Cinta Sang Duda

By Queenazalea_

51.9K 3.5K 253

FOLLOW SEBELUM BACA!!!! 21+ Harap bijak pilih bacaan. Kanaya Prameswari menjadi wanita yang harus mengikhlas... More

1. Menikah Paksa
2. Bercocok Tanam
3. Alasan Bercerai
4. Ketakutan Berumah Tangga
5. Tidak Untuk Selingkuh
6. Pria Menakjubkan
7. Alasan Mencintai
8. Versi Kamu
9. Kejujuran
10. Tawaran Malam Pertama (21+)
11. Kesepakatan
12. Jodoh Tak Ada Yang Mengetahuinya
13. Istri Terbaik
14. Calon Orangtua
15. Mulai Bertingkah
17. Tidak Bisa Menahan
18. Dipaksa Bertemu
19. Kesalahan Fatal
20. Informasi Dalam Jebakan
21. Kejanggalan
22. Berdamai Dengan Masa Lalu

BAB 16. Lebih Dihargai

985 113 2
By Queenazalea_

Sejak Kanaya hamil. Satu hal yang membuat Athalla begitu terkejut dengan tingkah istrinya. Yaitu tidak lain adalah ulahnya Kanaya yang selalu semaunya melakukan apa pun. Cemburuan akut, ngomel tanpa ada alasan. Athalla merasa ini merupakan kekerasan mental dalam rumah tangga.

Kadang dia merindukan Kanaya yang jutek dulu, Kanaya yang kasar. Tapi sekarang kebalikannya. Cemburuan, sering menangis sendirian, kadang ngomel kepada Athalla ketika pria tersebut pulang kerja. Menjadi suatu hal yang belum terbiasa bagi Athalla menerima satu hal tersebut.

Setelah dia mandi ketika pulang kerja. Saat itulah Kanaya juga memesan makanan melalui ojek online yang jumlahnya cukup besar.

Athalla melihat deretan makanan itu di atas meja. “Ay, jangan terlalu banyak belanja kenapa sih?”

“Nggak sayang sama aku?”

Pria itu menghela napas panjang. Saldo dalam akunnya Kanaya bahkan tidak ternilai jumlahnya. Bahkan Athalla tidak akan pernah protes mengenai nominalnya. Tapi sang istri yang merasa sangat tidak terima dengan itu.
Wanita itu mengatakan hal yang tidak wajar. “Nggak, Ay. Tapi kamu kan hamil, ngemil terus.”

“Ya aku kan lapar karena anak kamu juga.”

“Nggak ikhlas banget hamil.”

“Tuh kan mulutnya nggak baik banget kalau ngomong.” Jawabnya Kanaya kepada Athalla yang duduk di sofa sembari bersandar. Menonton televisi yang sebagai selingan kalau dia sebenarnya perhatikan istrinya makan.
Lebih baik diam. Athalla tidak akan komentar.

“Sayang, kamu masak apa?”

“Apa ya tadi. Ayam teriyaki deh.”

“Sayur juga?”

“Sayur asam.”

“Mulai masakan kamu nggak nyambung. Sayur asam, ditambah lauknya ayam teriyaki. Nggak lucu kalau makan nanti, Ay. Minimal yang lain kek.”

“Makan ya terserah. Nggak juga nggak masalah. Nggak rugi, jadi besok nggak masak.”

Athalla menghela napasnya. Ke mana Kanaya yang dulu cuek? Bukan terlihat seperti tidak peduli. “Ay, sebenarnya kamu hamil atau emang suasana hati kamu benci banget sama aku?”

Kanaya menoleh dengan tatapannya yang terlihat tidak biasa. “Aku benci kamu sejak hamil, Mas.”

Sudah Athalla duga itu yang terjadi. Banyak kasus yang seperti ini. Tapi Athalla mengiyakan istrinya. “Ya udah terserah kamu. Tapi aku kangen kamu yang dulu. Ketusnya nggak ketulungan. Tapi yang sekarang beda. Dibenci sama kamu kok rasanya aneh banget ya di hati aku.”

“Mas keberatan?”

