Bel tanda berakhirnya pembelajaran berbunyi. Ale menutup bukunya tergesa, kemudian menyimpan peralatan belajarnya asal ke dalam tas. Berniat meninggalkan kelas sebelum Mia –teman sebangkunya menghentikan. "Kemana, weh?" Mia bertanya.
"Biasa, Klub Fisika" jawab Ale sambil mengecek arlojinya.
"Heleh, mau belajar apa modus lu?"
"Aduh, Mi. Ini tuh namanya menyelam sambil minum air. Udah ya, bye. Keburu telat liat babang ganteng" balas Ale sambil berlari ke arah lab fisika dimana kegiatan klub dilakukan, meninggalkan Mia sendiri. Tidak dalam artian sebenarnya, karena masih ada beberapa siswa di kelas.
"Bagus. Kalo urusan babang ganteng kalah deh gua" Mia memutar bola matanya malas.
Mari kita kembali ke pemeran utama yang sedang berusaha mengatur nafasnya setelah berlarian di sepanjang lorong menuju laboratorium. Padahal klub baru akan dimulai 30 menit setelah kegiatan sekolah berakhir. Waktu yang sebenarnya lebih dari cukup bagi Ale untuk berjalan santai ke tempat yang dituju, atau bahkan sembari melipir ke kantin terlebih dahulu. Dasar Ale saja yang sok rajin.
Bukan tanpa alasan Ale melakukannya. Babang ganteng-nya (tanda kepemilikan ini disematkan Ale semaunya) yang menjabat sebagai ketua klub fisika, selalu datang ke lab tepat setelah bel pulang sekolah terdengar. Jadi sebagai calon pacar yang baik –ekhem (ini lagi-lagi klaim sepihak Ale) dia berusaha datang lebih awal pula. Dan benar saja, selang 5 menit kedatangan Ale, si babang ganteng pun sampai.
"Lho, awal banget Le" sapa babang ganteng.
"Hehe, iya kak. Kak Ajun juga awal" Kata Ale kelewat semangat. Karena nama babang ganteng sudah di-spill maka berikutnya kita ganti panggilan sesuai namanya. Ajun hanya tersenyum, bukan rahasia lagi kalau adik kelasnya yang satu ini menunjukkan ketertarikan padanya sejak penerimaan anggota klub. Hanya saja, Ajun tetap belum terbiasa.
"Sekalian deh Le, bantuin bagi modul. Tiap meja dua, oke?"
"Siap!" Ale dengan sigap berdiri dan melakukan pose hormat layaknya tentara. Mulai membantu Ajun menyebar modul untuk kegiatan hari ini. Matanya melirik Ajun yang juga meletakkan tumpukan modul ditangannya di setiap meja. Iseng dibacanya judul materi yang akan disampaikan nanti. Besaran dan Satuan.
"Besaran menurut fisika adalah sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai dan satuan" kali ini dibaca agak keras, sehingga menarik perhatian Ajun.
"Iya, jadi kalau sesuatu itu dapat diukur punya nilai juga satuan itu bisa disebut besaran. Contohnya aja panjang, dia bisa diukur punya nilai dan punya satuan"
"Waduh, susah dong kak. Kenapa nggak semua hal yang besar aja dinamakan besaran?"
"Tapi sesuatu yang dianggap besar itu kan nggak sama Le, misalnya aja pohon di depan perpustakaan. Menurut Ale mungkin itu besar tapi bisa saja menurut saya pohon itu kecil. Karena beda perspektif itulah, akhirnya dibuat kesepakatan tentang dasar pengukuran yaitu besaran itu tadi"
"That's not the point. Masalahnya rasa cintaku buat kak Ajun kan nggak bisa diukur nggak punya satuan juga, meskipun sangat bernilai. Sayang banget kan, nggak bisa digolongkan sebagai besaran padahal sama-sama mengandung kata besar"
Ajun diam, kebingungan menanggapi gombalan adik kelasnya itu. Darimana pula, Ale belajar menggoda seperti itu. Mereka berdua kemudian sibuk dengan dunianya masing-masing. Ajun dengan ponselnya, dan Ale dengan agenda memandangi nikmat Tuhan yang tidak boleh di dustai, alias ketampanan kak Ajun. Tiba-tiba suatu pemikiran melintas di otak Ale.
"By the Way, kak. Satuan untuk massa dan gaya tuh apa, sih?"
Ajun mendongak, meletakkan ponselnya ke meja. Memindahkan atensinya pada Ale.
"Massa kan besaran pokok satuannya kilogram atau kg, kalo gaya itu besaran turunan dari massa dikali percepatan satuannya kg.m/s2 atau Newton (N). Di modul ada kan?"
"Ada, kok. Tapi kalau di gabung jadi apa ya kak?" Ale masih memancing.
"Kg.N?"
"Nah itu, yang aku rasain kalo sehari aja nggak ketemu kak Ajun" Ujar Ale.
Ajun mengusap wajahnya frustasi. Entah, bagaimana dia harus menghadapi godaan berikutnya dari adik kelasnya itu. Si Oknum, yang menggoda malah sedang asik haha hihi menikmati penampakan babang ganteng yang frustasi.
-fin-