ADOLPHINE: Ddeungryu [END]

By Marmoregilt

21.1K 4.3K 1K

Hai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, i... More

PROFILE
PROLOGUE
O1. Rubelga
O2. Buruan
O3. Luka
O4. Lencana dan Sungai
O5. Lima Hari
O6. Cerita
O7. Jangan keluar, Belga
O8. Full Moon
O9. Peta dan Lolongan
1O. Hari Terakhir
11. Teman Nenek
12. Ludolf
13. Kalung Belga
14. Anggota Terakhir
15. Konsekuensi
16. Cerita Hogan
17. Tidak Diundang
18. Penyusup
19. Tempat Kematian Hogan
20. Bertemu Nenek
21. Keluar
23. Akhir Cerita
BONUS CHAPTER

22. Apalagi?!

572 137 32
By Marmoregilt

Pavinone ; 18xx

"Jadi, aku harus menunggu dia mengalami pendarahan agar tahu nasib anakku?" Hogan menaikkan intonasi bicaranya karena kesal. "Kalau kau tidak tahu cara mengobatinya, setidaknya kau tahu bagaimana keadaanya."

"M-maaf Alpha, tapi hanya itu yang bisa saya beritahukan," jawab seorang wanita yang menunduk ketakutan. "Bius yang masuk ke tubuh Luna cukup mengganggu pertumbuhan janinnya. D-ditambah lagi, tubuhnya yang-"

"Aku tahu!" potong Hogan. Ia marah karena baru mengetahui tentang keadaan Belga. Rasa menyesal menyelimutinya, ia merasa gagal. Mengingat Belga yang dikurung selama beberapa hari, kemudian bertarung dengan neneknya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit yang Luna nya rasakan.

Beruntungnya ada Jacob yang berada di belakang mereka, "tolong tenanglah, Alpha," ucap pria itu.

Tanpa mereka sadari, Belga sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Hogan adalah orang yang pertama kali mengetahui keberadaan gadis itu. Ia segera memerintahkan Jacob dan wanita di sampingnya untuk pergi.

"Mengapa kau sangat kasar?" ucap Belga saat Hogan menuntunnya duduk di sofa. "Seharusnya kau berterima kasih kepadanya."

"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan sekarang?"

"Aku merasa lebih baik."

Hogan duduk berlutut di depan Belga, ia menggenggam erat tangan wanitanya seakan dunia akan merebutnya jika terlepas. "Mengapa kau tidak bilang kepadaku?" tanya Hogan.

"Aku belum sempat bertemu denganmu, Hogan," ia menjawab.

"Kau pasti merasakan gejala sebelumnya, mengapa kau hanya diam?" Belga terdiam karena merasa bingung menjawab pertanyaan pria itu. "Sejak kapan kau merasakannya?"

"Sejak... Aku bertukar tubuh dengan Raulla."

Hogan menarik nafas panjang, "dan kau sudah mendengar semua yang tabib katakan, bukan?'

Belga mengangguk, "maaf, aku telah membawanya bertarung." Ia menghentikan ucapannya sejenak, "aku sempat berpikir kalau kau tidak akan mencariku lagi." Belga teringat saat ia hampir menyerah saat Ursula hendak membunuhnya. Namun, sosok bayi di perutnya membuat Belga bertekad untuk keluar pergi dari kastil Julien.

"Tidak mencarimu lagi? Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu?" Belga hanya menundukkan pandangannya. Hogan menarik dagu Belga agar bisa menatap matanya, "jangan memalingkan pandanganmu dariku, Luna."

Belga yang masih enggan menatap pria itu berusaha keras agar tatapan mereka tidak bertemu. "Aku pantas disalahkan jika bayi ini tidak selamat," ucapannya membuat Hogan tersentak.

Pria itu menangkup wajah Belga dan menatapnya lekat-lekat, "nenekmu lah yang pantas disalahkan," kalimat yang dilontarkan Hogan terdengar menusuk. Amarahnya benar-benar memuncak saat mengingat perbuatan keji yang dilakukan Ursula. "Tidak apa jika bayi itu pergi, asal dia tidak membawamu pergi bersamanya."

