peran pengganti (End)

By amaira26

637K 42.6K 2.7K

transmigrasi karna sebuah kecelakaan seorang gadis harus ber transmigrasi ke dalam tubuh seorang gadis antago... More

Alezira Erfiza Richard
Nafiya Almahyra Kareem
Salah Raga
Berakhir
jujur
berjuang bersama
kabur dan perjanjian
hukuman
Cast1
Hindari Gus Arshya!!!
bismillah calon imam
keganjalan dan pamitan
cast2
ada yang kurang
bertemu
permainan dimulai
kisah dalam cerita
misi pertama
kenyataan aneh
bukti-bukti
mencari dukungan
kembali
mimpi buruk
belajar bersama
aisyah or salsa?
kisah dan batal Q&A
topeng yang pecah
Charlie's Angels
bertukar peran
beristirahatlah
pemberontakan
memory
tertangkap
berita terkini
kisah maryam
pengumuman!
bingung
saudara?
cinta dalam diam ali dan Fatimah
pekan ujian
aneh
nguping
nikahan?
kelakuan!
hari kelulusan
pamitan
di luar dugaan
kebenarannya
moodswing
jalan-jalan
keluarga kecil
Alaska!
gak peka!
little queen Alaska
tanda-tanda
omega??
bujang tua
kepergok
ngidam?
wanita pertama?
hilangnya kepercayaan
kesalah pahaman
wanita licik
Nafiya
selamat tinggal
Meera!
untuk kesekian kalinya
kenyataan
maaf buat semua nya
keromantisan Aisyah dan Nabi
welcome trio El Fahreza
Epilog
bonus part
kisah baru
i'm back
serius
yuk pindah
kangen ga?
pengumuman penting!!

figuran tampan

10.4K 799 20
By amaira26

Esok paginya, Nafiya tengah bermalas-malasan di ruang keluarga. Cemilan sudah tersusun di atas meja dengan rapih. Hanya satu yang kurang TV, di rumah ini tak ada TV sama sekali itu yang membuat Nafiya bosan. Terlebih ponselnya sedang di sita oleh pihak keamanan kemarin.

Nafiya menghela napas, sembari membuka snack yang baru. "Bang nanti beli TV yah... Soalnya kayak aneh kalo rumah tanpa TV tuh. " ucap Nafiya

"Abang gak bisa janji, lagian gak ada gunanya TV di sini. "

Nafiya menegakkan tubuhnya. "Ada loh abang. "

"Apa? "

"Biar Nafiya gak bosen kalo kesini, soalnya abang juga suka sibuk sama laptopnya. " jelas Nafiya

Nafiya menyamankan duduknya dan setelah itu menyandarkan kepalanya di bahu Hafiz. Hafiz hanya pasrah saja.

Bau vanila, strawberry menyapa di indra penciuman Hafiz. "Lain kali kalo keluar kamar biasain pake hijab dek. "

Nafiya mengangkat bahunya acuh tanpa menjawab. Ia lebih memilih sibuk dengan makanannya.

Hafiz menutup laptopnya, mengelus lembut kepala adiknya. "Nanti kalo kamu punya suami dia bakal cemburu loh liat istrinya memperlihatkan haknya pada orang lain. "

"Tinggal ceraikan, gampang. "

"Hutss..... Jangan ngomong ke gitu Allah saja sangat membenci perceraian, terus nanti pas kamu ajukan perceraian di pengadilan agama dengan bilang dia cemburu kan yang ada hakim nya ketawa. " jelas Hafiz sembari terkekeh pelan.

"Gini deh, abang bilang ke gitu pasti mau ngusir Nafiya yah? " tuduh Nafiya sembari Memincingkan matanya.

