Desa Pyrata telah diturunkan 100 meter lebih jauh ke bawah tanah. Dinding pelapis yang melindungi desa telah ditambah menjadi lebih tebal hingga mencapai 50 lapisan. Dengan posisi seperti ini, desa akan mendapat perlindungan yang lebih ketat sehingga bisa dijauhkan dari efek pembekuan musim dingin serta membuat desa menjadi semakin terpencil.
Tyler masuk ke bilik elevator untuk membawanya naik melewati 50 lapisan dinding dalam waktu singkat. Di puncak lapisan, Tyler membuka pintu elevator dan kabut tebal yang dingin langsung menerpa kulit wajahnya yang keras. Dengan penglihatan yang tajam, ia memindai tanah lapang superluas yang tanahnya membeku.
Setelah memastikan bahwa tempat itu benar-benar sepi, Tyler berbisik untuk memberikan perintah melalui panggilan smart device, "Semuanya sudah aman. Pengiriman pasukan ke medan perang bisa dilakukan sekarang."
Tak lama kemudian, beberapa kendaraan besar yang menampung banyak pasukan keluar dari bawah tanah dan siap diterbangkan menuju medan perang yang dimaksud. Tyler masih berdiri di tanah yang beku untuk memandu proses pemberangkatan. Setelah tugasnya selesai, ia kembali masuk ke dalam markas bawah tanah untuk mengamankan diri.
Tyler beserta warga Bluefish dan Pyrata menempatkan diri di dalam desa dan saling membantu untuk melindungi pusat kontrol. Laboratorium Pyrata kini dijadikan sebagai pusat kontrolnya, untuk memantau kegiatan perang di tiga medan perang berbeda—kota Pasifik, pulau Bermuda, dan hutan Highwood.
Tyler masuk ke dalam ruang kendali dan duduk tepat di depan monitor pemantau sambil mengajak seorang teman yang duduk di sebelahnya mengobrol. "Hei, Jinny, apakah Tuan Arthur serius tidak akan memberangkatkan Brian dan Arreta ke medan perang?"
Jinny Bluefish—seorang manusia buatan yang sangat cerdas—menjawab, "Brian dan Arre adalah satu-satunya warga Freepascal yang masih hidup. Tuan Arthur tidak mau mengambil risiko."
"Sebentar. Jika Ehren dan warga Dreamweaver dikirim ke kota Pasifik, lalu Silver dan warga Lighttable dikirim ke hutan Highwood, maka pasukan siapa yang dikirim ke pulau Bermuda?"
"Warga Netbeans. Jika sesuai dengan rencana, Kayel seharusnya memimpin perang itu."
"Wow, Netbeans. Perang antara warga berjiwa metropolis pasti akan sangat luar biasa."
Tepat setelah Tyler berkomentar, suara alarm yang cukup nyaring berbunyi. Tyler segera mengecek sumber masalah yang terjadi—bahwa desa telah diserbu oleh penyusup. Seisi ruangan mencoba untuk tetap tenang, karena setidaknya para penyusup akan kesulitan menerobos masuk dengan adanya 50 lapisan dinding pelindung.
Tuan Arthur masuk ke dalam ruang kendali yang ramai. Ia langsung menghadap Tyler dan bertanya. "Siapa para penyusup itu?"
"Sepertinya pemerintah Galactika mengirim beberapa pasukan kemari untuk menjemput Brian. Ada alat pelacak yang masih tertanam di tubuh Brian beberapa waktu lalu, tapi sudah kuhancurkan."
"Kalau begitu alihkan perhatian mereka sekarang. Aku akan membawa Brian dan Arre pergi ke pulau Bermuda."
Tyler sempat terdiam lama karena masih sulit untuk menuruti perkataan Tuan Arthur, hingga sebuah pesan pemberitahuan muncul di layar monitor—Ehren dan pasukannya telah tiba di medan perang.
