XI IPA 2
"Pagi anak-anak, kita kedatangan murid baru. Silakan perkenalkan diri kamu," seru Ibu Nana—Guru Seni.
"Hi, Namaku Ruby Jisoo. Aku masih single-"
TIT!
Semua siswa dan guru di kelas XI IPA 2 tersentak kaget mendengar bunyi nyaring yang berasal dari jam tangan murid baru.
BRAK!
Ruby menatap orang yang sudah membuat kerusuhan, ia terkejut melihat Sagara berada dikelas barunya.
"Ada ap-Akh!"
Kepalanya membentur dada bidang suaminya, tarikan dari Sagara lumayan kencang membuatnya langsung terbentur.
"Hei, kamu. Bukannya kamu dikelas sebelah? Ngapain kamu dikelas IPA 2!" tegur Bu Nana pada Sagara.
Sagara menatap datar guru barunya, lalu tatapannya beralih pada Ruby yang berada dalam dekapannya.
"She is my w-hmph..." Sagara menatap tajam Ruby yang membekap mulutnya.
Ruby menatap garang pada Sagara. "Apa yang mau kamu katakan, huh?!"
"Hei kenapa kalian malah bisik-bisik, cepat perkenalkan diri kalian!"
"Sagara," ucapnya singkat.
Ruby sekeyika linglung mendengar perkenalan singkat suaminya. Sagara meraup wajah melongo isttinya menggunakan telapak tangannya.
Ruby mendelik kesal pada Sagara, ketika dirinya berhasil menyingkirkan tangan suaminya.
"Sagara mau jadi pacarku?" seru siswi dengan kacamata dihidungnya.
"Huuuuu.." sorak hampir seluruh murid dikelas.
"Mana mau dia pacar lu Sa, lu aja cupu. Ahahaha..." ejeknya mengundang tawa seluruh kelas.
Sagara menatap datar mereka, tangannya merengkuh pinggang Ruby.
"She is my girlfriend!" lantang Sagara.
Ungkapan yang diberikan Sagara membuat murid perempuan potek.
"Ternyata bener kata tuh orang, kalau murid baru ini sepasang kekasih."
"Masih ada kesempatan! Jangan pantang menyerah, dia belum jadi suami orang."
"Bener kata lu, gue gak boleh nyerah!" seru murid perempuan menyemangati diri sendiri.
Ruby menahan tawanya ketika pendengarannya mendengar 'Belum jadi suami orang.' Rasa-rasanya dia ingin memberitahukan kalau Sagara adalah miliknya.
"Sshh.. kamu apa-apaan sih!" kesal Ruby ketika cubitan mengenai pinggangnya.
Sagara menarik dagu Ruby, mendekatkan wajahnya. Ruby mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kyaaa! apa yang akan mereka lakukan?!"
"Sepertinya aku tidak perlu liat drakor, disini ada livenya."
"Sagara kembali ke kelasmu!" tegas Bu Nana. Tapi tidak dihiraukan oleh Sagara.
"Hukuman menantimu, baby," bisik Sagara didepan bibir Ruby. Sebelum diakhiri dengan kecupan dibibir. Sagara segera pergi dari kelas istrinya.
"KYAAAA!!" teriak siswi menutup mulut tak percaya.
Mereka tidak percaya bisa melihat langsung, adegan yang pernah ada di drama.
"GILA-GILA SAGARA MELAKUKAN SIARAN LANGSUNG."
"ARGH! KENAPA GUE LUPA VIDEOIN ANJIR!"
"Untungnya gue sempat videoin, hihihi."
Teriakan teman-teman barunya menyadarkan Ruby dari linglungnya sebelum teriakan membahana keluar dari bibirnya.
"SAGARA!!" teriak Ruby sampai ke kelas sebelah.
Sedangkan dikelas XI IPA 1 semua murid dikelas itu menutup telinganya mendengar teriakan membahana menyebut nama anak baru dikelasnya.
