Jalur Merah

By Dramaqueenns

2.9K 223 141

[TAMAT] Perjalanan mendaki gunung yang seharusnya menyenangkan, justru membawa ketujuh sahabat ini berakhir d... More

Pemandu
Permulaan
Berhenti
Berpencar
Mereka
Godaan
Fajar
Halangan
Nyaris
Akhir

Harapan

188 15 30
By Dramaqueenns

"Jalur Merah – Chapter 8 : "Harapan"

Fanfiction by Dramaqueenns

Warning(s) : Alternate Universe, chapter ini mengandung adegan Taufan x Yaya (yang nggak suka silakan mundur menjauh!!!), horornya dikit, dramanya banyak, bahasa dialog non-baku.

.

.

.

Yaya membuka matanya yang terasa digantungi timah. Ia mengerjap, sejenak mengira belum bisa membuka mata. Namun, kemudian Yaya sadar kegelapan pekat yang menyelimutinya membuat ia nyaris tak bisa melihat apapun.

"Gempa...?" panggil Yaya lirih. Ia bangkit dengan perlahan, meringis nyeri karena tiap gerakan membuatnya kesakitan.

Kepala Yaya terasa pening. Kegelapan dan kesunyian di sekitarnya membuatnya gelisah dan was-was. Ia mencoba mengingat, bagaimana dirinya bisa berakhir di tempat seperti ini?

Dan ingatan menyeramkan itu kembali mengulang di otaknya seperti kaset rusak.

"Gempa!" panggil Yaya sekeras mungkin. Namun, suaranya hanya bergema kembali dalam koor mengerikan. "Gempa, kamu di mana?"

Setelah kesadarannya perlahan pulih, indra tubuhnya juga mulai kembali bekerja dengan penuh kewaspadaan. Yaya tadi tidak menyadarinya, tapi sekarang ia bisa mencium bau busuk yang begitu menyengat hingga membuat hidungnya hampir mati rasa. Ia sebisa mungkin berusaha menutup hidung, tapi bau itu sama sekali tidak bisa diblokir.

Yaya bangkit dan melangkah terhuyung. Kakinya menginjak sesuatu yang menimbulkan suara derak, seperti sesuatu yang patah. Ia menunduk untuk memeriksa, dan jantungnya nyaris berhenti melihat sebentuk kerangka di bawah sepatunya.

Yaya membungkam mulut untuk menahan suara jeritan. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. Tangan dan kakinya bergetar, Yaya meraba dinding di sekitarnya. Ia berharap setidaknya bisa melihat secelah cahaya supaya bisa menemukan jalan keluar, tapi yang dilihatnya tak lain hanyalah gelap.

"Gempa ...." Suara Yaya bergetar saat memanggil. "Taufan ... Fang ... Halilintar ... Ying ... Gopal ...."

Tangis Yaya merebak dalam ketakutan. Bagaimana kalau sebenarnya ia sudah mati?

Yaya menampar dan mencubit pipinya untuk memastikan. Sakit. Itu artinya ini bukan mimpi, dan ia juga belum mati, 'kan?

Yaya terus berjalan, mengabaikan bau busuk yang semakin menyengat juga bayangan kerangka manusia yang terbaring di bawah kakinya. Ia tidak ingin membayangkan itu mayat siapa, atau sudah berapa lama dia ada di sini. Yaya hanya tahu ia harus segera mencari jalan keluar jika ... tak ingin berakhir sama.

"Taufan ... Fang ..." Yaya masih berusaha memanggil walau suaranya ia yakin teredam. "Kalian di mana ..."

Yaya hanya bisa berputar-putar di tempat, dengan langkah berjingkat-jingkat. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak menginjak kerangka tengkorak di bawah kakinya. Yaya berusaha mengalihkan pikiran, tapi matanya tak bisa berhenti melirik ke belakang. Mungkin hanya perasaannya, tapi ... mayat yang membusuk itu seolah tengah mengawasinya dari kegelapan.

Kakinya tak sengaja menendang sesuatu, dan Yaya berjongkok untuk memungutnya. Sebuah jam tangan yang layarnya sudah pecah. Apa itu milik orang mati ini?

