Batavia, 22 September 2022.
Mendung yang pekat dan angin yang berhembus kencang melingkupi suasana di sore hari itu. Awan tebal menutupi langit disambut dengan dinyalakannya lampu jalan seolah sebagai bantuan bagi musafir yang tengah berjalan tanpa henti walau langit tak merestui. Kerumunan orang yang bergegas pulang dengan beribu alasan dan ketakutan. Poin utamanya tentu adalah "takut kehujanan." Suasana dingin nan mendung menciptakan hawa yang menusuk dan mencekam, seolah akan ada seseorang menerkam dalam kegelapan yang menutupinya. Bersembunyi.
Kepadatan dan kerumunan orang yang berlalu lalang. Sekian diantaranya adalah sosok gadis berambut hitam pekat. Disini tak pernah dingin, karena itu ia begitu mencolok dengan duffle coat biru tuanya. Dedaunan beterbangan terkena angin. Begitu pula kertas dan selebaran. Gadis itu memiliki wajah yang tak ramah dan terkesan dingin, namun ia adalah orang yang penuh rasa "ingin tahu." Dilihatnya sebuah lembaran koran yang terbang dan mendarat di kakinya. Matanya sedikit melebar, rasa merinding dan ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya.
"Batavia dalam krisis, penemuan mayat seorang Nederian yang dibakar hingga tak dapat dikenali di area distrik merah, Dambrinkweg".
- Diterbitkan oleh Bataviasche Nouvelles
Ia memegangi kertas lusuh itu dengan gemetar. Sekujur tubuhnya seolah berdegup kencang tak bisa bergerak karena kerasnya dentuman tersebut. Tangan kirinya secara refleks menutup mulut akan kesadisan berita yang baru saja ia baca. Dia... takut, begitu ketakutan.
Nederlands-Indië dulunya, kini seutuhnya menjadi "Netherlands" "The Kingdom of the Netherlands".
Sepenuhnya telah jatuh dalam kekuasaan Belanda. Beberapa tahun telah berlalu dan keturunan telah bercampur di antara orang Belanda dengan orang Nederlands-Indië. Kerajaan mengumumkan bahwa tak akan ada diskriminasi, namun faktanya tak ada keindahan bagi keturunan pribumi.
Nederian, diberikan sebagai julukan bagi mereka para keturunan dari bangsa Nederlands-Indië yang jatuh.
Nederlanders dan Dutch, bagi keturunan murni yang terlahir dari kedua orang tua Belanda.
Walau dijanjikan "kebahagiaan", Nederian tetap menerima diskriminasi secara tidak langsung, tidak terangan terangan dan halus. Hal ini kian ditambah dengan kasus yang menggemparkan. Pembunuhan orang orang "Nederian" secara khusus tanpa alasan yang jelas.
Minoritas merasakan ketakutan, mayoritas merasa kasihan, mencaci maki pemerintah. Sisanya adalah mereka yang merasa senang akan kejadian ini.
"Inlander, hal yang menjijikkan hidup berdampingan dengan kita. Baguslah ada seseorang yang memusnahkan mereka." ujaran mereka yang merasa sebagai ras arya. Kesempurnaan dalam catatan sejarah umat manusia.
.
.
Gadis bersurai hitam tersebut telah sampai dalam apartemennya, setelah begitu berusaha sekuat diri untuk menggerakkan kakinya. Atas kasus ini, selalu ada himbauan dari pemerintah daerah Batavia agar tidak keluar tanpa kepentingan dan pulang sebelum jam 9 malam.
Terduduk lesu, kini ia benar benar membutuhkan seseorang yang selalu bisa menghiburnya. Baru saja ia memikirkan hal tersebut, teleponnya berdering. Tepat setelah diangkat terdengar suara riang milik temannya yang menjadi penyejuk rasa gundah.
"Batari, aku tau kau sudah pulang ke rumah. Sekarang diam di tempat dan jangan pergi kemana mana karena aku akan segera kesana. Oh, dan aku sedikit membawa sebuah kejutan. Tepat jam 6 aku akan sampai. Terimakasih dan tunggu aku sayang! Muah!".
Menghela napas, senyumnya mengembang. Temannya ini selalu berhasil membuatnya bahagia dengan tingkah energiknya. Yah, si bodoh itu tidak mungkin memanggil namanya di depan publik. Dia pasti sedang di rumah. Selagi menunggu, ia merapikan seisi apartemen dan menyiapkan cemilan untuk temannya.
Tak begitu lama, ia pun datang. Gadis berambut cokelat dengan senyum yang indah itu berdiri di depan pintu. Ia bersiap untuk memeluk teman bodohnya itu sebelum ia melihat seseorang di sampingnya. Lelaki berambut pirang, bermata biru, sangat tampan dan berkilau. Netranya sedalam lautan, senyumnya sangat indah nan melengkapi parasnya.
Lelaki itu juga tersenyum lebar saat melihatnya.
Hentikan. Otaknya mulai memikirkan hal hal paranoid. Itu hanya sebuah "senyum biasa." Jangan berlebihan, itu tidak terlihat mengerikan. Itu hanya sugestimu.
Ia mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Suasana yang terasa canggung berusaha dipecah olehnya.
"Ah, Judith, kau membawa pacarmu ya? Perkenalkan, nama saya Beatrice." Ia berbasa-basi, walau di hati ingin memarahi si bodoh Judith yang membawa pacar tanpa pemberitahuan.
"Tidak! dia bukan pacarku, bodoh!!" Judith mencubit pipinya, gemas akan proses pengolahan pemikirannya yang begitu rasional. Menghela napas, tangannya terangkat serta menengadah untuk memperkenalkan seorang lelaki yang duduk di sampingnya.
"Perkenalkan, ia adalah Benjamin. 'Dia', adalah adikmu." Beberapa potong kata yang seketika membuatnya tersedak, ia tengah menikmati teh buatannya sendiri dan nyaris jantungan akan berita tak masuk akal ini.
Netranya melotot, alisnya mengkerut, ekspresinya sangat jelas akan kebingungan dan butuh sebuah penjelasan. Judith yang sudah mengantisipasi hal ini dengan beribu alasannya berlari menghindari keharusan menjelaskan runtutan peristiwa, berteriak bahwa ia akan membeli makan malam. Secara sengaja menyisakan dua orang 'bersaudara' yang saling menatap dan menganalisa.
"Goedenavond, Batari."
Hanya Judith yang memanggilku seperti itu, itupun hanya saat tak ada siapapun di sekitar. Di sebuah ruangan tertutup. Karena 'Nederian' harus bersembunyi.
Siapa kau?
Inlander : sebuah ejekan yang ditujukan bagi pribumi Hindia-Belanda dari orang Belanda. Sebutan ini sangat kasar karena orang Belanda menganggap pribumi adalah orang rendahan yang menjijikkan.
Hi, this is author's speaking! Halo, saya Holande selaku author dari "Benjamin." Menyambut kalian dalam sebuah perjalanan yang menegangkan, mendebarkan, dan penuh misteri. Saya sangat menghargai apresiasi sebuah karya, oleh karena itu mohon beritahukan kepada saya apabila karya ini dipublikasi di platform selain wattpad dan webnovel. Terimakasih dan sekian!