Gemelli (END)

By Semangka_Mark

3K 377 141

⚠️ Cerita murni karangan author sendiri ⚠️ Plagiat pergi jauh-jauh!! ⚠️ Start 25 Agustus 2022 ⚠️ Revisi 25 Ju... More

Prolog
1. Kejutan
2. Teror
3. Mahasiswa Pindahan
4. Double Date
5. Keributan dan Luka
6. Dia yang Sebenarnya
Clarissa Elenora Allessandro
7. Soal Perasaan
8. Musuh
9. Marah
10. Kembalinya Masa Lalu
11. Si Pengendali
12. Pernyataan
13. Tempat Bersandar
15. Tempat Ternyaman
16. Kehilangan
Special Part Gemelli
17. Kemarahan
18. Pembuktian
19. Kenyataan Pahit
20. Rencana Jevian
21. Pembalasan Jevian
22. Sebuah Perjuangan
23. Pengakuan
24. Aksi
25. Bertemu Lagi
26. Tempat Pulang
27.Penyesalan Mendalam
28. Penolakan
29. Happy Family
30. Malaikat Kecil
31. Maaf dan Damai
Epilog

14. Sebuah Insiden

54 9 4
By Semangka_Mark

⚠️⚠️ Visualisasi hanya berlaku di cerita ini. Jangan pernah dibawa ke dunia nyata!!

Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar juga yaa🤗🤗🤗

Biar aku makin semangat ngetiknya 😅😅😅

Happy Reading 💚💚💚

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jevian mempertanyakan soal keberadaan Ale yang kini entah berada di mana. Karena sepulang dari sirkuit tadi, Jevian pamit untuk membeli makanan lebih dulu sebelum akhirnya akan kembali ke apartemen milik Ale. Tapi begitu dia sampai di sana, Jevian sama sekali tidak mendapati keberadaan Ale di sana. Hanya ada baby Kenzo dan babysitter yang menjaganya.

Dia kemudian menelepon nomor milik Ale, tapi ternyata nomornya berada di luar jangkauan. Jevian kemudian beralih menelepon ke nomor milik Renal berharap dirinya mendapatkan jawaban dari cowok itu. Tapi ternyata Jevian sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun dari Renal. Jevian terus berusaha mencari keberadaan istrinya yang tiba-tiba menghilang itu.

Di sisi lain, Ale melangkahkan kakinya di sebuah bandara untuk menuju ke tempat yang sudah sangat lama tidak dia kunjungi. Dia terakhir kali berkunjung ke sini sekitar satu tahun lalu setelah kematian sang kakak, rumah kakeknya.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 16 jam, Ale akhirnya sampai di sebuah rumah mewah milik sang kakek dengan jemputan yang memang sengaja disediakan oleh sang kakek. Ale melangkahkan kakinya dengan tegas dan langsung disambut oleh beberapa maid yang bekerja untuk kakeknya.

"Benvenuta nipotina preferita del nonno, come stai?? Non vai a trovare il nonno da un anno. (Selamat datang cucu kesayangan kakek, apa kabar?? Selama setahun kamu enggak pernah mengunjungi kakek.)" Ucap sang kakek sambil berjalan menghampiri Ale kemudian memeluk perempuan itu.

"Sto bene nonno, come sta nonno?? (Aku baik-baik saja kakek, bagaimana kabar kakek??)" Tanya Ale sambil membalas pelukan dari sang kakek.

"Anche le notizie del nonno sono buone (Kabar kakek juga baik.)" Balas sang kakek. Tak lama setelah itu, Ale melepaskan pelukan mereka karena berniat untuk mempertanyakan suatu hal pada kakeknya itu.

"Perché il nonno mi ha chiesto di venire qui?? (Kenapa kakek memintaku untuk datang ke sini??)" Tanya Ale to the point.

"Ada seseorang yang ingin kakek kenalkan padamu, nanti sekitar jam 8 malam orang itu akan berkunjung ke sini. Untuk sekarang, kamu bisa istirahat lebih dulu di kamar." Pinta sang kakek yang kini menggunakan bahasa Indonesia dan langsung diiyakan oleh Ale. Ale langsung beranjak menuju ke kamar yang biasa dia tempati ketika menginap di sini.