"Bukan begitu dek, abang cuman ngasih tau kan takdir gak ada yang tau. siapa tau kamu nikah dengan orang yang sedikit pencemburu. Terlebih lagi rumah abang bukan rumah papah yang gak ada tamu laki-laki yang datang kerumah selain teman-teman kamu dek. Terkadang abang suka menerima tamu laki-laki kalo tiba-tiba mereka datang disaat adek abang tidak mengenakan hijab. Dan mereka melihat aurat kamu. demi Allah abang gak akan ridho aurat adek abang di lihat orang lain selain keluarga, suami dan anaknya. "

"Tapi kan bang, adek juga masih belajar jadi wajar dong. "

"Maka dari itu harus di biasakan. "

"Tapi-"

"Gak ada kata tapi dek. " potong Hafiz saat Nafiya akan berargumen lagi "udah yah abang mau siap-siap dulu. "

Nafiya mengerucut sebal. "Adeknya disini juga tetep gak di perhatikan. "

Hafiz terkekeh pelan sembari menepuk bibir Nafiya pelan. "Abang ada urusan dek di pondok, kamu masih mau ada disini atau mau ke pondok juga?" tanya Hafiz pada Nafiya

"Mau ke asrama juga deh udah janji mau ngasih cemilan juga, "

Hafiz mengangguk paham. "Kalo gitu abang mau kekamar dulu, " ucap Hafiz sembari merapihkan laptopnya.

Nafiya mengangguk dan kembali merebahkan dirinya di sofa, Hafiz yang melihat itu hanya menggeleng sembari tersenyum tipis ada-ada saja katanya ada janji tapi ia malah rebahan lagi.

Baru saja Hafiz ingin melangkahkan kakinya ke dalam kamar namun urun saat mendengar suara ketukan pintu.

Tok..... Tok......

Hafiz melihat Nafiya yang masih asik makan sembari rebahan tanpa memperdulikan suara ketukan pintu di luar. "Dek! " panggil Hafiz

Nafiya mendongakkan kepalanya melihat ke arah Hafiz. Menatap seperti bertanya kenapa?.

"Masuk kamar dulu sana, kayaknya ada tamu. "

Nafiya mengangguk lalu bangun dari rebahan nya. Dan pergi ke arah kamarnya.

Hafiz menghela napas dalam berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya.

"Assalamu'alaikum ustadz. " ucap seseorang dari luar

"Wa'laikumsalam, gus bara. Ada apa? ." jawab Hafiz sembari membuka pintunya sedikit lebar

"Ustadz afwan sebelumnya, ana disini di suruh gus Arshya buat minta data pondok. " jelas gus bara

"Kalo begitu masuk dulu gus, saya mau salin dulu ke flashdisk. " ucap Hafiz sembari mempersilahkan gus Bara masuk.

Gus Bara mengangguk berjalan masuk dan duduk di tempat keluarga, keningnya mengerut saat tempat ini penuh dengan cemilan.

"Kayaknya ustadz harus cepet-cepet cari istri biar di perhatikan. " canda gus Bara sembari memungut bekas snack di lantai

Hafiz yang melihat itu hanya meringis pelan. "Hahaha sepertinya begitu, tapi tidak ada yang mau sama saya gus. " Hafiz tertawa hambar sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

"Gak ada atau emang sudah ada orang yang mengambil hati ustadz. "

Hafiz hanya tersenyum kecil saja tanpa merespon perkataan gus Bara, ia memilih pokus pada laptopnya.

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya semua data yang di butuhkan gus Arshya sudah ada di flashdisk. Hafiz menyerahkan flashdisk pada gus Bara. "Ini gus sudah semuanya, tinggal di cek ulang kalo perlu ada perubahan atau kekurangan tinggal bilang lagi gus. "

Gus Bara mengangguk pelan, bangun dari duduknya. "Kalo begitu saya permisi dulu ustadz, assalamu'alaikum. "

"Wa'laikumsalam."