Suara derit kayu dari luar membuat Yaya menahan napas. Sepertinya ada orang yang melangkah mendekat dari luar.

Yaya menggenggam jam itu erat-erat, menanti dengan was-was siapa yang melangkah. Apakah itu teman-temannya atau justru makhluk yang—

"Fang ... Gempa ..."

Yaya tersentak. Suara itu...

"Taufan?"

Yaya segera berlari ke depan, dan menabrak dinding kayu. Bukan, ini pintu! Ia menarik gagangnya, tapi pintu itu tetap bergeming. Yaya mulai menggedor dan berteriak memanggil.

"Taufan! Taufan, aku di sini!"

Yaya masih berusaha menggedor sekuat tenaga. Berharap bahwa Taufan memang benar-benar ada di luar sana.

"Taufan!" Yaya masih memanggil. "Taufan, kamu bisa dengar aku? Ini aku, Yaya!"

Tidak ada sahutan. Yaya mulai berpikir ia hanya berhalusinasi mendengar suara Taufan, sampai pintu digedor dari arah sebaliknya.

"Ya—Yaya?" Taufan memanggil lirih. "Yaya, kamu di dalam?"

"Iya, Taufan. Aku di—"

Sebuah tangan menekap mulut Yaya. Ia menoleh dan membelalak ngeri. Tangannya terjulur ke depan dengan panik, berusaha menggedor lagi. Ia menjerit tertahan, menahan napas karena bau busuk dari tangan penuh keropeng yang membekap mulutnya.

'Taufan!!!' Mata Yaya terpejam rapat dengan tangan yang terus menggedor pintu.

"Yaya!" Suara Taufan masih terdengar dari luar. "Yaya kamu masih di dalam? Kamu nggak apa-apa?"

Tubuh Yaya mendadak terangkat. Ia melayang sejenak, kakinya menendang udara dengan putus asa, sebelum ia dilempar ke seberang ruangan dan menabrak lemari hingga patah.

Yaya mengerang, memegangi kepalanya yang terbentur. Matanya mengerjap di tengah kegelapan, jeritan tertahan kembali lolos dari bibirnya melihat kerangka di lantai yang beringsut mendekat ke arahnya.

"Yaya!"

Yaya menjerit, menutupi wajahnya. Kemudian ia menyadari ada orang lain di sana, dan matanya perlahan mengintip dari sela-sela jari.

"Taufan ..."

Yaya tidak mendengar kapan pemuda itu masuk. ia menegakkan tubuh, membuka mata lebar-lebar untuk memastikan yang di hadapannya benar-benar Taufan.

"Yaya, Yaya." Taufan segera berlutut di depannya, terlihat panik. "Kamu nggak apa-apa?"

Kepala Yaya terasa berputar. "Taufan...?" gumamnya ragu-ragu. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Taufan. "Kamu kenapa?"

Cahaya pagi mulai menyelinap dari celah langit-langit, dan Yaya akhirnya menyadari keadaan Taufan yang begitu berantakan. Pakaian berantakan juga robek di beberapa tempat, ranting dan daun kering mencuat dari helai rambutnya, dan yang membuat Yaya khawatir adalah aliran darah yang mengering dari pelipis menuju sisi wajahnya.

"Kamu sendiri kenapa? Gimana kamu bisa ada di sini?" Taufan balik bertanya.

"Ada yang narik aku waktu lagi sama Gempa..." Yaya berusaha menerangkan. Ia duduk, berusaha untuk tidak muntah. Matanya melirik mayat yang kini hanya bergeming diam di belakang Taufan. "Terus ... tiba-tiba aku udah di sini. Kamu sendiri ... bukannya kamu harusnya sama Gopal? Fang gimana, udah ketemu?"

Taufan membantu Yaya untuk bangkit. "Gopal ikut Halilintar sama Ying. Dan aku ... aku kepisah dari Fang dan Gempa ."

"Mereka baik-baik aja?" tanya Yaya. Ia sedikit meringis saat Taufan menopangnya berdiri.