Begitu dia berada di dalam kamar, Ale langsung menghubungi Jevian karena dia sama sekali tidak memberitahu keberangkatannya ke Italia itu. Sudah bisa dipastikan jika suaminya itu sekarang sedang panik mencarinya.

"Halo Je??" Sapa Ale pada orang di seberang telepon.

.

.

.

"Halo Al!! Kamu di mana sayang?? Kok di apartemen enggak ada?? Kamu di mansion ? Tapi kok aku cari-cari, kamu enggak ada juga di sana??"

.

.

.

"Enggak Je, aku enggak di mansion. Aku di Italia, ke rumah kakek. Semalam aku dapat telepon dari kakek, kakek minta aku terbang saat itu juga ke Italia katanya ada urusan penting. Tapi sampai sekarang, kakek enggak ngasih tau aku urusan penting apa yang harus aku selesaiin. Jadi kemungkinan, aku enggak pulang Je. Maaf baru bisa ngabarin." Ucap Ale merasa sangat bersalah karena tidak berpamitan pada Jevian. Setelah mengucapkan hal itu, terdengar helaan nafas dari seberang sana.

.

.

.

"Iya, enggak apa-apa. Jaga diri kamu baik-baik ya di sana. Aku enggak bisa tiba-tiba nyusulin ke sana. Kamu tau sendiri kan kalau uangku cuma cukup buat biaya hidup kita bertiga."

.

.

.

"It's okay Je. Aku enggak minta kamu buat ke sini kok. Biar di sini aku yang selesaiin semua ya. Kamu di sana fokus kuliah aja dan jagain baby Kenzo ya. Titip mama ya Je. Kamu bawa baby Kenzo ke mansion aja sekalian jagain mama. Nanti kalau kamu tinggal ke kampus, baru kasih baby Kenzo ke babysitter nya." Pesan Ale yang dibalas dehaman oleh Jevian.

.

.

.

"Iya, kamu tenang aja. Baby Kenzo sama mama biar jadi urusanku. Kalau ada apa-apa kabarin aku ya, jangan ada yang dirahasiain lagi dari aku."

.

.

.

Setelah mengucapkan itu, sambungan mereka terputus. Menyisakan kesunyian yang memenuhi kamar tersebut. Ale menghela napasnya berat, dia merasa ada yang tidak beres kali ini. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi sayangnya Ale tidak tau apa yang akan terjadi padanya nanti. Bahkan dirinya tidak mengabari keberangkatannya ke sini pada sang papa.














🍁🍁🍁















Ale turun dari lantai dua menuju ke ruang tamu, tempat sang kakek yang kini tengah berbincang dengan seorang pria. Ale berjalan mendekat kemudian tangannya seketika mengepal ketika tau siapa orang yang kini sedang berbincang dengan kakeknya itu.

"Hendra perkenalkan, ini Caca, cucu kesayangan saya. Caca kenalkan, dia Hendra. Kakek bertemu dengan dia waktu di rumah sakit. Kakek benar-benar berhutang budi dengannya." Jelas sang kakek memperkenalkan Hendra pada Ale yang sebenarnya sudah mengenal orang yang di hadapannya saat ini. Memang dulu Ale dan Hendra adalah teman kecil, tapi kakeknya itu belum mengetahui soal hubungan tersebut.

"Tujuan kakek nyuruh kamu terbang ke Italia kemarin adalah ingin memperkenalkan kamu dengan dia. Hendra ini anak yang baik dan kakek mau Hendra menjadi menantu keluarga Allessandro." Ucapan kakeknya itu sukses membuat napas Ale tercekat. Dia lupa jika pernikahannya hanya diketahui oleh sang papa, bahkan kakeknya tidak tau soal itu.

"Maaf kek, tapi Caca enggak bisa. Kakek bahkan baru kenal sama Hendra, bagaimana bisa kakek menyimpulkan kalau Hendra itu anak yang baik??" Tanya Ale mencoba menolak permintaan sang kakek secara halus.

"Kamu menolak permintaan kakek?? Ca, kakek mohon sama kamu. Kali ini saja kamu harus turuti kemauan kakek!!" Tegas sang kakek. Ale reflek mengepalkan tangannya mendengar ucapan sang kakek terdengar tidak terbantahkan sama sekali.

