Setelah kepergian Zhang Jinxu yang tidak tahu menuju ke mana, menyisakan Luo Mo Chen dan Wang Mei Lan yang sedari tadi terdiam ketika melihat interaksi kedua orang di hadapannya itu.
Di dalam hati, Wang Mei Lan berteriak kegirangan ketika melihat wajah Zhang Jinxu yang sangat tampan. Parasnya tak jauh berbeda dari Zhang Xuen Chi. Kenapa di sini ada banyak sekali pria tampan?
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda. Mari melihat-lihat tempat ini," ajak Luo Mo Chen, ia mempersilahkan gadis itu berjalan terlebih dahulu dan diikuti sang jendral di belakangnya.
"Duduklah."
Ia berhenti pada salah satu besar dan menyuruh pria itu duduk si sebelahnya untuk menanyakan sesuatu dan dituruti pria itu. Ia sangat penasaran dengan semua seluk beluk hubungan si sampah itu,
"Jendral, apa yang kau ketahui tentang hubungan di antara Putra dan Putri Mahkota sejauh ini?" tanyanya tiba-tiba.
Luo Mo Chen terkejut ketika mendengar pertanyaan dari putri di hadapannya ini. Mengapa dia mendadak bertanya begitu? Apa dirinya terlihat seperti penguntit atau semacamnya?
"Hamba tidak berani, putri. Itu urusan keluarga kekaisaran yang tidak sepantasnya hamba ketahui," jawabnya sambil menunduk dengan tangan kanan terletak di dada penuh hormat. Cemas ketika putri ini mungkin saja mencurigainya atau bahkan menyuruh nya untuk menjadi mata-mata, mengingat hubungan di antara saudara kembar itu sangatlah buruk, ia tak ingin ikut terseret atau ikut campur.
"Sudah ku bilang padamu jendral, tidak perlu terlalu sopan padaku. Lagipula, aku hanya bertanya padamu tentang apa yang kau ketahui. Bukan menyuruhmu untuk mencari tahu," balas Wang Mei Lan jengah. Mengapa dia selalu saja bersikap waspada? Insting nya kuat sekali, tidak mudah untuk membuka mulutnya.
Ia hanya ingin mengorek informasi dari orang-orang istana ini, tentang seberapa kuat posisi si sampah itu di sini, agar ia tidak salah mengambil langkah.
"Bukankah Anda sendiri adalah saudara kembar Yang Mulia Putri Mahkota? Bagaimana bisa tidak mengetahui seluk-beluk hubungan dari saudara Anda sendiri?" Luo Mo Chen bertanya heran. Bukankah mereka saudara? Yah, meskipun ada banyak kekacauan, seharusnya hubungan mereka tidak sehancur itu sampai-sampai tidak saling mengenal.
"Ku harap kau tahu, kalau aku tidak sedekat itu dengan para saudaraku," jawab Wang Mei Lan sambil memainkan kuku jarinya, tanpa menatap Luo Mo Chen yang gelagapan karena merasa telah menyinggung Putri Bungsu Wang, pria itu segera berlutut di depannya.
"Mohon ampun atas kelancangan hamba, putri. Hamba pantas dihukum," katanya.
Wang Mei Lan menatap Luo Mo Chen di hadapannya yang sedang berlutut meminta maaf padanya. Aduh! Kenapa jadi begini?!
"Bangunlah, aku tak apa, yang ku minta adalah kau menjawab pertanyaanku tadi," ujarnya.
Luo Mo Chen berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka mulut untuk berbicara hal yang seharusnya tidak pantas untuk dibicarakan.
"Dari rumor yang beredar, dikatakan bahwa Putra Mahkota sangat mencintai Putri Mahkota. Itu terbukti saat beberapa hari sebelum pernikahan dilangsungkan, Putri Mahkota sempat menghilang yang membuat Putra Mahkota sangat panik dan mengerahkan seluruh prajurit untuk mencarinya. Hingga akhirnya Putri Mahkota kembali dengan sendirinya dalam keadaan kacau dan terluka. Berdasarkan penjelasan Putri Mahkota, bahwa ia diculik dan dibawa ke dalam hutan."