"Ga, lu dipanggil tuh," bisik Affandra teman sebangkunya.
"Hm."
Affandra mendatarkan wajahnya mendengar jawaban yang tidak terkesan jawaban itu melainkan seperti gumaman malas.
***
"By istirahat yuk," ajak Floella teman baru Ruby sekaligus teman sebangkunya.
"Gue ikut, gue ikut!" seru Gretha.
"Gue gak ngajak elu, Tha..," decak Floella.
"Gapapa La, kita ke kantin bersama-sama," jawab Ruby bangkit dari duduknya.
"Ayo ke kantin," ucap Ruby menggandeng kedua temannya. Udah berapa tahun ya dirinya tidak merasakan sekolah seperti saat ini.
Kini mereka berjalan menuju ke kantin, diperjalanan mereka berpapasan dengan Sagara, Affandra dan Laras?
Ruby menatap tajam tangan Laras yang bergelayut manja dilengan suaminya.
"By.. by.. bukannya itu pacar elu?" celetuk Gretha sedikit berteriak.
"Berisik Gretha! Lo nggak liat tatapan Ruby kayak mau makan tuh ratu bully?" bisik Floella, menarik atensi Gretha dirinya seketika kicep melihat tatapan Ruby pada Laras.
"Tatapannya nyeremin ya?" gumam Gretha.
Ruby melanjutkan jalannya yang tertunda, ia memasang wajah datar. Floella mengikutinya dari belakang, Gretha terbengong melihat raut wajah Ruby berubah cepat.
"Woi Gretha lu kagak mau ikut?!" teriak Floella menyadarkan Gretha.
"Ruby, Lala tungguin gue woi!" teriak Gretha berlari mengejar teman-temannya.
"Lama lu, kebanyakan minum tea jus jadi bengong mulu kerjaannya."
"Gaada hubungannya anjir," protes Gretha.
Ruby mendudukkan dirinya dibangku pojok, dirinya tidak suka jadi perhatian semua orang dia lebih suka ketenangan.
"Gila gila Sagara visualnya gak main-main," seru salah satu siswi.
"Ratu bully ngapain ngelendot kaya cicak," sinisnya menatap Laras dari kejauhan.
"Namanya juga lontay," balasnya.
BRAK!
"Maksud lo apa bicara kayak gitu pada Ketua kami!" bentak Karina menggebrak meja yang menjelekkan nama ketuanya.
"Gue gak nyebut nama ketua lo, berarti lo ngerasa dong kalo ketua lo, lontay.. ups..." cibirnya menutup mulutnya.
"Sialan kau jalang!" marahnya menarik rambut Garetha orang yang sudah berani mengatai Laras lontay.
"Anjing! Sialan lo!" erang Garetha menarik balik rambut Karina.
Dari kejauhan Sagara mendekati meja yang ditempati Ruby. Sagara mengambil duduk disebelah istrinya. Ruby menjauhkan tubuhnya dari suaminya.
"Minggir lo, gue mau duduk didekat pacar gue!" usir Laras.
Tanpa membalas Ruby bangkit dari duduknya tapi lebih dulu ditarik Sagara keatas pangkuannya. Ruby menatap kearah lain, asalkan tidak bertatapan dengan Sagara. Dia masih kesal.
"Pergi!" usir Sagara.
Laras tersenyum miring, kemudian menarik tangan Ruby untuk segera bangun dari pangkuan kekasihnya.
"Lo denger? Sagara menyuruh lo pergi."
Floella yang melihat itu menahan tawanya untuk tidak menyembur. Sedangkan Gretha sudah mendorong kawanan bully sampai jatuh.
"Pergi kagak lo!" bentak Laras pada Ruby. Ia menarik kencang pergelangan tangannya sampai memerah.
Aura membunuh keluar dari tubuh Sagara membuat orang-orang yang berada didekatnya merasakan sesak napas.
