Kringg kringg
Bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera di mulai. Seluruh siswa yang mengenakan seragam osis berlari berhamburan menuju kelasnya.
Hari ini, tepat pada hari senin untuk pertama kalinya seluruh siswa melaksanakan pembelajaran di sekolahnya setelah melewati masa libur yang sangat amat panjang.
"Anak-anak mulai hari ini sampai 2 minggu kedepan sekolah akan di liburkan"
Itulah kata-kata yang tidak akan pernah kami percaya lagi. Hanya dua minggu konon. Nyatanya hampir dua tahun kami diliburkan.
Sekarang saatnya kami Kembali merasakan nikmatnya tugas yang di berikan para guru kami.
Senang?
Tentu saja senang Ketika guru menginformasikan bahwa kami sudah di perbolehkan Kembali belajar di sekolah.
Hari ini seluruh kelas hanya dipenuhi dengan suara seluruh siswa yang sedang memperkenalkan diri di hadapan para teman temannya.
Sama sepertiku, hari ini belum ada tugas apapun dari guru yang mengajar di kelasku.
Saskia Putri Amora itu namaku. Teman-temanku biasa menyebutnya dengan panggilan Saski. Berdiri di depan deretan teman-temanku yang sedang duduk manis di bangkunya, itulah yang sedang aku lakukan sekarang.
"Perkenalkan nama saya Saskia Putri Amora. Biasa di panggil Saski. Umurku saat ini 17 tahun. Mungkin hanya itu perkenalan dari saya, ada yang mau bertanya?"jelasku tak terlalu panjang.
Beberapa menit kemudia kudapati salah satu temanku mengangkat tangannya setinggi angkasa, eh maksudnya mengangkat tinggi tangannya.
"Ya silahkan mau bertanya apa?"ujar Bu Hani. Bu Hani adalah guru Bahasa Indonesia yang kebetulan sedang mengajar di kelasku.
"Kenapa memilih masuk di jurusan IPA?"tanya temanku.
"Izin menjawab, selain saya suka dengan pelajaran IPA saya juga terinspirasi dari beberapa anggota keluarga saya yang dulu memilih IPA sebagai salah satu jurusan yang mereka sukai,"jawabku jujur.
Perkenalanku hanya berakhir sampai situ saja, dan langsung di lanjutkan dengan perkenalan siswa yang lain hingga akhirnya perkenalan usai di laksanakan.
Huft! Hingga pada akhirnya jam menunjukan pukul 4 sore yang menandakan bel jam pulang sekolah hari ini akan segera berbunyi.
Kriiingggg
Nah kan apa ku bilang.
"Baik anak-anak kita cukupi jam pelajaran kita hari ini, kita lanjutkan lagi minggu depan see you next time,"ucap Bu Hani sebagai tanda mengakhiri kelas hari ini.
"See you."
Duduk dengan tenang dibangku panjang depan sekolah hal yang ku lakukan sekarang. Menunggu sang pangeran yang sedang menuju kemari dengan menunggangi kereta besinya.
"Hay maaf lama menunggu,"ucapnya padaku setelah memberhentikan kereta besinya itu.
"Ga lama ko Yah, Saski juga baru keluar."
Ya! Dia Hendry Ayahku yang paling tampan pertama di rumahku. Kenapa ku sebut pertama? Karna setelahnya ada Heru Saputra, dia kakakku. Jangan di tanya dia orangnya bagaimana, kakakku itu orang yang paling menyebalkan yang pernah aku temukan di dunia ini. Dan juga selain aku wanita cantik di rumah ada baginda ratu Rania. Dia Ibuku, orang yang akan berubah menyadi bawel Ketika mendapatkan anaknya masih bergulung selimut di jam lima pagi.
"Gimana sekolah di hari pertama setelah libur panjang nya dek?"
"Seru sih yah, Cuma ya gitu hari ini hanya diisi dengan perkenalan doang."ceritaku.
"Ya Namanya juga masih awal, lagian kalian walau satu kelas pasti belum pernah ketemu secara langsung kan? Paling mentok hanya liat lewat zoom meeting saja."
"Iya sih."
Perjalanan hanya di isi dengan alunan lagu. Hingga tak sadar kalau kereta besi itu sudah terparkir dengan rapi di garasi rumahku.
"Assalamualaikum,"ucapku dan Ayah Ketika memasuki rumah yang sudah ku tempati Bersama keluargaku selama 17 tahun ini.
"Wa'alaikumussalam, eh baginda raja sudah sampai Bersama dengan babu bayarannya."
Bisa di tebak kan siapa yang berbicara seperti itu? Ya dia kakakku, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Abang. Kuliah di semester enam yang sedang ia lakukan sekarang. Dia juga di nobatkan sebagai mahasiswa kupu-kupu yang hanya datang Ketika ada jam kuliah saja lalu setelahnya pulang dengan membawa segala beban tugas yang di berikan dosennya. Memilih berkuliah tanpa mengikuti organisasi sudah menjadi tekadnya sejak awal. Abangku tipe orang yang tidak mau di repotkan dengan berbagai macam tugas organisasi. Berbeda dengan ku yang senang berorganisasi.