Athalla menghela napasnya dan mengusap kepala sang istri. “Biar bagaimanapun juga kamu istri aku. Lagi hamil, aku nurut aja.”

“Awas kalau selingkuh pas aku lagi hamil. Duda kedua kali kamu, Mas.”

“Ngomong gitu, nanti nangis. Terus nuduh yang nggak-nggak. Bisa nggak sih jangan bahas tentang selingkuh? Aku trauma lho kamu ngambek.”

Kanaya melanjutkan makannya waktu mendengarkan ucapan dari Athalla.

Tapi Athalla tidak berani protes banyak kepada istrinya. “Nanti Mas beliin alat untuk senam ibu hamil, ya?”

“Boleh sayang. Mau apalagi?”

“Mau itu aja.”

Walaupun sedang marah. Tapi mendengar ucapan dari istrinya justru dia tersenyum. “Katanya benci.”

“Ya benci, tapi kan ATM berjalan aku nggak boleh macet.”
Kanaya duduk semakin rapat dengannya. Athalla merangkul sang istri sembari makan. Kanaya menolehkan kepalanya, pria itu menggesekkan hidungnya pada hidung Kanaya sampai istrinya tersenyum. “Mas, makasih ya.”

“Buat?”

“Semuanya, Mas. Rumah mewah, hidup aku yang enak. Nggak pernah kekurangan apa pun. Dituruti mau ini itu, hamilnya juga ditemani. Jadi suami yang sabar, walaupun pantangan paling besar bagi aku tuh benci sama kamu.”

“Tugas aku cuman untuk menyenangkan kamu. Sisanya tinggal lihat timbal balik kamu sebagai seorang istri.”

Kanaya mengiyakan. “Aku kan lagi hamil. Ini timbal balik aku, Mas pengennya anak. Aku kasih. Tapi satu yang aku nggak sanggup, Mas.”

“Apa?” tanya Athalla dengan perlahan.

Kanaya menatap matanya Athalla seolah khawatir kalau pria itu tersinggung. “Nafsu kamu, Mas. Aku tetap saja khawatir soal kamu yang nggak bisa kontrol itu. Kadang aku gimana ya. Aku takut Mas tersinggung. Aku sering ngerasa capek.”

“Sorry.”

“Tapi aku ngerti kok. Itu karena Mas kan lama jadi duda.”
Athalla mengangguk pelan tapi tetap merasa tidak enak hati pada istrinya. “Maaf, ya! Ohya aku ditelepon tadi sama Mama kamu. Kita selesai makan malam, terus ke sana, ya! Mama pasti kangen.”

Kanaya mengangguk.

Tapi begitu dia makan dengan banyak. Tiba-tiba dia mengatakan kalau dia sudah kenyang. “Mas habisin, ya!”
Mata Athalla melotot sempurna mendengar permintaan sang istri yang mengatakan kalau dia sudah kenyang untuk makannya sekarang ini. “Ay, kamu serius suruh aku makan sebanyak ini?”

“Ya, daripada aku buang.”

Athalla menarik kotak pizza. Tidak suka buang makanan. Lebih baik dia makan meskipun bekas istrinya. “Tapi itu bekas kamu dihabiskan dulu, ya. Jangan kebiasaan nyisain gini.”

Kanaya mengiyakan. Tapi Athalla menghabiskan sisa yang lainnya dengan pelan. Tidak yakin kalau nanti dia makan malam karena makanan yang dipesan oleh Kanaya juga sangat banyak sekali. “Lain kali makan yang kamu inginkan saja, jangan seperti ini. Bukan aku pelit, kamu mau apa aja aku turutin. Tapi jangan sampai nanti terbuang. Jangan sia-siakan makanan. Di luar sana masih banyak orang yang butuh makan. Tapi kadang memang keadaan nggak mendukung. Maka dari itu kamu harus bijak dalam beli makanan.”

Kanya tidak banyak bicara usai Athalla berkata demikian.
Malam harinya mereka pulang berdua ke rumah orangtuanya Kanaya karena yang dihubungi adalah Athalla tapi itu untuk Kanaya.