***
Kota Pasifik—yang berada pada kedalaman 500 meter di bawah permukaan air laut menjadi medan perang pertama yang memulai aktivitas. Sesungguhnya, kota itu telah dikosongkan selama beberapa minggu terakhir karena insiden ledakan yang pernah meratakan seisi kota. Sekarang, kota Pasifik sedang dipenuhi kegiatan proyek pembangunan yang sepertinya pada hari ini sengaja dihentikan karena adanya perang.
Perang bawah laut ini digaduhkan oleh dua kubu dengan kekuatan yang sebanding—para pasukan militer Galactika yang dipimpin oleh Robin melawan pasukan Dreamweaver beserta ribuan Gloom amfibi dari kalangan bawah yang dipimpin oleh Ehren.
Sebagai permulaan, perang yang dilakukan berlangsung dalam jaringan. Kedua kubu sepakat menggunakan simulator dimana hanya manusia buatan atau AI-nya saja yang terjun ke medan perang dan tubuh yang asli akan mengendalikan dari jarak jauh. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kematian.
Di balik banyaknya bangunan yang belum berdiri sempurna, Ehren bersembunyi di tempat yang ia anggap aman. Sambil memperhatikan layar smart device-nya, ia memantau simulasi perang yang terjadi dengan sangat brutal. Di depannya kini berdiri seorang pria bertubuh tegap yang menyerupai dirinya—manusia tiruannya, Ehren Dreamweaver versi AI.
Ehren masih sibuk mengatur kustomisasi senjata dan pertahanan yang cocok untuk AI-nya. Setelah itu, mereka saling berpelukan dan berpisah. Ehren bersembunyi dibalik dinding bangunan dan mulai mengontrol AI-nya untuk memasuki medan perang.
***
Trevas telah diparkirkan beberapa meter agak jauh dari titik perang di kota Pasifik dan dijadikan markas utama para pasukan militer Galactika. Kendaraan besar dan megah itu kini telah mengalami banyak perubahan setelah jatuh ke tangan pemerintah Galactika. Struktur denahnya agak sedikit berubah dan beberapa fungsi ruang telah diganti.
Untuk keperluan perang bawah laut hari ini, Trevas telah menampung sekitar 3 ribu tentara di hall utama yang sibuk mengontrol simulasi di depan smart device mereka masing-masing. Sementara yang memimpin—Robin—diberikan ruangan khusus yang bersifat privat.
Di ruangan kecil yang nyaman, Robin mengabaikan simulasi perang yang sedang berlangsung. AI miliknya dibiarkan terjun ke medan perang dengan fitur autopilot, sehingga Robin bisa melakukan aktivitasnya yang lain, yaitu berkomunikasi dengan Kayel melalui panggilan.
"Kubilang tembak tepat di kepalanya! Itu adalah senjata khusus yang mengandung serbuk bunga Eveleum, jadi kau hanya perlu satu tembakan saja untuk membunuhnya!" seru Robin yang sedaritadi terus membentak Kayel melalui panggilan video.
Sementara itu, Kayel masih bersusah payah untuk melakukan perintah. Beberapa waktu lalu, Robin memerintahnya untuk membunuh Lucecria dan hari ini Kayel mencoba untuk membunuh perempuan itu dari jarak jauh dengan menggunakan bantuan drone, namun tak kunjung berhasil. "Ini sulit! Aku harus berhati-hati. Jika tidak, aku bisa salah tembak!"
Robin akhirnya muak dan kesal. "Ah, terserah! Setelah pulang perang, kau harus sudah membunuh perempuan itu!"
Panggilan video itu ditutup dan Robin langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Ia mulai menyalakan sebuah layar dan menonton film kartun tanpa memperdulikan perang simulasi yang sedang berlangsung.
