"Cobalah." Taehyung menyajikan secangkir cokelat hangat kesukaan Jihyun. Pasalnya, selepas berkeliaran di florist Jimin, mereka berakhir di kafe Taehyung.
Jihyun menyesap minuman cokelatnya pelan-pelan. "Aah, aku akan sangat merindukan yang satu ini," keluhnya makin goyah.
Taehyung tersenyum lebar. "Mianhae, aku tidak bermaksud mempengaruhimu agar mengubah keputusanmu."
"Gwaenchana, aku hanya ...." Kalimatnya tidak terselesaikan sebab matanya menangkap seseorang yang tidak ia duga.
"Hanya?" Taehyung menunggu kalimat berikutnya.
Jihyun segera mengalihkan pandangan dan mengembuskan napas berat. "Hanya ingin melakukannya untuk terakhir kali, sebelum aku benar-benar pergi."
Taehyung mengangguk-ngangguk. "Ya, kau bisa menikmati cokelat kesukaanmu sepuasnya hari ini."
Jihyun mengangguk sembari tersenyum, tetapi matanya masih tertuju pada seseorang yang tidak sengaja ia lihat di kafe. Mata mereka sempat bertemu dan saling bertatapan selama beberapa detik. Itu adalah Kim Namjoon. Baru sehari Jihyun tidak bekerja, rasanya ingin sekali menanyakan kabar Namjoon. Apa pria itu baik-baik saja sekarang? Apa selepas kepergian Jihyun, dia kerepotan mengerjakan pekerjaannya sendiri?
Kini, Namjoon sudah meninggalkan kafe, Jihyun jadi tak tega membiarkannya kesusahan sendiri.
Taehyung masih anteng memandangi Jihyun sepuasnya. Sedang memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya sebelum nantinya Jihyun akan pergi meninggalkannya. "Ah iya, Jihyun. Kau sudah resign dari perusahaan Kim Namjoon?"
Jihyun mengangguk. "Ya, makanya hari ini aku tidak—"
"Jeosonghamnida, Park Jihyun-ssi. Ini tertinggal di mobil." Sebuah syal berwarna merah muda terulur di depan Jihyun.
Sontak, pandangan Taehyung dan Jihyun beralih pada si pemilik tangan. Taehyung membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk penghormatan—lebih tepatnya ia bingung bagaimana harus bersikap sebab ini pertama kalinya mereka kembali bertemu. Sementara Jihyun, ia tidak bisa berkata apa-apa kala Namjoon berada tepat di hadapannya.
Sebab syal tidak segera berpindah tangan, Namjoon meletakkannya di atas meja. "Mianhae, sepertinya aku mengganggu kalian berdua," tuturnya dingin.
Jihyun menggeleng segera. "Sama sekali tidak mengganggu," sahutnya cepat, seakan menyanggah sesuatu.
"Kalau begitu, aku permisi." Namjoon membungkukkan badan dan segera pergi.
Pandangan Jihyun tak lepas darinya hingga ia tetap memerhatikan Namjoon dari balik jendela. Hari ini Namjoon menggunakan mobil yang biasanya selalu Jihyun pakai untuk bekerja. Pantas saja pria itu menemukan syal miliknya.
Taehyung mengambil syal itu, memerhatikannya dengan saksama. "Bukankah ini syal pemberianku saat musim dingin tahun lalu?" tanyanya memastikan.
Jihyun mengangguk lemah.
"Kenapa ada di dia?" Taehyung merasa kecewa barang pemberiannya ada di sembarang orang.
"Aku lupa membawanya dari mobil yang kugunakan sebagai fasilitas dari Namjoon," papar Jihyun seadanya.
Taehyung memerhatikan raut wajah Jihyun yang tampak sedikit lebih tegang dari sebelumnya. "Gwaenchana, Hyunie?"
Jihyun mengangguk. "I'm okay."
"Apa kau ingin pulang sekarang? Aku akan mengantarmu." Taehyung tak bisa melihat Jihyun tampak kacau seperti ini.
Jihyun menggeleng lagi. "Apa keputusanku sudah benar?" tanyanya entah pada siapa. Pandangannya tetap mengarah pada mobil yang dinaiki Namjoon yang belum juga beranjak dari parkiran.
Taehyung masih memerhatikan Jihyun. "Aku tidak bisa membenarkan atau menyalahkan. Mungkin maksudmu adalah ... apa keputusanmu sudah menyakitinya?"
Jihyun menatap Taehyung penuh tanya. "Apa maksudmu bicara begitu?"
"Lalu kenapa kau menghabiskan hari-hari terakhirmu denganku, bukan dengannya?" Taehyung tak bisa menahan diri untuk menuntaskan penasarannya. Ia ingin tahu, apa sosok Kim Namjoon sudah benar-benar mengisi hati Jihyun?
Jihyun bungkam, tak tahu harus menjawab apa. Ia takut bila terlampau jujur, bisa saja menyakiti Taehyung.