Setelah gus Bara pergi Nafiya keluar dari kamar dengan rapih. "Abang Nafiya mau ke asrama takutnya ada yang curiga kalo Nafiya gak ada disana. "

Hafiz mengangguk. "Kalo begitu hati-hati dek. "

Nafiya mengadahkan tangannya pada Hafiz. Hafiz yang belum paham niat Nafiya dan berpikir adiknya hanya ingin salim. Nafiya bingung tapi ia tetap salim setelah salim Nafiya terus mengadahkan tangannya.

Hafiz yang bingung membuat Nafiya berdecak kesal. "Minta uang bang. "

"Buat apa? " tanya Hafiz

"Buat jajan lah. "

"Itu cemilan di keresek emang gak cukup?? "

"Ini beda lagi. "

Terdengar helaan napas setelah itu Hafiz mengeluarkan uang berwarna merah sepuluh lembar. "Cukup? "

Nafiya menyengir "cukup bang, wahh kayaknya abang lebih cocok jadi sugar daddy deh. Aww thanks daddy. " ucap Nafiya cengengesan

Hafiz melotot saat mendengar penuturan adiknya, menoyor kepala Nafiya pelan. "Sugar daddy mata mu. "

Nafiya mengelus keningnya sekilas. "Ya udah Nafiya berangkat, Bye abang. " ucap Nafiya sembari mengecup pipi Hafiz dan setelah itu berlari ke arah pintu sembari menteng-teng keresek yang cukup besar.

Hafiz memijit pangkal hidungnya. "Wa'alaikumsalam."

*********

Sesuai dengan perkataannya tadi sekarang Nafiya, kia, Ella, dan Rara tengah duduk di kantin sembari bercanda gurau.

"Eh Fi kemarin Ella dideketin sama ustadz muda disini. " ucap Rara

"Hah? Ustadz muda? Perasaan disini semuanya muda deh. " jawab Nafiya sembari membuka tutup botol

"Dia di minta tolong sama ustadz Awan buat bikin laporan santri pondok. " jelas Kia

Ella sudah merona malu, "tau tuh si Rara biang gibah belum tentu bener udah di sebarin. "

Rara cengengesan. "Kan yang penting bener kalo Ella sama ustadz Awan di leb berdua. "

"Husstt... Sembarangan kalo ngomong kita gak berdua. Di leb ada Aisyah cs juga. "

"Aisyah? "

Ella mengangguk mantap "dia udah punya antek-antek sekarang mana mulutnya pada lemes semua. Gua gak ngapa-ngapain aja masih di sindir-sindir segala. "

"Dia disini makin berani, terus dia juga ngaku kalo dia adik sepupu dari ustadz Hafiz mangkanya banyak yang deketin. " ucap Rara

"Lo tau darimana dia ngaku sebagai adik sepupu ustadz Hafiz? " tanya Nafiya penasaran

"Kemarin gue gak sengaja lewat kelas ips2, terus gak sengaja denger Aisyah bilang kalo dia sama ustadz Hafiz itu sodara jauh. Dia juga pernah ngobrol sama ustadz Hafiz di koridor kelas mereka, disaat itu dia punya banyak temen mungkin pengen deket sama abang sepupu Aisyah. " jelas Rara

Kia, Ella, dan Nafiya kagum dengan penjelasan Rara yang biasanya akan lola seperti biasanya tapi hari ini Rara menjelaskan semuanya dengan detail. Benar-benar kagum dengan Rara.

Nafiya mengangguk pelan lalu meminum minumannya setelahnya dia menatap ketiganya dengan serius. "Gue gak bisa biarin dia ngerebut abang gue lagi, cukup Adzriel yang dia ambil jangan sampe bang Hafiz ikutan dia ambil. "

Kia mengangguk setuju "bener sekarang lo ga boleh ngalah ataupun lemah. Lo harus ngelawan dan rebut kembali kasih sayang yang seharusnya buat lo Fi. " ucap kia "tapi lo harus tetep anggun jangan bar-bar nanti yang ada lo yang di benci. " lanjut kia

"Tenang aja gue yang sekarang bukan gue yang dulu, kalo dulu gue langsung kepancing emosi. Langsung bertindak tanpa berpikir sekarang gue lebih pake logika sih, cape juga kalo pake cara gak guna. "

"Pokoknya kita selalu dukung lo Fi tenang aja. " ucap Ella sembari merangkul Nafiya

Tengah asik dengan pembicaraan, gus Arshya berjalan ke arah bangku Nafiya, dengan dua orang lainnya di belakang gus Arshya.