"Kaki Halilintar luka, dan dia nggak bisa banyak gerak. Jadi Ying sama Gopal nemenin dia balik ke pondok," jelas Taufan. "Aku, Fang, Sama Gempa nyariin kamu, tapi, yah, aku malah kepisah dari mereka ..."

"Kepisah dari mereka...?" Yaya bertanya sangsi. Ia berpegangan erat-erat pada Taufan karena tubuhnya masih limbung. "Gimana bisa?"

Taufan hanya mengeleng kecil, tidak menjawab pertanyaannya. "Kita harus nyari cara supaya kamu keluar dari sini."

Yaya mengangguk, meski belakangan baru menyadari Taufan berkata; 'kamu keluar dari sini', bukan 'kita'.

"Tadi aku udah coba." Yaya memicingkan mata ke arah papan kayu yang diduganya adalah pintu. Seharusnya tadi Taufan masuk lewat sana, 'kan? Kenapa pintunya masih tertutup? "Tapi aku sama sekali nggak nemu jalan keluar. Gimana caranya kamu masuk tadi?"

Taufan lagi-lagi tidak menjawab dan menarik napas. Matanya awas memandang sekeliling. Ia kemudian menghampiri pintu, dan berusaha keras menariknya agar terbuka.

Yaya ikut membantu. Ubun-ubunnya berdenyut, mungkin memar karena terbentur tadi. Ia kelelahan setengah mati, tapi tetap mencoba dengan usaha yang sia-sia agar bisa mencari jalan keluar.

"Sekarang kita harus gimana lagi, Taufan?" tanya Yaya, mulai putus asa.

"Kita harus nunggu bantuan," kata Taufan, matanya mendongak menatap celah di langit-langit. "Pasti bakal ada yang lewat sini. Kita bakal panggil mereka nanti. Sekarang kita cuma bisa nunggu."

"Yah, bagus kalau bakal ada bantuan yang datang, tapi ...." Yaya menunjuk kerangka mayat tak jauh dari mereka. "Tapi... kayaknya di sini bukan tempat aman untuk menunggu."

"Oh, bener juga." Taufan mengerutkan hidung saat mengendus bau tak sedap dari sana. "Kamu tau itu mayat siapa...?"

Yaya menggeleng. "Mungkin pendaki yang tersesat," gumamnya. "Kelihatannya dia udah lama di sini."

"Mungkin ... itu abangnya Fang?" Taufan bergumam ragu. Ia berjongkok di sisi mayat itu untuk memeriksa.

Yaya hanya bergidik, berharap mati-matian agar mayat itu tidak bangkit lagi dan menyerang mereka.

"Kamu bilang abang Fang?" Yaya bertanya heran, menutup hidung dan mulutnya selagi hati-hati berjalan mendekat. "Bukannya Abang Fang lagi di rumah? Dia nggak ikut kemari, 'kan?"

"Kata Fang abangnya hilang setahun yang lalu di hutan ini," Taufan berujar. "Itulah kenapa Fang punya ide buat ngajak kita ke sini. Dia pengen ada teman buat nyari abangnya."

"Abangnya hilang ..." Yaya langsung tersentak, menghubungkan titik-titik misteri di benaknya. "Apa jangan-jangan itu yang bikin dia keluar diam-diam dan ninggalin kita?"

"Iya. Fang pergi karena mau nyari abangnya ..."

Mereka kemudian diam, menatap sisa dari jasad yang mereka duga adalah kakak Fang. Mayat itu jelas sudah membusuk dan tidak bisa dikenali. Sisa-sisa kulit keriput yang menempel di kerangka sudah nyaris mengelupas habis. Namun pakaiannya masih cukup utuh, kecuali sobekan di beberapa tempat. Jaket kotor yang warnanya sudah memudar dipakai di atas sweater gelap. Sepatu kulitnya sudah berlubang, mungkin dimakan binatang pengerat. Yaya tak bisa membayangkan seperti apa reaksi Fang jika ini benar-benar abangnya.

"Aku ... tadi nemuin ini." Yaya kemudian teringat sesuatu dan merogoh saku jaketnya. "Kayaknya ini punya orang ini deh. Siapa tau kita bisa cari tau identitas orang ini dari jam yang dia pakai."