"Park Jihyun, tolong tegaskan, setidaknya pada dirimu sendiri, bagaimana perasaanmu sebenarnya. Untuk siapa debaranmu sekarang," pungkas Taehyung sebelum akhirnya beranjak dan meninggalkan Jihyun sendiri untuk memikirkan ucapannya.
Ia sadar, situasinya sudah lain lagi sekarang. Ia tidak bisa menginginkan Jihyun semudah sebelumnya. Sudah ada seseorang yang mengisi dan memenuhi kehidupan Jihyun saat ini. Hidup Jihyun tidak melulu tentang Taehyung lagi, sekarang ada Namjoon.
Jihyun masih bungkam selepas Taehyung pergi. Ia mengambil syal berwarna merah muda itu, menatapnya, lantas menghirup aromanya. Meski yang tercium adalah aroma parfumnya, tetapi ada satu bagian syal yang sangat kental dengan aroma parfum Namjoon. Ia tak yakin akan mencuci ini.
Jihyun mulai berkemas dan hendak pulang. Sepertinya, ia begitu kelelahan hari ini. Jiwa maupun raga. Ia mesti istirahat dan mengisi energinya. Namun, kala Jihyun hendak memasukkan ponsel ke dalam tas, Jihyun baru menyadari bahwa tas yang ia pakai saat ini adalah tas yang selalu ia pakai untuk bekerja. Isinya masih utuh. Masih ada barang-barang Namjoon yang tertinggal. Ayolah, Jihyun ingin berusaha melupakannya, tetapi kenangan-kenangan bersama Namjoon terasa menghantuinya saat ini.
***
Namjoon menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, memejamkan mata dan mengingat apa yang baru saja ia lakukan.
"Apa kau sangat menyedihkan hingga menjadikan syal itu alasan agar kau bisa menemuinya lagi, Kim Namjoon?" rutuknya pada diri sendiri.
Namjoon mendecak kesal. "Apa aku semenyedihkan itu sampai ingin memastikan bahwa Jihyun benar-benar akan menikahi pria lain?"
Namjoon membenturkan kepalanya pada gagang setir. Entah mengapa ia merasa otak cemerlangnya mendadak tak berguna saat ini.
"Bahkan setelah meninggalkanku, Jihyun malah ... asyik bersenang-senang dengan orang lain." Namjoon mendecih. "Kenapa pula aku bisa jatuh hati padanya. Kau payah, Kim Namjoon."
***
Jihyun mulai berkemas untuk keberangkatannya ke Jepang. Ia juga berpikir akan menjual rumah ini saja sebab bila sewaktu-waktu ia pulang, masih ada rumah orang tuanya. Pandangannya menyapu pada seluruh penjuru. Rumah ini terlalu banyak kenangan.
Di sini, Jihyun bisa meluapkan beragam emosi tanpa ragu sebab hanya ada dirinya sendiri saja. Tempat Jihyun merebahkan lelah, mengerjakan setumpuk pekerjaan, memikirkan sekelumit kehidupan, dan juga ... Jihyun tertawa kecil dengan insiden yang terjadi pada Taehyung. Kala pria itu menyambut paginya dengan buket bunga yang indah, dan Jihyun menyambutnya dengan gagang sapu yang melayang di kakinya.
Hari di mana Jihyun sibuk memasak makan siang untuk Namjoon, sibuk menerka responsnya, menunggu pesan darinya. Banyak sekali yang terjadi selama Jihyun tinggal di sini. Dan kini, waktunya Jihyun untuk pergi dan meninggalkan semua kenangannya. Jihyun harus memulai hidupnya yang baru.
Kala Jihyun hendak memberdirikan koper yang berat dengan susah payah, perutnya terasa sakit. Ia meringis pelan sembari memegangi perut. Kala ia menangkap pantulan diri di cermin, alangkah terkejutnya kala ia melihat bercak darah di bajunya, tepatnya di bagian perut. Gadis itu segera menyingkap bajunya dan melihat begitu banyak darah menembus perban putihnya.
"Ini kenapa?!" Jihyun panik bukan main. Namun, ia tidak ingin gegabah. Jihyun segera menyambar tasnya dan bergegas keluar. Ia harus segera ke rumah sakit.
"Jihyun, kau kenapa?!"
Tanpa berpikir panjang, Jihyun memegangi lengannya. "Kumohon, antarkan aku ke rumah sakit."
Pria itu segera mengangguk dan memapah Jihyun menuju mobilnya. Ia sangat panik kala melihat Jihyun memegangi perutnya yang sudah keluar banyak darah.
"Bertahanlah, Park Jihyun," gumamnya dengan ketakutan yang amat besar.
-o0o-
Annyeong!!!
Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini.
Sekadar informasi, kurang dari sepuluh part lagi So Far Away tamat.
Tapi, jangan sedih, ya!
Aku udah siapin lapak baru nih.
Always
I Lost My All Ways
Ceritanya masih ada kaitan erat sama So Far Away ya, cuma main character-nya diganti sama Park Jimin.
Mungkin ada beberapa hal yang terlewat di sini, akan diungkap lebih jelas di Always.
Mampir dulu yuk ke sana💜