"Malam ini kamu dinner bersama dengan Hendra di hotel bintang lima. Kakek sudah urus semuanya dan kalian hanya tinggal menikmati dinnernya saja." Pinta sang kakek.

"Sekali lagi, Caca bilang enggak bisa kek!! Caca sudah punya laki-laki yang Caca sayangi!!" Tegas Ale mencoba membujuk kakeknya itu agar berubah pikiran.

"Pilihan kamu?? Kakek bahkan ragu dengan laki-laki pilihan kamu, apa sudah sesuai dengan standar keluarga kita??" Tanya kakeknya dengan nada sinis.

"Bahkan dia mempunyai standar lebih baik dari orang yang kakek banggakan ini." Balas Ale tidak kalah sinis. Jujur saja, Ale sebenarnya sangat muak dengan segala standar keluarga itu.

"Sudah!! Kakek tidak mau tau, pokoknya kamu malam ini harus mau dinner bersama dengan Hendra!!" Tegas sang kakek lagi-lagi tidak terbantahkan kemudian pergi dari sana. Menyisakan Hendra dan Ale yang masih saling diam. Sampai akhirnya Hendra berjalan mendekati Ale kemudian menepuk kedua bahunya pelan.

"Jadi ini kelemahan lo?? Kakek Andro, right?? Gue akan gunain itu, kita lihat saja."

Bukan, kakeknya itu bukan kelemahannya. Hanya saja dirinya tidak bisa membantah untuk kali ini karena nanti akan membahayakan nyawa Jevian jika Hendra tau mengenai hubungannya dengan Jevian. Karena kelemahan Ale saat ini sebenarnya ada pada sang mama, Kenzo dan Jevian. Bukan kakek Andro yang bahkan bisa saja dia lawan jika dia mau. Ale sama sekali tidak takut dengan kakeknya.


















🍁🍁🍁


















Saat ini Ale dan Hendra berada di sebuah restoran yang ada di hotel bintang lima seperti yang sudah kakeknya persiapkan. Ale duduk di salah satu meja yang di sana sudah tersedia satu botol wine, dua buah makanan pembuka dan dua buku menu yang memang sengaja disediakan. Ale mengambil buku menu tersebut kemudian menyebutkan pesanannya, begitupun dengan Hendra yang melakukan hal yang sama sepertinya.

"Jadi, lo mau enggak mau harus terima permintaan kakek lo buat nikah sama gue. Karena lo enggak ada alasan sama sekali buat nolak gue." Ucap Hendra dengan bangga. Ale yang mendengar itu terkekeh kemudian tersenyum miring ke arah Hendra.

"Bagaimanapun cara yang lo lakuin, gue enggak akan mau nerima lo jadi suami gue. Bahkan jika di dunia ini hanya tersisa satu laki-laki yang harus gue nikahin dan laki-laki itu adalah lo, gue lebih memilih hidup sendirian selama sisa hidup gue." Ucap Ale penuh dengan penekanan.

Karena ucapannya itu, Ale bisa melihat kilatan amarah pada mata Hendra. Cowok itu saat ini pasti merasa begitu terhina dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ale barusan. Tak lama, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Membuat Ale jadi lebih fokus dengan makanannya daripada dengan obrolan mereka berdua.

"Oke. Kita lihat nanti, siapa yang akan menang. Lo atau gue, yang lo anggap sebagai manusia rendahan ini." Setelah mengucapkan itu, Hendra menyusul Ale untuk menikmati hidangan yang dia pesan.

Mereka menikmati dengan begitu sunyi tanpa adanya pembicaraan yang berlangsung di antara mereka. Setelah menyelesaikan makanannya, Ale memainkan ponselnya, berusaha untuk tidak peduli dengan keberadaan Hendra di sana. Hendra tersenyum miring dengan apa yang dilakukan oleh Ale padanya. Setelah beberapa menit, Ale merasa jika kepalanya itu terasa sangat sakit. Bahkan matanya kali ini begitu berat. Ale yang langsung menyadari jika terdapat sesuatu yang dimasukkan ke dalam makanannya langsung menoleh ke arah Hendra berada.

"Jadi, apakah sebentar lagi aku yang menjadi pemenang??" Tanya Hendra dengan senyuman licik yang terpatri di bibirnya.