Taufan memperhatikan jam yang diperlihatkan Yaya, kemudian mengangguk kecil.

"Kayaknya... ini memang Bang Kaizo," gumam Taufan. "Aku pernah liat Fang pakai ini juga. Katanya minjem punya abangnya."

"Kamu yakin?" tanya Yaya cemas. "Kalau gitu kita harus ngasih tau Fang."

"Tapi gimana? Kita masih terkurung di sini."

Taufan menoleh ke arah jendela yang baru disadari Yaya ada di sudut dekat lemari. Jendela itu sangat kotor, dan berada hampir di luar jangkauan tangan Yaya. Namun, Taufan bisa dengan mudah meraihnya, mengelap sisi kaca yang berdebu dan mereka akhirnya bisa melihat langit yang semakin terang. Yaya bertanya-tanya apa yang lain sudah menemukan jalan untuk turun dan mencari bantuan.

"Kita harus usaha cari jalan keluar dulu," kata Taufan. "Udah pagi. Hantunya mungkin udah bosen gangguin kita."

Yaya tak bisa menahan diri untuk lagi-lagi melirik ke mayat Kaizo. Jangan bangun, tolong jangan gentayangan lagi dan istirahatlah dengan tenang.

Taufan kembali mencoba mendobrak pintu, yang masih bertahan bergeming. Entah pintu itu terbuat dari apa, meski seluruh ruangan ini tampak lapuk, tapi pintunya bertahan begitu kuat. Yaya sendiri melangkah ke arah jendela dan dengan susah payah menjulurkan tangan untuk coba membukanya, yang ternyata juga terkunci.

"Mungkin kita bisa teriak ke luar?" gumam Yaya ragu, menatap keluar.

"Teriak keluar? Kamu yakin ada yang bisa dengar?"

Taufan melangkah menghampiri Yaya. Ia mengusap jendela yang berdebu dengan jaket dan matanya mengawasi sekeliling. Ia lalu mengambil sebuah tongkat di sudut ruangan, dan memecahkan kacanya.

Yaya bergerak mundur untuk menghindari pecahan kaca. Sinar matahari yang menerobos masuk membuatnya harus memicingkan mata setelah begitu lama terbiasa dengan gelap. Angin pagi berhembus, posisi mereka yang sejajar dengan tanah membuat Yaya menyadari mereka disekap di ruang bawah tanah.

"Kita coba teriak?" tanya Yaya ragu. Ia sedikit menggigil karena udara luar yang menyusup masuk. "Tapi kayaknya nggak ada yang lewat sini, sih."

Taufan menatap Yaya sejenak sebelum membuka jaket dan menyampirkankannya di bahu Yaya.

"Kamu pasti bakal selamat," kata Taufan. "Aku bakal pastiin kamu bisa keluar dari sini."

"Aku?" Yaya mengerjap bingung. Jaket Taufan menguarkan aroma amis darah dan lumpur, tapi tetap terasa hangat. "Kita bakal keluar sama-sama, 'kan?"

Taufan tersenyum ganjil, dan Yaya mendadak saja merasa takut. Tangan pemuda itu terulur ke arahnya, dan Yaya bergerak mundur dengan waspada.

Namun, Taufan hanya merengkuhnya erat. Pelukannya tidak terasa hangat, tapi cukup untuk membuat rasa takut Yaya luntur. Ketegangan yang dirasakannya sejak berjam-jam yang seolah tanpa akhir, perlahan mencair.

Air mata Yaya turun tanpa bisa dicegah. Ia begitu ketakutan dengan semua teror yang menimpa mereka, dan bahkan hampir putus asa untuk menemukan celah agar selamat. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada teman-temannya yang lain, apa mereka masih hidup, apa mereka selamat? Langit biru di luar memberi sedikit harapan untuknya, tapi pelukan Taufan yang seolah tak ingin melepasnya memberi Yaya rasa aman.

Yaya tersentak begitu mendengar suara langkah kaki terburu-buru di luar. Ia menarik diri, mendongak pada Taufan yang balas menatapnya. Mereka tetap diam dan dengan seksama berusaha mendengar dengan jelas suara-suara di luar. Sepertinya ada lebih dari satu orang yang tengah bercakap-cakap.