Nafiya yang melihat itu sudah was-was duluan takutnya agus curut itu datang hanya untuk memberikan hukuman untuknya.

"Assalamu'alaikum. " ucap gus Arshya setelah sampai di bangku Nafiya

Semua orang di kantin melihat ke arah Nafiya termasuk Aisyah cs.

"Wa'alaikumsalam." jawab serempak dari keempatnya

"Maaf gus ada apa yah? " tanya Rara dengan polosnya

"Saya kesini hanya mengingatkan untuk Nafiya menyetor hapalan di ruangan saya setelah bel pulang sekolah. " ucap gus Arshya

Nafiya berdecih pelan. "Saya tau gus gak usah di kasih tau. "

Gus Arshya mengangguk, "Ella." panggil seseorang dari belakang gus Arshya

Ella dengan cepat melihat ke arah orang itu, setelahnya pipinya merona. "Hadir ustadz, ada apa ya? " tanya Ella lembut

Ustadz Awan terkekeh pelan "Saya mau minta tolong lagi bisa? " tanya ustadz Awan

Ella mengangguk pelan "bisa ustadz. "

Nafiya menatap ustadz yang sedang berbicara pada sahabatnya. Gak main-main emang kalo dunia fiksi tuh semuanya cakep, ampe figuran juga cakepnya sama kayak kim taehyung persi seiman ini mah kalo dibawa ke dunia nyata pasti bakal jadi rebutan emak-emak komplek. Batin Nafiya

Nafiya menatap pria yang di sebelah kanan gus Arshya, sama tampannya membuat membuat Nafiya tersenyum kecil. "Kalo gak bisa milikin tokoh utama nya juga gapapa.yang terpenting bisa milikin figuran nya. " gumam Nafiya kecil yang hanya bisa di dengar olehnya

Gus Arshya yang melihat arah pandang Nafiya langsung berdehem singkat. "Istighfar! "

Nafiya langsung melihat ke arah gus Arshya sinis, ganggu pemikiran nya saja.

"Gue duluan yah mau ke leb dulu soalnya. " ucap Ella sembari bangun dari duduknya.

Nafiya mengangguk pelan. "Iya hati-hati. "

"Kalo begitu kami permisi terlebih dahulu, Assalamu'alaikum." ucap ustadz Awan.

"Wa'laikumsalam." ucap semuanya serempak

Nafiya berdehem kecil. "Kak farhan yah? " tanya Nafiya

Ustadz farhan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Wahh kak farhan sekarang tinggi yah. " ucap Nafiya bersemangat

Farhan terkekeh kecil. "Saya juga bisa tumbuh gak akan kecil terus. " jelas ustadz Farhan

"Kak farhan masih inget Nafiya? " tanya Nafiya

Farhan mengangguk. "Ingat, siapa yang gak inget sama anak kecil cengeng dan pengadu tapi sangat nakal ini. "

Nafiya berdecak kesal. "Namanya juga anak kecil. "

"Kok bisa kamu kesini, perasaan dulu di pakai kan hijab saja langsung di lepas. Sambil merengek bilang ke mamahnya. 'Nanti kunciran ku tidak terlihat mah'. " jelas ustadz Farhan sembari meniru suara anak kecil di akhirnya.