"Subdolo umano!! (Dasar manusia licik!!)"



















🍁🍁🍁




















Hendra membawa tubuh Ale yang saat ini sudah tidak sadarkan diri karena obat tidur yang dicampurkan pada makanan milik Ale ke sebuah kamar hotel yang begitu mewah. Hendra membaringkan Ale di sebuah ranjang yang ada di kamar tersebut. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, mengusap pelan pipi Ale dan tersenyum.

"Sebentar lagi, lo akan jadi milik gue seutuhnya Ca." Gumam Hendra sambil mengapit dagu milik Ale. Hendra menarik dagu tersebut agar kepala Ale mendongak, dia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Ale dengan tangan yang meraih tali gaun yang dipakai oleh Ale. Ketika sebentar lagi bibir keduanya bertemu, Hendra mendengar dobrakan dari pintu kamar hotel tersebut. Hendra menoleh dan mendapati keberadaan Renal di sana dengan wajah memerah.

"Brengsek!!"

Bugh...

"Kenapa lo jadi kayak gini sih Hen??!! Itu sahabat lo sendiri!! Kenapa mau lo rusak??!!"

Bugh...

"Dia bukan sahabat gue lagi semenjak dia nolak gue mentah-mentah!!"

Bugh...

Hendra bangkit dari posisinya kemudian membalas tonjokan Renal tersebut. Renal yang masih naik pitam kembali melayangkan tonjokannya pada Hendra. Mereka saling adu pukul sampai akhirnya Hendra terkapar di lantai tanpa bisa bangun lagi. Hendra memang sadar jika skill bertarungnya sama sekali tidak bisa mengalahkan Renal, apalagi ketika Renal sedang marah seperti ini. Tapi tetap saja dia nekat untuk membalas pukulan Renal tadi. Renal mendekat ke arah Hendra, menarik kerah kemeja Hendra sampai tubuhnya sedikit terangkat.

"Lo, enggak akan pernah bisa nyentuh atau milikin Caca selama gue masih hidup dan jagain dia!!" Peringat Renal kemudian melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Hendra.

Dia kemudian bangkit dan beralih pada Caca yang masih tidak sadarkan diri. Renal bersyukur dirinya datang tepat waktu dan melihat Caca masih mengenakan pakaian lengkapnya. Renal kemudian menggendong Caca dan membawanya pergi dari sana.

"Lo cuma berhak dimilikin sama Jevian Ca. Sampai kapanpun itu, harga diri lo harus tetap bersih."

Sebelum Caca ke Italia...

"Halo?? Ren, bisa terbang ke Italia sekarang juga??" Tanya Caca begitu sambungan teleponnya dengan Renal terhubung.

.

.

.

"Ada apa?? Ada masalah di sana??"

.

.

.

"Ke rumah kakek gue. Entah kenapa gue merasa ada yang enggak beres dan akan ada yang terjadi sama gue. Gue cuma bisa minta bantuan lo kali ini. Oh iya, jangan kasih tau Jevian soal ini. Gue takut kalau nyawa Jevian dalam bahaya kalau dia sampai tau dan nekat buat nyusulin ke sini." Pesan Ale yang langsung diiyakan oleh Renal. Renal langsung memesan tiket pesawat untuk menuju ke sana dengan jadwal penerbangan terdekat. Setelah sambungan telepon mereka terputus, Ale masuk ke dalam pesawat dan duduk tenang di sana.

Ketika kakeknya itu mempertemukan dirinya dengan Hendra, Ale diam-diam merasa sedikit bersyukur karena sempat menghubungi Renal sebelum dia terbang ke Italia. Ale yang mau tidak mau menuruti perintah kakeknya itu tidak lupa membawa ponselnya. Dia tidak berhenti menunggu kabar tentang keberadaan Renal saat ini. Begitu dirinya tau kalau Renal sudah berada di Italia, Ale langsung mengirimkan lokasi dirinya. Dan benar saja dugaannya, Hendra merencanakan hal bejat dengan mencampurkan obat tidur ke dalam makanannya lewat bantuan pegawai restorannya.

