"... turun dan mencari bantuan."

"Tapi kita masih belum nemuin Yaya."

Mata Yaya membeliak saat namanya disebut.

"Ya makanya, kita harus turun dulu. Lebih banyak yang cari lebih bagus."

Itu suara Fang!

Taufan dan Yaya saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Taufan membuka mulutnya dan meneriakkan nama Fang.

"KAMI DI SINI! HOI! FANG! KAMI DI SINI!"

Taufan menggedor jendela tempat mereka mengintip. Namun sepertinya suaranya tidak terdengar, dan langkah-langkah itu kini mulai menjauh.

"Fang!" Yaya ikut berteriak. "Gempa! Kami di sini!"

Taufan dan Yaya mencoba segala cara untuk memanggil kedua teman mereka. Hingga akhirnya terdengar suara langkah yang bergegas mendekat.

"Yaya? Yaya, itu kamu?"

Wajah Fang muncul dari celah jendela, membungkuk dari atas. Gempa kemudian ikut berjongkok di sebelahnya.

"Ini beneran kamu, Ya?" Gempa bertanya khawatir.

"Iya. Ini benaran aku," sahut, Yaya tersenyum lega. "Tolong kami! Tolong bantu kami keluar dari sini, dong!"

"Gimana caranya kamu bisa di situ? Apa ada pintu masuknya?" tanya Gempa.

"Ada. Tapi pintunya terkunci. Aku Sama Taufan udah coba buka, tapi nggak berhasil," kata Yaya.

"Taufan...?" Gempa menatap Yaya dengan mata melebar. "Kamu—kamu lagi sama Taufan?"

"Iya. Dia di sini di samping aku. Kamu nggak bisa liat?"

Gempa terhenyak, begitu juga dengan Fang. Keduanya saling memandang satu sama lain, sebelum kembali menoleh pada Yaya

"N-nggak ada Taufan, Yaya," ucap Gempa. "Ta-Taufan, Taufan jatuh di tebing. Ini kita mau ke bawah dan cari dia."

"Apa? Tapi Taufan—" Yaya menoleh dan membelalak saat tidak menemukan Taufan di sebelahnya lagi. "Tadi—tadi Taufan ada di sini... Dia juga ikut manggil kalian. Kalian nggak dengar?"

"Kami cuma dengar suara kamu, makanya kami balik ke sini," kata Gempa cemas. "Kamu tetap diam di situ, oke? Kami akan cari jalan buat masuk."

Yaya termenung. Ia menatap tempat di mana Taufan terakhir kali bersamanya sementara Fang dan Gempa mulai berlari mencari pintu masuk.

Yaya yakin benar Taufan ada di sini. Dan yang memecahkan kacanya tadi siapa kalau bukan Taufan?

Yaya menjulurkan tangan ke bahunya, tidak ada jaket Taufan yang tadi disampirkan di sana. Lututnya terasa goyah, dan ia jatuh terduduk dengan lemas.

Jadi ... sejak tadi Yaya memang sendirian di sini. Apa Taufan yang tadi bersamanya hanya sekedar halusinasi? Taufan yang memeluknya, memberinya rasa aman dari teror dan takut. Taufan yang berjanji akan membantunya mencari jalan keluar.

"Kamu pasti bakal selamat. Aku bakal pastiin kamu bisa keluar dari sini."

Pintu didobrak keras dan Fang beserta Gempa tersungkur masuk ke dalam.

"Kamu nggak apa-apa?" Gempa bertanya dan segera menghampiri Yaya.

Yaya menggeleng, membiarkan Gempa membantunya berdiri. Ia menatap Gempa dan Fang dengan pandangan nanar, memohon sedikit harapan.

"Kalian serius nggak lihat Taufan, tadi?" tanyanya. "Tadi Taufan beneran ada di sini sama aku."

"Hah?" Gempa mengerjap bingung, matanya menelaah ke sekitar. "Nggak ada, Ya. Kami cuma—"

"Abang?"

Fang berlutut di lantai dan membelalak ngeri memandang kerangka di bawah kakinya. Ia memeriksa jaket dan pakaian yang dipakai, sorot matanya begitu putuas asa.