"Saya bilang, pergi sialan!"
Brak
Sagara mendorong kepala Laras sampai terpental jauh menabrak tembok dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Uhuk uhuk... s-sayang kok kamu gitu sama aku, Aku kan pacar kamu!" cicit Laras terbatuk darah.
"Woi Laras, pede kali kau mengklaim seseorang jadi pacar elu, hahaha... Lo udah mencari masalah sama orang yang salah," timpal Affandra sambil terkekeh.
Sagara melihat pergelangan tangan Ruby yang memerah, auranya semakin menebal. Orang yang berada didekat mereka terbatuk-batuk mengambil napas sebanyak-banyaknya.
"Uks!"
"Nggak!" Ruby mendelik pada Sagara. Apa-apaan cuma memerah sampe mau dibawa ke uks. Ruby kan laper.
Sagara menatapnya tajam, bukan Ruby Jisoo namanya kalau takut sama Sagara. Ia membalas tatapan tajam suaminya.
"Aku mau disini, laper!" pekik Ruby saat tangan Sagara menggelitiki pinggangnya. Ia menyingkirkan tangan Sagara dari pinggangnya.
Tubuhnya oleng hampir saja dia jqtuh jika tidak ditahan kembali dengan tangan Sagara.
"Bandel," bisik Sagara.
Ruby mengembungkan pipinya, ia menggerakkan kakinya kesal. "Pokoknya mau disini! Obatinnya pake es batu aja."
Tangannya menusuk-nusuk pipi suaminya, Sagara menatap istrinya dengan alis terangkat.
"Tarik kembali auramu, tuh liat teman-temanku sesak napas gara-gara kamu!"
Sagara melirik teman baru istrinya dan seluruh murid yang berada dikantin. Seperti yang dikatakan Ruby, mereka terlihat sedang sesak napas. Ia menarik kembali auranya. Mereka meraup udara sebanyak-banyak.
"Gila serem banget, gue sampe sesak napas cuma karena auranya doang," gumam Gretha.
"Laras yang berbuat, kita semua yang kena imbasnya," lirih Floella.
"Ambilkan kompres es batu, sekarang!" tegas Sagara pada Affandra.
Affandra segera meluncur pergi melaksanakan tugasnya.
"By mau makan apa? Biar Gretha yang pesan makanan," ucap Floella.
Gretha yang namanya disebut, ia melotot garang pada Floella. "Kok gue sih anjir!" protesnya tak terima.
Sagara menatap tajam Gretha, "Dilarang berkata kasar dihadapan pacar saya!"
Gretha menelan ludahnya susah payah, ia seketika menciut saat tatapan tajam mengarah padanya.
Ruby mencubit lengan suaminya kesal. Sagara kembali menatap istrinya lembut. Gara-gara Sagara teman barunya jadi ketakutan.
"Mau makan apa, hm?" tanya Sagara.
Ruby seakan langsung melupakan masalah barusan, ia langsung bersemangat menyebutkan makanan. "Spaghetti, Salad, cake cokelat, minumnya Jus mangga."
Gretha melongo kearah Ruby, dia menyebutkan makanan sebanyak itu tapi tubuhnya tidak ada perubahan sama sekali.
"By, lo emang makan sebanyak itu?" tanya Gretha.
Ruby menganggukkan kepalanya, lalu tatapan beralih pada Sagara. "Emangnya ada yang salah ya?" tanya Ruby mengubah ekspresinya menjadi sedih.
"Nggak ada sayang, kamu bisa makan sebanyak mungkin. Aku tetap mencintaimu, sekalipun kamu makan banyak." Sagara menenangkannya dengan perkataan yang ia ucapkan. Ruby menarik bibirnya tersenyum.
"Gue mau Spaghetti, jus alpukat," ucap Floella.
"Okey, gue pesan dulu."
"Tunggu Gret, Sagara belum pesan," swru Ruby menghentikkan langkah Gretha.