🍁🍁🍁







Ale membuka matanya dan melihat ke penjuru ruangan. Dia bangkit dari posisinya kemudian mengedarkan pandangannya. Dia bernapas lega ketika mendapati Renal yang kini sedang tertidur di sofa yang berada di ujung kamarnya. Dia melihat ke arah bajunya, bajunya masih sama dengan yang dia kenakan kemarin ketika di restoran. Ale terdiam sebentar berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi ingatannya hanya sebatas dirinya yang mengumpati Hendra sebagai manusia licik.

"Udah bangun??" Suara serak Renal menginterupsi lamunan Ale. Bisa dia lihat kalau Renal kali ini sedang mengucek matanya karena baru saja bangun tidur.

"Jangan mikirin apa-apa. Lo semalem enggak diapa-apain kok sama Hendra. Gue dateng tepat waktu." Jelas Renal yang membuat Ale bernapas lega.

"Makasih." Setelah mengucapkan hal itu, terdengar suara helaan napas dari Renal.

"Sekarang jelasin apa yang sebenernya terjadi." Pinta Renal. Ale kemudian menjelaskan semuanya dari awal alasan kakeknya yang meminta dirinya untuk terbang ke Italia saat itu juga sampai dirinya berakhir bersama dengan Hendra.

"Hendra bener-bener cowok brengsek!!" Umpat Renal.

Setelah mereka benar-benar sadar, mereka berdua mandi secara bergantian kemudian turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama dengan kakek dari Ale tersebut. Ale sudah menebak, jika kakeknya nanti pasti akan mengungkit persoalan Hendra kemarin. Untung saja Ale sudah mendengar cerita dari Renal soal apa yang akan Hendra lakukan berikutnya. Jadi dia tidak kesulitan mencari alasan untuk menolak perjodohan itu.

"Kenapa kamu kemarin melakukan hal kejam itu ke Hendra?? Kamu mau bikin Kakek malu??" Tanya kakeknya dingin. Bahkan mereka sama sekali belum memulai sarapan.

"Dia mau lecehin aku Kek, dia mau ambil kehormatanku sebagai seorang perempuan." Jelas Ale membela dirinya sendiri.

"Masih mau kan?? Berarti belum. Tapi kenapa kamu sampai membuat Hendra masuk rumah sakit cuma gara-gara itu??" Ucapan kakeknya itu sungguh menusuk bagi Ale.

"Kakek bilang cuma?? Harga diriku bukan sekedar cuma Kek!! Aku seorang perempuan yang pantas untuk dihargai, tidak direndahkan seperti itu. Tapi Kakek dengan mudahnya malah membela Hendra yang akan mencoreng nama baik keluarga Allessandro?? Kek sebenarnya aku itu apa di mata Kakek, cuma alat untuk balas budi??" Tanya Ale begitu tegas. Dia kali ini sama sekali tidak bisa mentoleransi ucapan kakeknya karena itu begitu melukai harga dirinya.


Plak...



"Jaga sopan santunmu!! Hormati Kakek yang merupakan orang lebih tua dari kamu!! Bagaimana didikan papamu sampai membuat dirimu jadi seperti ini??" Tanya sang kakek sarkas. Ale merasakan pipinya memanas, bekas tamparan kakeknya itu.

"Papa enggak pernah salah dalam mendidik aku. Kekurangan dari cara didik papa itu, papa enggak mengajarkan aku untuk mempunyai rasa sayang dan memaksa aku menjadi monster yang kejam." Desis Ale sambil masih memegangi bekas tamparan sang kakek.

"Asal Kakek tau, orang yang bikin kak Arin sampai meninggal itu Hendra!! Hendra yang melecehkan kakak dan mempermalukan kakak!! Hendra juga yang terus menekan kakak sampai kakak depresi!! Dan kemarin, Hendra akan berbuat hal yang sama padaku Kek!! Kenapa Kakek begitu dibutakan dengan balas budi bahkan pada orang yang Kakek baru saja kenal??!!" Tanya Ale dengan suara yang semakin meninggi. Renal yang duduk di sebelah Ale hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran antara cucu dan kakek tersebut. Dia tidak mau mengambil resiko dengan ikut ke dalam perdebatan panas itu.

"Jangan sembarangan kamu!! Pokoknya Kakek mau kamu menikah dengan Hendra!!" Tegas sang kakek yang masih teguh dengan pendiriannya.