"Putra Mahkota adalah orang yang tak pernah tersentuh gadis manapun. Ada banyak sekali gadis yang mengejarnya, akan tetapi dia tidak pernah menanggapi satu pun dari mereka. Namun, jika Yang Mulia memilih Putri Wang Xia Ai, itu artinya ada sesuatu yang sangat istimewa di dalam diri Putri Mahkota yang tidak ditemukan pada gadis lain," sambungnya
Wang Mei Lan mengerutkan alisnya tak senang. Ia masih tidak mengerti dengan cara pandang Zhang Xuen Chi. Apa bagusnya si sampah itu?! Apa istimewa nya dia?! Apakah lebih baik dibandingkan dengan dirinya yang hebat ini?! Ia menatap Jendral Luo Mo Chen dengan angkuh.
"Menurutmu, di antara aku dan Putri Mahkota siapa yang jauh lebih baik?"
Pria itu terkejut akan pertanyaan tersebut. Apakah putri ini ingin mengintrogasi nya? Dia selalu bicara secara terang-terangan menunjukkan persaingan pada nama Putri Mahkota di saat seperti ini dan di depan umum. Sebegitu benci kah dia pada saudarinya?
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia. Tidak ada siapapun yang berhak menilai seberapa baik orang lain di mata nya," jawabnya sopan.
"Ck!"
Wang Mei Lan berdecak kesal. Kenapa hanya pertanyaan sepele seperti ini saja dia tidak bisa menjawab?!
"Katakan saja!" ujarnya mulai emosi.
Kini, Luo Mo Chen sadar bahwa rumor mengenai putri bungsu yang angkuh, arogan dan sombong itu memang benar. Perlahan, rasa hormatnya di awal pada Wang Mei Lan berubah.
"Menjawab, Yang Mulia. Hamba berpikir jika yang jauh lebih baik adalah Yang Mulia Putri Mahkota. Dia merupakan wanita paling baik dari yang terbaik. Semua orang di sini menghormati dan menyukainya karena sifatnya yang rendah hati serta sangat lembut. Dia selalu tersenyum pada semua orang dan menyebarkan kebahagiaan bagi siapapun yang melihatnya," ucap pria itu tanpa ragu sedikitpun. Bukankah gadis ini meminta pendapat nya? Maka inilah yang harus dia dengar.
Lagipula, memang benar jika Putri Wang Xia Ai adalah orang yang rendah hati. Terbukti pada saat ia bertemu dengannya atas dasar perintah Zhang Xuen Chi selaku sahabat, dia memerintahkan nya untuk menyampaikan pesan ke Kediaman Mawar. Di sanalah mereka bertemu. Tak bohong, Putri Mahkota sangatlah cantik dengan aura teduh yang menyejukkan hati, tak heran jika sahabatnya itu langsung menaruh hati padanya pada pandangan pertama.
Dia selalu tersenyum lembut pada siapapun dan bicara sopan meskipun pada orang yang statusnya lebih rendah daripada dirinya. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada dirinya saat itu, membuatnya menaruh lebih banyak hormat pada gadis itu.
Wang Mei Lan sangat marah ketika mendengar nya. Bukan ini yang ia harapkan! Ia berdiri dan menatap tajam Luo Mo Chen yang berlutut di depannya.
"Baik?! Si sampah itu baik?! Tolong kalian bedakan antara orang lemah dan baik di sini! Dia hanya bisa menangis dan menangis saat aku menindasnya! Dia tidak punya jiwa seorang permaisuri di dalam dirinya!" ujarnya penuh kebencian.