"Nafiya lagi belajar pake hijab biar abang Nafiya gak marah-marah mulu, lagian Nafiya masih suka lepas pasang kalo depan abang. " jelas Nafiya

"Kalo depan abang sih boleh-boleh aja. Tapi kata abang harus belajar tetep pake hijab di dalem rumah takut punya suami yang pencemburu akut. " jelas Nafiya

Ustadz farhan tertawa kecil. "Ada ada saja. "

"Kak-"

Gus Arshya hanya diam melihat interaksi keduanya sampai ia melihat wajah Nafiya yang tersenyum malu-malu membuat gus Arshya merasa aneh pada hatinya, ia ingin marah namun ia pendam sendiri. Mengontrol mimik wajahnya agar tetap tenang.

"Kami masih banyak urusan jadi permisi, ayo ustadz farhan. " potong gus Arshya.

Ustadz farhan mengangguk. "Kalo begitu kami duluan. "

"Kak farhan nanti kita ngobrol lagi yah. " ucap Nafiya

Ustadz farhan mengangguk sembari tersenyum.

"Assalamu'alaikum." ucap gus Arshya dan meninggalkan ustadz farhan

Ustadz farhan bingung "kalo gitu saya duluan assalamu'alaikum ". Ucap ustadz farhan setelah itu menyusul gus Arshya yang sudah lebih dulu berjalan di depan.

Bagaimana bisa Nafiya tau Farhan sedangkan Nafiya yang saat ini jiwanya di ambil alih oleh Alezira. Jawabannya saat dia masih di rumah Nafiya mencari tau tentang Nafiya sifatnya, caranya berbicara, caranya menulis bahkan mencari tahu dari ia masih kecil sampai Nafiya beranjak remaja.

Buku harian Nafiya juga sedikit membantu untuk menambah wawasan tentang Nafiya.

"Caper banget sih jadi orang, jangan ampe ustadz Hafiz juga di goda sama mereka. "

"Cih gatel. "

"Masih baru aja udah belagu godain ustadz disini, mana manggil ustadz farhan pake sebutan kak tanpa manggil beliau ustadz."

"Kurang adab tuh. "

Setelah gus Arshya dan ustadz farhan pergi baru lah para senior berkoar-koar seperti kerasukan. Yang menyindir itu semuanya ada di bangku Asiyah.

Nafiya tersenyum miring saat melihat itu Aisyah yang awalnya hanya diam langsung tertunduk.

"Ih... Sirik yah. " ucap Nafiya santai

"Dih... Sirik? Bilang bos. " ucap Rara

Beberapa santri putri yang duduk di bersama Aisyah mulai beranjak dari tempat duduk berjalan ke arah meja Nafiya.

"Kami itu senior disini harusnya kamu sopan sama kami. " ucap sinta

"Kami lebih lama di pondok ini jangan sok belagu kamu. " sambung Rika

"Gak pernah di ajarin sopan santun sama mamah kamu hah!? "

Nafiya menatap ketiganya datar melihat dari bawah sampai atas lalu tersenyum miring.

"Kalian pikir gue takut sama kalian, karna kalian itu senior?" Nafiya berdecih "Sorry yah gue gak takut ngadepin senior pecundang kayak kalian." ucap Nafiya datar

Aisyah datang menghampiri sambil menunduk meminta semuanya berhenti, dan mengajak ketiga temannya untuk duduk kembali.

"Udah yuk kak, kita duduk aja gak enak di liatin sama yang lain. " lerai Aisyah sembari menggandeng tangan Sinta

"Gak Sya ni santri baru harus di kasih pelajaran. "

Rara menatap polos ke arah kia "emang mereka mau ngasih pelajaran apa? Kitab-kitab itu yah? " tanya Rara pada kia dengan polos nya

Kia melebarkan matanya, dengan ekspresi wajah datarnya. Bisa-bisanya ni anak satu nanya begini. Batin kia

Kia menggeleng mengangkat kedua bahunya tidak tau. Rara yang melihat itu hanya mengerucutkan bibir nya lucu.