Sorot mata Belga memudar, air mata mulai menggenangi matanya. Sontak, Hogan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia tak sanggup melihat sosok yang amat dicintai menitihkan air mata. Dengan posisi yang sama, Belga mengeluarkan tangisnya. Kesedihan ia rasakan karena karena kehilangan orang yang merawatnya, serta pengorbanan Sierra. Ia tidak menyangka kalau jalan hidupnya menjadi lebih runyam.

"Apa kau membawa tubuh nenek dan Sierra?" tanya Belga tiba-tiba.

"Hanya Sierra."

Belga menarik tubuhnya, ia menatap Hogan dengan tatapan serius, "mengapa?"

"Dia tidak pantas mendapatkannya, biarkan dia menjadi bangkai di dalam kasti Julien."

"Dia nenekku!"

"Dia melukaimu, Mate."

"Dia yang merawatku sejak kecil, Hogan. Dia masih berbaik hati untuk tidak membunuhku saat ia menghancurkan pack nya."

Suara Belga meninggi dan terdengar bergetar karena masih menahan tangisan. Awalnya Hogan masih enggan. Tidak ada yang bisa memerintah Hogan, tapi ia seperti tidak bisa mengacuhkan ucapan Belga, "baiklah, apapun untukmu," putus Hogan kemudian.

Setelah mendengar ucapan Hogan, tiba-tiba saja Belga bangkit, "kau butuh sesuatu?" tanya Hogan. "Aku bisa membawakannya untukmu."

"Aku ingin mandi," Hogan mengangguk, ia mengikuti Belga. "Jangan mengikutiku."

"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu."

"Aku bisa menyiapkannya sendiri," punggung Belga sudah tak terlihat lagi. Hogan memutuskan untuk pergi keluar untuk menemui Jarome. Saat mereka pulang, Jarome menawarkan diri untuk mencari pelaku yang memberikan obat bius kepada Sang Luna.

Hogan berjalan menuju sebuah pintu besar yang terhubung dengan sebuah tangga dengan sebuah lorong gelap. Saat pertama masuk, temaram lampu akan menyambut di sepanjang lorong mengantarkan ke sebuah ruangan besar dengan berbagai macam kepala di dindingnya.

Ya, kepala-kepala itu sudah ada sejak pertama kali masa kepemimpinan Hogan dimulai. Dari yang berwujud manusia sampai serigala, tergantung dari siapa dan bagaimana bentuk orang itu saat Hogan memenggal kepalanya.

Hogan berjalan melewati kursi di tengah ruangan itu yang biasa ia sebut sebagai kursi eksekusi. Jika seseorang sudah duduk di kursi itu, maka sudah dipastikan ia akan kehilangan nyawanya. Dengan langkah tegas dan raut wajah dingin, pria itu berjalan menuju jajaran ruangan berjeruji besi. Semakin dalam ia berjalan, ruangan-ruangan itu akan semakin memiliki ukuran yang kecil.

Hogan berhenti pada satu sel dengan Jarome yang berdiri di depan serta seorang perempuan cantik di dalamnya. Salah satu tangan perempuan itu terikat pada rantai di ujung ruangan. Jarome hanya menatap dingin ke arah gadis itu. "Salam, Alpha," ucap Jarome saat Hogan datang.

"Apa yang sudah kau temukan, Beta Jarome?" tanya Hogan.

"Sebuah kejutan kecil, Alpha."

Hogan beralih menatap seseorang di dalam jeruji, ia menajamkan penglihatan untuk melihat siapa orang itu. "Kau bisa pergi," titah Hogan kepada Betanya. Jarome mengikuti perintah pria itu, ia menundukkan tubuhnya sebelum meninggalkan Hogan.

Hogan berjongkok tepat di depan sel, kemudian perempuan itu berjalan mendekat ke arahnya. "Alpha..." suara perempuan itu terdengar pilu dan menggoda di saat bersamaan. Satu tangan lainnya yang tidak terikat bergerak menyentuh wajah pria di depannya.

