universitas tempat pertukaran pelajar di Swiss. Dengan kalang kabut dia berusaha menemui Winter namun tidak bisa. Dia memiliki kewajiban sebagai karyawan di perusahaan deddynya, sedangkan wanita itu di Paris menjadi model yang nunnanya gelar. Kenapa dia tidak menghubungi memakai ponsel, Jaemin ingin bertemu Winter dan mencegahnya. Jika Winter menjadi residen disana kemungkinan dia akan menetap menjadi dokter di Swiss dan tidak kembali ke Korea.
Ditambah hubungannya dengan Karina mulai tidak baik baik saja karena keluarga wanita itu tidak menyukainnya. Selama ini dia memperkenalkan diri kepada Karina jika dia orang biasa dan berkerja menjadi karyawan di perusahaan ITzCool. Hanya dia karyawan biasa keluarga itu tidak menyukainnya.
Benar benar saat itu pikirannya terbagi menjadi 2, sampai dia memutuskan memilih fokus terlebih dahulu memperbaiki hubungannya dengan Karina yang merenggang sebab kekasihnya mulai tertarik dengan pria yang keluarganya jodohkan. Untuk Winter dia akan menemuinya setelah semuanya kembali seperti semula. Namun saat dia terlalu sibuk dengan hubungannya kembali membaik dengan Karina, Jaemin tidak menyadari Winter telah berangkat ke Swiss bersama keluarganya.
Winter pergi tanpa memberi kabar kepada Jaemin karena dia tidak ingin mengganggu hubungan mereka lagi.
Kepergian Winter membawa kekosongan di hati Jaemin. Meskipun Karina bersamanya, perasaannya terasa kosong. Hatinya terasa sakit mengetahui wanita itu pergi ditambah beberapa hari kemudian dia mendengar percakapan mommy dan nunnanya jika Winter selama ini menyukainnya sebagai pria bukan adik. Dulu dia sempat memiliki perasaan kepada wanita itu yang lebih tua darinya 2 tahun namun segera dia patahkan karena dia merasa perhatian yang Winter berikan kepadanya seperti wanita itu berikan keteman temannya. Dan setelah mengetahui itu hatinya terasa benar benar kosong, ia mulai bertanya tanya benarkah perasaannya terhadap kekasihnya itu cinta atau sekedar kagum.
Bahkan saat perjodohan yang keluarga Karina teruskan sampai jenjang pertunangan itu terjadi. Dia hanya menemui Karina, mengatakan jika Karina dapat memilih dirinya atau tunangannya yang kaya raya. Ternyata wanita itu memilih tunangannya. Apakah dia sakit hati??? Tidak dia malah sangat lega.
Dengan langkah lebar Jaemin keluar dari acara pertunangan mantan kekasihnya itu segera menemui nunnanya. Meminta nunnanya agar menyakinkan dirinya siapa yang sebenarnya ada dihatinya. Ternyata jawabannya Winter. Wanita itu sudah sangat lama singgah di hatinya dari dulu, semenjak awal bertemu Winter.
Jaemin berusaha semaksimal mungkin agar dia dapat bertemu dengan wanita itu lagi. Sampai mereka bertemu dan Jaemin ingin mengajak kembali ke Seoul, namun Winter tidak bisa. Jika dia menuruti egonya karir Winter yang hancur.
Akhirnya, dia memilih tidak ingin menghancurkan perjuangan Winter sampai dititik ini. Dia menunggu, benar benar menunggu sampai rumah sakit di Swiss memberikan surat pemindahan kerja ke Rumah Sakit di Seoul. Penantian panjang tiga tahun berujung kebahagiaan. Winter kembali disini. Dan sekarang menjadi kekasih hatinya.
"Ya, dia dulu kekasih Karina. Namun yang harus ajumma tau sekarang dia kekasihku" kesal Winter tidak ingin menahannya lagi. Sekarang malah kekasihnya lah yang menjadi bahan perbincangan mereka.
"Ajumma harus tau. Pria di sampingku yang ajumma remehkan karena hanya karyawan biasa bukanlah pria sembarangan. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat bagaimana perjuangannya dari bawah dan sekarang sudah sampai dititik paling atas. Pria yang ajumma ini remehkan adalah seorang direktur perusahaan E.K Food" marah Winter sampai nafasnya naik turun. Dadanya sangat sesak, kenapa mereka para orang kaya meremehkan orang orang dibawah mereka. Seakan tidak ada harganya.