"Kamu tuh ya-. "

Perkataan Sinta terpotong saat mendengar teguran dari arah belakang Nafiya "Ada apa ini? " tanya nya dengan suara bariton nya

Sinta, Rika langsung menundukkan kepalanya. "Gak ada gus mereka yang duluan. " ucap Rika dengan suara yang di lembut-lembutkan

Nafiya dan kedua sahabat nya ini merotasi kan bola matanya malas.

Dasar Playing victim. Batin Nafiya

"Udah sok senior banyak tingkah setelah ada guru merasa si paling korban. " Nafiya menggelengkan kepalanya "ckckck..... Gak cape apa punya muka dua? Gue satu aja cape loh perawatan nya. " ucap Nafiya

Nafiya menengok ke arah belakang melihat siapa yang datang. Matanya membulat sempurna saat melihat pria tinggi dengan wajah tampan dan manis menjadi satu.

Demi apapun ini cakep banget sumpah tinggi ganteng manis gak kalah ganteng dari pemeran utama nya, dari pada gue berakhir tragis mending gue berakhir harmonis sama gus ini. Batin Nafiya

"Ada yang mau jelasin? " tanya gus Bara

Rara dengan polosnya mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kia yang melihat itu langsung memegang tangan Rara dan menurunkannya.

"Silahkan jelaskan yang angkat tangan. " ucap gus Bara sembari melihat ke arah Rara

"Jadi gini gus, kan kita lagi makan. Terus beberapa ustadz dan gus Arshya kesini buat ngasih tau soal hukumannya Nafiya, dan ustadz Awan yang mau minta bantuan temen saya yang namanya Ella. Setelah mereka pergi, kelompok nya Aisyah langsung nyinyir bilang kita caper terus gak ada sopan santun. Padahal kita gak lagi ngapa ngapain loh gus, mereka malah bilang gini gus. 'Gak bisa Sya mereka tubuh harus di kasih pelajaran. " jelas Rara detail dengan wajah tak berdosanya

Gus Bara yang mendengar penjelasan Rara itu hanya menggeleng singkat. "Rika, dan Sinta kalian ke ruangan ustadzah lia, sekarang. " tegas gus Bara

Keduanya mengangguk samar dan langsung permisi untuk pergi Aisyah juga ikut pergi karna ada keperluan.

"Gus." panggil Nafiya

Gus Bara menatap Nafiya singkat sembari mengerutkan dahinya. "Kenapa? "

"Gus Bara sibuk gak? "

"Ada apa memang nya? "

"Kua yuk gus. "

Gus Bara hanya tersenyum kecil. "Ada-ada saja kamu. "

"Kenapa kan Nafiya ngajakin yang bener Gus. "

"Belajar yang rajin. "

"Oh Gus Bara pengen istri yang berpendidikan yah oke Nafiya bakal belajar yang rajin nanti setelah lulus Gus Bara nikahin Nafiya. " Nafiya menatap Gus Bara tanpa sungkan "Aduh Gus jangan sungkan gitu mungkin Allah itu sudah mentakdirkan kita untuk bertemu. " ucap Nafiya

"Kita duluan yah Gus Assalamu'alaikum. " ucap kia sembari menarik-narik tangan Nafiya

Nafiya tak Terima tapi ia hanya pasrah saja. "Dadah calon masa depan. " teriak Nafiya membuat orang-orang melihat ke arah nya.

Continue Reading

You'll Also Like

1.7M 207K 73
Genre : Fiksi Stefani Arsita Prameswari seorang dokter yang namanya sudah sangat dikenal di seluruh penjuru negri. Tertembak oleh tentara sekutu saa...
2.2M 227K 51
Namaku Sarry Alexsa, anak dari seorang ibu yang gila uang, ibu yang tega menjual anaknya kepada ayah tirinya sendiri. Hanya karna, uang. Suatu hari...
431K 5.8K 70
Apa Jadinya Jiwa yang sudah Meninggal Masuk Kedalam Novel yang Terakhir Dia Baca . Itulah yang Dialami Oleh Seorang Queenzy Alderina Anak Yatim Piatu...
Wattpad App - Unlock exclusive features