Sementara itu, di sisi lain kota, Ehren masih berjuang dengan susah payah. AI-nya sudah berkali-kali menyerang AI milik Robin, namun ia selalu kalah sehingga harus mengisi ulang energi berkali-kali dan apabila kekalahan terjadi terlalu sering, AI-nya bisa saja mati.
"Shit! Shit! Shit! Kenapa dia kuat sekali, sialan!" umpat Ehren sekaligus mengakhiri perjuangannya yang tak memuaskan.
Akhirnya Ehren mencoba beristirahat sejenak dari perang. Ia menonaktifkan simulasi dan duduk bersandar untuk menenangkan diri. Tak lama kemudian, Yaren datang menghampirinya. Ehren menatap ke arah pemuda itu dan bertanya dengan nada yang sangat ketus. "Kenapa kemari?"
Yaren bertanya balik. "Kenapa mundur dari perang?"
"Ck. Sialan. Kau lihat sendiri, aku sudah berjuang susah payah untuk menghancurkan Robin tetapi selalu kalah. Sementara dia yang menggunakan autopilot selama perang justru selalu menang? Itu menjengkelkan! Pasti dia sedang rebahan dengan nyaman di atas kasur di dalam Trevas-ku!"
"Kenapa kau sangat membenci Robin?"
"Kenapa? Karena dia yang membunuhmu, tolol. Dia yang membunuh sahabatku, dia pembunuh Yaren."
"Aku minta maaf untuk itu."
Ehren segera merapikan pakaiannya dan menarik tangan Yaren untuk pergi. "Ayo tinggalkan perang dan ikut denganku."
Ehren dan Yaren mulai berenang menjauhi medan perang secara diam-diam. Di sepanjang jalan, Yaren terus bertanya, "mau kemana?" Namun Ehren tak mau menjawab.
Kedua pemuda itu akhirnya tiba tepat di bagian ekor kendaraan besar yang diberinama Trevas. Sebagai penghuni lama Trevas, Ehren tahu jalur yang tepat untuk menyusup masuk ke dalamnya. Sambil bergandengan dengan Yaren, mereka berdua masuk ke dalam Trevas yang kondisinya sudah sangat jauh berbeda.
Setelah mengeringkan tubuh, Ehren dan Yaren mulai berlari di sepanjang koridor sepi yang gelap. Sebagai seorang Dreamweaver yang tentunya berbakat dalam melakukan penyusupan, mereka berdua berhasil mengelilingi Trevas tanpa ketahuan. Walaupun Yaren mungkin terus bertanya, mengapa Ehren tiba-tiba membawanya kesini.
Sudah ada sekitar 15 menit waktu terbuang semenjak Ehren dan Yaren hanya diam di koridor lantai dua sambil mengintip ke hall utama dan memantau para pasukan militer yang sibuk bermain simulasi. Tapi Ehren sendiri masih belum tahu apa yang akan ia lakukan disini, hingga seseorang tiba-tiba menarik tubuhnya.
***
Moneyta Flyeagle ditugaskan untuk membawa beberapa unit pasukan menuju wilayah Eropa Baru untuk menjemput Brian—tahanan Galactika yang hilang. Sesuai dengan hasil titik lacak terakhir yang diperoleh, Money dan pasukannya berangkat untuk menyusup ke sebuah desa tersembunyi yang kini posisinya berada beberapa ratus meter di bawah tanah.
Untuk bisa masuk ke dalam desa, Money dan pasukannya harus melewati 50 dinding pembatas yang terkunci. Karena hal seperti ini tidak pernah diperkirakan sebelumnya, Money pun mendapat sedikit masalah karena tidak tahu cara bagaimana untuk masuk.