Merasa marah dan memberitahu Luo Mo Chen bahwa Wang Xia Ai pernah menjadi bahan penindasan nya di masa lalu. Namun, hal tersebut justru membuat pria tampan itu tak senang akan perkataannya yang menghina Putri Mahkota Kekaisaran Zhang.
Jendral Luo Mo Chen berdiri dan menatap Wang Mei Lan dengan datar tanpa rasa hormat.
"Kau pernah menindas Putri Mahkota kami?"
"Iya. Memangnya kenapa?!" sahutnya arogan seraya melipat kedua tangan di depan dada.
"Si sampah itu tidak pantas menjadi Putri Mahkota di sini, yang pantas hanyalah aku!"
"Berani sekali kau menghina Putri Mahkota Kekaisaran Zhang kami!" kata Luo Mo Chen tak terima. Putri ini sangat angkuh!
"Cih! Apa istimewa nya dia?! Hanya beralasan baik, kalian menganggapnya pantas? Pemikiran yang rendah!" Ia berdecih sinis sambil memutar bola matanya malas.
"Ya, Putri Mahkota kami sangat istimewa, dan kau tertinggal seratus langkah di belakangnya. Kekaisaran Zhang akan tercemar jika mengangkat Putri Mahkota yang arogan sepertimu," ucap Luo Mo Chen sadis, membuat Wang Mei Lan semakin murka. Saat hendak memaki pria di hadapannya, tapi Luo Mo Chen sudah pergi dari sana sebelum dirinya kelepasan dan melakukan kekerasan terhadap Wang Mei Lan.
"Agh!! Kenapa dia selalu saja dibela?!" ujarnya marah.
Sementara itu di Kediaman Matahari.
Zhang Xuen Chi terlihat sedang menyisir rambut panjang istrinya dengan lembut. Wang Xia Ai duduk di depan cermin sambil mengoleskan sedikit pewarna merah di bibirnya.
"Xia'er," panggil Zhang Xuen Chi sambil menatap ke arah cermin, menyaksikan betapa cantik istrinya itu.
"Ya?"
"Apa aku bisa meminta sesuatu darimu?" tanya Zhang Xuen Chi yang membuat Wang Xia Ai penasaran, kemudian dibalas anggukan kepala darinya.
"En, katakan," jawabnya.
"Tetaplah menjadi Xia'er ku yang manis. Jangan menjadi Xia'er yang dingin dan kejam. Aku hampir tidak bisa mengenali dirimu saat kamu melawan Wang Mei Lan di pertunjukan bakat saat itu," katanya.
Wang Xia Ai tersenyum ketika mendengar permintaan suaminya. Ia masih Wang Xia Ai yang lembut, tetapi ada saatnya ketika ia harus bertindak tegas dan kejam. Ada banyak hal yang membuatnya terlihat sedikit berbeda dari beberapa tahun belakangan. Perlahan, ia mengerti bahwa menjaga perasaan seseorang bukan selalu menjadi tanggung jawabnya. Mereka justru bertindak seenaknya pada dirinya, jadi ia memutuskan untuk menghilangkan sifat itu.
"Xuen, aku tetaplah aku. Masalah itu, aku hanya memberi pelajaran pada adikku agar dia berubah menjadi lebih baik. Dia terlalu memaksakan kehendak karena sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan nya, maka dia sangat marah saat tak berhasil mendapatkan mu," katanya yang diiringi canda di akhir kalimat.
"Dan, ya, dia sangat suka padamu sehingga berusaha sangat keras untuk menyingkirkan ku beberapa kali." Wang Xia ai tertawa kecil sambil mengoleskan bedak tipis di wajahnya. Namun, Zhang Xuen Chi malah bergidik merinding kala mendengar nya.
"Dia tidak akan bisa menyingkirkan mu dan tidak akan pernah bisa menggantikan tempatmu."