"Enak aja gue di katain babu,"ujarku tak terima.
"Ya lu kan emang babu hahahaa."
"Daripada lu anak pungut, yak kan Yah?"ujarku sembari meminta dukungan dari Ayah.
"Iya"
"Hahahahahaa,"tawa sudah tak bisa ku tahan lagi jika Ayah sudah mendukungku.
"Sungguh tega kau baginda raja, tidak akan ku pilih lagi kau menjadi raja di pilkada tahun depan,"ucapnya dengan dramatis.
"Uang jajan kamu Ayah potong Bang,"ucap Ayah sembari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Eh loh yahh gabisa gitu dong, yah tungguin."
"Hahahahaaa."
Sungguh malang nasib Abangku itu.
*****
"Ko bisa dia lebih cantik, lebih manis dari yang di foto,"ujar seseorang sembari menatap sebuah foto di benda pipih berbentuk persegi panjang berlogo apel yang sudah setengah digigit itu.
"Orang mah di foto cantik di aslinya kek maung, lah dia aslinya kek bidadari dari warung seblak,"ucapnya masih sama dengan menatap sebuah foto.
(Maung = macan)
"Ko warung seblak si anjir, dari kayangan goblog. Mana ada bidadari dari warung seblak."
"Eh tapi bisa aja, kalo dia jualan seblak brarti dia dari warung seblak,"gerutunya lagi.
"Ah masa ada tukang seblak di jemput pake mobil,"ucapnya lagi dengan rasa penasarannya.
"Lu ngapa si dari tadi ngegrutu mulu Yan."
Rian Al Farizky Namanya, sering di sapa Rian atau Al. Siswa kelas 11 SMA yang pagi hari tadi perdana melaksanakan sekolah setelah libur panjang.
"Kepo lu."
"yeuu dasar bocil. Tadi lu sekolah kan cil,"tanyanya.
"Sekolahlah."
"Bagus deh. Lu kalo di sekolah jangan malu-maluin cil, malu gue ntar kalo ada guru yang tau lu adik gue."
"Oh jadi lu malu punya adik ganteng kaya gue Bang?"tanyaku dengan sinis.
"Bukan gitu cil, masa iya nanti betiba guru bilang gini kamu adiknya Riko kan? Ko Kakakmu baik adiknya bejat kan malu gue cil."
Riko Ardiasyah kakak laki-lakiku. Kuliah di semester 6 dengan segala kesibukannya di organisasi yang ia ikuti. Kami hidup berdua di gedung yang luas ini. Kami hanya menyewa satu art yang bertugas memasak dan beres beres saja selebihnya kami kerjakan bersama selagi kegiatan itu masih bisa di kerjakan kami berdua. Kedua orang tuaku sedang mengabdi di negara orang. Kami sama sekali tidak marah pada mereka, karna kami tau tugas mereka sangat dibutuhkan banyak orang. Aryan dan Arini, Papa dan Mamaku mereka berdua manusia berjas putih. Sudah hampir 10 tahun mereka mengabdi di negara orang. Kami juga sama sekali tidak kekurangan kasih sayang mereka, mereka akan pulang di setiap tahunnya walau tidak dalam jangka waktu yang lama tapi itu sudah cukup bagi kami.
"Aelah gue ga senakal itu kali bang,"belaku.
"Yakan siapa tau lu di belakang gue bejat cil."
"Bang gue udah gede bisa gasih lu stop panggil gue cil,"protesku.
"Mau umur lu 100 tahun pun, lu tetep adik kecil gue Yan. Kita hidup selama ini bareng-bereng, Ketika gue pulang kuliah cape dengan segala tugas yang gue punya tapi semuanya hilang pas di rumah gue liat lu Yan. Apalagi sekarang kita hidup berdua, lu jaga Kesehatan jangan sampe sakit Yan, kita jangan sampe bikin Papa sama Mama terbebani karna kita di sini,"ucapnya panjang lebar.
"lu gausah ngomong gitu napa Bang, bikin gue terharu aja sini peluk dulu,"ucap Rian sembari bergeser memeluk Riko.
"Ck apa sih Yan gausah peluk-peluk anjir, lu bau belum mandi."
"Gue udah mandi ya anjir,"belanya.
"Mandi apaan lu masih bau begitu, kaga bersih ya anjir lu mandinya?"tanya Riko.
Rian yang mendengar itu beringsut memeluk tubuh Riko lagi, hingga Riko bergerak berusaha terlepas dari pelukan adik laknatnya itu.
"Lopyuhh Abangkuhh yang baik hati dan sombong,"ucap Rian sembari memonyongkan bibirnya ke arah wajah Riko.
"Anjir Rian goblog lepas tai, jijik lu anjir."
Sejail-jailnya sosok Kakak dia akan selalu menjadi tameng pelingdung Ketika adiknya dalam masalah. Dan Ia akan brada di garda paling depan. Kakak ia adalah sosok pengganti orang tua bagiku.
Jangan lupa vote yaa cinta-cintakuuuuuu🧡