Metamorfosis Cinta

By arulisme

1.3K 20 4

Telur.. Telur Ulet.. Ulet Kepompong Kupu Kupu cring...!! Dari benci jadi cinta ❤ Cagita Mahez More

Djaka oh Djaka
Si Manusia Cengeng Mahez
Mahez itu....
Detektif Dadakan
Tunangan
Misi 'Sandiwara'
Pura - Pura
Kenalin, Ini Rakha...
Jeda
Aku Kangen Mahez si Cengeng
Yes, I do.

Genderang Perang Kembali Bertabuh

380 7 0
By arulisme

06.30 wib - Pagi hari - Kamar Cagita
Cagita tampak serius memilah milih baju seragam putih abu-abu-nya yang akan ia kenakan pagi ini. Hari ini adalah hari pertama untuk tahun ajaran baru, yang berarti hari ini ia resmi naik ke kelas 2 SMA dan resmi menjadi seorang senior. Bahkan ia juga sudah mempersiapkan diri untuk memberikan kejutan listrik sejuta volt kepada adik-adik kelasnya yang baru saja lulus dari bangku SMP, dan kalau kata orang dewasa jaman dulu...masih pada bau kencur.

Tak perlu waktu lama berdandan, Cagita pun langsung meluncur ke bawah.

"Cagita.. sarapan dulu sayang, kamu kan perlu tenaga untuk hari ini, rotinya mau dibakar pakai meisis atau di olesi selai saja..?? kata Bunda sambil mengeluarkan setangkup roti tawar dari bungkusnya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Cagita untuk tida sarapan dengan makan besar di pagi hari, hanya sebuah sarapan kecil sudah cukup memberinya tenaga hingga bel istirahat pertama berdentang. Soalnya kalau ia makan besar semisalnya nasi goreng, yang ada nanti ia akan sering-sering pergi ke toilet sekolah yang kurang bersahabat penampilannya. Dan pergi kesana adalah sebuah rutinitas yang paling ia benci.

"Pakai meisis saja Bunda, aku lagi buru-buru, takut telat.." ujar Cagita sambil mencium kedua pipi Ayahnya yang tengah menyantap nasi goreng spesial pakai cintah dari Bunda.

"Jangan galak-galak ya Non.. kasihakan adik kelas mu itu.." pesan Ayah dengan mulut yang penuh nasi goreng.

Terkadang Cagita heran melihat Ayahnya, dan kalau ingat salah satu iklan susu formula, sepertinya Ayah memang pantas menyandang nama AyahSaurus. Yup Ayah ku adalah pelahap ulung segala jenis makanan, terutama makanan aneh yang dimasak oleh Bunda, yang terkadang suka gak aku terima kelogisannya. Sebenarnya bagi Bunda, Ayah dan Cagita adalah kelinci percobaan untuk berbagai macam jenis masakannya, dan Cagita akan kembali tersenyum kalau mengingat alasan Ayah menjadi AyahSaurus, jawabannya hanya satu, Cintah.... itu semua karena cinta, makanan gak enak pun terasa lezat kalau dimasaknya dengan cinta dan dimakannya dengan penuh cinta.

Dengan mulut penuh sumpelan roti bakar, Cagita melaju dengan Pak Soleh, Ojeg pengkolan pribadinyayang selalu standby jam 06.15wib di depan rumah Cagita demi mengantarnya berangkat ke sekolah.

Sekilas Cagita melihat jam masih menunjukkan pukul 06.28 wib di pergelangan kirinya, Cagita melirik nona matahari bersinar cerah di ufuk timur, sepertinya semalam tidurnya nyenyak, atau mungkin ia bertemu cemcemannya di belahan bumi lain, karena sinarnya cerah banget... hmmm.. pasti hari ini akan seru, batin Cagita.

di SMU Nusa Bangsa
Akhirnya Cagita menginjakkan kakinya dengan mantap di sekolah setelah mengalami perjalanan penuh terpaan angin diwajahnya. Sesampainya disana suasana sekolahan sudah ramai, wajah-wajah baru berseragam putih biru terlihat asing, unik dan lucu. Dikarenakan mereka di wajibkan mengenakan pita warna-warni di rambutnya, topi camping yang menggelayut di punggungnya, tas slempang yang terbuat dari karung goni, kaos kaki belang-belang dengan warna menyolok, toa yang terbuat dari karton, kecrekn sarimin, dan tentunya lamtek nama mereka yang di ikatkan di kening mereka. Membuat Cagita kembali mengingat masa-masa Moss-nya yang tak kalah seru di tahun lalu.