Ruby menatap Sagara, menyerahkan menu. "Kamu mau makan apa?"
"Apapun yang kamu pesankan."
"Gretha, aku mau steak, minumnya samain kaya punyaku ya?"
Sagara berdehem singkat sebagai balasan.
"Okey, udah gak ada yang pesan kan? Gue pergi dulu."
Affandra yang baru kembali membawa kompresan, menghentikan langkah Gretha dengan tangannya.
"Apalagi sih?!" gerutunya.
Affandra menaroh kompresan itu ke meja, sebelum menghadap kearah Gretha. "Kok lu gak nanyain gue mau apa?! Gue juga mau pesen-"
"Nggak! Lo ikut gue pesen makanan!" potong Gretha menarik tangan Affandra.
"Woi! Gue baru juga nyampe udah ditarik lagi!" protes Affandra.
"Gak peduli."
"Mereka lucu ya?" celetuk Ruby terkekeh kecil.
"Kamu lebih lucu," balas Sagara.
Ruby menggembungkan pipinya kesal, pipinya merona. Sagara mengelus lembut pipi Ruby.
"Blush on kamu ketebalan."
"Ih! Aku gak pake blush on ya!"
"Terus ini apa?" tunjuk Sagara pada pipi Ruby yang merona.
"I-ini... hmph." Ruby menarik rambut Sagara kesal.
"Gue jadi nyamuk disini, kenapa gue tadi gak ikut Gretha aja sih," gerutu Floella dengan suara pelan.
Sagara mengambil kompresan diatas meja, lalu menarik tangan Ruby yang memerah. Ruby hanya terdiam dipangkuan Sagara ketika suaminya memulai kompresannya.
Beberapa menit kemudian Gretha dan Affandra kembali dengan nampan ditangannya. Di belakangnya ada beberapa pelayan yang membantu membawakan makanan.
"Selamat menikmati Tuan, Nyonya," ucap Pelayan tertuju pada Sagara dan Ruby.
Pelayan itu pergi, Gretha bertanya dengan raut bingung. "Sejak kapan pelayan bilang kayak gitu ya? Biasanya setelah naroh makanan mereka langsung nyelonong tanpa mau mengatakan seperti tadi."
Affandra mengendikkan bahunya. "Udah ayo dimakan, jangan bahas yang nggak penting," sela Floella.
"Aku mau makan dibangku!" seru Ruby.
"Nggak! kamu makan dipangkuan saya!"
"Nggak mau, makan dibangku!" protes Ruby mengeluarkan jurus andalannya.
"Ck." Sagara berdecak, lalu menaroh Ruby duduk disampingnya.
"Makasih sayang." Ruby mencium pipi Sagara, teman-temannya pura-pura tidak melihat.
Saat Ruby dan teman-temannya makan, seseorang menarik rambut Ruby kencang sampai dia terjengkang dan jatuh.
"Shit!" desis Sagara marah. Ia mendekati istrinya, ia mencekik leher Laras yang beraninya menarik rambut indah milik Ruby.
"Arghh! Sagara lepasin..." teriak Laras, tangannya melonggar dari rambut Ruby.
"Sialan beraninya kau menyentuh milikku!" murka Sagara semakin mencekik Laras.
"Ugh... Sa-Sagara lepasin, uhuk... a-aku sesak," mohon Laras.
Ruby meraih tangan kanan Sagara dengan susah payah. Rasa-rasanya seluruh tubuhnya sakit. Sagara menoleh, ia lalu melempar Laras kearah anak buahnya.
"Bawa dia pergi, atau mati!"
Karina dan kembarannya membawa Laras pergi dari kantin. Sedangkan Sagara menggendong Ruby ala koala, mereka meninggalkan kantin menuju parkiran.
Floella, Gretha dan Affandra mengikutinya dari belakang.
"Hei kau, izinkan kami pada guru," pesan Gretha pada salah satu teman kelasnya yang memakai kacamata.