"Sayang, sudahlah. Kita pergi, mommy dan deddy ingin bertemu dengan mu. Bahkan Daseul juga hadir. Jangan seperti ini" tutur Jaemin mengusap punggung kekasihnya berharap emosi wanita itu reda. Untung saja saat ini mereka berada dipojok ruangan, seandainya pertengkaran ini terjadi di tengah ruangan sudah lain ceritanya. Mereka akan menjadi sorotan, ditambah suara musik yang mengalun lirih membuat suara Winter terdengar.
"Baiklah, kami permisi. Selamat menikmati hidangan yang telah disajikan di acara ini" ujar Jaemin mengajak Winter dan eomma kekasihnya pergi dari hadapan mereka bertiga menuju kemana mommy dan deddynya sedang menikmati hidangan dimeja para tamu yang diundang khusus oleh keluarga Park.
Meninggalkan para teman teman Seulgi yang saling menatap mengetahui apa yang baru saja mereka lihat. Mereka tau meskipun keluarga Seulgi teman Yoona, keluarga itu tidak mendapatkan tempat tamu VVIP. Jadi perkataan putri Seulgi mengenai siapa kekasihnya memanglah benar.
"Dia, dia sepertinya putra dari keluarga Kim, Pasangan Junmyeon Kim dan Irene Bae, perusahaan besar di Paris yang mulai membuka cabang di Korea. Jaemin Kim adik dari desainer Elif Kim pemilik perusahaan BnE.Fashion" ujar Yuri tanpa berkedip memperhatikan desainer yang dia idolakan ada dihadapannya menyapa kekasih putri Seulgi dari tempat duduknya.
"Kau telah membuang berlian berharga Tiff" lanjut Sana menatap temannya yang dia panggil hanya terdiam mematung.
.
.
.
"Tidak biasanya kau hanya berdiam diri saat adik adikmu dalam masalah??" Tanya Sungjae memperhatikan Baekhyun yang asik menonton tanpa terlihat ingin membantu.
"Aku sengaja membiarkannya. Jaemin harus mendapat pelajaran dari kejadian ini. Toh, aku percaya dengan Winter. Dia wanita tangguh, jika ada yang menyemprotnya dengan perkataan pedas dia akan membalas dengan lembut namun tajam. Tapi jika marah, api akan keluar dari mulutnya" jelas Baekhyun menyeringai, menyeruput minuman yang dia genggam. Setelah peresmian dibukanya Hotel Resto milik keluarga Park, dia memutuskan bergabung menyapa keluarga Yook.
Berakhir duduk disebelah Sungjae, menikmati tontonan yang menurutnya gratis sebelum kembali ke keluarganya. "Aku tidak melihat Minhyuk sedari tadi, bukankah iklan pemasaran tempat ini perusahaannya yang menanganinya" lanjutnya saat salah satu oppanya tidak terlihat.
"Dia sedang membantu temannya seorang pengacara mencari seorang hekher. Aku dengar dengar perusahaan yang memperkerjakan temannya itu sebagai pengacara, data penting disana dalam incaran hekher. Minhyuk mengeluh jika kesulitan mencari sosok itu, kejadian ini sudah pernah terjadi dan kabarnya akan terulang kembali. Jadi dia sedang sibuk, haker itu saat ini sedang beroperasi"
"Waw, aku harus merekrutnya untuk mengamankan data data perusahaanku"
"Hacher itu pemilih dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan. Perusahaan perusahaan besar yang dia mau"
"Sebentar lagi perusahaanku juga akan berkembang" sahut Baekhyun tidak terima akan perkataan Sungjae seakan dia tidak mampu membayar haker itu.
"Apa kabar kalian semua, apa aku sudah terlambat" sapa sosok yang Baekhyun dan Sungjae omongkan sudah berdiri dibelakang keduanya yang terkejut akan kedatangannya.
"Kau datang??? Aku kira pekerjaan mu tidak bisa ditinggalkan" tanya Sungjae menyesap wine yang dia ambil dari seorang pelayan.
"Sudah beres, bocah itu sudah tertangkap dan aku langsung kemari" jelas Minhyuk duduk disamping Baekhyun yang hanya menganggukan kepalanya.