Di hadapan Cagita saat ini tengah berdiri seorang cowok charming, bukan pria, karena ia belum sedewasa itu untuk mendapatkan gelar pria. Tubuhnya tegap, berkacamata, anak basket, salah satu anggota team Robotic dan tentunya ia adalah si ketua OSIS. Cowok itu bernama Djaka, dan saat ini tengah memberi pengarahan kepada anak buahnya termasuk Cagita yang dari seksi kesenian dan mading, Cagita sendiri selain ikut mengawasi kelas X3 nanti, ia juga di tunjuk sebagai penanggung jawab untuk kelas tersebut.

"Kak Djaka..." seru Cagita sebelum mereka berkumpul di lapangan upacara untuk pembukaan Moss tahun ini.

"Yah...Cagita..." balas-nya berwibawa.

"Thanks ya, udah percayain aku untuk pegang kelas X3.." ujar Cagita, aneh, kok malah kata-kata itu yang terlontar, kenapa tidak mengajukan pertanyaan yang bisa menjadi sebuah percakapan yang panjang, biar Cagita bisa berlama-lama memandangi wajah charmingnya Djaka.

"Oh.. soal itu.. latihan, soalnya kamu kandidat pilihanku loh, jadi jangan ngecewain aku yah..." jawabnya tenang, dan sepertinya Cagita akan segera melted mendengar nada suara Djaka yang tegas, dan akhirnya hanya sebuaj senyuman yang bisa Cagita suguhkan di hadapan Djaka pagi ini.

Tiba-tiba Djaka menatap Cagita aneh dan tertawa sambil menutup mulutnya, bukan, dia tidak tertawa ngakak, tapi hanya menatap Cagita geli.

"Kenapa, ada yang lucu..?? tanya Cagita bingung, dan melihat dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala, mengecek kancing bajunya dan tatanan rambutnya, perfect... ga ada yang aneh.

"Kenapa sih...?? tanya Cagita yang mulai merasa panik.

"Maaf ya, tapi ada baiknya kamu kumur-kumur dulu gih, ada sisa coklat di gigi kamu.." kata Djaka pelan dan setengah berbisik. Setelah menepuk pundak Cagita, ia pun berlalu meninggalkan Cagita yang lagi di sambar petir di pagi hari yang cerah ini.

Bergegas ia merogoh cermin di dalam tas nya, tiba-tiba... suara petir mengelegar...Cagita berteriak TIDAK sepelan-pelannya, tepatnya tidak bersuara karena shock. Kini ia tahu apa penyebab tiba-tiba Djaka menahan tawanya tadi, ini semua karena meisis coklat yan nyangkut di gigi taringnya, memang tadi semenjak menelan roti di motor ojeg, ia lupa untuk minum dan berkumur-kumur. Tapi yang bikin ia tidak rela, kenapa hal memalukan ini justru harus di lihat sama si Mr.Charming, kenapa juga Djaka yang memberithunya, rasanya wajah Cagita seperti di tampar berkali-kali oleh raket nyamuk.. maluuuu.

di Lapangan Upacara
"Sepertinya hari ini cerah, kenapa tiba-tiba ada awan mendung yah..." kata Rina ketika melihat aura gelap di wajah Cagita.

"Kalau ga mau kesamber petir diem aja, jangan banyak tanya.." balas Cagita jutek. Gara-gara kejadian coklat meisis di gigi tadi, mendadak Cagita jadi kehilangan mood-nya, kepikiran terus, apalagi setiap bertemu pandang dengan Djaka, ia merasa Djaka tengah meledeknya.

"Psstt... lucu tuh.." sambung Rina lagi sambil menyikut lengan Cagita, nampaknya Rina tidak memperhatikan Pak Komar yang sedang berjuang di depan melawan sinar matahari sambil memberikan wejangan-wejangan, justru Rina punya keasyikan sendiri, yaitu memperhàtikan adik-adik kelasnya yang lucu, ganteng, cakep dan sederet kualitas nomor wahid lainnya.

"Mana...?? tanya Cagita penasaran, karena daripada awan hitam menggelayut diatasnya, mendingan ia ikutan mencari peri-peri kecil yang bisa di gebet, yang belum tahu kalau ia bisa melakukan kesalahan imut seperti tadi, yang penting mereka belum ilfil melihat dirinya.