"Aku tidak pernah suka dengan gadis licik sepertinya. Aku beruntung melihatmu lebih dulu saat itu. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah ku temui." Pria tampan itu memeluk sang istri dari belakang dan mengecup singkat pipinya.
"Nah, selesai. Istriku semakin cantik dengan rambut seperti ini." Zhang Xuen Chi meletakan dagunya di pundak Wang Xia Ai sambil tersenyum manis, bangga melihat hasil riasan di rambut istrinya.
Wang Xia Ai juga ikut tersenyum. Meskipun di dalam hatinya ingin sekali tertawa ketika melihat gaya rambutnya yang entah model seperti apa. Suaminya mengikat rambutnya di sebelah kanan dan kiri seperti anak kecil, serta digulung sedemikian rupa. Namun, ia tak ingin mengajukan protes untuk tetap mengapresiasi nya.
"Xia'er, aku akan keluar sebentar, ada beberapa pekerjaan di ruang kerjaku, hmm..." Zhang Xuen Chi berpamitan pada Wang Xia Ai, lalu mengecup singkat keningnya, lalu beranjak pergi.
Di tengah perjalanan menuju ruang kerjanya, tanpa terduga pria itu malah bertemu dengan Wang Mei Lan yang baru kembali dari halaman belakang.
Wang Mei Lan seketika memperbaiki raut wajahnya yang semula berfikir keras, menjadi tersenyum sangat manis. Ia masih sangat memimpikan untuk menjadi istri Zhang Xuen Chi yang telah lama ia sukai, tapi karena si sampah itu mimpinya harus tertutup, dan ia akan berusaha mencari jalan untuk merebut Zhang Xuen Chi apapun yang terjadi. Membuat dia menceraikan Wang Xia Ai dan memilihnya.
Zhang Xuen Chi menggerutu di dalam hati kala melihat Wang Mei Lan di kejauhan. Dia itu hantu atau apa? Selalu saja bertemu dengannya.
Merusak pemandangan saja.
"Salam, Putra Mahkota." Gadis itu memberi salam pada Zhang Xuen Chi dengan senyum manisnya yang belum luntur.
"Hmm.." Zhang Xuen Chi hanya memberi deheman singkat pada Wang Mei Lan yang menatapnya berbinar seakan haus akan belaian seorang pria. Tatapan menggoda, berdiri dengan gaya seperti bebek yang membusungkan dada dan menonjolkan bokong.
Menjijikkan!
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Putra Mahkota, apakah kita berjodoh?"
Tanpa tahu malu, Wang Mei Lan berucap hal yang tidak pantas pada Zhang Xuen Chi yang sudah berstatus menikah, serta memiliki seorang istri saat ini.
Para pelayan dan pengawal yang mengikuti Zhang Xuen Chi di belakang seketika menegang saat mendengar ucapan Putri Wang Mei Lan yang katanya sangat disayangi olah Kaisar dan Permaisuri Wang. Siapa sangka, dia bahkan berani menggoda Putra Mahkota dengan ucapan nya itu tanpa tahu malu.
Zhang Xuen Chi semakin geram akan tingkah tidak tahu diri putri yang satu ini. Apa Kaisar dan Permaisuri Wang tidak mendidik anak mereka dengan benar?!
"Perhatikan ucapan mu, putri."
"Benwang harap kau tidak lupa, kalau Benwang baru saja menikah dengan saudara mu semalam," kata Zhang Xuen Chi serkas dengan tatapan dingin.
Diam-diam gadis itu menggertakkan giginya kesal. Ia penasaran, apa yang dilihat Zhang Xuen Chi dari sapah itu. Lihat saja, ia akan melenyapkan Wang Xia Ai dengan tangannya sendiri.
Setelah berkata, ia melanjutkan langkahnya dan melewati Wang Mei Lan begitu saja bagai angin lalu.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal akan ucapan Zhang Xuen Chi barusan yang secara tidak langsung mempermalukan dirinya dihadapan para prajurit dan pelayan.