"Bagaimana hasilnya, Sungjae menceritakan sedikit kepadaku?? Pasti dia sangat hebat membuat seorang Minhyuk ketua mafia pusing dibuatnya"
"Ternyata hanya seorang bocah laki laki. Parahnya kami menangkapnya di dalam toilet perempuan. Bocah itu bisa bisanya bersembunyi disana" gerutu Minhyuk mengingat bagaimana dia menunggu dan menodongkan pistol ke kepala bocah itu.
"Pasti dia mengira akan aman bersembunyi disana. Bagaimana bisa kau mengetahui keberadaannya. Aku sangat penasaran, sebab kau selalu terjebak diarahkan ke sungai han"
"Benarkah??? Separah itu?" Kejut Baekhyun tidak menyangka.
Helaan nafas berat terdengar jelas membuat Baekhyun dan Sungjae terkekeh pelan. Mereka berdua tau bagaimana kesalnya pria itu hanya dari wajah lelahnya.
"Alat komunikasi haker itu dengan temannya aku temukan di lobby perusahaan saat akan menemui temanku. Dari sana aku menyabotase sampai temannya mengatakan rencana yang mereka jalankan. Akhirnya bocah itu tertangkap. Tamat"
"Wahhh dia sangat hebat ternyata, sayang sepertinya perusahaan itu tidak akan melepaskannya padahal aku ingin menggunakan jasanya"
"Tapi bukankah pemilik perusahaan itu juga seorang mafia, kenapa dia meminta kepada temanmu agar melakukan ini"
"Itu strategi perusahaan untuk mencari aman tanpa tercium pihak keamanan" jelas Minhyuk yang diangguki paham Sungjae.
"Dia juga seorang mafia seperti kalian"
"Hmm, tapi dia di level paling tinggi dari kita dan Robert sekalipun. Jadi jangan pernah berurusan dengan mereka ataupun berencana mengenal haker itu. Jika sampai kau berurusan dengan pria itu kami tidak bisa berbuat apa apa. Pria itu tidak memandang bulu"
"Apa yang kalian katakan, tentu saja aku tidak ingin berurusan dengan hal mafia. Itu sangat mengerikan. Sudahlah jangan berbicara mengenai ini lagi. Aku saja sudah pusing dengan kalian yang ternyata levelnya biasa saja, apa lagi levelnya paling atas. Tidak terimakasih aku tidak mau berurusan dengan orang semacam itu" gerutu Baekhyun melahap cake dengan anggun.
"Itu bagus"
"Bukankah kau mengatakan Daseul akan ikut, aku tidak melihatnya sama sekali, dimana dia??? Aku datang kemari hanya ingin melihat Daseul aku sudah merindukannya" Minhyuk mencari keberadaan bocah perempuan yang biasanya tidak lepas dari Baekhyun.
"Kau bisa lihat di kursi VVIP, dia asik bermain dengan Chanyeol. Aku ditolak mentah mentah saat akan mengajaknya mencari cake. Bocah itu tau saja yang mengajaknya orang tampan" dumel Baekhyun.
"Aku tampan, tapi dia tidak seperti itu. Benar benar lengket dengan tuan Park" ucap Minhyuk mengerutkan alisnya.
"Park Chanyeol, pria itu calon suami Elif. Tentu saja Daseul merasa nyaman, eonninya saja bahkan sangat nyaman sampai sampai saat ini masih tidak bisa melupakannya" gurau Sungjae mendapat pukulan keras dari Baekhyun yang tidak terima akan perkataan oppanya satu itu.
"Jangan asal bicara, aku akan memukulmu lagi"
"Itu benar, Minhyuk perhatikan saja pakaian yang Baekhyun kenakan. Biasanya jika model seperti ini dia akan menyanggul rambutnya dengan pernak pernik atau menata rambut panjangnya ke samping. Namun karena dia terkena marah pria itu, rambutnya dibiarkan tergerai kebelakang menutupi punggungnya yang terekspos. Jadi, bukankah hari ini adik perempuan kita terlihat tidak seperti biasanya" jelas Sungjae diangguk Minhyuk setuju tanpa bantahan.
"Jika kau bicara lagi akan aku pukul lebih keras dan mempermalukan mi di depan semua orang" ancam Baekhyun kesal.