"Itu... kelas X2, kelasnya si Regi, yang paling tinggi dibarisannya, padahal baru lulus SMP ya, tapi udah tinggi banget, jadi pangling sendiri kliatannya.." oceh Rina sambil berbisik, karena Bu Husna si guru BP sudah mulai memperhatikan gerak geriknya.

Cagita mencoba menatap lekat-lekat siapakah gerangan cowok berondong yang di maksud oleh Rina, Ia merasa kenal dengan sosok tersebut, dan ketika sosok itu menoleh ke arah nya, Cagita menatap sebal tak bersahabat.

"Kenapa dia harus satu sekolah dengan ku!, tidak akan setenang yang lo fikirkan..! desis Cagita kesal, namun terdengar oleh Rina dan mempertanyakan keluhanny tadi.

di Rumah -Sepulang Sekolah - Teras Samping
"Sudah pulang sayang... bagaimana Moss-nya tadi..?? tanya Bunda yang lagi santai di teras samping sambil luluran. Bunda memang punya kebiasaan mencoba resep pribadi untuk luluran, dan dari aromanya sepertinya hari ini Bunda luluran dengan kopi, selain aromanya khas badan Bunda juga menghitam karenanya.

"Seru... tapi Bunda, kenapa ada Mahez, pasti Bunda yang menyuruh tante Indri untuk menyekolahkan Mahez disana kan.." balas Cagita dengan nada protes akan kehadiran Mahez yang tiba-tiba.

"Oh.. kamu sudah ketemu Mahez, kamu ga galak kan sama dia..?? tanya Bunda menyelidik.

"Beruntung bukan aku mentornya.." balas Cagita sambil merebahkan diri di lantai disebelah Bunda.

"Yaaah... sayang dong... eh dia sekarang tinggi yah, cakep lagi.. memangnya kamu gak tertarik sama dia.." kata Bunda.

"Tertarik ?! Hiii kalau tau riwayat dia yang cengeng, rasanya mana bisa dia jadi pacar ku.." balas Cagita lagi.

"Kamu tau kan pepatah dari benci menjadi cinta, he he he.. Bunda sih tinggal tunggu waktu saja, Bunda siap kok dengar cerita kamu nanti..." goda Bunda.

Cagita menatap Bunda tidak suka.
"Aku ga mau di jodohin sama dia, dan Bunda jangan berharap banyak aku akan baik sama dia, selama dia di dekat ku, aku ga segan-segan untu ngerjain dia..jadi Ayah, Bunda, tante Indri dan Om Rizki jangan pernah berharap lihat aku baik sama dia" marah Cagita dan segera bangkit dari tidurnyamenuju kamarnya.

"Kamu gak mau coba luluran sama Bunda.." seru Bunda tak menghiraukan omelan Cagita, tapi Cagita menjawabnya dengan bantingan pintu kamar.

"Tidak akan semudah yang lu bayangkan Mahez... genderang perang harus kembali bertabuh, gue gak mau kita di jodohin..." kata Cagita di depan cermin di kamarnya dengan nafas tersengal-sengal dan kuping yang berasap.

Continue Reading

You'll Also Like

642K 1.2K 9
21+ Isinya campuran, beberapa bab tamat lalu lanjut ke cerita berbeda Peringatan! Bukan buat bocil!! 21+🔞⚠️
471K 56K 37
ini tentang Biwa dan ambisinya untuk bikin papa dipatuk kobra . . . "Keluar." "Kasih duitnya dulu." "Tergantung apa yang mau kamu beli." "Ular kobra...
146K 9.9K 34
𝐍𝐨 𝐛𝐱𝐛 𝐨𝐫 𝐛𝐥 𝐁𝐮𝐭..... • 𝐛𝐫𝐨𝐦𝐚𝐧𝐜𝐞 • 𝐁𝐫𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫𝐬𝐡𝐢𝐩 • 𝐟𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐬𝐡𝐢𝐩 • 𝐟𝐫𝐢𝐞𝐧𝐝𝐬𝐡𝐢𝐩 • 𝐞𝐠𝐨 • 𝐥𝐮𝐤𝐚 • 𝐛...
216K 6.4K 55
Sebuah perjodohan antara pria yang hidup di langit dan wanita yang menantang hidup di ruang operasi. Delvin Valora Demetrya-pilot dengan hati sedingi...
Wattpad App - Unlock exclusive features