Tapi setidaknya, Money telah berhasil melewati 5 lapisan dinding pertama yang sepertinya memang tak dikunci. Di lapisan dinding keenam, masalah itu dimulai ketika ia dihadapkan oleh dinding kaca yang kuat, yang bahkan tak bisa hancur setelah dihantam berkali-kali. Hanya ada sebuah layar kecil yang menampilkan sebuah pertanyaan.
eln(3) - ln(2) + ln(1/x) =
Money hanya bisa terdiam bingung, sampai seorang pemuda datang menghampirinya dari balik kaca. Mereka saling bertatapan dengan dinding kaca sebagai pemisah. Pemuda berambut putih keabu-abuan itu tersenyum dan memberi sambutan. "Selamat datang di Desa Pyrata. Untuk datang berkunjung, Anda harus membawa surat undangan atau setidaknya memiliki janji resmi dengan penghuni desa."
Money kebingungan lagi. "Trevor? Apa yang kau lakukan disini? Apa-apaan ini?"
"Apa maksudmu apa yang kulakukan disini? Aku warga Pyrata."
Money memukul dinding kaca itu dan berteriak. "Buka dindingnya!"
"Dinding akan terbuka jika kau bisa menjawab pertanyaan yang tertera pada layar."
"Apa maksudmu? Soal matematika?"
"Bukankah Gloom idiot seperti kalian memiliki kemampuan otak yang setara dengan manusia jenius seperti Bluefish? Kecerdasan kita sebanding, 'kan?"
"Kau juga seorang Gloom, bodoh!"
"Ya, benar. Tapi sebagian besar orang yang menyusun soal matematika ini adalah manusia Bluefish."
"Kau bercanda?"
"Aku serius. Kalian harus menyelesaikan 45 pertanyaan di setiap dinding pelapis untuk bisa masuk ke dalam desa. Semangat, semoga beruntung," ujar Tyler yang kemudian memberi kedipan manis sebelum pergi meninggalkan lorong.
"Trevor!"
***
Istana negara terlihat cukup sibuk hari ini. Tuan Rapid dan beberapa jejeran petinggi sedang memantau kegiatan perang yang berlangsung di beberapa tempat. Sementara itu, di sepanjang koridor lantai 75, Kayel berlari sekuat tenaga ketika dua orang penjaga bertubuh besar mengejarnya.
Sambil berlari, Kayel terus mencoba menghubungi kontak Silver namun panggilannya tak kunjung dijawab. Karena ia tidak mau terlalu berharap, ia mencoba mengatasi masalah yang menimpanya ini seorang diri. Kayel segera menuju garasi dimana pesawat-pesawat matic diparkirkan, untuk melarikan diri dari istana, Kayel mengendarai salah satunya.
Dengan berbekal pengalamannya selama menjadi bagian Galactika IT Team, Kayel mampu menerbangkan pesawat tersebut dengan mudah. Mengendarai seorang diri, pesawat itu dibawa meluncur untuk keluar dari kota.
Sambil bermain dengan mesin kendali pesawat yang ada dihadapannya, Kayel tetap terus mencoba menghubungi kontak Silver. Silver adalah satu-satunya kontak yang tidak memblokir Kayel, jadi Kayel hanya bisa menghubunginya. Akhirnya, usaha Kayel berhasil dan suara Silver muncul dalam panggilan.
"Halo, Kayel? Kau baik-baik saja?"
"Silver! Astaga, aku sangat bersyukur karena kau belum memblokir kontakku! Aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi kumohon kau harus percaya padaku!"
"Ada apa?"
"Pemerintah Galactika menyembunyikan 2 hektar lahan bunga Eveleum di bawah tanah di hutan Highwood! Kau bisa pergi ke sana untuk mengecek bahwa lahan itu sungguhan ada! —Ah, sialan!" Suara dentuman yang berasal dari belakang pesawat berhasil membuat pesawatnya berguncang dan mengalihkan fokus Kayel. Laju pesawat pun ikut tak terkendali, ditambah dengan tembakan yang terus menyerang kendaraannya.
"Apa? Suara apa itu? Dimana kau sekarang?"
"Kupikir aku harus memberitahumu soal itu sebelum mereka membunuhku!"