"Aku tidak takut. Apa yang aku katakan benar, bahkan kau meminum jus padahal biasanya wine. Kau merasa terintimidasi pria itu. Stop. Kau ingin membuat keributan dia acara calon suamimu" ejek Sungjae dengan tawanya saat Baekhyun mengurungkan niat memukulnya, dia serasa menang. Wanita disampingnya itu selalu benar dan tidak bisa dibantah. Sekarang dia sangat senang dapat membuat Elif kesal.
Asik dengan gurauan yang ketiganya buat sampai tidak menyadari keberadaan Chanyeol berdiri di belakang mereka menatap dingin. Sedari tadi Chanyeol perhatikan lama lama membuatnya ingin membawa Baekhyun pergi dari kedua laki laki itu.
"Baekhyunie" panggil Chanyeol menepuk pundak wanita yang dia panggil dengan pelan.
Jangan tanya bagaimana respon wanita itu, Baekhyun sudah berteriak terkejut menimbulkan kekehan bagi keduanya. Minhyuk dan Sungjae untuk pertama kalinya melihat Baekhyun terlihat ketakutan.
"Ada apa Chan??? Ohh Daseul kau mengantuk" tanyanya saat mengetahui tidak hanya Chanyeol yang menghampirinya melainkan ada adik perempuannya sudah terlihat mengantuk bersandar di bahu pria itu.
"Daseul tidak bisa tidur, sedari tadi rewel ingin ikut denganmu karena kantuk" ujar Chanyeol memberikan Daseul ke dekapan Baekhyun saat balita itu mengulurkan tangannya. "Disini sangat ramai sepertinya dia sulit tidur. Jika sudah tidak ada urusan lagi kita bisa pulang terlebih dahulu. Kasian Daseul dia kurang istirahat"
"Apakah tidak apa apa, ini acara mu, aku akan pulang diantar Jaemin"
"Eomma menyuruh kita untuk pulang lebih dahulu. Ini acara appa jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana???"
"Kita pulang sekarang. Aku tidak ingin Daseul sakit nanti. Baiklah, Minhyuk Sungjae oppa, aku pulang lebih dulu. Kita bertemu di Seoul. Sampai jumpa" pamit Baekhyun mendekap Daseul dalam gendongannya melangkah lebih dahulu meninggalkan Chanyeol yang sedang membawa tasnya. Sebelum menyusul Baekhyun dia menunduk kerah keduannya.
"Wah, dilihat saja mereka sudah seperti pasutri" gumam Sungjae yang diangguki Minhyuk setuju.
.
.
.
"Kau belum tidur" ujar Baekhyun saat melihat Chanyeol keluar kamarnya dengan membawa sebuah gelas kosong.
Baekhyun menempati kamar tamu di atas bersebelahan dengan kamar Chanyeol, jadi saat dia membuka pintu ingin kedapur mengambil cemilannya pria itu juga melakukannya.
"Aku ingin ke dapur mengambil minum. Dan kau, kenapa tidak segera beristirahat ini sudah tengah malam"
"Aku juga ingin kedapur mengambil minum" Baekhyun beralasan berjalan beriringan dengan Chanyeol yang hanya diam tanpa mengeluarkan perkataan sedikit pun.
Setelah mereka memutuskan pulang terlebih dahulu setibanya dihalaman depan, keduanya tidak menyangka dihadang wartawan untuk ditanyain. Dan objek yang mereka bahas, mereka penasaran dengan siap Daseul. Para wartawan mengira Daseul anak mereka. Tentu saja Baekhyun langsung menyela, mentidak benarkan apa yang mereka bahas. Baekhyun mengenalkan Daseul sebagai adik kandungan.
Tidak sampai disitu, para wartawan tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Sampai pertanyaan, apa hubungan keduannya membuat Chanyeol yang awalnya ingin segera pergi menjadi diam. Pria itu menunggu jawaban yang Baekhyun keluarkan.
Baekhyun menyatakan jika mereka hanya sebatas teman lama dan menjadi kolegan. Penjelasan itu benar benar membuat Chanyeol terdiam tidak berkata apa apa lagi. Bahkan setelah meletakkan Daseul di kamarnya Chanyeol pergi masuk kekamarnya tidak keluar meskipun kedua orang tua mereka sudah pulang.
"Apa perkataan ku tadi sudah melukainya" batin Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang sibuk didapur mengambil apa yang dia butuhkan.
.
.
.
TBC