Treacherous
Ctas
"Tepat sasaran." Ujar Pangeran Jeongwoo, selaku teman karib Haruto.
Kedua sahabat itu kini sedang latihan memanah di dalam hutan, sudah menjadi kegiatan rutin mereka setiap satu minggu sekali.
Jeongwoo, pangeran dari Kerajaan Yuri. Dan Haruto, pengeran dari Kerajaan Oliver. Kedua kerajaan itu sudah seperti satu kesatian tak dapat dipisahkan.
Haruto dan Jeongwoo juga sudah bersahabat dari mereka kecil, sudah tidak ada kecanggungan dari keduanya.
Haruto menyunggingkan senyumnya puas, akhirnya ia bisa membidik dengan bagus.
"Wahh.. Kak Ruto hebat!" pekik seorang gadis yang menemani keduanya di dalam hutan, dan juga seorang pemuda manis yang duduk disamping gadis itu.
Haruto melipat kedua tangannya di atas dada, kepalanya ia naikkan sedikit angkuh, "Iya, dong, siapa dulu?" ujarnya bangga.
"Kakak Wonyoung!" ujar gadis itu, Wonyoung; adik Haruto sekaligus sang putri di Kerajaan Oliver.
"Pangeran hebat," ujar seorang pemuda manis sambil menepuk tangannya bangga.
"Terima kasih, Pangeran Junghwan."
"Sayang ... aku tidak dipuji juga?" rengek Jeongwoo, ia tak terima jika kekasihnya hanya memuji sahabatnya itu.
"Malas sekali aku memujimu."
Perkataan Junghwan membuat Haruto tertawa terbahak-bahak, sungguh ini sangat lucu. Dan Jeongwoo mengurucutkan bibirnya sedih, kemudian pemuda berbahu lebar itu menatap tajam si pemuda jangkung, ia menendang betis si pangeran karena kesal ditertawakan, membuat Haruto meringis kesakitan.
Tiba-tiba seorang pengawal berlari menghampiri dirinya dengan tergesa-gesa, membuat Haruto mengernyitkan keningnya heran. Ada apa?
"Ada apa, Pengawal?"
"Pangeran, yang mulia ... " ujar sang pengawal dengan nafas yang terengah-engah.
"Ayah kenapa?"
"Yang mulia tiba-tiba pingsan."
Haruto membulatkan matanya, dengan cepat ia berlari dan menaiki kudanya menuju istana. Disusul oleh Jeongwoo, Junghwan, Wonyoung dan pengawal tadi.
"Saya rasa ini sebuah kutukan dari Lenore, ucapannya tempo lalu ternyata tidak main-main."
"Bagaimana cara menyembuhkannya, Tabib?"
"Hanya Lenore yang tau."
Ucapan sang tabib di kamar sang raja tadi membuat Haruto menghela nafasnya. Apakah ia harus ke Hawirith? Tempat sang Lenore tinggal? Haruto ragu karena tempat itu sangat jauh dan tempat itu sangat gelap berbeda dengan Kerajaannya yang sangat indah.
Namun tak ada pilihan lain, Haruto berjalan dengan gagahnya. Menyuruh sang pengawal untuk menyiapkan kuda untuk ia tumpangi.
Disinilah Haruto sekarang, di depan kastil bernuansa serba abu tempat tinggal sang Lenore. Seperti rumornya, tempat ini sangat gelap dan sedikit menyeramkan.
Hanya dikelilingi oleh bunga mawar hitam, tak ada bunga lain yang tertanam disini.
Sang pangeran mulai melangkah menaiki tangga dan membuka pintu itu dengan perlahan.
"Halo?" tanya Haruto.
"Wah ... wahh ... lihat lah siapa yang datang," ujar sang Lenore dengan jubah hitam yang melekat di tubuhnya sedang menuruni tangga satu persatu.
Haruto bertekuk lutut di hadapan sang Lenore, "Lenore, penyihir yang menawan. Tolong hilangkan kutukan yang anda berikan kepada sang raja dari Oliver?"
"Mengapa harus? Dulu kalian mentertawakan ancaman dariku, dan sekarang? Kau memohon padaku untuk menghapus kutukan itu?"
"Maafkan atas perbuatan kami dahulu, Lenore. Kami telah menyesal karena telah meremehkan dan mengusirmu hari itu."
Lenore mensejajarkan tubuhnya dengan sang pangeran yang sedang menunduk dan bertekuk lutut dihadapannya. Ia mengangkat dagu Haruto agar menatap wajahnya.
Tampan juga.
Sang Lenore menyeringai, "Baiklah ... akan ku cabut kutukan itu, dengan satu syarat."
"Apapun syaratnya saya akan terima."
"Nikahilah aku, pangeran."
To be continued..
Starring
Halo halo hihii, gimana? Lanjut tidak?