Sagara dan Ruby kini berada di parkiran mobil, Sagara membuka pintu samping kemudi tetapi Ruby mengeratkan kakinya didalam gendongan Sagara.
Sagara tak ambil pusing, ia kembali menutup pintunya. Ia membuka pintu kemudi, memundurkan sedikit jok mobilnya agar Ruby nyaman. Setelah memasang seatbelt mobil itu melaju kencang meninggalkan sekolah. Dari arah belakang diikuti mobil yang berisi Gretha dan Floella, sedangkan Affandra naik motor.
***
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya," sambut Pelayan dan Bodyguard.
Sagara keluar dari mobil, semua pelayan terkejut dengan keadaan nyonya mereka. "Nyonya anda kenapa bisa seperti ini?" tanya Madam Alice.
"Madam tolong rawat Jisoo, saya mau mengurus sesuatu," perintah Sagara. Ruby mengeratkan pelukannya dileher Sagara.
"Gak mau hiks, mau sama kamu," rengek Ruby.
"Siapkan kamar tamu untuk mereka."
Semua pandangan tertuju pada ketiga anak remaja dibelakang tuannya.
"Baik, Tuan."
"La kita gak salah alamat kan?" bisik Gretha melihat mansion, akh ini seperti bukan mansion tapi mirip sebuah kerajaan.
"Lo nggak liat, didepan kita itu Sagara sama Ruby?"
Gretha terkekeh garing, "Tapi ini gede banget anjir. udah mah tempatnya ditengah hutan," gumamnya ketika bulu kuduknya berdiri.
"Gaada binatang buas, kan?" lirihnya melihat sekitar.
"Gaada, mungkin."
"Nona, Tuan muda ayo saya akan mengantar kalian ke kamar." Setelah mengatakan itu pelayan itu berjalan lebih dulu dan diikuti Gretha, Floella dan Affandra.
***
Ruby tak mau lepas dari dekapan suaminya, Sagara mau tak mau ia ikut berbaring disamping istrinya. Setelah membersihkan diri, kini Ruby tertidur dalam dekapannya.
Baru setengah hari mereka berada disekolah, istrinya sudah mendapatkan banyak luka ditubuhnya. Sagara menggertakkan giginya, siapapun yang berani melukai Ruby akan dibalas 99 kematian.
"Ssshh.." Ruby meringis ketika Sagara mengelus rambutnya yang barusan kena jambakan.
Sagara langsung melihat kepala istrinya. Pantas saja dia merasa tangannya basah, ternyata kepala Ruby kembali berdarah.
Sagara melepaskan dekapannya, ia mengambil kotak p3k. Belum beberapa hari sembuh, kepalanya kembali terluka. Ia mengobati kepala Ruby lembut, lalu memasang perban dikepalanya.
Cup
Sagara memberikan sentuhan terakhir, mencium kening istrinya. "Cepat sembuh, baby."
Ruby mendekat dan memeluk tubuh Sagara, mencari kehangatan yang ia cari. Sagara langsung mendekap istrinya erat.
Sedangkan dilantai bawah terjadi keributan.
"SIAPA YANG SUDAH BERANI MELUKAI MENANTU SAYA?!"
"APAKAH KAU YANG SUDAH MELUKAI MENANTU SAYA? SIALAN BERANI SEKALI KAU MELUKAINYA!!"
"ARGH!!"
"Ini tidak seberapa kau melukai menantu saya!"
"Tante, tolong lepaskan saya..."
"Tante, lepaskan teman saya!"
"Oh, jadi kalian bersekongkol!" Mami Olive mencengkram leher kedua gadis tersebut.
"Arghh!! uhuk.."
"HENTIKAN!"
***
AFFANDRA
FLOELLA
GRETHA
Next?
Voment!
Follow ya jangan lupa
Share, rekomendasiin ke teman kalian.
Bye bye, sampai jumpa dibab selanjutnya