Mereka berdua masuk usai dipersilakan oleh Arum.
“Mama sehat?” tanya Athalla memberikan bingkisan kepada mertuanya.

Wanita itu tersenyum. “Sehat, tapi pengen kalau kalian pulang. Lama banget nggak ke sini.”

“Maaf ya, Ma. Aku akhir-akhir ini sibuk banget. Kanaya juga ikut kerja terus. Jadi aku udah pernah suruh dia pulang sendirian. Tapi dia nggak mau.”

“Mulai bergantung ya sama kamu?” tanya Arum pada Athalla yang pastinya pria itu juga merasakan betapa ketergantungannya Kanaya padanya.

“Aya memang bergantung, Ma. Tapi dampak hamilnya ini yang ngeri. Dia nggak suka sama aku. Tapi ke mana-mana selalu ngikut, posesif.”

“Bukan nggak suka, tapi karena kehamilan dia itu takut kehilangan kamu. Dia pernah cerita.”

Kanaya sendiri sedang ngobrol dengan Fatan yang ada di ruang tengah. Bertanya mengenai adiknya yang baru saja pulang tadi sore. “Eh ya, Ma. Aku lupa. Mama besok nggak sibuk?”

“Nggak ada kegiatan. Kamu sama Ay nginap, kan?”

“Nginap, Ma.”

Kanaya masih asyik dengan Fatan. Lalu tiba-tiba Arum berkata. “Aya nggak kayak dulu lagi, kan? Mama sama Papa suruh kalian pulang itu karena khawatir tentang Kanaya akan bertingkah lagi.”

“Maaf, Ma. Dia nggak kayak dulu lagi. Bahkan sekarang nggak diminta lakuin pekerjaan rumah dia tetap lakuin. Dia udah berubah banyak, Ma. Aku bersyukur dia nggak pernah kayak dulu lagi. Tapi aku kangen dia yang dulu waktu awal nikah. Kalau sekarang beda jauh.”

“Maksudnya?’

“Tentang kelakuan dia, Ma. Kalau dulu kan juteknya luar biasa. Sekarang jutek juga, tapi beda.”

“Jalani aja dulu. Namanya rumah tangga ada suka dukanya juga.”

“Tapi Aya beda kok sama yang dulu, Ma.”

“Beda sifatnya?”

“Bukan, tapi sama mantan istri aku. Aya lebih menghargai apa yang aku kasih. Aku sering uji dia, beli barang ini itu. Dia nggak pernah kasih lagi ke orang. Ada temannya yang pernah ke rumah, itu barang yang aku kasih ke dia, ada yang minta. Dia bilang boleh minta mana aja, kecuali yang dikasih sama aku.”

Perubahan sikap Kanaya jauh berubah juga sejak penerimaan Athalla sebagai orang di masa lalunya. “Ya udah kamu duduk sama Papa dulu sana! Mama siapin minuman untuk kamu.”

Athalla juga bersyukur jauh lebih dihargai berada di rumah Kanaya dibandingkan rumah mantan istrinya dulu.
Mertuanya baik dan menyambut dengan luar biasa. Athalla bahkan selalu betah ngobrol dengan kedua mertuanya yang sangat hangat.

Continue Reading

You'll Also Like

448K 18.9K 30
[ BOOK 2] ( SELESAI ) ❝Dulu ku pikir dalam hidup hanya akan berlabuh di satu hati dan berhenti di satu dermaga saja. Namun ketika kapal itu tersesa...
35.8K 1.7K 33
[Teen Romance] .. Pernah dengar cinta akan datang di saat yang tidak terduga? Dia datang malah di saat kamu tidak mengharapkan hal itu. Ini yang terj...
764K 25.1K 28
Harap pintar dalam memilih bacaan!! Untuk yang tidak suka sesuatu yang bikin hati ngilu, jauh-jauh!! ***** Belleza kira--dia adalah satu-satunya wani...
2.3M 253K 62
Kecelakaan fatal membuat Kania dan Alby dipaksa berpisah jarak. Seakan belum cukup kacau, sebuah kesalahpahaman juga membuat keluarga Kania mempertan...
Wattpad App - Unlock exclusive features