"Caca enggak bisa kek!! Caca sudah punya orang yang Caca sayang!! Caca sudah menikah!!"

Deg...

Keadaan seketika hening mendengar penjelasan dari Ale. Bahkan Renal yang sebenarnya sudah tau merasa sangat terkejut karena Ale dengan mudahnya membeberkan rahasia yang dia simpan rapat-rapat itu. Sang kakek bahkan sampai terdiam dan tidak memberikan komentar apapun untuk Ale. Sampai akhirnya hembusan napas terdengar yang tidak lain berasal dari sang kakek.

"Kalau kamu sudah menikah, ceraikan dia!! Menikah dengan Hendra dan mempunyai anak!! Kakek cuma mau mempunyai menantu yang berkedudukan sama dengan kita. Ceraikan dia!! Lagipula kalian juga masih belum mempunyai anak kan??" Ale menggeleng tidak percaya. Dia kemudian bangkit dari posisinya dan menatap tajam ke arah pria tua yang masih teguh dengan keinginannya itu.

"Kalau aku sudah mempunyai calon anak dengan suamiku, apa yang akan Kakek lakukan?? Membunuh janinku??" Tanya Ale datar.

"Kakek akan biarkan kalian bahagia."

"Bener-bener gila keluarga ini. Bahkan aku enggak bisa menganggap ini sebagai keluarga. Kek, kalau dulu aku bisa memilih, aku akan lebih memilih untuk dirawat sama mama. Sekarang aku tau kenapa alasan papa sama mama enggak tinggal bersama meskipun mereka belum bercerai, ternyata karena Kakek!!" Sarkas Ale.

"Aku enggak akan bercerai dengan suamiku yang bahkan mempunyai kedudukan di atas Hendra!! Kalaupun aku harus mempunyai anak, aku hanya akan mempunyai anak dari suamiku bukan dari Hendra atau yang lain!! Dan aku akan buktikan sama Kakek, kalau aku sudah mempunyai calon anak dengan suamiku!!" Tegas Ale kemudian pergi dari sana begitu saja tanpa mendengarkan panggilan dari kakeknya. Renal yang mengetahui jika Ale benar-benar akan pergi langsung menyusul sahabatnya itu tanpa berpamitan dengan si pemilik rumah, sama seperti yang dilakukan oleh Ale.






















🍁🍁🍁🍁🍁






























Halooo!!!

Selamat malam minggu!! Aku balik lagi nih hehe 😊😊

Jadi gimana, semakin ke sini sudah mulai makin tau kan siapa aja yang nekan Ale sampai dia nangis kayak di part sebelumnya

Ale memang kayak perempuan kebanyakan, dia bisa nangis dan dia juga bisa capek, dia bisa ngeluh juga. Tapi enggak ada yang mau dengerin setiap keluh kesah dan semua kesakitannya dia, bahkan Renal sekalipun. Dia ke Renal cuma sekedar cerita biasa dan enggak pernah nangis di depan Renal.

Jadi cuma Jevian, orang pertama yang sukses bikin Ale numpahin semua perasaannya entah itu sedih atau senang.

Gimana nih pendapat kalian di part ini?? Aku tungguin komentarnya. Kasih komentar yang banyak biar aku makin semangat buat update hehe 😊😊

Udah sih segitu aja buat hari ini. Oh iya, aku minta maaf kalau semisal bahasa-bahasa yang di atas itu ada kesalahan. Karena aku enggak terlalu tau sama bahasa Italia 😭🙏

Selalu jaga kesehatan ya, aku sayang kalian 💚💚💚































Salam hangat dari
Naurelle 🍉

Continue Reading

You'll Also Like

103K 3.3K 6
⚠️ GS story! Perjodohan mungkin hal yang terdengar biasa di telinga masing-masing orang yang hobi membaca sebuah cerita romansa benci menjadi rindu...
62.4K 7K 47
Menceritakan tentang 7 saudara dengan kehidupan mereka sehari-hari yang di mana menguras, emosi, mental, dan kesabaran. Mark sebagai kakak tertua ha...
252K 21.1K 11
"siapa bajingan yang telah membuatku buncit seperti ini!?" "Lee Jeno." Ketika Na Jaemin yang tampan, keren, kuat, dan berwibawa berubah secara perla...
Wattpad App - Unlock exclusive features