Sebelum perempuan itu berhasil menyentuhnya, Hogan sudah menggenggam pergelangan tangannya. Ia sedikit mengusap lembut titik nadi perempuan itu, yang sedetik kemudian berubah menjadi cengkraman dan menimbulkan suara retakan tulang. Perempuan itu memekik kesakitan.

"Ibuku selalu mengajariku untuk menghargai perempuan, tapi jika perempuan itu seperti mu bagaimana aku bisa sudi?" Hogan berbicara dengan nada yang datar. Ia mengintimidasi perempuan itu dengan tatapannya. "Karena kau sudah bersalah, hukuman apa yang seharusnya kuberikan padamu, Wynne?" Perempuan bernama Wynne itu masih memekik kesakitan. Ia memohon kepada Hogan agak melepaskannya, tapi pria itu sama sekali tidak bergeming.

"K-kau tega menghukumku? Aku benar-benar meminta maaf atas kesalahanku, a-aku hanya sedang dikuasai oleh nafsuku sendiri," Wynne merintih. Ia bisa merasakan tulang pergelangan tangannya remuk karena cengkeraman Hogan. "Bukankah kita sudah berteman di waktu yang lama?"

"Kau masih bisa bertanya seperti itu? Sudah kubilang aku tidak punya teman, Kita hanya saling mengenal, tidak lebih." Hogan semakin geram, "bekerjasama dengan Julien sudah kesalahan besar, apalagi sampai melukai Mate ku. Kau hanya mencari mati."

"H-Hogan... S-sekali saja maafkan aku..."

"Jangan pernah mengharapkan belas kasihanku, itu percuma," Hogan melepaskan cengkeramannya kemudian berdiri. "Tenang saja, aku berani menjamin kau dikuburkan dengan anggota tubuh yang masih lengkap. Ia melenggang begitu saja tanpa memperdulikan Wynne yang terus berteriak.

___

Selesai dengan Wynne, Hogan kembali ke kamarnya. Saat ia membuka pintu kamar, Hogan dibuat terkejut dengan pemandangan di depannya.

Amarahnya kembali memuncak saat melihat Jarome yang tengah memeluk Belga erat. Hogan berjalan cepat ke arah mereka, menarik Jarome dan memukul pria itu tepat di rahangnya. Belga menarik Hogan sambil berteriak memintanya untuk berhenti. Namun, Hogan sudah dikuasai oleh api amarah. Ia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Belga.

"Hentikan, Hogan!" teriak Belga yang sudah terduduk dan menahan kaki Hogan. "Dengarkan aku, sebentar."

Sontak Hogan menoleh ke arah gadis itu, menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Ia tidak pernah bersikap separah ini sebelumnya, tapi menurut Hogan hal ini sudah keterlaluan. "Apalagi ini, Rubelga!? Kau bermain di belakangku!" 

TBC

©Alphanorv

12/11/22

Happy father's day y'all!

Today is supposed to be the last part of Adolphine but I decided to separated it into two parts, because it's too long hehe. So, next week is the last part. And I'll do some revisions after that, see you~

Anyways yang penasaran siapa Valco dan Julien bisa cek chapter Profile

Continue Reading

You'll Also Like

13.9K 1K 49
|EXO|STRAYKIDS|NCT127|NCT DREAM|ITZY|AESPA|REDVELVET| "ketika sebuah ramalan yang slalu dianggap tak pernah ada, tiba-tiba saja benar-benar terjadi p...
163K 15.3K 37
Aku tidak tahu siapa orang tuaku, sendari kecil aku hidup bersama bibiku yang merawatku dengan kasih sayang. Karena kasih sayangnya yang melimpah mem...
5.7M 101K 20
SUDAH TERBIT. TERSEDIA CHAPTER 1 - 15 SEBAGAI SAMPEL BUKU A Wattpad Werewolf story. Highest ranking #1 in Werewolf Highest ranking #1 in supernatura...
435K 34.5K 85
[TERBIT] Aku tak percaya akan semua ini ! Bagaimana bisa seorang Alpha tampan sepertiku mendapatkan mate seorang Psychopat?! Bahkan tatapannya sang...
Wattpad App - Unlock exclusive features