"Abang?" Fang mencoba memanggil meski ia tahu tidak akan sahutan dari kerangka yang ia ajak bicara.

Yaya melangkah mendekat, diikuti Gempa. Ia menyentuh sebelah bahu Fang dan mengulurkan jam tangan yang sempat dipungutnya tadi, yang diberikannya pada Taufan, tapi kini kembali ada di saku jaketnya sendiri.

"Ini punya Abang kamu?" Yaya bertanya hati-hati. "Taufan yang kasih tau aku kalau ini mungkin Bang Kaizo ..."

Fang menerima jam tangan yang diulurkan Yaya dengan tangan bergetar. Ia mengusap debu di lapisan kacanya yang pecah. Ini memang milik kakaknya.

"Fang..." Gempa dan Yaya ikut berlutut di sisi Fang. "Kami—kami ikut berduka ..."

Tubuh Fang melemas. Kedua tangannya terkulai di kanan kirinya, Fang terisak. Ia tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan kesedihannya.

"Fang..." Yaya mengusap punggung Fang prihatin.

Gempa hanya diam mengawasi sementara Yaya berusaha menghibur Fang. Ia lalu menoleh pada kerangka mayat di depan mereka, dan perasaan takut melanda benak Gempa. Bagaimana kalau Taufan juga ...?

Ia menggeleng untuk menepis pikiran buruk itu. Gempa kemudian membuka jaketnya dan dengan hati-hati menggunakannya untuk menutupi wajah kakak Fang yang sudah tak lagi berbentuk.

"Kita—kita harus menghubungi seseorang untuk memindahkan abangmu, Fang," kata Gempa pelan.

Fang tidak menyahut. Ia hanya duduk diam, sorot matanya kosong, dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya yang kotor.

"Fang, ayo kita cari bantuan," ucap Yaya lembut. Ia dan Gempa kemudian membantu Fang berdiri.

Fang sempat menoleh ke belakang sekali lagi, menatap jasad kakaknya, sebelum mereka menyeretnya keluar.

Gempa dan Yaya melepaskan Fang setelah mereka tiba di luar. Yaya mengerjap beberapa kali, membiasakan matanya dengan cahaya terang. Udara di luar begitu segar, dan ia berulang kali menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya sejak beberapa jam terakhir, Yaya benar-benar punya harapan. Mereka akan bisa pulang dengan selamat.

Namun, Taufan ...

Yaya menoleh pada Fang yang hanya berdiri diam menatap sepatunya. Ia mendesah, berusaha menguatkan diri.

"Fang, kita pergi, ya?" bujuk Yaya, mengusap bahu Fang lembut. "Kita bakal balik lagi ke sini buat mindahin abangmu, tapi kita harus cari bantuan dulu."

Pandangan Fang kosong, tanpa emosi. Yaya beradu pandang dengan Gempa, yang mengangguk kecil. Bersama-sama mereka merangkul Fang dan memapahnya berjalan.

Yaya melirik ke belakang, ke arah pondok reyot yang tadi mengurungnya entah berapa jam lamanya. Pintunya rusak setelah didobrak oleh Gempa dan Fang, dan kayunya berderit pelan ditiup angin. Sepasang mata biru mengintip di baliknya, tersenyum, dan Yaya menahan napas. Ia berkedip, dan sosok itu sudah tidak ada lagi di sana.

Tangan Yaya yang menggandeng Fang gemetar selagi ia memaksa kepalanya tertuju lurus ke depan. Taufan pasti baik-baik saja. Mereka akan segera berkumpul bersama-sama lagi. Pasti.

.

.

.

bersambung

Continue Reading

You'll Also Like

16.3K 1.5K 35
Diantara Pekerjaan dan Saudara, mana yang akan kau pilih? Pekerjaan dengan segala gengsi dan jabatannya. Menuntunmu menjadi setinggi bintang di angka...
4.2K 317 15
Ini adalah kisah sekelompok pemuda yang pertemukan oleh takdir untuk melewati suka dan duka bersama-sama. "Kuharap kita bisa bersama untuk selama-lam...
Wattpad App - Unlock exclusive features